Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
California


__ADS_3

"Ya kami disini." Jawab Frank.


"Bos kita makan dulu ya." Ucap Lay sambil memegang perutnya, dia belum makan apapun sejak mendarat disini. Bosnya ini memang tidak peka, ia sudah hampir mati karena kelaparan tapi dia hanya mementingkan dirinya sendiri.


Ellard mengangguk menjawabnya lalu menarik pergelangan tangan Dara.


"Ell kita mau kemana? aku harus kembali bersama yang lainnya." Ucap Dara menghentikan langkahnya.


"Mereka juga akan makan malam Dara, mereka juga sudah meninggalkan mu." Jawab Ellard.


"Apa?." Tanya Dara terkejut, memangnya bisa seperti itu? para guru selalu mengawasi dan mengecek kembali jika akan meninggalkan suatu tempat tapi ini? dirinya tertinggal!, pikir Dara dengan wajah pias.


"Ada apa?." Tanya Ellard memegang pipi Dara dengan kedua tangannya.


"Itu artinya aku tertinggal?."


"Ya, itu berarti kau hanya bisa kembali bersamaku." Ucap Ellard menarik tangan Dara.


Ellard menarik tangan Dara diikuti Frank dan Lay dibelakangnya.


*****


Beberapa menit kemudian mereka sampai restoran yang sudah dipesan Frank atas perintah Ellard. Mereka memesan ruangan pribadi agar tidak ada yang mengganggunya. Akan sangat merepotkan jika mereka tau putra tunggal Walton berada di California.


"Ell, eh sayang apa kita akan makan disini? lalu dimana rombongan murid lainnya?." Tanya Dara menengok kebelakang, tangan gadis itu ditarik Ellard menggenggamnya dengan erat.


"Mungkin sudah pulang." Jawab Ellard tanpa menoleh.


Saat Dara akan bertanya lagi, suara seorang waiters membuat perhatiannya teralih.


"Tuan ini ruangan anda, makanan akan sampai lima belas menit lagi. Apa ada yang anda butuhkan lagi?." Tanyanya ramah.


"Tidak, pergilah." Jawab Ellard menarik kursi untuk gadisnya duduk.


"Terimakasih." Ucap Dara sambil mendudukkan bokongnya.


Cup


Uhuk...Uhuk...Uhukk


Tiba-tiba Alay tersedak udara melihat kejadian didepannya, ia mengumpat Frank karena telah memilihkan ruangan yang sama dengan pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.


Lebih baik mati kelaparan dari pada melihat pemandangan seperti ini. Batinnya lalu duduk didepan dua pasang suami istri itu


"Sama-sama." Jawab Ellard lalu duduk disamping Dara. Setelah mengecup pipi gadis itu raut wajahnya terlihat tidak bersalah. Dirinya tidak mempedulikan semua orang diruangan itu.


Frank juga sama, ia mengumpat Ellard dalam hati dan meruntuki kebodohannya karena tidak memikirkan hal seperti ini terjadi. Sedangkan Dara menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu. Ellard benar-benar tidak tau tempat, pikirnya.


*****


"Emm Ell, kenapa kamu tiba-tiba berada disini?." Tanya Dara memecah kecanggungan. Bukan hanya mencoba melupakan rasa malunya tapi memang ia benar-benar penasaran kenapa pria ini bisa sampai ada disini?, pikirnya.


"Ah itu-."


Flashback on


"Kalian bisa take off saat gadis berhijab masuk kedalam." Ucap Ellard lalu memutus sambungan teleponnya.


Saat akan memasukan ponselnya kesaku celana, tiba-tiba ponsel itu berdering membuatnya kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Tuan Muda semua persiapan sudah siap." Ucapnya diseberang telepon


"Baiklah aku kesana sekarang." Jawab Ellard lalu mematikan sambungan teleponnya.


Pria itu lalu berjalan masuk kedalam bandara sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan mengambil kaca mata hitamnya.


Semua orang dibandara langsung terpekik histeris saat melihat Ellard berjalan dengan langkah lebar menuju private road, mereka semua mengeluarkan ponselnya dan mengambil banyak gambar pria itu sambil mengigit jari tangannya. Ellard dengan stelan baju hitam dan celana jeans abu-abu, kacamata hitam bersender dihidung mancungnya. Benar-benar pemandangan pagi hari yang sangat menyegarkan, pikir mereka semua.


Banyak sebagian dari mereka yang nekat untuk berlari kearahnya untuk mengambil selfi dengan sang pewaris tunggal Walton. Tetapi tiba-tiba banyak pria berseragam hitam menghentikan perbuatan mereka dan meminta semua orang untuk menghapus foto Ellard. Sebagian menurut tapi ada juga yang membangkang dan memilih pergi sebelum foto itu terhapus, yang benar saja mau dihapus? ini foto yang sangat langka, pikir mereka. Putra tunggal Walton itu sama sekali tidak pernah bermain sosial media, mungkin ada akunnya tapi tidak pernah ada postingannya sama sekali. Walaupun begitu tapi pengikut sosial medianya melebihi selebgram lainnya.


Ellard berjalan kearah landasan pribadi menghiraukan tatapan dan teriakan semua orang yang berada disana.


Dari kejauhan ia melihat pramugari dan dua pria berseragam pilot sedang berdiri menunggu kedatangannya.


"Tuan Muda." Sapa mereka bersama sambil menundukkan setengah badannya.


"Berangkat sekarang aku sudah tidak sabar." Ucap Ellard menghiraukan sapaan mereka lalu melangkah naik masuk kedalam jet pribadinya.


Ellard duduk di kursi sambil mengeluarkan ponsel disaku celananya dan meletakkannya diatas meja. Pria itu melepas kacamatanya dan menyenderkan tubuhnya kekursi.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi jauh dariku? memikirkannya saja membuatku gila." Gumamnya lalu memejamkan matanya.


Saat pramugari akan menutup pintu jet-nya, suara dua orang pria membuat wanita tinggi itu mengurungkan niatnya. Dan ternyata itu membuat Ellard membuka matanya, ia ingin segera berangkat tapi ini? kenapa tidak juga lepas landas? pikirnya.


"Kenapa?." Tanya Ellard datar.


"M-maaf tuan muda, ada dua orang pria yang sedang berlari kesini." Jawabnya menundukkan kepalanya.


"CK siapa yang bisa masuk kearea ini." Ucap Ellard kesal lalu melihat kearah jendela.


"Hah...Hah hampir saja tertinggal." Ucap Lay lalu masuk dan mendudukkan bokongnya di kursi diikuti Frank yang juga sama sedang menormalkan kembali pernafasannya.


"Pantas saja." Ucap Ellard sambil memutar bola matanya malas.


*****


Jet pribadi Ellard sudah berhasil take off, Ellard melihat ponselnya berkali-kali, memeriksa apa ada panggilan dari gadisnya? tapi sejak tadi sama sekali belum ada panggilan masuk apapun, membuat pria itu mengeram kesal. Ternyata gadisnya tidak mendengar perkataannya tadi, pikirnya.


"Kau itu kenapa?." Tanya Frank lalu meneguk segelas anggur yang baru saja diberikan pramugari.


"Tidak ada, kenapa kalian tau aku akan pergi?." Tanya Ellard sengit lalu melihat ponselnya lagi.


"Adam yang memberitahu kami, bos Ell kau tega sekali tidak memberitahu kita jika akan berlibur?!. Bukankah sudah lama kita tidak berlibur bersama?." Ucap Lay sambil bermain game di ponselnya.


"Ya benar, kau ingin menghabiskan waktu seorang diri? benar-benar membosankan." Timpal Frank.

__ADS_1


Ellard tidak menjawabnya pria itu sibuk dengan ponsel ditangannya.


"Telfon saja tidak perlu gengsi." Celetuk Frank kesal melihat tingkah Ellard seperti pria bodoh yang hanya terus menatap ponselnya.


"Gengsi? mana mungkin aku gengsi! aku hanya mengetes apakah dia ingat dengan janjinya." Jawab Ellard kesal.


"Terserah kau saja."


"Bos Ell kita akan berlibur kemana? Swiss? London? Prancis?." Tanya Lay sambil meletakkan ponselnya.


"Lihat saja nanti." Jawab Ellard.


5 jam lebih sudah berlalu kali ini Ellard tidak bisa menunggunya, pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi Dara. Sudah lima kali dirinya menelpon tapi sama sekali tidak diangkat oleh sang pemilik. Membuat kekesalan Ellard menguap digantikan rasa khawatir. Apakah Daranya baik-baik saja? hanya itu yang ada dipikirannya saat ini.


Ia mencoba menelpon sekali lagi, tujuh detik akhirnya panggilan teleponnya diangkat oleh gadisnya membuat pria itu menghembuskan nafasnya lega.


"Assalamualaikum s-sayang."


"Kau sudah sampai?." Tanya Ellard.


"Iya, Ell eh sayang salamnya-."


"Wa'alaikumsalam."


"Maaf aku tidak memegang ponsel, dari tadi hanya ada didalam tas ku." Jelas Dara saat mendengar nada bicara Ellard kurang enak, sepertinya gadis itu tau jika Ellard sedang menahan marah disini.


"Kau sedang dimana sekarang?." Tanya Ellard.


"Aku sudah dihotel."


"Istirahat yang cukup jangan sampai kelelahan malam nanti acaranya cukup besar." Ucap Ellard.


"I-iya."


"Dan jangan lupa makan." Ucap Ellard, ia sudah diberi tahu jika pesawat ini akan segera landing, itu sebabnya dirinya harus segera menutup teleponnya.


"Iya sayang, kamu juga harus makan."


Ucapan Dara membuat bibir pria itu terangkat, "Baiklah, aku tutup dulu." Ucap Ellard.


*****


Jet pribadi mereka akhirnya mendarat di bandara California, Ellard turun mengunakan kacamata hitamnya diikuti oleh Frank dan Lay dibelakangnya. Mereka bertiga sama sekali tidak membawa barang bawaan apapun, hanya terus berjalan dengan langkah tegapnya menghiraukan tatapan dan pekikan semua orang.


"Ku kira akan keluar negeri ternyata hanya disini." Ucap Lay pelan pada Frank.


"Ya, semoga saja pilihan tempat berlibur pria ini tidak membosankan." Timpal Frank.


******


Malam hari di San Francisco California


Lay membuka rahangnya lebar-lebar saat mereka sedang berdiri didepan gedung sebuah acara. Begitu juga dengan Frank kening pria itu mengkerut dengan wajah tidak percaya ia melihat kearah Ellard yang sedang berdiri didepan sambil mengenakan almamater identitas HIS.


"You are crazy?!." Ucap Frank tidak terima pada Ellard.


"Olimpiade se-Amerika." Ucap Lay membaca lagi tulisan diatas gedung itu untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah tempat.


"Arkh!!, pria itu memang sudah gila! hanya ditinggal dua hari saja harus menyusulnya kemari." Umpat Frank.


"Kau mau masuk?." Tanya Frank beralih menatap Lay yang masih membuka mulutnya.


"Tentu saja tidak! ini bukan tempat untuk pria seperti ku, sekolah saja sudah malas apalagi menghadiri acara seperti ini."


"Lalu? ingin ke bar?."


"Ya! eh tidak-tidak, aku tidak mau mengeluarkan uang setidaknya kita harus mendapat keuntungan karena mengikuti bos Ell kesini." Ucap Lay.


"Terserah kau saja." Ucap Frank lalu melangkah masuk kedalam.


"Ah tempat membosankan yang pernah aku kunjungi." Ucap Lay ikut berjalan masuk dengan langkah malas.


Flashback off


"Ah itu, kebetulan aku yang dipilih untuk mewakili HIS dalam perlombaan pidato tentang dunia bisnis. Mungkin para guru HIS mengerti siapa yang lebih paham dan pintar dalam hal seperti itu." Jawab Ellard.


Lay dan Frank yang mendengarnya sama-sama mendengus kesal.


Alasan. Batin mereka berdua.


"Emm seperti itu." Jawab Dara menganggukkan kepalanya mengerti.


Mereka semua makan dalam diam, sesekali Lay dan Frank disuguhkan pemandangan yang membuat mereka kesulitan untuk menelan makanannya. Ellard memotongkan daging untuk Dara, menyuapinya, terkadang mencium pipi gadis itu sembarangan dan yang lebih parahnya lagi pria itu membersihkan sisa makanan di bibir Dara mengunakan bibirnya.


"Frank aku tidak tahan lagi." Ucap Lay mual lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan.


Aku juga. Batin Frank berdiri dan melangkah keluar.


"Sayang mereka berdua-."


"Biarkan saja, ternyata tanpa aku usir mereka pergi sendiri." Jawab Ellard.


Sedangkan Dara hanya bisa menahan malunya, ia mengerti kenapa kedua pria itu keluar. Bahkan dirinya sekarang juga tidak berani menatap wajah mereka berdua, dirinya terlalu malu.


******


Dara masuk kedalam kamar hotelnya, setelah berdebat panjang lebar dengan Ellard, menjelaskan kepada pria itu jika dirinya tidak bisa tidur bersamanya, akhirnya Dara bernafas lega dan bisa masuk kedalam kamar hotelnya.


Dirinya tidak bisa membayangkan jika mereka mengetahui bahwa dirinya dan Ellard tidur dalam satu kamar bersama. Pasti akan menjadi berita mengemparkan warga sekolah, terlebih mereka belum tahu bahwa ia sudah menikah dengan Ellard.


Dara melihat kearah tempat tidur, sepertinya Selin tidak terganggu karenanya. Dara berjalan kearah kamar mandi untuk menganti pakaiannya lalu bersiap untuk tidur.


Ditempat lain dihotel yang sama


"Ahh guling apa ini?! kenapa tidak nyaman sekali." Ucap Ellard marah entah keberapa kalinya, pria itu mengucapkannya.

__ADS_1


"Benar-benar berbeda dengan tubuh Dara, kecil, hangat dan nyaman."


"Arghh!! sialan!!!." Ucap Ellard keras menggema di kamar hotelnya.


Ellard menggaruk kasar rambutnya yang tidak gatal kemudian turun dari atas tempat tidurnya.


Ellard berjalan kearah balkon kamar hotelnya kemudian keluar dan mulai menyalakan rokoknya sambil melihat kearah pantai. Kamarnya berada dilantai paling atas hotel itu, membuatnya bisa melihat seluruh pemandangan yang ada. Dingin angin malam menembus kulitnya, pria itu terus menghisap rokoknya sambil menerawang jauh kedepan.


*****


Pagi hari semua murid yang mengikuti olimpiade sedang bersenang-senang dipantai. Mereka tertawa lepas menghilangkan penat yang hinggap di kepala mereka, mereka semua adalah murid pilihan dari sekian banyaknya murid lainya, mereka yang membawa nama besar sekolah HIS. Sebuah kesempatan emas dan tanggung jawab yang besar.


Banyak wanita yang berlalu lalang hanya memakai bikini bahkan mungkin sebagian dari mereka memakai pakaian renang terbuka.


Ketiga pria tampan sedang berbaring ditempat yang sudah disediakan pihak pantai. Ellard bangun dari tidurannya saat melihat gadis mengenakan rok hitam panjang dan baju berwarna putih lengkap dengan hijab hitamnya sedang bermain dengan ombak. Ah dari sekian banyaknya wanita memang hanya gadisnya yang menarik perhatiannya, gadis itu sangat berbeda dari semua orang disini, pikir Ellard. Pria itu bangun dari duduknya lalu melangkah mendekati Dara yang sedang menulis sesuatu di pasir mengunakan kakinya.


Dara menoleh kekanan dan kekiri saat pandangannya melihat Ellard, gadis itu langsung terkesiap melihat penampilan Ellard yang berbeda dari biasanya pria itu mengunakan baju pantai berwarna hijau tua dan celana coklat moka dibawah lutut, mengunakan kacamata hitamnya apalagi rambut pria itu berkilau saat terkena cahaya matahari.


Ellard berjalan kearahnya, baju pria itu berterbangan terkena angin. Kain bajunya terlalu tipis membuat badan kokohnya terlihat jelas tidak hanya Dara yang terpesona melihatnya bahkan para wanita sengaja menghentikan aktivitasnya hanya untuk melihat pria bak pangeran itu.


"Kita duduk saja, ini sudah terlalu panas kau bisa sakit." Ucap Ellard menarik tangan Dara menuju sebuah tempat makan terbuka.


****


"Hah....Aku tidak menyangka bisa terdampar ditempat seperti ini, kukira aku akan berlibur keluar negeri secara gratis." Ucap Lay lalu bangun dari tidurannya.


"Nikmati saja." Jawab Frank malas.


"Frank kau tidak mau memilih wanita-wanita itu? lihatlah mereka sangat seksi." Ucap Lay sambil melepas kacamata hitamnya.


"Tidak, mereka bukan tipe ku." Jawabnya lalu ikut bangun dari tidurannya.


"Nikmati saja yang sudah tersedia, HEI SAYANG KEMARI!!." Ucap Lay berteriak memanggil wanita berkulit sawo matang yang sedang berjemur dipasir.


"Dasar tidak waras."


"Kau memanggilku tampan?." Ucap seorang wanita yang dipanggil oleh Lay.


"Ya, kemari."


****


"Dara kau pulang bersama ku ya?." Ucap Ellard saat mereka sudah duduk di kursi tempat makan.


"Kenapa tidak pulang bersama mereka saja sayang? dari pada harus memesan tiket lagi." Jawab Dara.


"Itu.. tidak masalah, kau pulang saja bersamaku tidak perlu memikirkan perkataan mereka nanti."


"Tapi-."


"Ini perintah Dara!." Tekan Ellard membuat gadis itu terdiam.


........


Matahari mulai terbenam para murid HIS sedang bersiap untuk kembali ke New York dengan semangat karena membawa berita kemenangan sekolah mereka untuk kesekian kalinya. Akhirnya nama HIS lagi yang berhasil membawa sebuah piagam penghargaan sekolah terbaik dan akhirnya usaha mereka selama ini tidak sia-sia. Sekarang mereka hanya akan fokus terhadap ujian yang akan segera datang, tinggal menunggu beberapa minggu lagi nama mereka akan menjadi kenangan disekolah ternama HIS.


"Ell apa ini tidak masalah? mereka tidak akan mencariku bukan?." Tanya Dara cemas sambil menengok kebelakang.


Ellard menarik tangannya menjauh dari kerumunan siswa siswi HIS yang sedang menunggu keberangkatan pesawat mereka. Yang membuatnya terkejut adalah pria itu memakai masker dan kacamata, sampai dirinya tidak bisa mengenali pria itu tadi. Jika Ellard tidak mengeluarkan suaranya mungkin dirinya sudah berteriak.


"Tidak masalah, aku yang akan mengurus semuanya." Jawab Ellard mengandeng tangan Dara.


Gadis itu langsung terdiam tidak ada gunanya juga dirinya membantah pria ini, pria yang sangat keras kepala pikirnya. Mata Dara langsung melebar saat melihat dari jauh sebuah pesawat jet pribadi dengan lambang W dibadan pesawatnya.


Gadis itu mendongakkan kepalanya melihat Ellard yang sedang melepas maskernya, pandangan pria itu lurus kedepan.


Dara menengok kebelakang membaca sebuah papan yang tertulis landasan pribadi membuat gadis itu menelan salivanya sendiri. Pantas saja pria ini dengan mudahnya bilang ingin pulang sendiri dan tidak mau bersama murid lainya. Ternyata dirinya memiliki sebuah pesawat sendiri, pikir Dara.


"Selamat datang tuan dan nona muda." Sapa pramugari dan pilot sambil menundukkan sentengah badannya.


Ellard hanya memberi anggukan kecil kemudian berlalu masuk kedalam sambil menarik tangan Dara. Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saat melewati mereka.


Wah nona muda Walton. Batin mereka sama.


Dara langsung terkesiap saat masuk kedalam melihat semua interior jet pribadi milik Ellard.


"Ayo." Ucap Ellard membuatnya tersadar lalu mengikuti langkah Ellard yang menarik tangannya.


"Frank, Lay?." Ucap Dara saat melihat dua pria sedang bermain dengan ponselnya ditemani sebotol anggur didepannya.


"Hai Dara."


"Hai Bu bos." Sapa mereka bersama membuat Ellard menatapnya tajam.


"Ha-." Ucap Dara terpotong saat tubuh Ellard menutupi pandangnya.


"Sudah cukup." Ucap Ellard kemudian menarik tangan Dara membawa gadis itu duduk di kursi depan.


"Selamat datang tuan dan nona, pesawat ini akan segera terbang dengan tujuan New York. Penerbangan ke New York akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam 40 menit, dengan ketinggian jelajah 40.000 kaki di atas permukaan air laut."


"Apa ada yang anda butuhkan lagi tuan, nona."


"Tidak." Jawab Ellard datar lalu mulai menciumi punggung tangan Dara, membuat gadis itu sedikit meringis.


"Sekarang sepertinya tidak, terimakasih." Ucap Dara.


"Baik nona." Jawab pramugari itu tersenyum ramah.


Bersambung.....


Lebih baik daripada dunia dan seisinya.


Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

__ADS_1


"Dua raka'at fajar (sholat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Muslim no. 725).


__ADS_2