
"Jangan macam-macam Dara, ada orang-orang ku yang selalu mengawasi mu." Ucap Ellard sambil merengkuh pinggang Dara membawanya kedalam pelukannya.
"Iya sayang." Jawab Dara sambil menurunkan tangannya setelah memasangkan dasi dileher pria itu.
Hari ini Ellard tidak berangkat ke sekolah dirinya harus menghadiri rapat dengan para petinggi Walton bedrif. Darren sendiri yang menghubunginya untuk datang tepat waktu. Akhir-akhir ini Ellard benar-benar sibuk, bukannya menyiapkan diri untuk ujian kelulusan tapi menyiapkan diri untuk mengantikan ayahnya sebagai pimpinan perusahaannya.
"Jangan dekat-dekat anak keluarga Atletico itu."
"Devan sayang, namanya Devan kalian teman bukan?." Ucap Dara.
Cup
Tanpa aba-aba pria itu langsung mengecup bibir Dara, "Jangan menyebut namanya dengan bibir manismu itu dan dia bukan temanku." Ucap Ellard datar, ah mengingat tatapan pria itu pada istrinya membuat moodnya tiba-tiba memburuk.
"B-baiklah, kita turun sekarang ya." Ucap Dara lalu mengambil jas diatas tempat tidur dan memasangkannya ditubuh pria itu.
***
Ellard mengandeng tangan Dara turun dari tangga, mereka lebih terlihat seperti anak dan ayah. Dara yang mengenakan seragam sekolah dan Ellard dengan stelan jas formalnya.
"Sopir akan menjemputmu didepan sekolah." Ucap Ellard disela-sela langkahnya.
"Tapi Ell-."
"Jangan membantah." Ucap Ellard membuat Dara langsung terdiam.
Setelah mereka berdua selesai sarapan, Dara mengantar Ellard sampai didepan, disana sudah terparkir mobil putih dan seorang pria berseragam hitam berdiri membukakan pintu belakang saat melihat Ellard datang.
"Jangan lupa makan, kau selalu membawa kartu yang aku berikan bukan?." Tanya Ellard saat mereka sudah sampai didepan mansion.
"Iya sayang." Jawab Dara.
"Kau pernah menggunakannya? Adam bilang tidak ada tagihan apapun dari rekeningmu." Tanya Ellard sambil mengangkat salah satu alisnya menunggu jawaban dari wanita didepanya ini.
Iya dia membawanya tapi dirinya tidak pernah memakainya. Yang benar saja dia mengeluarkan black card saat disekolah? bisa heboh satu sekolah. Dia yang terkenal tidak pernah menginjakkan kakinya di kantin tiba-tiba datang dan membayar menggunakan kartu itu?, pikirnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Ah itu-, aku terbiasa mengunakan uang cash sayang." Jawabnya.
"Baiklah, aku akan meminta Adam untuk menyiapkan uang cash untukmu." Ucap Ellard lalu mengecup kening Dara.
"Tidak perlu sayang, uang yang kamu simpan di dompetku masih ada." Jawab Dara cepat.
Pria itu tidak menanggapi ucapan Dara, dirinya lebih memilih memeluk tubuh mungil itu dan memberinya kecupan berkali-kali di kepalanya.
"Jaga dirimu." Ucap Ellard sambil melepaskan pelukannya.
"Iya."
"Ingat untuk selalu menghubungi ku."
"Iya sayang."
"Dan-."
"Sayang kamu bisa terlambat nanti." Ucap Dara memotong ucapan Ellard.
Ellard melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya lalu mengangguk pelan.
"Aku pergi, jaga dirimu." Ucapnya mencium sekilas bibir Dara kemudian melangkah masuk kedalam mobil.
Dara melihat kepergian mobil yang ditumpangi Ellard sampai keluar gerbang besar mansion Walton. Ternyata benar yang dikatakan Ellard waktu itu jika sekolah hanyalah kesenangan untuknya. Apa pria itu tidak ingin mendapatkan ijazah? nilai?, ah iya Dara baru ingat jika Ellard sudah mendapatkan pelajaran tersendiri sejak kecil, pria itu benar-benar dididik berbeda dari anak lainnya pikir Dara lalu masuk kedalam untuk mengambil peralatan sekolahnya.
Wanita yang melihat kejadian itu dari balik pilar mengepalkan tangannya erat.
"Kesabaran ku sudah habis, semakin lama gadis itu semakin dekat dengan Ellard. Aku tidak akan membiarkan ini, tunggu saja balasan untukmu karena telah merebut Ell dariku." Ucapnya pelan lalu pergi dari sana sambil mengeluarkan ponselnya.
****
Dara sedang berjalan sendiri kearah kelas sambil memegang kedua tali tasnya. Anak-anak lain hanya melihat dirinya biasa lalu melanjutkan aktivitas mereka. Tidak seperti dulu jika dulu mereka akan melihat dirinya dengan tatapan merendahkan dan membicarakannya.
"Dara." Panggil Thisa membuat Dara menoleh.
"Thisa ada apa?." Tanya Dara saat gadis itu sudah ada disampingnya sambil mengatur nafasnya.
"Ayo ikut aku." Ucapnya, tanpa persetujuan dari Dara gadis itu menarik tangannya dan membawanya kelapangan basket.
Terdengar sorak-sorak suara gadis dan juga cheerleaders yang sedang beratraksi menyoraki tim basket yang sedang bertanding dilapangan.
"Kenapa kesini?." Tanya Dara binggung sambil melihat kearah kerumunan gadis-gadis.
"Ayo." Ucap Thisa menarik tangan Dara masuk ke kerumunan gadis-gadis itu.
"Wahh." Ucap Thisa berbinar sambil terus melihat kedepan.
Dara melihat kearah pandang Thisa gadis itu melihat para pria yang sedang bermain basket.
"Thisa kenapa kita kemari?." Ucapnya sedikit berteriak.
"Melihat mereka, apalagi?." Jawab Thisa tanpa mengalihkan pandangannya.
Kyaaa
Suara keras gadis-gadis itu langsung melengking ditelinga Dara, membuatnya menutup sebelah telinganya sendiri.
__ADS_1
"Gila!! Dara kau lihat?! Devan menghapus keringatnya arhkk dia terlihat lebih tampan saat berkeringat seperti itu." Ucap Thisa heboh sambil menepuk-nepuk pundak Dara.
Dara menghembuskan nafasnya pelan jadi para gadis itu berteriak hanya karena melihat Devan menyeka keringatnya? pikir Dara tidak percaya.
"This aku kekelas dulu ya." Ucap Dara tidak direspon oleh gadis disampingnya itu. Thisa masih setia melihat gerakan lincah Devan saat mengiring bola dengan mulut terbuka.
Dara menggelengkan kepalanya pelan lalu keluar dari kerumunan itu dan melangkah kekelasnya. Tentu dia masih ingat ucapan Ellard untuk tidak berdekatan dengan Devan. Ya walaupun hanya melihatnya dari jauh tapi jika itu sampai ditelinga Ellard pasti akan panjang urusannya nanti, pikirnya.
Thisa tersadar, sebenarnya ia menemui Dara ingin meminta penjelasan gadis itu tentang Ellard kemarin tapi gara-gara ia mendengar jika Devan sedang bermain basket membuatnya lupa dengan tujuan awalnya.
"Dara." Panggil Thisa menengok kesamping.
"Ehh dimana Dara?." Tanyanya pada dirinya sendiri.
"Ah nanti sajalah bertanya padanya." Ucapnya lalu kembali melihat kedepan dan berteriak paling keras saat melihat Devan memasukkan bolanya kedalam ring.
****
Jam sudah menunjukkan waktu pulang sekolah, Dara sedang berjalan keluar gerbang HIS sambil memegang tali tasnya dan bersenandung kecil. Saat sampai didepan gerbang Dara melihat ada seorang pria paruh baya buta yang ingin menyeberang, tanpa pikir panjang Dara langsung mendekati pria itu.
"Tuan mau menyebrang?." Tanya Dara ramah, membuat pria itu menengok keasal suara.
"Iya, tapi jalanan ramai sekali." Jawabnya dengan tangan memegangi tongkat bantu jalannya.
"Kalau begitu biar Dara bantu." Ucap Dara kemudian memegang lengan pria itu dan menuntunnya menyebrangi jalan.
Saat sampai disebrang jalan Dara melepaskan tangannya dari lengan pria itu.
"Tuan kita sudah menye-." Ucapan Dara terputus saat seseorang dari arah belakang membekap mulutnya dengan sapu tangan.
Emmmph
Teriak Dara sambil memukul tangan yang membekapnya, sebelum kesadarannya menghilang dia melihat pria buta tadi melepas kacamata hitamnya kemudian melihat kearahnya, dia tidak buta, pikir Dara lalu matanya tertutup rapat.
Dara dimasukkan kedalam mobil kemudian mobil itu langsung meninggalkan jalanan dengan kecepatan tinggi.
"Nona!!!." Teriak pria berbaju hitam dengan cemas ada lebih dari lima pria berlari mengejar mobil itu.
Tin....tin...tinn
Suara klakson mobil membuat para pria itu langsung masuk kemudian mobil dan menancapkan gasnya pergi menyusul mobil yang menculik nona mudanya.
Saling terjadi kejar-kejaran dijalanan, mobil yang membawa Dara benar-benar sangat cepat membuat mobil dibelakangnya sedikit tertinggal.
Brakk
Mobil para pengawal Dara tiba-tiba bertabrakan dengan sebuah mobil dari arah samping. Terjadi kemacetan di jalanan itu, dan itu membuat para pengawal kehilangan jejak para penculik Dara.
"Semua lancar, kita sedang membawa gadis ini ketempat yang sudah disiapkan." Ucap seorang pria pada seseorang diseberang telepon.
*****
Disebuah ruangan tempat para petinggi perusahaan ternama di Amerika. Pria berjas biru sedang berdiri didepan mereka semua sambil menunjukkan sebuah monitor yang menampilkan diagram garis disana. Pria itu terlihat sangat tenang dan berwibawa namun matanya selalu mengintimidasi seseorang yang dilihatnya.
"Angka kenaikan grafik keuntungan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Kita akan mengunakan metode perencanaan yang sama tapi dengan pemasaran yang berbeda di tahun ini." Jelas Ellard, para petinggi itu diam tidak ada yang berkomentar. Mereka jelas tau jika tuan muda Walton selalu mengambil keputusan yang terbaik dari yang baik.
"Aku akan mengubah sistem kinerja perusahaan ini saat tiba waktunya nanti." Ucap Ellard sambil meletakan remote kontrol monitor dimeja.
"Tuan Darren sendiri yang sudah memberiku kewenangan atas ini." Ucap Ellard sambil melirik kearah Darren yang memberi anggukan kecil padanya.
"Tuan apa kami bisa mengetahui sedikit tentang pemasaran yang akan anda pilih?." Tanya seorang pria dari kursi tengah membuat semua orang melihat kearahnya lalu kembali menatap Ellard.
"Aku ingin- ."
Ucapannya terpotong saat melihat ponselnya bergetar, Ellard langsung mengambil ponselnya dan menempelkan benda pipih itu ditelinganya.
"T-tuan muda." Ucap seseorang diseberang sana dengan nada ketakutan dan cemas.
"Ada apa? apa Dara sudah pulang." Tanya Ellard, pria itu mengangkat telepon didepan semua orang.
"N-nona Dara, tu-tuan." Ucapnya takut diseberang sana lutut pria itu gemetar hebat saking takutnya untuk mengatakan hal ini.
"Ya aku bertanya dimana Dara!!." Ucap Ellard garam jika dirinya tidak sendang didepan semua orang pasti sudah keluar kata-kata kasar pria itu.
"Seseorang membawanya tu-tuan." Terdengar suara tubuh terjatuh sepertinya pria diseberang sana jatuh terduduk karena ketakutan.
"Apa maksudmu!!." Bentak Ellard dengan suara keras membuat orang-orang diruangan itu mulai membicarakan dirinya.
"N-nona Dara dic-culik t-tuan." Ucap seseorang dengan suara yang berbeda dari sebelumnya. Sepertinya pria yang tadi tidak berani melanjutkan bicaranya.
Brakk
Ellard langsung mengebrak keras meja ruang rapat membuat semua orang terlonjak kaget tidak terkecuali Darren.
Jantung Ellard rasanya ingin keluar dari tempatnya saat mendengar ucapan pria tadi. Dirinya dengan tangan gemetar mendial nomor sopir pribadi yang ia siapkan untuk menjemput Dara.
Nafasnya mulai tidak beraturan saat teleponnya tidak segera diangkat sopir itu. Darren yang melihat itu langsung berdiri dari duduknya dan mendekati Ellard. Sedangkan Ken membubarkan para petinggi itu meminta mereka keluar dari ruang rapat.
"Ada apa Ell?." Tanya Darren sambil memegang bahu putranya.
"Tidak, tidak mungkin." Ucapnya pelan pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
Tangannya masih gemetar memegang ponselnya dan menempelkannya ditelinga. Saat panggilan teleponnya diangkat ia langsung menanyakan dimana istrinya berada.
__ADS_1
"DIMANA ISTRIKU SIALAN!!." Ucapnya keras, sampai urat lehernya terlihat jelas, wajahnya memerah dan tangan satunya mengepal erat.
Darren menoleh menatap Ken yang juga sedang menatap dirinya dengan wajah cemas.
"T-tuan m-muda saya m-minta m-maaf, saya terlambat m-menjemput n-nona Dara. Ada se-seorang yang menghadang m-mobil saat saya sedang menuju kesana. Dan se-sekarang saya ada disekolah, n-nona Dara s-sudah tidak ada." Jelas sopir diseberang sana dengan terbata dan gemetar.
Ellard langsung memegang meja saat badannya terasa lemas, jantungnya berdebar kencang ia benar-benar khawatir saat ini.
"Ada apa?." Tanya Darren cemas saat melihat wajah pucat putranya.
"D-dara." Ucap Ellard langsung berlari keluar ruang rapat, ia harus menemukan Dara apapun caranya.
"Ken cepat kejar anak itu!!." Ucap Darren keras membuat Ken langsung berlari keluar menyusul Ellard.
***
Ellard mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata ia sama sekali tidak memikirkan keselamatannya dan keselamatan orang lain. Ellard mencoba menelfon Dara dengan satu tangannya. Saat panggilan kelima tidak diangkat ia langsung melempar ponselnya kedepan.
"Kau dimana sayang." Ucapnya lirih sambil memegangi dada kirinya.
Ellard memegangi dada kirinya erat datu tangannya memegang kemudi. Nafasnya putus-putus dan pandanganya mulai kabur.
Ckitttttt
Ellard menginjak rem mobilnya dalam saat melihat seorang ibu sedang menyeberang jalan sambil membawa troli bayinya. Sontak itu membuat orang-orang disana berlarian mendekati mobilnya dan membantu ibu itu yang sepertinya syok karena hampir tertabrak.
"Hei keluar!."
"Ini jalanan umum!."
"Kau tidak lihat ada yang akan menyeberang!."
"Apa kau tidak bisa membawa mobil?."
Teriakkan marah orang-orang disana sambil menggedor-gedor mobil Ellard.
"Maaf tuan-tuan." Ucap Ken mengentikan aksi mereka, sontak orang-orang itu melihat kearah Ken. Wajah yang tadinya diliputi kemarahan dan kekesalan langsung menguap saat melihat siapa pria itu.
Siapa yang tidak mengenalnya? dia Kendrick, seseorang yang selalu ada dibelakang tuan Darren Levon Walton. Pria ini yang selalu terlihat dimedia, dia yang dari dulu tidak pernah berpaling dari keluarga Walton. Mereka selalu memberinya julukan the next tiger setelah Darren, julukan itu pernah terkenal pada masanya.
"Tuan Ken? apa anda mengenal seseorang yang mengemudi mobil ini?." Tanya seorang pria mewakili seluruh orang yang ada disana.
"Maaf tuan, dia tuan muda Ellard." Jawabnya membuat semua orang terkejut.
Ken mencoba membuka pintu mobilnya ia tidak bisa melihat kedalam mobil, kaca itu benar-benar gelap.
"Tuan, tuan muda! anda baik-baik saja? tuan buka pintunya!." Ucap Ken berteriak sambil mencoba membuka pintu mobil yang terkunci dari dalam.
Sedangkan orang-orang disana hanya diam saja mereka tidak akan mencari masalah dengan orang terpandang itu.
Ken langsung membuka pintu mobilnya saat mendengar suara klik pintu terbuka.
"Tuan muda!." Ucapnya terkejut saat melihat wajah pucat Ellard dengan bibir membiru.
Tanpa menunggu Ken langsung memapah Ellard keluar dari mobilnya.
"Dara, Ken!." Ucapnya pelan.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan-tuan dan jika ada masalah dengan nyonya itu kalian bisa langsung datang ke Walton bedrif." Ucap Ken melihat semua orang yang juga terdiam terkejut melihat Ellard.
"Baik t-tuan." Jawab seseorang saat dia sudah sadar dari keterkejutannya.
***
"Tuan muda tenangkan diri anda." Ucap Ken saat sudah didalam mobil.
"Bagaimana bisa tenang!! Dara hilang! dimana dia!." Bentak Ellard setalah itu dirinya langsung memegang dada kirinya.
"Tuan muda atur nafas anda, anda harus tenang jika ingin nona Dara selamat." Ucap Ken kali ini ia tidak bisa menutupi wajah cemasnya.
Ucapan Ken membuat Ellard sedikit memenangkan dirinya, "Cepat jalan Ken." Ucap Ellard membuat Ken menganggukkan kepalanya.
"Baik tuan." Jawab Ken lalu mulai menjalankan mobilnya.
Ellard menurunkan tangannya yang menyentuh dada kirinya lalu melihat keluar kaca. Seharusnya ia tidak membiarkan Dara kesekolah sendiri, jika sesuatu terjadi pada istrinya ia benar-benar tidak akan mengampuni orang-orang yang menjaga Dara, yang menculiknya dan juga dirinya sendiri. Dirinya pernah bilang bukan? ia lebih memilih tiada dari pada hidup tanpa Dara disisinya. Dan sepertinya ia sudah menanamkan tekad itu dalam dirinya jika sesuatu terjadi pada Daranya.
*****
Dara membuka matanya perlahan ia menggerjapkan matanya saat pandangannya mulai jelas Ia melihat sekelilingnya, yang ia lihat adalah dirinya berada disebuah gedung kosong tidak terpakai. Banyak balok-balok kayu berserakan dimana-mana. Dara mencoba mengerakkan tanganya, tidak bisa! ia terikat di kursi. Dirinya mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan talinya, tetap saja tidak bisa itu tali tambang sekuat tenaga untuk melepaskannya ia tidak akan mampu.
"Tolong!!!." Teriak Dara akhirnya saat merasa sudah tidak ada pilihan lain lagi. Ia berharap semoga ada seorang yang mendengarnya dan menolong dirinya.
"Tolong!."
Suara langkah kaki seseorang membuat Dara menoleh, dari kegelapan Dara melihat seseorang dengan pakaian ketat diatas lutut. Semakin dia mendekat Dara semakin memperjelas pengelihatannya, Dara langsung gemetar saat melihat wanita itu membawa sebuah pistol ditangannya.
**
Seorang pria sedang melihat sebuah pertunjukan dari lantai atas gedung tua. Sambil membawa paper cup coffe ditangannya, ia tersenyum miring.
Bersambung......
Kira-kira siapa yaa??🤔
__ADS_1
"Ketahuilah bahwa kematian tidak akan datang di waktu tertentu, atau keadaan tertentu atau di umur tertentu, tetapi ia pasti datang. Maka persiapanmu dalam menyambut kedatangannya adalah lebih baik daripada persiapanmu menyambut dunia." ~Imam Al-Ghazali