Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Alasan Perubahan Sikap


__ADS_3

Jam menunjukan pukul sepuluh malam, Dara masih diam disofa kamar sambil menggenggam erat sebuah kotak kecil ditangannya. Bibir wanita itu tersenyum lebar, semoga saja Ellard menyukai hadiahnya ini.


Dara melihat kearah jarum jam, matanya sejak tadi ingin segera terpejam rapat. Apa besok saja dia memberikan hadiah ulang tahun untuk suaminya? pikir Dara bimbang. Sejak tadi ia menyiapkan hadiah pikirannya seperti ada yang janggal, ia seolah melupakan sesuatu tapi apa.


Wanita itu menghela nafas panjang kemudian berjalan kearah ranjang. Ellard sudah mengirimkan pesan jika hari ini dirinya akan pulang terlambat tapi Dara tidak menyangka jika sampai larut malam begini suaminya belum pulang juga.


Dara menyimpan kotak kecil itu dilaci kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Baru beberapa menit wanita itu langsung tertidur pulas dengkuran halus keluar dari mulutnya menandakan ia sudah masuk kedalam alam mimpi.


Ceklek


Ellard masuk kedalam kamar dengan kondisi sedikit berantakan, pria itu melepas dasi yang melingkar di lehernya kemudian melepas beberapa kancing kemejanya.


Pria itu mendekat kearah ranjang lalu memberikan kecupan dikening Dara. Setelahnya Ellard berjalan kearah kamar mandi dan mulai membersihkan diri.


***


Dara menggerjapkan matanya lalu menoleh kesamping saat merasa tangan kekar memeluk pinggangnya. Ia tersenyum kemudian pikirnya langsung tertuju pada hadiah yang ada dilaci. Kapan waktu yang tepat untuk memberikannya pada Ellard? pikirnya.


Dara melirik kearah jam dinding sebelum bangkit dari tidurnya. Mungkin nanti saja saat Ellard sudah bangun, ia tidak tega membangunkannya saat melihat wajah lelah Ellard. Dara turun dari ranjangnya melangkah menuju kamar mandi.


Selang beberapa menit Dara masuk kedalam kamar mandi, Ellard membuka matanya perlahan. Saat merasa nyawanya terkumpul pria itu bangun dari tidurnya kemudian bersandar diranjang, melihat kearah kalender disamping tempat tidurnya lalu matanya menatap lurus kedepan.


Ceklek


"Sayang? kau sudah bangun?." Tanya Dara membuyarkan lamunan Ellard.


Pria itu melihat kearah Dara kemudian mengangguk singkat.


"Kalau begitu kita sholat bersama ya?."


Lagi-lagi pria itu hanya memberi anggukan kepala kemudian beranjak turun dari ranjangnya berjalan kearah kamar mandi.


****


Saat ini Ellard hanya duduk diam disofa dengan tatapan kosong kedepan. Dara yang sedari tadi bingung ingin memberikan hadiahnya, sedikit ragu dengan sikap suaminya.


"Sayang." Panggil Dara sambil duduk disamping Ellard.


Ellard menengok kesamping kemudian menarik Dara duduk disampingnya membawa tubuh wanita itu kedalam pelukannya.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?." Tanya Ellard setelah lama mereka saling berdiam diri.


Dara sedikit ragu untuk menjawabnya, "Ya."


"Katakan."


"Ell...." Dara mendongak menatap wajah suaminya yang sedang melihatnya.


"Hm?."


"Selama ulangtahun."


Ellard spontan melepaskan pelukannya pada tubuh Dara, pria itu menatap wajah Dara dengan pandangan yang sulit diartikan. Wajah yang tadinya tenang tiba-tiba berubah menjadi mengeras, Ellard langsung berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dengan menutup pintu kamar sedikit keras membuat Dara terlonjak kaget.


Sebenarnya kenapa ini?!. Batin Dara cemas saat melihat perubahan wajah Ellard tadi saat ia mengucapkan selamat kepadanya. Belum lagi ada perasaan yang mengganjal di hatinya.


****


Dara keluar dari dalam kamar, pikiran wanita itu masih tertuju pada Ellard rasanya ia sedang membuat kesalahan besar kali ini.


Baru beberapa langkah dirinya berjalan Dara langsung dikejutkan dengan para pelayan yang berseliweran hampir semuanya mengenakan pakaian hitam. Bukan seragam hitam pelayan yang biasanya dipadukan dengan warna putih, hari ini mereka mengenakan seragam warna hitam polos tanpa corak sedikit pun.


"Nona." Suara berat itu langsung menghentikan langkah Dara saat akan menuruni anak tangga. Dara membalikan badannya melihat wajah pria yang memanggilnya dia adalah Mad, sama dengan yang lain pria kaku itu juga mengenakan pakaian hitam.


"Tuan Mad eh maksudku Mad, ada apa?." Tanya Dara kikuk, bagaimanapun juga aura intimidasi seorang Madrick memang tidak bisa di pandang sebelah mata, dan Dara menyetujui pendapat semua orang tentang itu.


"Nona apa anda akan ikut tuan muda hari ini?." Tanya Mad tanpa senyuman di wajahnya.


"Kemana? Ell tidak memberitahuku jika dia akan pergi hari ini." Ucap Dara binggung, ia tau jika hari ini Ellard sedang libur pria itu sendiri yang mengatakannya.Tapi Ellard tidak memberitahunya jika mereka akan keluar hari ini.


"Nona apa anda melupakan sesuatu?" Tanya Mad sambil memincingkan matanya.


Dara ragu untuk menjawabnya, sejak kemarin ia memang seperti melupakan sesuatu tapi apa?.


"A-aku-."


"Nona anda tau ada apa dengan hari ini?."


"Ulangtahun Ellard 'kan?." Tanya Dara ragu-ragu mendongak melihat wajah Madrick.


Mad mengalihkan pandangannya saat Dara menatapnya, "Benar nona."

__ADS_1


"Nona apa anda merasa ada yang salah dengan sikap tuan muda dan tuan Darren akhir-akhir ini?." Tanya Mad mendapat anggukan cepat dari Dara.


Dari kemarin sebenarnya Dara ingin bertanya kenapa dan ada apa dengan Ellard tapi ia tidak tau dengan siapa dirinya akan bertanya. Tentu saja mendengar pertanyaan itu ia langsung berharap mendapat jawabannya.


Hening


Mad menarik nafasnya sebelum menjawab pertanyaannya sendiri.


"Hari ini hari kelahiran tuan muda tapi juga hari kematian nyonya Walton." Jawab Mad tanpa melihat kearah Dara.


Tubuh Dara seketika menegang, kematian nyonya Walton? ibu Ellard? bagaimana bisa ia melupakan hal sebesar itu padahal dia sudah mengetahui sebelumnya jika ibunya Ellard meninggal saat melahirkan pria itu. Dan dengan bodohnya ia malah mengucapkan selamat padanya? pikir Dara meruntuki kebodohannya.


"Tuan muda biasanya akan sangat sensitif dan mudah marah jika menjelang hari ulangtahunnya. Begitu juga dengan tuan Darren, beliau akan banyak murung dan juga marah, tuan Darren yang lebih tidak bisa mengontrol diri biasanya. Jadi nona saya harap anda tidak memikirkan hal aneh lagi dengan sikap tuan muda akhir-akhir ini." Jelas Mad kemudian mengembuskan napasnya kasar, ia paling tidak suka banyak bicara.


Tapi saat ini dirinya harus menyampaikan kebenaran, karena kemarin ia mendapat laporan jika wanita ular itu berbicara hal yang tidak-tidak dengan wanita didepannya ini.


Wajah Dara pias, tubuhnya lemas seketika rasanya sekarang kakinya tidak menginjak lantai Dara terhuyung kebelakang, beruntung Mad langsung dengan cepat memegang kedua lengan wanita itu.


"Nona anda baik-baik saja?." Tanya pria itu tersirat sedikit nada cemas dalam ucapannya, ingat hanya sedikit! bagaimanapun juga wanita didepannya ini adalah istri dari tuannya dan saat wanita itu tiba-tiba saja akan jatuh ia hanya refleks menangkapnya.


"A-aku-." Ucap Dara lirih, bagaimana bisa ia lupa?! pikirnya marah pada dirinya sendiri.


"Tidak apa nona, sebaiknya anda ganti baju sekarang dan pergi turun temui tuan muda. Beliau ada diruang utama sekarang sedang menunggu anda." Ucapnya seakan mengerti apa yang dipikirkan Dara.


"B-baiklah." Jawab Dara pelan kemudian berjalan kearah kamarnya.


*****


Dara berjalan kearah ruang tamu, ia melihat yang sedang duduk diam dengan pandangan kosong ditemani Violla yang mengelus lembut lengannya.


Violla melihat kearah Dara sambil menyunggingkan senyum sinisnya.


Ternyata aku berhasil! lihat wajah bersalah wanita murahan itu. Batinnya tertawa puas dalam hati.


"Ell-."


"Tuan muda, mobil sudah siap." Ucap pria berbaju hitam memotong ucapan Dara.


Ellard langsung berdiri dari duduknya dan berjalan keluar tanpa mempedulikan kedua wanita yang sedang menatapnya.


Dara berniat mengikuti langkah Ellard tapi pergelangan tangannya digenggam erat oleh Violla membuatnya mau tidak mau memutar tubuhnya menghadap wanita itu.


"Apakah pantas kau menyebutkan diri sebagai istrinya Ellard? bahkan hari yang paling membuatnya terluka saja kau tidak tau." Cibir Violla dengan nada mengejek.


Dara langsung menyentak kasar tangan Violla membuat wanita yang sebelumnya tersenyum penuh kemenangan diganti dengan raut wajah terkejut.


"Kau-." Ucapannya terpotong saat melihat Dara langsung pergi dari hadapannya menyusul Ellard keluar.


"Ck. Wanita itu menyebalkan sekali." Cibirnya pelan saat matanya melihat kearah lift, Violla langsung berjalan cepat kearah pintu keluar.


Asisten gila itu bisa membuatku mati jika terus berkeliaran disini. Batinnya frustasi.


*****


Dara meremas tangannya sendiri saat melihat wajah datar Ellard, dirinya tidak tau kemana Ellard akan pergi ia hanya menuruti ucapan Mad untuk selalu bersama Ellard seharian ini.


Bagaimanapun juga ia yang salah, jadi dirinya yang harus mencairkan suasana ini. Dara dengan keberaniannya menggenggam tangan Ellard, ia terkejut dengan respon tidak terduga Ellard yang menggenggam balik tangannya dengan erat.


Dara tidak banyak bicara ia tau Ellard pasti membutuhkan waktu untuk memenangkan perasaan dan juga pikirnya.


Ellard menyenderkan kepalanya dipundak Dara, Dara membalas mengelus rambut pria itu. Ia merasa bahu Ellard bergetar dan kerudungnya basah.


Beberapa menit dalam keheningan mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai. Dara melihat kearah sekitar ia membaca tulisan emas yang tercetak jelas didepanya.


Peristirahatan terakhir


Dara melihat kearah Ellard yang memasang raut wajah datar sambil menatap kedepan. Dara juga beralih menatap depan, disana banyak mobil hitam berjejeran yang pasti Dara hanya tau satu mobil milik Darren, mertuanya.


"Sayang." Panggil Dara pelan membuat Ellard tersadar dari lamunannya.


Pria itu menengok kearahnya dengan tatapan sendu kemudian keluar dari dalam mobil saat pengawal membukakan pintu belakang.


Ellard dan Dara bergandengan masuk kedalam pemakaman diiringi pengawal yang memayungi mereka berdua sampai masuk kedalam, diikuti Mad juga beberapa pengawal lainnya tentu diantara mereka ada satu orang yang memasang raut wajah masam siapa lagi jika bukan Violla.


Sejak tadi wanita itu hanya mengerutu dalam hati tapi juga tidak berani melakukan apapun. Tatapan mata Madrick sudah mengisyaratkan semuanya, salah bertingkah sedikit saja ia yakin kali ini bahkan Mad bisa menamparnya didepan mata Ellard langsung.


Semua orang tau, situasi hati Mad tergantung suasana disekitar Ellard.


***


Dara menghentikan langkahnya saat merasa Ellard tidak lagi menarik tangannya. Ia mendongak menatap wajah Ellard yang sedang menatap lurus kedepan. Dara mengikuti arah pandang pria itu seketika mata Dara membelalak sempurna.

__ADS_1


Tepat jauh didepannya, banyak para pria berjas hitam sedang berdiri diam sambil memegang payung, didepan salah satu batu nisan yang terdapat banyak sekali bunga yang ditaburkan dan juga sengaja ditancapkan disekitar batu nisan.


Dara sedikit banyak mengenal orang-orang itu, ia melihat Adam dan Ken. Selain itu Dara hanya tau jika para pria disana adalah para pengawal kepercayaan tuan Ken yang Dara kenal saat kejadian penculikan itu.


Yang paling mencolok disana adalah seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan diusianya yang sudah memasuki kepala empat. Mengunakan kemeja hitam dan kacamata hitam untuk menyembunyikan air mata yang menetes deras dari kelopak matanya. Jangan lupakan payung hitam yang dipegang pengawal untuk memayungi Darren dari rintikan salju putih. Dara melihat digenggaman tangan Darren ada sapu tangan, dan sekuntum mawar putih.


Dara mengalihkan pandangannya melihat kearah Ellard, pria itu masih diam tidak bergeming dari posisinya.


"Ellard." Ucap halus Dara membuat Ellard menatapnya.


"Kenapa tidak kesana?." Tanyanya lembut, ia tidak bisa menyembunyikan air matanya saat melihat jelas raut wajah Ellard yang terlihat sangat rapuh. Suaminya tidak pernah selemah ini sebelumnya.


"Darren belum pergi." Jawabnya membuat hati Dara tiba-tiba berdenyut.


"Kenapa? apa kamu tidak mau menemani Daddy disaat seperti ini?." Tanyanya masih melihat wajah Ellard yang sedang menatap kedepan.


"Darren membenciku, disaat seperti ini pasti dia akan mengingat jika aku penyebab mama meninggal."


"Dia akan mengusirku jika aku menemuinya saat ini." Lanjutnya.


Dara menelan salivanya sendiri dengan susah payah ucapan Ellard terasa sangat menyakitkan untuk didengar.


Dara mengelus lengan Ellard, "Apa kamu pernah mencobanya? lihat Daddy dia menangis sendirian disana. Walaupun banyak orang yang ada dibelakangnya tapi tetap saja tidak ada sandaran untuknya menyalurkan kesedihan yang dirasakan. Sayang Daddy Darren berusaha baik-baik saja didepan semua orang." Jelas Dara membuat kedua mata biru laut itu menatapnya intens.


"Dia pernah melakukannya Dara, dia mengusirku." Lirih Ellard diiringi air mata yang mengalir di pipinya.


Dara mencoba tersenyum sambil menghapus air mata Ellard, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya pelan.


"Coba sekali sayang, aku yakin Daddy saat ini sangat membutuhkan mu."


Gelengan kepala pelan dari Ellard membuktikan betapa traumanya pria itu. Sifat keras dan brandalnya selama ini hanya sebuah topeng yang menutupi betapa rapuhnya dia sebenarnya. Ia hanya seorang anak yang tidak tau apa-apa yang bahkan baru mengenal dunia dan langsung mendapat kebencian besar dari ayahnya sendiri yang seharusnya menjadi orang tua tunggal untuknya.


Sebenarnya alasan Ellard tidak ingin menemui ayahnya dalam situasi ini karena ia juga sadar bahwa penyebab kesedihan ayahnya adalah dirinya sendiri.


Pria itu juga tidak tahan melihat Darren yang akhir-akhir ini selalu mencoba menjadi ayah yang baik, menangis dihadapannya, tepat dihari kelahirannya.


Itu semakin membuat rasa bersalah menjalar dihatinya, sebenarnya panggilan tanpa embel-embel 'ayah' itu bukan tanpa sebab. Ia seolah tidak pantas menyebut Darren ayah setelah ia merampas sumber kebahagiaan pria itu.


Wajah putus asa, kemarahan bahkan kegilaan Darren saat ia masih kecil membekas di ingatannya. Bagaimana ia melihat dulu ada kobaran api kemarahan yang besar dimata Darren, bagaimana ia melihat Darren yang kehilangan kewarasannya karena dirinya hadir didunia ini.


"Sayang." Panggilan ketiga Dara membuat Ellard tertarik kembali dari ingatan masa lalunya.


Ia melihat wajah cemas Dara saat menatapnya membuat kesedihannya sedikit berkurang.


"Aku tidak apa-apa." Jawabnya dengan suara serak.


"Kemana?." Tanya Dara saat tangannya ditarik Ellard.


"Menemui Darren." Jawab Ellard tidak hanya membuat Dara terkejut bahkan Mad yang berdiri dibelakangnya ikut merubah ekspresi yang biasanya hanya datar.


"Ell-."


"Kau benar Dara, dia membutuhkanku." Ucap Ellard sembari melihat kearah ayahnya.


"Lihat dia, bodoh sekali kenapa tidak melepas kacamatanya saja jika ingin menangis?, itukan lebih mudah untuk membersihkan air matanya." Ucap Ellard diiringi dengan tawa, tawa yang entah kenapa terdengar getir ditelinga Dara.


"Ayo." Dara menurut saat tangannya ditarik Ellard mendekati para pria yang belum menyadari kedatangan mereka.


Saat Ellard sudah dekat salah seorang pengawal melihatnya langsung mengeser badan memberikan jalan untuk Ellard dan Dara begitu juga para pengawal yang lain yang melihat mereka mendekat tak terkecuali Adam dan Ken. Mereka menatap Ellard dengan pandangan terkejut, tentu saja mereka pasti kaget selama ini Ellard tidak pernah mau berziarah bersama ayahnya dan mereka semua tentu tau apa alasannya.


Dara bisa merasakan tangan Ellard dingin dan bergetar, apalagi saat mereka mendengar sedikit suara isak tangis yang tertahan, Darren berusaha sekuat tenaga untuk tetap baik-baik saja tapi itu semua sama sekali tidak terlihat dimata setiap orang yang dekat dengannya.


Dara perlahan melepas genggaman Ellard, tersenyum kepada pria itu untuk menyuruhnya mendekati Darren.


Ellard mengangguk kemudian perlahan ia berjalan mendekat kearah Darren dan berdiri disamping pria itu.


"Sebentar lagi Ken." Suara lirih, serak dan penuh kepedihan itu sedikit membuat jantung Ellard nyeri.


"Wajahmu sangat berantakan, aku yakin Mom akan illfeel melihatmu seperti ini."


Darren terkejut langsung menoleh melihat putra tunggalnya yang sedang berdiri disampingnya sambil menatap lurus kearah batu nisan.


...RIP...


...ARDELLA WALTON...


Bersambung.....


Like dan komen ya readers biar otor semangat up nya vote juga boleh......😄


"... dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." QS. Yusuf ayat 87

__ADS_1


__ADS_2