Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Permintaan Daminan


__ADS_3

Ellard turun dari tangga sambil menggenggam tangan Dara, saat sampai dianak tangga terakhir terlihat Adam berjalan kearah mereka berdua.


"Tuan muda, nona." Sapanya sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa?." Tanya Ellard sedangkan gadis disampingnya hanya diam menunggu ucapan yang akan disampaikan pria berumur sekitar lima puluh tahun itu.


"Ada yang ingin menemui nona muda, tuan." Ucap Adam membuat Ellard mengangkat salah satu alisnya kemudian menoleh kearah Dara yang juga menggelengkan kepalanya tanda dirinya tidak tau siapa itu.


"Siapa?."


"Anak kecil yang pernah datang kemari tuan."


*****


"Ada apa kau datang kesini?." Tanya Ellard saat dirinya sampai diruang tamu.


Anak berusia enam tahun itu menoleh kearah suara yang baru saja berbicara padanya.


"Lama sekali." Ucap Daminan menatap mereka datar.


"Dami." Sapa Dara senang kemudian berjalan mendekati Daminan, membuat Ellard mendengus kesal saat genggaman tangannya dilepas begitu saja.


Dara langsung memeluk tubuh kecil Daminan, anak itu hanya diam saja saat sebuah benda kenyal menempel di pipinya.


"Heii Dara! Jaga bibirmu itu!." Ucap Ellard kesal kemudian menarik tubuh Dara menjauhi Daminan yang wajahnya mulai memerah.


Bibir anak laki-laki itu berkedut menahan senyumnya, jujur ini pertama kalinya dia merasakan sebuah ciuman. Tenyata tidak buruk juga, pikirnya.


"Ell-."


Ellard langsung mencium bibir Dara memberinya gigitan kecil membuat Dara mengaduh saat Ellard melepaskan ciumannya.


"Itu hukuman untukmu, lain kali jangan berani mencium pria lain didepan ku." Ucapnya kemudian dirinya terdiam sebentar.


"Eh tidak-tidak bukan hanya di depanku, jangan pernah mencium pria lain selain diriku." Ucapnya kemudian mendudukkan dirinya disofa single.


Dara hanya menghembuskan nafasnya kasar, ia sudah cukup tebal muka disamping pria yang menjadi suaminya ini. Hampir setiap hari Ellard mencium, memeluk bahkan berbicara tentang urusan ranjang didepan umum. Membuat Dara terbiasa menahan rasa malunya.


"Dami, kakak belum mengucapkan terimakasih padamu karena telah menyelamatkan diriku waktu itu." Ucap Dara sambil duduk disamping Daminan.


"Terimakasih banyak ya, jika kamu tidak datang mungkin kakak akan-."


"Kau harus membayar ku." Ucap Daminan cepat memotong ucapan Dara.


Ellard mendengus kesal kemudian memalingkan wajahnya kearah lain. Sedangkan Dara tersenyum mendengar ucapan anak laki-laki disampingnya ini.


"Kamu mau minta apa? Kak Ell pasti akan menurutimu." Ucap Dara sambil mengelus kepala Daminan kemudian melihat kearah Ellard yang masih memalingkan wajahnya.


"Benarkan sayang." Ucap Dara membuat Ellard beralih menatapnya kemudian menganggukkan kepalanya pelan.


Mata Daminan menyipit saat tatapannya bertemu dengan tatapan Ellard. Kemudian senyum licik tersungging di bibir kecilnya membuat Ellard mengeram.


Awas kau meminta macam-macam. Batin Ellard menatap tajam Daminan berharap anak itu takut padanya. Bukan apa-apa, tapi dirinya masih ingat jelas jika anak kerdil ini meminta untuk bertemu dengan istrinya dan itu membuat pria itu was-was.


"Aku tidak ingin meminta darinya." Ucap Daminan sambil melipat tangannya didada, membuat Dara yang mendengarnya langsung mengerutkan keningnya.


"Kau banyak maunya sekali! tinggal katakan apa mau mu." Sentak Ellard kesal tapi sama sekali tidak direspon oleh anak laki-laki itu.


"Ell." Ucap Dara meminta Ellard untuk diam sebentar.


"Lalu Dami? Kamu mau minta apa nak?."


"Aku ingin kau."


Brak


"Hei kerdil! Jangan macam-macam kau!." Bentaknya keras sambil berdiri dan mengebrak meja didepannya .

__ADS_1


Dara langsung menghampiri Ellard dan mengusap lembut lengan pria itu,"Sayang." Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Dengan nafas masih memburu pria itu duduk menuruti perintah Dara matanya masih menatap ngalang kearah Daminan yang sedang menahan senyumnya. Dan itu membuat Ellard semakin terbakar saat melihat bibir anak kecil itu tertarik sebelah.


Dia lebih mirip monster dari pada seorang anak kecil. Batin Ellard mengeram dalam hati.


"Dami apa maksudmu tadi." Ucap Dara menghampiri Daminan saat Ellard sudah mulai tenang.


"Aku hanya ingin bersamamu seharian penuh." Jelas Daminan membuat Dara semakin bingung.


"Hanya hari ini, selebihnya tidak lagi anggap saja setelah hari ini kita tidak saling mengenal." Ucapnya membuat Ellard mengerutkan keningnya, tiba-tiba amarahnya menguap begitu saja saat mendengar ucapan anak ini.


Kenapa bocah ini berbicara tidak sesuai dengan umurnya? pikirnya.


"Maksudmu?." Tanya Ellard saat rasa penasarannya tidak bisa dibendung lagi.


"Aku ingin meminjam istrimu seharian penuh, kau tidak mungkin berpikiran jika aku akan macam-macam kan? aku ini masih anak kecil berumur enam tahun empat bulan." Ucapnya.


Jujur Ellard tidak terima saat anak ini ingin meminta istrinya walaupun hanya sehari tapi tetap saja Dara bersama laki-laki lain kan? pikirnya. Tapi saat tatapannya bertemu dengan tatapan Dara yang memohon padanya membuat pria itu luluh begitu saja.


"Baiklah." Jawabnya membuat seulas senyum tipis dibibir Daminan.


"Tapi aku juga akan mengikuti Dara kemampuan dia pergi." Lanjut Ellard membuat senyuman setipis benang itu langsung lenyap begitu saja.


"Dasar lem." Gumamnya memutar bola matanya malas.


Dara tersenyum, gadis itu mengusap rambut Daminan membuat anak itu beralih menatapnya.


"Kamu mau kemana? kita akan bersenang-senang seharian ini." Ucap Dara membuat bibir Daminan tertarik membentuk sebuah lengkungan.


Sejenak Dara terdiam melihatnya, anak ini jika tersenyum benar-benar sangat tampan. Dan sepertinya baru kali ini Dara melihat Daminan tersenyum lebar seperti itu.


Ellard mengangkat salah satu alisnya melihat Daminan, bisa tersenyum juga kerdil itu. Batinnya.


Daminan yang menyadari tindakan bodohnya langsung menetralkan kembali raut wajahnya menjadi datar.


"Terserah." Jawab Daminan.


"Terlalu membosankan." Jawab Daminan membuat Dara berpikir ulang.


"Mall?."


"Terlalu ramai."


"Kebun binatang?."


"Aku tidak suka hewan."


"Taman?."


"Banyak perempuan pengangu disana."


"Museum?."


"Aku tidak suka sejarah."


"Ck. Kau banyak maunya sekali! Bagaimana jika club'?." Celetuk Ellard saat dirinya sudah mulai kesal.


Dara melebarkan matanya saat mendengar ucapan Ellard. Dirinya langsung cemas saat melihat Daminan sedang berpikir, anak ini tidak akan memilih tempat itu bukan? pikirnya. Jelas saja dirinya cemas, Daminan ini bukan seperti anak lainnya, dia anak yang agak berbeda bisa dibilang aneh dan menjerumus kearah yang misterius. Bayangan Daminan datang dengan sebuah senjata api ditangannya langsung terlintas dipikiran Dara membuat gadis itu bergidik.


"Mall, kita akan ke Mall saja." Ucap final Dara, dirinya tidak menunggu jawaban dari Daminan. Mengantisipasi jika Daminan akan mengiyakan ucapan Ellard untuk pergi ke club'. Walaupun Dara tau jika suaminya itu tidak serius, tidak mungkin Ellard akan melepaskannya ditempat seperti itu mengingat bagaimana perlakuan pria itu terhadap dirinya.


Tapi dirinya tidak tau bagaimana jalan pikiran anak disampingnya ini. Bisa saja Daminan melakukan hal diluar nalar dengan menyetujui ucapan Ellard untuk menghabiskan waktu di tempat terlarang itu.


****


Mobil Ellard berhenti di mall pusat kota terbesar di New York, mereka bertiga turun dari mobil kemudian berjalan masuk kedalam. Tangan kanan Dara mengandeng tangan Daminan sedangkan tangan kirinya digenggam erat oleh Ellard.

__ADS_1


Ellard kali ini mengunakan masker untuk menutupi wajahnya. Ia tidak ingin membuat riuh suasana walaupun orang lain tidak ada yang bisa menggangunya tapi tetap saja namanya manusia pasti ada saja yang akan melanggar. Foto kemarin dirinya di Mall saja langsung tersebar dimedia untung saja tidak ada yang berani berkomentar tentang gadis berhijab disampingnya setelah Ken memberi tekanan lewat kekuasaannya.


Jangan salah walaupun seorang asisten kekuasaan Ken bahkan bisa menyaingi Ellard. Ellard masih berada dibawah Kendrick, pria tua itu mempunyai banyak koneksi dengan beberapa orang ternama yang bahkan Ellard belum bisa mencapainya.


"Dami, cuaca hari ini dingin sekali kita ketempat jaket dulu saja ya." Ucap Dara menunduk melihat wajah Daminan.


Daminan hanya mengangguk menjawabnya ia mengikuti kemana arah wanita itu menarik tangannya.


Dan sekarang berakhirlah disini ditempat toko mantel musim dingin, Ellard dan Daminan duduk bersampingan mereka berdua saling diam tidak ada yang memulai pembicaraan. Sudah lebih dari tiga puluh menit tapi Dara masih sibuk memilih mantel untuk Daminan.


Huh....


Dua pria berbeda usia itu saling memandang satu sama lain saat mendengar helaan nafas mereka bersamaan. Dua detik kemudian mereka langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Dia sedang memilih jaket atau berjualan baju, lama sekali." Ucap Daminan pelan tapi masih terdengar ditelinga Ellard.


"Ini salahmu, sudah tau cuaca dingin kenapa memakai pakaian biasa." Sahut Ellard tanpa mengalihkan pandangannya dari Dara.


"Aku tidak meminta matel ini inisiatif istrimu sendiri."


"Kau tidak tau ya? hati istriku itu selembut sultra, seputih salju dan sebening embun mana mungkin dia membiarkan bocah kerdil sepertimu mati kedinginan."


"Ya dia sangat baik, tapi kenapa harus menikahi pria sepertimu." Ucapnya membuat Ellard langsung mengalihkan pandangannya menoleh kearah bocah disampaikannya yang masih menampilkan wajah datar tanpa dosa setelah mengatakan itu.


"Maksudmu?." Tanya Ellard mengeram kesal, bocah kerdil ini selalu bisa memancing emosinya.


"Apa sudah selesai?." Tanya Daminan tanpa menjawab pertanyaan pria disampingnya itu.


Ellard menoleh melihat arah pandang Daminan, ternyata Dara istrinya sedang berjalan kearahnya. Tapi yang membuat kedua pria itu sama-sama mengerutkan keningnya adalah Dara berjalan kearahnya tidak membawa apapun.


"Sayang apa kau sudah mendapatkan mentelnya?." Tanya Ellard mengecup kening Dara singkat saat gadis itu sampai didepannya.


"Belum sayang, harga mantel disini bisa untuk membeli rumah dua lantai sepertinya kita mencari toko lain saja." Jelas Dara membuat kedua pria itu membuka rahangnya lebar, tidak habis pikir!.


Jadi dari tadi hanya melihat harga? pikir mereka berdua sama.


"Sayang, pilih saja yang menurutmu bagus tidak perlu memperdulikan harganya." Ucap Ellard mengelus kepala Dara.


"Tapi Ell-."


"Kau tidak lihat?, kerdil ini sudah kedinginan dari tadi aku tidak tega melihatnya." Ucap Ellard membuat Daminan berdecih.


Dara langsung mengalihkan pandangannya kearah Daminan, ah dirinya jadi merasa bersalah. Dara menyamakan tingginya dengan tinggi Daminan membelai lembut rambut anak kecil itu.


"Maaf ya, kakak lupa jika Dami menunggu lama. Atau kamu pakai jaket kakak saja ya? lihat badan kamu sudah dingin sekali, kakak minta maaf ya, sebentar." Ucap Dara dengan nada penuh penyesalan, dirinya lupa jika suaminya itu bisa membeli apapun. Tapi namanya juga ia terbiasa hidup sederhana melihat sembilan digit angka itu membuatnya lupa semua. Saat Dara akan melepaskan mantelnya tangan Daminan menghentikan aktivitas gadis itu.


"Tidak masalah, aku akan menunggu saja." Jawab anak itu kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain, dirinya tiba-tiba merasa matanya panas saat melihat perhatian wanita itu padanya. Tiba-tiba ia benar-benar merasa mendapat sebuah kasih sayang yang bahkan belum pernah ia rasakan atau bayangkan sebelumnya.


The continuation....


"Dami kenapa tidak makan? mau kakak suapi?."


"Dami....." Panggil Dara saat tidak mendapat jawaban dari anak kecil didepannya.


"Kamu kena-."


"Mom.."


......


"Hah?."


"Boleh aku memanggilmu mommy?."


Bersambung....


Jangan lupa pencet lopee ya!! komen juga😆 vote? terserah kalian:)

__ADS_1


Jaga kesehatan!!


Yang buruk sengaja Allah lepaskan, agar yang baik mempunyai kesempatan untuk datang.~ Ali bin Abi Thalib


__ADS_2