
"Berhenti Vio, jangan mencoba menyentuhku lagi, apa kau tidak ingat kejadian tadi malam? hingga kau seberani ini mendekat ke arahku?."
"Ell-." Panggil Violla dengan suara lirih menahan air mata yang sudah bergumul di pelupuk matanya.
Ellard menghiraukan panggilan Violla, ia lebih memilih berjalan kearah sofa kemudian mendudukkan dirinya disana.
"Aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal rendahan seperti itu Violla." Ucap Ellard membuat benda tajam menghantam dada Vio.
Ketahanan wanita itu runtuh, air mata yang semula ia tahan akhirnya terjatuh membasahi pipinya. Ini pertama kalinya Ellard berbicara semenyakitkan ini dengannya.
Salah satu sudut bibir Mad tertarik keatas saat melihat tangan Violla bergetar.
"A-apa aku punya salah? kenapa kamu berbicara seperti itu denganku Ell?." Tanya Violla dengan air mata membanjiri pipinya, mungkin dengan ini Ellard akan luluh? dari dulu pria itu paling tidak bisa melihatnya menangis.
Cih dasar tidak tau diri. Batin Mad berdecih sambil memalingkan wajahnya kearah lain, malas melihat drama queen menyebalkan didepan matanya.
"Vio apa kau masih tidak tau dimana letak kesalahan mu? kau itu wanita berpendidikan, tapi tingkah lakumu seperti wanita murahan."
"Ell a-aku-." Tenggorokannya tercekat, rasanya ia tidak bisa mengeluarkan suara untuk membela diri, murahan? kata itu yang terngiang ditelinganya.
"Aku percaya padamu karena kau satu-satunya teman baikku, walaupun dari dulu kakek yang selalu menekanku untuk menjagamu dan selalu bersamamu.
Aku menurutinya, aku mengikuti kemanapun langkahmu aku menjagamu dengan segala kemampuanku. Aku yang akan disalahkan jika kau terluka, aku yang dihukum jika kau menangis. Seiring berjalannya waktu aku menerimamu menjadi temanku, karena aku melihat ketulusan dimatamu, dan hanya kau yang ada di sisiku saat aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersamaku."
Ellard menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan bicaranya, sedangkan Violla tubuh wanita itu sudah ambruk dilantai lututnya melemas mendengar ucapan Ellard.
"Vio tindakanmu kemarin membuatku sadar jika kau bukan lagi Violla yang aku kenal." Ucap Ellard membuat tangis Violla pecah.
"Hiks...hiks Ell a-aku melakukan i-tu karena aku tidak ingin kehilanganmu. K-kau berbeda setelah mengenal gadis itu, kau t-tidak perduli lagi denganku, kau tidak menyayangiku seperti dulu lagi. Aku ingin Ell yang dulu kembali padaku...."
"Ell a-aku mencintaimu."
Ucapan terakhir Violla membuat Ellard kaget bukan main, ia menatap wanita yang sedang duduk bersimpuh dilantai dengan raut wajah tidak percaya.
"Ya Ell a-aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Ell kau bilang akan selalu ada bersamaku kan? kau berjanji dengan kakek untuk selalu menjagaku kan?." Ucap Violla menatap wajah Ellard, wanita itu menyeka air matanya sebelum melanjutkan bicaranya.
"Aku ingin menagih janji itu Ell aku ingin kau menikahiku."
Cuih
Mad meludah kesamping saat mendengar ucapan terakhir Violla, ia sejak tadi menahan gejolak amarah didalam dirinya untuk memenggal kepala wanita didepannya ini. Jika tidak ada tuan mudanya diruangan ini sudah dipastikan wanita itu tidak akan berani mengeluarkan suaranya.
"Ellard aku ingin menjadi istrimu disisa hidupku, aku tidak masalah jika menjadi yang kedua." Ucap Violla lirih sembari berdiri dan melangkah pelan mendekati Ellard.
Ellard masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya, syok mungkin saat mengetahui jika selama ini wanita yang ia jaga seperti adiknya sendiri ternyata menaruh hati padanya.
"Ell apa kau akan membiarkanku hidup sendirian seperti ini disisa umurku? aku ingin merasakan dicintai oleh orang yang juga aku cintai. Ellard aku mohon, aku ingin selalu bersamamu." Ucap Violla sambil menjatuhkan diri didepan Ellard dan memegang tangan pria itu erat.
"Nona menjauhlah dari tuan muda, apa anda tidak punya rasa malu mengatakan itu, tuan muda sudah menikah." Mad sudah tidak tahan lagi, pria itu menarik kasar tangan Violla agar menjauh dari Ellard.
"Ellard aku mohon, aku rela menjadi yang kedua!." Teriak Violla menghiraukan ucapan Mad, ia masih memegang erat tangan Ellard membuat mereka sama-sama tarik-menarik.
"Ellard!!." Teriak Violla saat tubuhnya berhasil ditarik Mad.
Sesaat kemudian Violla mencengkram erat perutnya sambil meringis kesakitan. Dan itu sukses membuat Mad tambah tersulut emosi, pria itu mempererat cengkraman tangannya dilengan Violla sampai menimbulkan cairan merah kental keluar dari permukaan kulit, Vio meringis kesakitan saat merasa jari-jemari Mad menembus kulitnya.
"Shhh sakit."
"Mad lepaskan dia." Ucap Ellard pelan membuat Mad mengerutkan keningnya.
"Tuan muda-."
"AKU BILANG LEPASKAN." Ucap Ellard keras sambil menarik tubuh Violla mendekat kearahnya.
"Shhh Ell s-sakit." Lirihnya sambil meremas kuat perutnya sendiri.
__ADS_1
"Panggilkan dokter." Ucap Ellard menatap sekilas kearah Mad kemudian kembali melihat wajah Violla yang sedang meringis kesakitan.
"Tuan muda ap-."
"APA YANG KAU TUNGGU!! PANGGILKAN DOKTER!." Ucap Ellard keras.
Tuan muda, jangan melakukan hal gila yang akan membuat anda menyesalinya. Batin Mad melihat kearah Ellard, kemudian beralih menatap ngalang kearah Violla, rasanya jiwa membunuh dalam dirinya berkobar saat melihat wajah wanita itu.
"MAD!."
"Baik tuan." Jawab Mad kemudian mendial nomor seseorang.
****
"Bagaimana kondisinya?." Tanya Ellard cepat saat melihat Nike baru saja keluar dari dalam kamar Violla.
"Dia baik-baik saja hanya sedikit tertekan, kondisi tubuhnya sangat lemah jadi....." Penjelasannya terhenti saat melihat Ellard menghiraukan perkataananya dan langsung masuk kedalam kamar, Nike menghembuskan nafasnya kasar sambil mengumpat dalam hati.
"Aku ingin bicara padamu." Ucap Mad datar membuat bulu kuduk Nike meremang.
Sialan anak dan ayah sama saja, dan bodohnya lagi kenapa aku harus takut dengan anak muda gila satu ini?. Batin Nike kesal, tapi kepalanya mengangguk menyetujui permintaan ah bukan lebih tepatnya pemaksaan pria itu.
Mereka berdua berjalan kearah kolam renang, Mad menatap air kolam yang tenang sebelum memulai pembicaraan.
"Apa ada yang salah dengan wanita itu?." Tanya Mad tanpa menengok kearah Nike.
"Salah? salah bagaimana maksudmu?." Tanya Nike sambil mengerutkan keningnya binggung dengan pertanyaan Mad.
"Wanita itu bilang dia mengidam kangker rahim stadium awal, apa itu benar?." Tanya Mad datar membuat Nike terkejut.
"A-apa?!."
"Kangker?." Tanya Nike memastikan.
"Benar."
"Ya."
"Stadium awal?." Tanya Nike membuat Mad menghembuskan nafasnya kasar.
"Dokter, apa telinga anda mulai tidak berfungsi dengan baik?." Tanya Mad dengan senyuman melihat kearah Nike.
"Ah itu....."
Jangan tersenyum sialan, anak ini wajahnya benar-benar seperti iblis. Batin Nike sambil menelan salivanya sendiri.
"Jadi apa dia sekarat?." Tanya Mad sekali lagi dengan raut wajah yang berubah datar.
"Memeriksa apakah dia mempunyai kangker atau tidak harus membutuhkan beberapa rangkaian tes untuk mendapat hasil yang akurat. Tapi sejauh ini aku memeriksanya tadi sepertinya tidak ada hal yang janggal ditubuhnya selain ketahanan tubuh yang lemah." Jelas Nike membuat Mad mengepalkan tangannya.
"Aku tau dia hanya bersandiwara." Ucap Mad dengan nada tertahan.
Tunggu sampai waktunya tiba nona Vio, saya pastikan tuan muda sendiri yang akan menendang anda keluar dari mansion ini. Batin Mad sambil mengeraskan rahangnya, Nike yang mendengar gemeletuk gigi pria disampingnya itu langsung mengeser langkah sedikit menjauhi Mad.
Ayolah anakku cepatlah lulus, ayahmu ini ingin segera pensiun. Batin Nike mendramatisir keadaan.
"Dokter aku tidak mau tau bagaimanapun juga kau harus mendapatkan hasil medis wanita ular itu jika sebenarnya dia tidak sakit." Ucap Mad menatap tajam kedepan dengan mata memerah.
"Dan jangan sampai dia mengetahui jika dokter sedang mencoba memeriksa penyakitnya." Lanjut Mad membuat Nike melotot, apa-apaan itu?.
"Hei bagaimana b-b-bis...." Ucapannya tertahan saat melihat mata Mad yang mengarah kepadanya.
"B-baiklah." Jawabnya pasrah.
****
__ADS_1
Ellard melihat keluar kaca jendela kamar Violla melihat hamparan bintang-bintang yang tersebar luas dilangit malam. Pikirannya mengingat kembali ucapan yang dikatakan Violla beberapa jam yang lalu.
Aku mencintaimu
Kata itu terngiang ditelinga Ellard membuat pria itu berpikir keras, entah apa yang dipikirkannya tidak ada yang tau.
"Ell." Panggil lirih Vio sambil mencoba untuk bangkit dari tidurnya.
"Istirahat saja, kau masih lemah." Jawab Ellard tanpa membalikan badannya dari langit malam yang lebih indah dari kenyataan.
Kenyataan jika teman yang selama ini sudah ia anggap adik berani melakukan hal gila yang sudah kelewat batas.
"Vio sebelumnya aku ingin memintamu pergi dari sini, tapi melihat kondisimu yang seperti ini..." Ucapan Ellard terhenti, pria itu menarik nafasnya kemudian menghembuskanya kasar.
"Untuk menghindari masalah atau kesalahpahaman, aku ingin bilang padamu jika mulai sekarang aku memutuskan pertemanan kita." Ucap Ellard tanpa melihat kearah Vio .
"Ellard? apa semudah itu kamu memutuskan pertemanan kita yang bahkan sudah terjalin bertahun-tahun? Ell, kamu berubah! kamu berubah sejak kehadiran Dara, aku benar-benar membenci gadis itu!." Teriak Violla diakhir kalimatnya.
"Vio!." Ellard membalikan badannya menatap tajam kearah Violla, membuat wanita itu sedikit takut saat mata yang biasanya menatap sendu dirinya tiba-tiba menatapnya tajam dengan aura intimidasi yang kental.
"Bukan karena kedatangan Dara, ini semua karena dirimu sendiri. Kau melewati batasan mu sebagai seorang teman, Vio jika malam itu bukan kau yang melakukan tindakan murahan seperti itu. Aku pastikan, tanganku sendiri yang akan melenyapkan orang yang berani melakukan itu padaku."
"Sayang itu adalah dirimu, wanita yang sudah ku anggap adikku sendiri. Mungkin memutuskan pertemanan kita itu adalah pilihan yang tepat. Setelah ini aku harap kau tidak menganggu rumah tanggaku lagi, atau bahkan berniat merusaknya." Ucap Ellard kemudian ia berjalan keluar kamar meninggalkan Violla yang sedang menangis keras dengan badan gemetar.
******
Ceklek
Ellard masuk kedalam kamarnya sambil memijit pelipisnya, ia kira tidak akan serumit ini masalahnya. Dirinya pikir Violla akan meminta maaf padanya dan mengatakan bahwa dia sedang khilaf, mungkin Ellard akan memaafkannya dan memintanya pergi dari sini. Ia akan membelikan apartemen mewah untuk wanita itu tinggal.
"Ellard."
Ellard mengangkat kepalanya saat mendengar suara Dara. Pria itu langsung memeluk tubuh Dara dan memasukan wajahnya ditengkuk leher wanita itu.
"Ada apa?." Tanyanya halus sambil mengelus punggung Ellard, sebenarnya sejak tadi dirinya sangat ingin menemui Ellard menanyakan hal yang mengganggu pikirannya.
"Tidak ada." Jawab Ellard pelan.
"Ell apa aku boleh bertanya?." Tanya Dara hati-hati sambil melihat kearah laci samping tempat tidur.
Ellard melepaskan pelukannya menatap Dara sekilas kemudian berjalan kearah kamar mandi meninggalkan wanita yang sedang menatapnya binggung.
"Aku lelah Dara, besok saja kau bertanya." Jawab Ellard tanpa menoleh kearah Dara.
Entah kenapa ia merasa sikap Ellard sedikit berbeda kali ini. Dara melihat tatapan mata pria itu, Ellard seperti sedang kecewa, sedih dan marah secara bersamaan.
Dara melihat kembali kearah laci disamping tempat tidur Ellard, sebenarnya ia ingin bertanya kenapa laci itu harus dikunci. Tidak biasanya Ellard mengunci sesuatu dikamar ini, bahkan meja aksesoris pria itu yang isinya bisa untuk membeli lapangan golf saja dibiarkan begitu saja kuncinya menggantung disana. Dan itu membuat Dara bertanya-tanya apa yang ada didalam?.
Bersambung.....
Kalian pada kesel enggak sih ama Violla? kok othor jadi yang kesel sendiri ya....
Pasti banyak yang mikir Ellard juga bodoh banget yaa... iya othor juga mikir sama...
Mungkin karena Ell masih labil kali ya? tenang aja readers nanti akan ada sesuatu yang bikin semuanya berubah....
SEMUANYA!!
Baca terus ceritanya ya! jangan lupa juga buat like dan komen..... vote juga bolee hihi
komen kalian semua benar-benar bikin aku terharu, sedih sama ngakak sendiri 🙈
Selalu jaga kesehatan ya readers...
Otor mau mengucapkan Selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad 1443H Semoga syafaat - Nya senantiasa tercurah bagi kita semua.
__ADS_1
Aamiin ya rabbal 'alamin......