
Aku membencimu!" teriak Violla sambil berdiri cepat lalu berlari kearah Dara.
"VIO!"
Ellard bergerak cepat untuk melindungi istrinya tapi belum dirinya sampai. Pisau itu lebih dulu menembus kulit dan masuk kedalam daging membuat darah menetes membasahi lantai marmer mansion.
Rasanya jantung Ellard berhenti berdetak saat Violla mengarahkan pisaunya tepat diperut Dara. Otaknya tiba-tiba kososng saar melihat darah merembes keluar.
"Bukankah hal yang seharusnya kau lakukan itu memohon ampun? bukannya bertindak kurang ajar seperti ini" ucap Mad tanpa ekspresi. Ia berucap seolah tidak terjadi apa-apa padahal saat ini tangannya sedang menggenggam pisau tajam yang seharusnya diarahkan untuk Dara.
Ellard melanjutkan jalannya dengan cepat tanpa mengalihkan pandangannya kearah Violla yang saat ini sedang gemetar melihat tangannya sendiri yang masih menggenggam gagang pisau.
Plak
Tamparan keras itu langsung membuat Violla jatuh tersungkur ke lantai untuk yang kedua kalinya. Seakan belum puas, Ellard menjambak rambut wanita itu membuat Vio meringis sambil menangis.
Plak
"Ellard!" teriak Dara saat melihat suaminya melakukan hal yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pria.
"Nona sebaiknya anda diam saja"
Dara melihat pergelangan tangannya yang digenggam oleh Mad dengan salah satu tangannya yang tidak terluka. Dara diam karena tahu semuanya akan sia-sia jika ia memberontak, tangan pria ini seperti besi yang hanya bisa lepas jika dia menginginkannya.
"Jika.....jika satu tetes darah saja Dara terluka. Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah Vio!" ucap Ellard tersengal, lehernya seperti dicekik saat melihat kejadian yang hampir membuatnya menjadi gila tadi. Jika Mad tidak menghalangi pisau itu sudah pasti ia akan kehilangan anaknya atau bahkan Daranya.
"Ellard" ucap Violla memohon, ia benar-benar takut dengan Ellard kali ini.
"Aku menganggapmu seperti adikku sendiri. Tapi kau yang menghancurkan semuanya Vio. Sekarang pergi dari sini sebelum aku berbuat lebih" ucap Ellard sambil melepaskan rambut Violla dengan kasar.
Wajah Ellard merah padam, uratnya menonjol jelas. Pria Eropa itu tidak habis pikir dengan sahabat dekat yang sudah ia anggap keluarga itu berani melakukan hal gila seperti ini.
__ADS_1
"Ell-"
" PERGI!"
"Aku mohon-"
Habis kesabaran Ellard, pria itu berjalan kearah Vio lalu mencengkram pergelangan tangannya dan menyeretnya keluar dari mansion.
"Pergi Vio dan jangan berani-beraninya muncul lagi di hadapanku"
Badan Vio terhuyung kedepan, tampilannya sangat berantakan. Kedua pipinya memar sedikit mengeluarkan darah diujung bibirnya. Rambut acak-acakan dan noda darah ditangan kanannya.
" Ell aku harus kemana? aku tidak punya siapa-siapa disini. Hanya kamu, aku minta maaf Ell. Kau bilang akan selalu berada di sampingku, menemani diriku untuk menyembuhkan penyakitku ini kan Ell" ucap Violla menangis, ia memegang lengan Ellard. Memohon kepada pria itu untuk memaafkannya.
"Ini semua salah mu Vio. Sudah ku peringatkan jangan macam-macam. Tapi hal yang kau lakukan kali ini tidak bisa aku maafkan. Bersyukurlah karena aku tidak membunuhmu" ucap Ellard sarkas.
Mad yang melihat itu dari ruang tamu menyunggingkan senyumnya. Membuat Dara yang berdiri disampingnya bergidik ngeri, pria ini memang lebih baik tidak tersenyum. Pikirnya.
Mad mengkode salah satu pria yang masih berdiri disamping pilar untuk mendekat kearahnya.
Mad mengangguk lalu menyuruh pria itu pergi dengan gerakan kepalanya. Ia tersenyum sinis kemudian menengok kearah Dara yang masih berdiri disampingnya.
Madrick berdehem saat melihat nona mudanya melihat aneh dirinya.
"Nona sebaiknya anda istirahat, kejadian hari ini pasti berat untuk anda" ucap Mad kemudian berjalan mendekati Ellard yang masih berdiri diambang pintu.
"Ell aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku gila saat melihat kau jauh dariku Ell"
"Aku tidak peduli apapun lagi Vio. Hiduplah semaumu tapi jangan menganggu diriku" ucap Ellard kemudian berbalik.
Ellard berhenti saat Mad berdiri tepat di depannya. "Maaf tuan, tapi sepertinya ada yang perlu anda ketahui" ucap Mad sambil menyerahkan amplop berlogo rumah sakit padanya.
__ADS_1
Tanpa menunggu Ellard langsung menyobek amplop itu dan melihat kertas didalamnya. Isinya adalah tes kesehatan.
"Hasil tes darah dan CT scan nona Vio menunjukkan nona Violla dalam keadaan sehat tuan. Tidak ada tanda-tanda penyebaran sel kanker ataupun tumor didalam tubuhnya" ucap Mad panjang lebar, pria itu tersenyum saat melihat wajah Violla bertambah pucat.
Ellard meremas kertas ditangannya, wajah yang semula sudah sedikit tenang kembali mengeras. Ia dibohongi dan dibodohi, "Kurang ajar" desisnya pelan sambil membuang kertas itu kesembarang arah.
Ellard memutar tubuhnya melihat wajah Violla seperti mayat hidup, pucat sangat pucat dengan badan gemetar.
"Sekarang tidak ada lagi alasan aku tidak bisa membunuhmu Vio" ucap Ellard dengan nada tertahan membuat Violla kesulitan mengambil nafasnya.
Ellard maju mendekati Violla, tangannya terulur mencekik leher wanita itu. Ia benar-benar sangat marah karena merasa dibohongi terlebih lagi wanita ini ingin mencelakai orang yang paling ia cintai.
Violla memukul-mukul tangan Ellard, ia pasrah saat tenaganya mulai habis. Saat akan menutup mata, Ellard melepaskan tangannya membuat Vio langsung mengambil udara sambil terbatuk-batuk.
"Sayang ingat, aku sedang hamil apa kamu benar-benar akan membunuh orang?" Dara berdiri didepan Ellard sambil mengelus dada pria itu.
Dada Ellard yang semula naik-turun dengan cepat perlahan kembali normal. Dara mengelap keringat didahi suaminya sambil membenahi rambutnya.
"Tenang ya" ucap Dara lagi, dengan cepat Ellard langsung memeluk tubuh Dara erat menyembunyikan wajahnya kedalam tengkuk leher istrinya.
Ellard melepaskan pelukannya kemudian melihat Mad yang masih berdiri diam ditempatnya.
"Aku menyerahkannya padamu. Kau bisa melakukan apapun semaumu" ucap Ellard dingin kemudian mengajak istrinya pergi meninggalkan kedua orang itu.
Ibarat keluar dari mulut macan masuk kedalam kandang singa. Pepatah itu yang saat ini dirasakan Violla, Ellard memang menyeramkan jika sedang murka tapi tangan kanannya tidak ada bedanya. Madrick adalah gambaran malaikat pencabut nyawa, dia pendiam tapi sekalinya bergerak mengegerkan orang. Bukankah air tenang lebih menghanyutkan?.
Madrick mendekati Violla yang saat ini sedang berjalan mundur menghindarinya. Saat tubuhnya terpentok pilar, Vio hanya bisa memejamkan matanya saat Mad mencondongkan tubuhnya kearah wajahnya.
Violla melihat Madrick tersenyum lebar, senyum yang menyeramkan. Senyuman yang sebaiknya tidak pernah ditampilkan.
"Aku menunggu saat ini dari lama nona, akhirnya aku bisa bermain dengan anda lagi" ucap Mad berbisik ditelinga Violla.
__ADS_1
"Anda sudah mengukir tangan saya. Bagian tubuh mana yang harus saya balas?. Saya ini bukan tipe orang pemaaf lho"
Detik itu juga nyawa Violla rasanya ikut terbang bersama keberaniannya saat melawan pria itu.