
"Tuan, nona makan malam anda." Ucap pramugari membuat Dara menoleh.
"Ah ya baiklah, terimakasih." Ucap Dara saat pramugari itu menata makanan didepan mejanya.
Sedangkan Ellard tidak melirik sama sekali, pria itu masih menempelkan kepalanya dipundak Dara sambil bermain ponselnya.
"Sama-sama nona, silahkan dinikmati." Ucapnya sambil tersenyum.
Appetizer, Main Course, Dessert sudah tertata rapi diatas meja, Dara melirik kearah Ellard yang masih diam sambil bermain dengan ponselnya. Sepertinya pria itu sedang bermain game dengan Lay dan Frank karena suara kedua pria itu terdengar sampai kekursi depan.
"Ell, makan dulu." Ucap Dara.
Bukannya menjawab pria itu malah membuka mulutnya lebar-lebar, Dara yang paham tangannya langsung terulur untuk mengambil makanan pembuka didepan Ellard. Gadis itu menyuapi Ellard dalam posisi kepala pria itu berada dipundaknya.
Ellard keluar dari game di ponselnya lalu beralih membuka kamera, pria itu memotret dirinya saat Dara menyuapinya.
Dikursi belakang
"Eh kenapa bos Ell tiba-tiba keluar?." Tanya Lay masih fokus dengan gamenya.
"Entahlah, untung saja dia keluar hampir saja aku mati gara-gara pria itu." Jawab Frank.
Ting
Suara pesan masuk diponsel keduanya membuat Lay dan Frank keluar dari game dan membuka pesan yang baru saja masuk.
Ellard sent you a photo
(Ups sorry sepertinya aku salah kirim.) Tulis pesan itu dibawah foto yang baru saja masuk.
Pesan itu membuat keduanya berdecih sambil mengumpat pria itu.
Sedangkan Ellard tersenyum tipis saat tidak menerima balasan dari keduanya. Dirinya bisa membayangkan semasam apa muka mereka berdua di kursi belakang.
"Ell kita belum sholat isya." Ucap Dara disela-sela menyuapi Ellard.
"Setelah ini kita sholat." Jawabnya.
Dara menganggukkan kepalanya lalu mengambil makanan utama pria itu.
"Kau makan dulu." Ucap Ellard sambil menegakkan duduknya.
"Nanti saja setelah solat."
"Makanannya akan dingin nanti, makan sekarang." Ucap Ellard lalu mengambil garpu dan pisau dari tangan Dara.
"Ini." Ucap Ellard sambil menyodorkan sepotong daging panggang pada Dara.
Gadis itu memakannya sambil melihat Ellard yang sedang makan dengan garpu yang sama dengannya.
*****
Akhirnya jet pribadi Ellard mendarat dengan selamat di bandara New York, mereka berdua berjalan bergandengan menuju pintu keluar diikuti Lay dan Frank dibelakangnya.
"Bukannya mendapat kesenangan karena berlibur gratis malah mendapatkan pemandangan yang tidak mengenakkan." Ucap Lay lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Salahmu sendiri seharusnya kau bertanya dulu pada Adam, kemana Ellard akan pergi!." Jawab Frank.
"Hei kenapa jadi menyalahkanku? kenapa tidak kau saja yang bertanya?!." Ucapnya tidak terima.
Perdebatan mereka terhenti saat melihat mobil hitam berhenti didepan Ellard dan Dara.
"Masuk." Ucap Ellard, tangan pria itu berada diatas kepala Dara untuk melindungi kepala gadis itu agar tidak terpentok pintu mobil.
Ellard memutari mobilnya saat Dara sudah masuk kedalam, pria berbaju hitam memasukkan koper Dara kedalam bagasi lalu berjalan masuk dan duduk dibelakang kemudi.
"Lalu kita bagaimana!." Ucap Lay menatap Frank.
Frank berjalan cepat kearah mobil Ellard lalu berusaha membuka pintu mobil pria itu.
"Hei Ellard!, kita tertinggal!." Ucap Frank.
"Bos Ell!!." Ucap Lay menggedor pintu mobil Ellard.
"Kalian mengikuti ku tanpa ijin dariku sekarang ingin menumpang pulang?." Ucap Ellard dari dalam mobil saat kaca mobilnya terbuka, perlahan mobil itu berjalan meninggalkan kedua pria yang sedang berdiri melihat kepergian mobil itu menjauh dari bandara.
"Ah pria sialan itu!." Umpat Frank sambil mengusap wajahnya kasar.
*****
Mobil Ellard masuk kedalam gerbang besar mansion Walton, seorang penjaga langsung membuka pintunya saat mobil itu berhenti tepat didepan pintu masuk.
"Tuan muda." Sapanya saat Ellard keluar dari dalam mobil.
Ellard hanya mengangguk lalu mengulurkan tangannya kepada Dara.
"Terimakasih." Ucap Dara tersenyum.
Mereka berdua masuk kedalam sambil bergandengan tangan, saat sudah sampai didalam Adam langsung menghampiri mereka berdua.
"Tuan muda." Sapa Adam dengan raut wajah seperti sedang memikirkan sesuatu, membuat Ellard mengerutkan keningnya.
"Ada apa?." Tanya Ellard.
"Diruang-."
"Ellard!." Teriakan seorang wanita membuat mereka semua mengalihkan pandangan.
Wanita itu berlari kearah Ellard lalu memeluk tubuh pria itu, Ellard spontan melepaskan tautan tangannya dengan tangan Dara, kemudian mengulurkan tangannya membalas pelukan wanita itu.
Seperti ada yang mencubit hati kecil Dara saat tangannya dilepaskan pria itu dan melihat Ellard membalas pelukan wanita yang sedang berada didekapnya.
"Aku sangat merindukanmu." Ucapnya lalu mencium kedua pipi Ellard.
"Kapan kau kembali?." Tanya Ellard melepaskan pelukannya.
"Kemarin, aku menunggumu dari kemarin kau tau!." Ucapnya sedikit kesal.
"Benarkah? kenapa tidak menghubungi ku jika akan datang kemari?."
"Aku ingin memberimu kejutan, kau senang aku datang bukan?."
"Ya, sudah lama kita tidak bertemu." Ucap Ellard lalu pandangan pria itu melihat kearah Dara.
"Oh ya aku ingin memperkenalkan mu-." Ucapnya terpotong oleh ucapan wanita itu.
"Ell aku ingin berbicara berdua saja denganmu." Ucap wanita itu bergelayut manja dilengan Ellard.
"Tapi-."
"Ayolah Ell, kita sudah lama tidak berbicara berdua."
"Baiklah, Dara kau istirahat dulu saja dikamar." Ucap Ellard beralih menatap Dara kemudian mengikuti langkah wanita itu menarik tangannya.
"Adam antarkan Dara kekamar." Ucap Ellard sebelum mereka hilang dari pandangan Dara.
__ADS_1
Sadar atau tidak Dara mencengkram erat rok yang ia kenakan menyalurkan rasa sesak yang ada di dadanya saat melihat wanita itu mencium pipi Ellard sedangkan pria itu sama sekali tidak keberatan.
"Mari nona." Ucap Adam menyadarkan lamunan Dara, gadis itu mengangguk lalu berjalan kearah lift.
****
"Selamat istirahat nona, anda pasti sangat lelah." Ucap Adam sebelum menutup pintu kamar.
"T-tunggu paman." Ucap menghentikan Adam saat akan menutup pintu.
"Ada apa nona?." Tanya pria tua itu.
"Perempuan tadi siapa, paman?." Tanya Dara, akhirnya dirinya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya yang entah kenapa membuat sesak didalam rongga dadanya.
"Biarkan tuan muda saja yang memperkenalkannya nona, saya sama sekali tidak mempunyai hak." Jawab Adam sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah paman, tidak masalah aku hanya penasaran." Jawab Dara tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu, nona." Ucap Adam, saat melihat Dara menganggukkan kepalanya. Pria tua itu langsung menutup pintu kamarnya.
Didepan kamar Ellard, Adam berdiri kemudian merogoh sakunya mengambil ponselnya lalu mendial nomor seseorang.
"Tuan, tuan muda Ellard sudah bertemu wanita itu." Ucap Adam kepada pria diseberang telepon.
***
Didalam kamarnya Dara duduk di sofa, tiba-tiba air matanya menetes dengan cepat tangan gadis itu menghapusnya.
Kenapa harus menangis? ini New York Dara! memberi kecupan dipipi itu hal yang wajar. Batin Dara menenangkan dirinya, tapi bukannya tenang air mata yang ia bendung akhirnya terjatuh membasahi pipinya.
Gadis itu berjalan kearah kamar mandi untuk membasuh wajahnya, saat berdiri didepan cermin gadis itu termenung.
Kenapa sedih? apa kamu sudah mencintainya Dara?. Batin Dara bertanya-tanya dalam hatinya.
Dara memutar kran wastafel mencuci tangannya kemudian membasuh wajahnya.
Beberapa menit kemudian
Dara sudah meringkuk dibawah selimut gadis itu melirik kearah jam dinding. Sudah pukul setengah sebelas malam tapi Ellard belum juga kembali, sebenarnya apa yang mereka bicarakan? pikir Dara.
****
Disebuah ruangan tempat dimana buku-buku tertata rapi dilemari bertingkat. Ellard sedang memeluk tubuh seorang wanita berpakaian dibawah lutut.
"Kau tidak akan meninggalkan ku bukan?."
"Tidak aku akan selalu bersamamu."
"Aku takut."
"Jangan takut kita bisa melewati ini, kau percaya padaku bukan?."
Wanita itu menganggukkan kepalanya lalu mengusap air matanya.
"Aku selalu percaya padamu Ell, hanya kau yang aku punya."
"Aku tau." Ucap Ellard lalu memeluk tubuh wanita itu saat dia semakin terisak.
"Apa aku akan mati?." Tanyanya pelan.
"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa." Ucap Ellard.
Pria itu melirik kearah jam dinding lalu tangannya menarik tubuh wanita itu agar menjauh darinya.
"Sekarang kau istirahat saja, ini sudah malam kita akan pergi besok untuk menemui paman Nike." Ucap Ellard.
"Jangan berbicara seperti itu, kau pasti sembuh aku yakin itu." Ucap Ellard kembali memeluk tubuh wanita itu sambil mengelus punggungnya.
"Kau akan selalu ada disisi ku, kan?." Tanya wanita itu.
"Bukankah aku sudah menjawabnya? aku akan selalu berada di sisimu, jangan pernah merasa sendirian." Ucap Ellard.
"Sekarang kau harus istirahat." Lanjut Ellard menarik tubuh wanita menjauh darinya kemudian menatap wajahnya.
Wanita itu mengangguk pelan menjawabnya, ia juga ikut mendongakkan kepalanya melihat wajah Ellard yang sedang menatapnya.
"Ell bisakah kau tidur denganku? aku sangat-."
"Tidak bisa!." Ucapnya langsung membuat wanita itu menundukkan kepalanya.
"Maksudku, aku sudah memiliki seorang istri mana mungkin aku tidur dengan wanita lain." Jawab Ellard.
"Ya, aku lupa jika kamu sudah beristri padahal kita dulu sering melakukan apapun yang kita mau. Tapi sekarang dirimu-."
"Benar, itu dulu jangan mengungkitnya lagi, sekarang ayo aku antar kau kekamar." Ucap Ellard menarik tangan wanita itu membawanya keluar ruang membaca.
*****
Ceklek
Ellard masuk kedalam kamarnya, hal pertama yang ia lihat adalah Dara tertidur di atas tempat tidur membelakanginya. Pria itu melangkah menuju kamar mandi, saat Ellard sudah masuk kedalam Dara membuka matanya. Alhamdulillah pria itu sudah kembali, pikir Dara.
Didalam kamar mandi Ellard melepaskan bajunya lalu membuangnya ketempat sampah. Pria itu menghidupkan air shower lalu mulai membersihkan tubuhnya.
Empat puluh menit Ellard berada didalam kamar mandi, pria itu akhirnya keluar hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Ellard berjalan kearah ruang ganti untuk memakai bajunya.
.....
Perlahan Ellard naik keatas ranjangnya kemudian melingkarkan tangannya memeluk tubuh Dara. Ah akhirnya dirinya bisa tidur dalam posisi yang sangat nyaman, pikir Ellard.
Harum tubuh Ellard masuk kedalam indra penciuman Dara membuat pikiran dan hati gadis itu seketika menjadi tenang. Perlahan kesadaran Dara menghilang gadis itu tidur dalam dekapan Ellard.
*****
Dara menggerjapkan matanya perlahan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Ellard didepannya. Kejadian malam tadi sepertinya membekas diingatan Dara, banyak pertanyaan yang muncul dibenak gadis itu.
Siapa wanita itu?
Kenapa sepertinya Ellard sangat dekat dengannya?
Apa dia adalah masa lalu Ellard?
Apa mereka sepasang kekasih?
Untuk apa dia datang kemari?
Dan masih banyak lagi pemikiran-pemikiran buruk yang ada di kepala Dara. Gadis itu memejamkan matanya untuk menghilangkan semua pikiran buruknya. Saat membuka matanya kembali pemandangan didepannya masih sama, Ellard tidur dengan wajah damai. Tunggu! Dara melihat sesuatu yang jangal, kenapa pipi Ellard memerah? pikirnya. Itu bukan sebuah ciuman atau tamparan, itu lebih terlihat seperti gosokkan jari yang kasar sampai menimbulkan semburat merah di pipinya.
Ellard membuka matanya perlahan melihat Dara yang sedang menatapnya.
"Pagi sayang." Sapa Ellard dengan suara serak pria itu.
"P-pagi." Jawab Dara kemudian bangun dari tidurnya.
Ellard menarik pergelangan tangan gadis itu membuat Dara terjatuh didada bidang pria Ellard.
__ADS_1
"Ell." Ucap Dara gugup saat merasa bibir Ellard sedang mengecup kepalanya sambil menghirup aroma rambutnya.
"Dara beri aku ciuman." Ucap Ellard lalu memiringkan tubuhnya kemudian menundukan kepalanya membuat wajah Dara berada tepat didepan wajah pria itu.
Dara langsung memberi kecupan singkat di bibir Ellard, ia berpikir agar bisa segera bebas dari dekapan pria itu yang membuat jantungnya berdebar kencang dan hawa panas ditubuhnya, padahal sebelumnya dirinya merasa cuaca sangat dingin.
"Buka disitu tapi disini." Ucap Ellard sambil menunjuk kedua pipinya membuat Dara mengerutkan keningnya. Biasanya Ellard selalu meminta ciuman dibibir, bahkan ciuman yang seharusnya dua detik bisa sampai lima belas menit.
"Cepat Dara." Ucap Ellard kesal.
Dara langsung memberi ciuman dipipi Ellard membuat pria itu melepaskan pelukannya ditubuh Dara. Gadis itu langsung bernafas lega lalu cepat-cepat turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Ini milikmu, jangan biarkan orang lain menyentuhnya." Ucap Ellard pelan lalu memejamkan matanya kembali.
Sebenarnya semalam pria itu sedikit kesal saat masuk kedalam kamar dan melihat Dara sudah tertidur. Ia mengira jika Dara akan bertanya siapa perempuan tadi? atau paling tidak menunggunya kembali. Dirinya akan sangat senang jika Dara marah padanya dan memberinya pukulan atau tamparan, itu artinya Dara sudah mencintainya. Tapi melihat raut wajah Dara yang biasa saja, dirinya mengira jika gadis itu sama sekali tidak cemburu dan keberatan jika ia dekat dengan wanita lain. Dan itu membuat rasa kesal dihati Ellard menjadi rasa marah, apa Dara belum juga mencintainya? pikir pria itu.
****
Ellard dan Dara turun dari tangga tangan mereka berdua saling bertautan. Itu sudah menjadi sarapan pagi untuk para maid yang melihatnya, tidak pernah sekalipun mereka melihat tuan muda keluar tanpa ada nona disampingnya.
Ellard menarik kursi untuk Dara duduk, gadis itu tersenyum lalu mengucapkan terimakasih kemudian mendudukkan dirinya.
Ellard duduk disamping kursi Dara mereka berdua sama-sama diam saat para maid mulai menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Ellard." Sapa seorang wanita sambil mencium pipi Ellard membuat kedua orang itu terkejut.
Wanita itu duduk dihadapan Ellard sambil terus tersenyum. Dara menundukkan kepalanya saat mata wanita itu menatapnya sambil menyunggingkan senyum manisnya, wanita itu benar-benar sangat cantik pikir Dara.
"Pagi juga, Dara kenalkan dia-." Ucap Ellard menatap wajah Dara.
"Aku Violla, aku dan Ellard sudah kenal sangat lama banyak yang mengira jika dulu kami adalah sepasang kekasih." Ucapnya lalu tertawa, bahkan tawa wanita itu saja terlihat sangat anggun dimata Dara yang melihatnya.
"Dia temanku Dara, di Belanda dulu saat aku tinggal bersama kakek." Ucap Ellard tangannya terulur untuk membersihkan sisa saus dibibir Dara.
Dara hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menyapa Violla.
"Ya, kami teman yang sangat dekat dulu kami sering tidur bersama."
"Itu dulu jangan mengungkitnya lagi Vio, aku juga sudah melupakannya." Jawab Ellard sambil menuangkan segelas jus didepan Dara.
"Minum sayang." Ucap Ellard memberikan segelas jus kepada Dara.
Vio melihat pemandangan didepannya hanya tersenyum sendu, dulu dirinya yang berada diposisi gadis itu pikirnya lalu memakan rotinya.
Selesai sarapan, Ellard menarik tangan Dara membawa gadis itu naik kekamar mereka tapi suara perempuan membuat keduanya berhenti saat akan melangkah menuju lift.
"Ellard."
"Ada apa?."
"Bisakah kau mengantarku untuk berbelanja keperluan pribadiku?." Tanya Violla sambil menautkan jari-jari tangannya.
"Baiklah aku akan mengantarmu." Jawab Ellard membuat Dara mendongakkan kepalanya melihat wajah Ellard.
"Terimakasih Ell kau memang yang paling mengerti aku." Ucapnya senang.
"Ya, kau bersiap saja dulu aku akan menunggumu dimobil." Ucap Ellard membuat Vio mengangguk senang.
"Baiklah aku kekamar dulu." Ucapnya lalu melangkah pergi.
Ellard beralih menatap Dara yang sedang menatapnya, gadis itu mengalihkan pandangannya saat Ellard menundukkan kepalanya untuk melihat wajahnya. Jangan sampai pria itu tau jika dirinya sekarang sedang berusaha keras membendung air matanya agar tidak tumpah, pikirnya.
"Kau juga bersiap Dara, kau harus ikut bersamaku." Ucap Ellard membuat Dara mendongakkan kepalanya melihat wajah pria itu.
"Ayo." Ucap Ellard menarik tangan Dara masuk kedalam lift.
*****
Violla membuka pintu depan mobilnya membuat Ellard mengerutkan keningnya.
"Vio biarkan Dara saja yang duduk disamping ku." Ucap Ellard membuat pergerakan Violla terhenti.
"Tapi Ell akhir-akhir ini jika aku duduk dibelakang aku sering mual, Dara bolehkah aku mengambil kursi mu? aku benar-benar tidak kuat jika duduk dibelakang." Ucap Vio beralih menatap Dara yang sedang berdiri di samping Ellard.
"Tidak apa-apa Ell, biarkan aku duduk dibelakang saja. " Ucap Dara mendongakkan kepalanya melihat wajah Ellard yang terlihat masam.
Ellard langsung masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi, tanpa membukakan pintu mobil untuk Dara. Yang biasanya selalu rutin dilakukan oleh pria itu.
Dara hanya diam melihat Ellard kemudian melangkah membuka pintu mobilnya dan duduk dibelakang.
****
Didalam mobil keheningan tercipta tidak ada yang membuka suaranya, tatapan mata Ellard menajam kadang pria itu melihat Dara dari kaca depan melihat gadis itu yang sedang menatap keluar jendela.
"Ell hati-hati." Ucap Violla terkejut sambil memegang lengan Ellard.
Dara melihat pemandangan didepannya dan tangan Ellard sama sekali tidak menolaknya, pria itu hanya diam sambil kembali fokus menyetir.
"Kau selalu tampan saat menyetir mobil, Ell." Ucap Vio menyentuh rahang Ellard.
Mata Ellard melirik kearah kaca depan melihat raut wajah Dara, gadis itu hanya memandang keluar jendela sepertinya Dara tidak perduli dengannya. Memikirkan itu membuat Ellard menambah kecepatan mobilnya sedangkan matanya masih terus melihat kearah kaca spion.
"Ellard hati-hati." Ucap Violla takut, kedua tangannya ia gunakan untuk berpegangan hand grip mobil.
Ellard menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, mobilnya melaju dengan sangat kencang melewati jalanan senggang, diujung jalan terlihat truk dengan muatan berat melaju berlawanan kearahnya sedangkan pemandangan pria itu masih melihat kearah spion.
"Ellard!!." Teriak Violla.
Tin...Tin...Tin
Bunyi klakson dari truk itu saat melihat mobil Ellard melaju diatas rata-rata.
Dara meremas kedua tangannya saat melihat truk besar dari jauh, sedangkan Ellard terus menambah kecepatan mobilnya.
"Ya Allah." Ucap Dara lirih
Ellard langsung mengurangi kecepatan mobilnya saat melihat ketakutan diwajah gadisnya.
Jangan gila Ell, ada gadismu disini. Batin Ellard untuk menyadarkan dirinya sendiri. Dirinya jika sudah marah selalu melupakan apapun dan siapapun. Jangan sampai karena itu, dia membuat Dara celaka, pikirnya.
Bersambung.....
Capek ya, berharap sama manusia??
...Padahal sudah Allah peringatkan...
...kenapa masih dilakukan?...
...sekarang tau sendirikan....
...rasanya berharap sama manusia...
Dan Allah berfirman
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
__ADS_1
dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap. (QS. Al-Insyirah : 8)
"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia." ~Ali bin Abi Thalib