
Hari ini tepat tiga hari setelah kejadian Ellard memutuskan hubungan dengan Violla. Pria itu tidak lagi memberi perhatian ataupun tatapan yang dulu ia berikan kepada Violla. Ellard menjadi pria acuh didepan wanita yang berstatus mantan temannya itu.
Tiga hari ini Dara juga tidak bertanya lagi pada Ellard tentang laci disamping tempat tidur. Karena saat saat ia mencoba membukanya laci itu tidak lagi terkunci, dan didalamnya tidak ada hal yang aneh. Hanya ada dompet, vape dan ponsel pria itu, membuat Dara tidak lagi menaruh curiga dan negatif thinking pada suaminya.
"Ell mau pakai dasi yang ini atau yang ini?." Tanya Dara sambil menunjukkan dua dasi, satu bermotif garis dan satunya lagi bermotif bulat-bulat kecil.
"Terserah." Jawab Ellard sambil mengancingkan kancing bajunya, pria itu sedang melihat kearah cermin tanpa mengalihkan pandangannya saat Dara berbicara padanya.
Dara hanya menghela nafas, tiga hari ini Ellard juga terlihat lebih pendiam dari biasanya. Tidak ada larangan, rengekan, atau perintah dari pria itu yang selalu Dara dengar setiap hari.
Dara mengambil salah satu dasi biru bermotif garis silver kemudian mengalungkannya dileher Ellard lalu membuat simpul dasi. Pria itu masih sibuk dengan kancing pergelangan kemejanya.
"Sudah." Ucap Dara tersenyum kemudian menurunkan tangannya.
Ellard mengangguk kecil kemudian memakai jasnya, "Ayo turun." Ucapnya mendapat anggukan kepala Dara.
Lihat sekali lagi tidak ada ciuman, kecupan, atau kata-kata manis yang diucapkan Ellard. Dara sudah merasa ini dari tiga hari yang lalu, tapi untuk bertanya ia masih ragu. Karena akhir-akhir ini sikap Ellard sedikit berbeda, kemarin saja pria itu memarahi pelayan wanita hanya karena pelayan itu tidak sengaja menuangkannya segelas jus padahal saat itu Ellard meminta kopi. Kejadian anehnya lagi ia melihat Ellard membentak Adam hanya karena pria tua itu menyingkirkan berkas-berkas yang belum Ellard selesaikan diruang kerjanya.
Pernah Dara bertanya sekali tapi jawaban pria itu membuatnya diam.
Flashback on
"Ell apa kamu ada masalah? aku lihat akhir-akhir ini kamu sering marah-marah." Tanya Dara sambil berjalan mendekati Ellard yang sedang duduk disofa kamar sambil mengerjakan pekerjaan kantornya.
"Sayang." Panggil Dara sekali lagi saat tidak mendapat jawaban dari pria itu.
"Dara bisakah kamu tidak banyak bertanya? aku sedang banyak sekali pekerjaan." Jawab Ellard tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop didepannya.
Dara yang mendengar jawaban Ellard seketika menghentikan langkahnya saat akan mendekati pria itu.
"Baiklah." Jawab Dara pelan kemudian berbalik berjalan kearah ranjang dan membaringkan tubuhnya disana, menarik selimutnya sebatas leher dan memejamkan matanya erat.
Ellard masih diam di tempatnya tanpa memperdulikan Dara.
Flashback off
Ellard dan Dara keluar dari dalam lift bersama, tangan mereka tidak saling bertautan seperti biasanya. Dara yang sudah terbiasa tiga hari ini hanya diam, tidak ingin membuat kemarahan pria ini lagi. Ia merasa Ellard sangat sensitif dan mudah sekali marah, mungkin jika hanya seekor semut saja yang menggigitnya Ellard pasti akan memotongnya menjadi beberapa bagian.
"Selamat pagi Ellard." Violla datang dari arah lorong kamarnya langsung merangkul mesra lengan Ellard, seolah tidak ada siapapun selain mereka berdua disana.
Dan ini lagi, wanita itu sudah mulai memperlihatkan taringnya, Violla bahkan terang-terangan mendekati Ellard didepannya seolah ia hanya sebuah benda mati yang tidak memiliki perasaan.
Beruntungnya Ellard selalu menghindar dari tingkah manusia bersifat iblis ini.
"Lepas!." Ellard menyentak kasar tangan Violla kemudian beralih menarik tangan Dara yang berada dibelakang tubuh mereka berdua.
Sebelumnya Dara sempat terkejut dan kaget melihat perubahan Ellard pada Violla yang semula baik menjadi sedingin ini. Begitu juga dengan Violla yang semula hanya menunjukkan wajah aslinya pada dirinya sendiri sekarang wanita itu mulai kelewat batas. Bahkan tak segan-segan Violla memberi tahunya jika wanita itu ingin menjadi madunya, is he crazy? pikir Dara sempat tidak menyangka jika itu adalah Violla wanita anggun yang pernah ia kagumi walau hanya sekejap mata.
Mereka bertiga sampai dimeja makan, dimana diujung meja sudah ada Darren yang dengan tenang menyantap makanannya.
Ellard melepaskan tangan Dara menyuruhnya duduk, kemudian baru pria itu mendudukkan dirinya. Sedangkan Violla duduk disebelah Dara dengan wajah masam. Para pelayan mulai menyiapkan sarapan untuk ketiga orang yang baru saja datang.
Mereka semua makan dengan tenang sebelum kegaduhan muncul,
__ADS_1
Prangg
Salah satu pelayan tidak sengaja menyenggol gelas air putih disamping Dara membuat gelas kaca itu pecah berkeping-keping.
"Ma...af... no-na, s-saya-."
Brakk
"Apa kau tidak bisa bekerja dengan baik!!." Bentak Ellard berdiri sambil mengebrak meja makan, dan menunjuk marah kearah pelayan yang sedang menundukan kepalanya.
Tubuh pelayan yang dibentak Ellard langsung gemetar ketakutan, kedua lututnya melemas, bahkan wajahnya mulai pucat pasi seperti mayat.
"Bersihkan cepat!!!." Bentaknya lagi, dengan nafas memburu.
Dara yang melihat itu langsung bangun dari duduknya mencoba menenangkan Ellard, pria itu benar-benar mengerikan saat sedang marah.
"Duduk diam disana Dara! jangan coba-coba berjalan." Ucap Ellard keras membuat Dara spontan mendudukkan dirinya lagi.
Bentakan keras Ellard itu membuat salah satu sudut bibir Violla terangkat. Senang sekali rasanya wanita itu saat Dara ketakutan dengan tingkah buruk Ellard. Tapi ucapan Ellard selanjutnya membuat senyuman itu luntur dan digantikan dengan wajah masah.
"Apa yang kau tunggu!!! cepat bersihkan! apa kau ingin istriku terluka karena pecahan kaca itu?!." Bentaknya membuat pelayan itu langsung berjongkok dan mengambil beberapa pecahan kaca.
"Sayang......" Ucap Dara pelan, dia merasa iba dengan pelayan wanita yang sedang ketakutan sambil mengambil pecahan gelas dilantai, bahkan saat tangannya terluka pelayan itu terlihat seolah tidak peduli atau memang belum terasa sakit karena terlalu ketakutan? pikir Dara kasihan.
Dara melirik kearah Darren, ayah mertuanya itu terlihat tidak terganggu sama sekali dengan sikap Ellard. Bahkan Darren dengan tenang mengelap bibirnya mengunakan kain lalu berdiri dari duduknya. Tanpa berkata apa-apa pria tua itu meninggalkan meja makan.
Jika dilihat-lihat bukan hanya Ellard yang bersikap aneh akhir-akhir ini, bahkan Darren juga dan itu tambah membuat pertanyaan dibenak Dara. Sebenarnya kenapa kedua pria itu? pikirnya.
"Aku berangkat Dara, tidak perlu mengantarku dan jangan berdiri sebelum lantai itu bersih! mengerti?!." Tanya Ellard dengan suara penuh penekanan, bahkan jika didengar itu seperti sebuah ancaman.
Dara melihat Ellard yang sudah tidak terlihat dari pandanganya kemudian dirinya berjongkok.
"Sudah-sudah, jangan dibersihkan menggunakan tangan seperti ini. Lihat tanganmu jadi terluka kan?." Ucap Dara memaksa pelayan wanita itu meletakkan kembali kaca-kaca yang berada ditangannya.
"Nona-." Panggilan Adam.
"Paman Adam, bisakah tolong bersihkan ini? dan obati lukanya ya." Pinta Dara memotong ucapan Adam, lagi pula dirinya tau apa yang akan dikatakannya.
"Baik nona, lebih baik anda menyingkir dulu dari pecahan kaca ini. Jika tuan muda melihat anda, beliau bisa sangat marah." Ucap Adam bahkan wajah pria tua itu terlihat berkeringat.
"Baik paman." Ucap Dara sembari berdiri, ia melihat tatapan pelayan wanita itu seakan ingin berterimakasih padanya tapi wajahnya masih tersirat ketakutan yang dalam.
"Tidak apa-apa, maafkan sikap Ellard tadi ya." Ucap Dara pada pelayan itu kemudian dirinya melangkah keluar dari sana.
"Sok baik, dasar murahan." Ucap Violla sambil menyuapkan kentang goreng kedalam mulutnya.
Dara tidak meladeni ucapan wanita itu, dirinya lebih memilih pergi dari meja makan.
****
Dara duduk diruang tengah sambil melamun melihat kaca jendela besar yang menampilkan rintik-rintik kecil salju turun hingga menumpuk ditanah.
"Apa kau sibuk?." Tanya Violla kemudian duduk disamping Dara.
__ADS_1
Dara menengok kearah Violla kemudian ia beralih lagi melihat kedepan, pasti hanya menganggunya lagi pikir Dara.
"Dara, apa kau merasa jika Ellard akhir-akhir ini mulai mengabaikan mu?." Tanya Violla menahan senyumannya, ia tau karena dirinya selalu mengawasi dan melihat Ellard dimanapun pria itu ada dimansion kecuali jika didalam kamar.
Ia tau apa yang menyebabkan Ellard berubah, dan pastinya ini akan sangat seru jika ada bubuk cabainya pikir Violla tersenyum licik.
Dara melihat kearah Violla saat merasa kalimat itu sedikit menyinggungnya, "Ellard tidak mengabaikan ku." Jawabnya jujur, memang Ellard tidak pernah mengabaikannya hanya pria itu menjadi sedikit pendiam dari biasanya.
"Aku tau Dara, tidak perlu menutupinya lagi. Mungkin Ellard sudah mulai bosan bermain denganmu. Dara dengar ya, ini adalah permainan orang-orang kaya, kau pikir pria seperti Ellard yang mempunyai apapun dari segi manapun benar-benar menikahimu hanya karena cinta?." Tanya Violla kemudian tertawa sendiri.
"Bullshit, hanya orang bodoh yang berpikiran seperti itu. Ellard bahkan bisa memilih wanita yang levelnya jauh lebih tinggi diatasmu. Dia mempunyai wajah yang tampan, karir yang mapan, dan marga yang besar. Apa pantas pria sempurna sepertinya memilihmu menjadi wanita satu-satunya? come on Dara ini New York, kita biasa hidup bebas disini." Jelas Violla, membuat Dara termenung.
"Dara apa Ellard sudah memberitahu mu masa lalunya?." Tanya Violla lagi menyadarkan lamunan Dara.
Dara terlihat sedang berpikir, ia ingat Ellard pernah sedikit bercerita tentang masa lalunya. Ya Ellard pernah bercerita padanya, pikir Dara.
"Ell-." Ucapan Dara terpotong oleh ucapan Violla yang tiba-tiba.
"Ellard tidak menceritakan semuanya padamu kan? bagaimana perjalanan hidupnya? bagaimana ibunya meninggalkan dirinya? dan bagaimana cerita dulu Ellard dibenci oleh ayahnya sendiri tuan Darren Levon?." Tanya Violla sambil melipat tangannya didada.
Dara diam bagaimanapun yang dikatakan Violla benar, Ellard tidak pernah menceritakan secara detail semua itu padanya. Tapi tunggu dulu! garis besar cerita Ellard Dara sudah mengetahuinya, kenapa tuan Darren membenci Ellard dulu dan kenapa Ell tidak memiliki ibu tapi untuk perjalanan hidup Ellard Dara mungkin hanya mengetahui sedikit.
Dara tersenyum sambil mengangguk singkat, ia percaya jika suaminya bukan seperti yang dibicarakan wanita disampingnya ini.
Violla yang melihat Dara tersenyum tambah kesal, ia berpikir benarkah Ellard sudah bercerita sejauh itu dengan wanita ini? pikirnya kesal.
"Apa kau tau tanggal berapa ulang tahun Ellard?." Tanya Violla menahan rasa kesalnya sekuat tenaga.
Dara diam, membuat senyum tipis tersunging dibibir Violla.
Jadi dia belum tau ya?. Batin Violla sambil menahan senyumnya.
"Apa Ellard tidak memberitahu hal kecil itu padamu?." Tanyanya dengan wajah dibuat terkejut.
"Ulang tahun?." Tanya Dara sambil mencoba mengingat sesuatu, seperti ada yang salah dengan itu.
"Ya, ah jadi Ellard tidak memberitahu mu ya? bagaimana bisa kau menjadi wanita yang paling dicintanya jika ulangtahunya saja tidak ingat." Cibir Violla dengan nada mengejek.
"Kau tau Ellard paling tidak suka jika orang terdekatnya melupakan hari paling penting untuknya." Ucap Violla menarik salah satu sudut bibirnya.
"Kapan ulang tahun Ellard?." Tanya Dara membuat Violla tersenyum puas.
"Besok." Jawab Violla membuat Dara terkejut.
"Benarkah?." Tanya Dara memastikan.
"Ya, apa kau benar-benar tidak tau? menyedihkan sekali, kau istrinya atau bukan? seperti itu saja tidak tau, aku saja sudah menyiapkan hadiah untuknya." Ucap Violla kemudian meninggalkan Dara yang duduk diam disana.
Hadiah apa yang harus ku berikan padanya?. Tanya Dara dalam hati.
Bersambung.....
Halo readers jangan lupa komen dan jempolnya yaa!! vote juga boleh....
__ADS_1
Hehe
"Barang siapa menyalakan api fitnah, maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya". ~Ali bin Abi Thalib