Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Dara marah?


__ADS_3

Ellard masuk kedalam mansion sambil menggendong tubuh Dara.


Setelah sampai didalam kamar, Ellard membaringkan tubuh Dara dengan hati-hati diatas kasur. Pria itu membelai lembut pipi Dara kemudian memberinya kecupan.


"Aku seperti hewan hari ini, maafkan aku." Ucap Ellard pelan sambil melepas jilbab Dara dan mulai menganti baju Dara dengan baju tidur wanita itu.


***


Dilantai satu Mad yang kebetulan melihat Ellard mengendong Dara hanya diam melihat mereka dari kejauhan sampai hilang dari pandangannya.


Drett....Drett...Drettt


"Halo?." Ucapnya sambil menempelkan benda pipih ditelinganya.


"Tuan......"


Mad memutus sambungan teleponnya sambil mengeraskan rahangnya, tangan pria itu terkepal erat dengan wajah memerah ia mendial nomor seseorang.


"Bagaimana bisa kau membiarkan wanita ular itu hampir menjebak tuan muda." Tanyanya lirih tetapi penuh tekanan membuat pria diseberang telepon gemetar hebat.


"M-maaf tuan."


"Kau pikir maafmu bisa membantu tuan muda? jika malam ini kejadian besar itu terjadi, aku pastikan kepalamu itu tidak akan berada ditempatnya." Ucap Mad masih dengan suara pelannya, ia bisa mendengar sesuatu terjatuh dari sebrang telpon.


"Aku pastikan kau akan mendapatkan hukuman setimpal karena kelalaianmu menjaga tuan muda."


"M-ma..af tuan sa..ya-."


Tut


Mad mematikan sambungan teleponnya kemudian memasukkan kembali ponselnya disaku celana.


Ternyata anda sudah mulai melakukan hal gila ya nona? aku tidak tau hukuman apa yang akan tuan muda berikan kepada anda. Batin Mad kemudian melangkahkan kakinya keluar dari mansion, rencananya saat ini adalah memberi hukuman kepada para pengawal yang lalai dengan tugas besarnya.


****


Ellard membuka matanya perlahan, tangan pria itu meraba samping tempat tidurnya. Saat tidak merasa ada seseorang disampingnya Ellard langsung membuka matanya lebar.


"Dara!." Panggilnya keras dengan suara serak.


"Dar-." Teriakan Ellard terhenti kala melihat wanita yang dicarinya baru saja keluar dari dalam kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Sayang." Panggil Ellard turun dari tempat tidurnya saat melihat Dara yang sama sekali tidak melihat ataupun melirik kearahnya.


"Dara." Ellard memeluk tubuh Dara saat wanita itu duduk dimeja riasnya.


Yang menjadi pertanyaan dibenak Ellard adalah kenapa istrinya mendiamkannya?.


"Sayang, apa kau marah?." Tanya Ellard hati-hati tidak mendapat jawaban apapun dari Dara membuat pria itu semakin yakin jika istrinya sedang marah padanya.


"Sayang." Panggilnya sekali lagi.


Pria itu sumringah saat Dara berdiri dari duduknya sambil membalikkan badannya. Senyumannya lenyap saat melihat Dara melewatinya begitu saja dan langsung berjalan kearah ruang ganti.


"Dara." Bak anak ayam Ellard membuntuti Dara masuk kedalam ruang ganti, wajah pria itu mulai pias bagaimanapun juga ini pertama kalinya Dara marah padanya secara terang-terangan mendiaminya.


"Sayang, kau marah padaku?." Tanyanya melihat Dara yang sedang memilih jilbabnya


"Dara jawab." Ucap Ellard sambil menarik-narik pelan baju Dara.

__ADS_1


"Kau marah ya? iya kau pasti marah, tidak mungkin kau sakit gigikan?." Tanyanya tidak mendapat respon dari Dara.


Ellard langsung memeluk tubuh Dara dari belakang dengan erat walaupun istrinya mencoba untuk memberontak.


"Maaf, maafkan aku." Ucapnya pelan sambil memasukkan wajahnya ditengkuk leher Dara.


"Ell lepas, aku ingin memakai jilbab." Ucap Dara berusaha melepas tangan kekar yang melingkar diperutnya.


"Tidak akan!." Tolaknya cepat.


"Aku akan semakin marah jika kau tidak melepaskan pelukannya, Ellard."


Ellard dengan cepat melepaskan tangannya yang melingkar ditubuh Dara menatap wanita yang berstatus istrinya keluar dari ruang ganti tanpa menatap kearahnya.


....


"Dara, maafkan aku." Ucap Ellard yang sudah beberapa kalinya Dara dengar.


Posisi pria itu saat ini sedang menekuk lututnya sambil memeluk pinggang Dara dan menyembunyikan wajahnya diperut Dara


"Dara."


Dara menghembuskan nafasnya pelan kemudian menunduk melihat wajah Ellard yang mendongak menatapnya seketika ia terkejut saat melihat mata pria itu berkaca-kaca dengan jejak air mata di pipinya.


"Ehh kenapa?." Tanya Dara sedikit cemas, sambil memegang kedua pipi Ellard.


"Maaf." Ucap Ellard pelan diiringi air mata yang mulai menetes kepipinya.


Entah Dara harus tertawa terbahak atau cemas melihat Ellard yang berbeda dari biasanya. Bahkan sepertinya Dara baru kali ini melihat Ellard yang sedang menangis seperti anak kecil dihadapannya.


Dara menghapus air mata Ellard sambil mengatupkan bibirnya menahan tawa.


"Kenapa minta maaf?." Tanyanya menggoda pria itu, kapan lagikan melihat Ellard bertingkah seperti ini?.


"Kamu tau apa kesalahan mu?." Tanya Dara, ia jadi seperti memutar balikkan keadaan dimana Ellard yang biasanya selalu mengucapkan kalimat itu.


Dia lucu sekali. Batin Dara gemas saat melihat Ellard menghapus air matanya dengan tangannya sendiri.


"Maaf karena menyakitimu dimobil." Ucap Ellard membuat semburat merah dipipi Dara.


Bukan itu maksudnya! pikir Dara, mengingat kejadian tadi malam saja membuatnya malu. Bagaimana aksi brutal suaminya yang menerkamnya didalam mobil, terlebih itu ditunggu Lay dari luar.


Ya Allah. Batin Dara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Dara menurukan tanganya saat merasa Ellard menduselkan wajah diperutnya.


"Dengar Ell." Ucap Dara sambil memegang kedua pipi Ellard membuat kedua wajah itu bertemu. Ellard yang sedang mendongak sedangkan Dara yang sedang menunduk melihat wajah suaminya.


"Untuk masalah dimobil itu memang tugasku, tapi masalahnya adalah bagaimana jika saat itu bukan aku yang menemukanmu? bagaimana jika ada wanita lain yang melihatmu dalam kondisi seperti itu?. Ell memikirkan jika kamu secara tidak sengaja melakukan dosa besar kepada wanita lain dan membuatku mau tidak mau harus mundur. Karena bagaimanapun juga kau harus bertanggung jawab kepada wanita itu, apalagi jika kau orang pertama yang merenggut kesuciannya. Aku bukan wanita yang bisa tahan dengan suatu penghianatan walaupun saat itu kamu dalam pengaruh obat tapi tetap saja nasi sudah menjadi bubur. Aku harus meninggalk-." Penjelasan panjang lebarnya terhenti saat merasakan tangan Ellard semakin erat memeluknya apalagi ia mendengar suara isak tangis kecil, wajah Ellard kembali dimasukkan kedalam perut Dara membuat baju wanita itu sedikit basah karena air mata.


"Maaf." Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari mulut Ellard. Rasanya saat ini tenggorokannya tercekat, ia merasa udara tidak ada disekelilingnya dan dada kirinya sedikit berdenyut nyeri. Benar! bagaimana jika ia melakukan kesalahan itu tadi malam? melakukan hal terlarang bersama Violla, dan disaksikan langsung oleh Dara?. Saat ini pasti ia sudah gila jika Dara mengajukan surat perceraian karena kesalahan satu malamnya dengan wanita lain. Seperti yang dikatakan wanita itu jika Dara tidak bisa tahan dengan suatu penghianatan.


Nafas Ellard mulai tidak beraturan, membayangkan Dara pergi dari sisinya cukup membuatnya merasakan sakit yang menjalar jantungnya.


"Tidak apa-apa Ell, aku hanya memberi sedikit hukuman untukmu. Kedepannya aku harap kamu bisa lebih berhati-hati lagi jika masih ingin aku berada di sisimu." Ucap Dara tersenyum sambil mengelus kepala Ellard yang ada diperutnya.


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi dari sisiku sampai kapanpun." Ucap Ellard dengan suara parau.


"Sekarang lepas pelukannya, aku harus kekamar mandi." Ucap Dara halus sambil memegang tangan Ellard mencoba untuk melepaskannya.

__ADS_1


"Tidak." Jawabnya sambil mengeratkan pelukannya diperut Dara.


"Sayang sebentar saja, aku ingin buang air kecil." Jelas Dara berusaha melepas tangan Ellard yang melingkar diperutnya.


"Tidak."


"Sayang, aku benar-benar sudah tidak tahan." Ucap Dara frustasi apalagi merasa tangan kekar itu tidak bergerak sama sekali dari posisinya.


"Tidak."


"Lepas atau aku marah lagi padamu." Ancam Dara membuat Ellard melepaskan pelukannya.


Wanita itu tersenyum lebar kemudian berjalan cepat kearah kamar mandi. Ellard mencengkram erat dada kirinya, ternyata bukan ancaman Dara yang membuatnya melepas pelukannya. Sekelebat bayangan jika Dara pergi meninggalkannya sukses membuat jantung Ellard berdenyut nyeri, pria itu dengan cepat berjalan kearah meja disamping tempat tidurnya.


Ia harus cepat agar Dara tidak melihatnya kesakitan seperti ini. Sampai sekarang Dara masih belum tau jika ia mempunyai masalah dengan jantungnya dan Ellard tidak berniat memberitahu istrinya. Kejam memang, bagaimanapun juga seorang istri harus mengetahui apapun tentang suaminya tapi Ellard tidak ingin membuat Daranya sedih atau menangis hanya karena penyakit ini.


Ellard mengambil satu obat didalam botol kemudian memasukkan kedalam mulutnya, dengan cepat ia meneguk segelas air yang tersedia nakas. Ia sudah menyiapkannya untuk berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi.


"Ell kenapa duduk dilantai?." Tanya Dara yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi terkejut melihat Ellard duduk disamping nakas tanpa alas apapun.


Ellard dengan cepat menutup lacinya kemudian berdiri dan berjalan kearah Dara.


"Tidak, aku hanya merindukanmu." Jawabnya membuat Dara binggung, kenapa tidak nyambung? pikirnya.


****


"Dara, aku keluar sebentar jangan keluar dari kamar sebelum aku kembali mengerti?." Tanya Ellard sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celana, pria itu berbicara setelah mendapatkan notifikasi pesan masuk.


Dara menghembuskan nafasnya pelan, baru saja tadi dia membuat Ellard menurut tapi sekarang keadaan berbalik lagi seperti biasa. Ellard dengan segala sifat pemaksaannya.


"Mengerti kan sayang?." Tanya Ellard sambil mengecup kening Dara singkat membuat wanita mau tidak mau menganggukkan kepalanya.


"Wanita pintar." Puji Ellard mengelus kepala Dara kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Dara yang sedang duduk di sofa sambil melihat acara televisi.


Dara perlahan menurunkan kakinya yang ia luruskan disofa kemudian meletakkan keripik dimeja melangkah mendekati meja disamping tempat tidur Ellard.


Apa yang ada didalam ya?. Tanya Dara penasaran, ia sempat melihat wajah terkejut dan reflek Ellard saat ia keluar dari kamar mandi tadi. Dan itu membuatnya penasaran apa yang disembunyikan Ellard didalam laci.


Dara menyentuh laci, kemudian dengan perlahan ia membukanya.


*****


Ceklek


Seorang wanita mengenakan dress putih dibawah lutut bermotif bunga-bunga berdiri dari duduknya saat mendengar suara pintu terbuka.


Ellard masuk kedalam ruang kerjanya, ya ruang kerjanya, ia sudah memiliki ruang kerja sendiri sekarang yang bersebelahan dengan ruang kerja Darren bahkan didalam ruangan ada pintu penghubung antara ruangannya dengan ruang kerja Darren.


"Ellard." Sapanya sumringah dengan senyum diwajahnya ia berjalan kearah pria yang sedang menatapnya datar.


"Berhenti nona, anda terlalu dekat dengan tuan muda." Suara bariton dari belakang tubuhnya membuat wanita itu menegang, ia kenal jelas suara siapa yang ada dibelakangnya.


"Ellard kau mencariku? kau ingin berbicara berdua kan denganku? lalu kenapa ada pria itu disini?." Tanya Violla masih dengan senyuman diwajahnya berjalan mendekat kearah Ellard mencoba menghiraukan ucapan Mad dan tatapan pria itu yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Berhenti Vio, jangan mencoba menyentuhku lagi, apa kau tidak ingat kejadian tadi malam? sehingga kau seberani ini mendekat ke arahku?."


Suara datar itu mampu menyadarkan Violla jika tatapan mata Ellard berbeda dari tatapan biasanya. Biasanya Ellard akan menatapnya hangat penuh kasih sayang walaupun terkesan kasih sayang seorang kakak dengan adiknya, Violla lebih menyukai itu dari pada tatapan ini, Ellard menatapnya asing ia hanya melihat tatapan datar dan tajam, ada secuil kemarahan dimata Ellard yang bisa Vio lihat membuat wanita itu sedikit takut.


Bersambung.....

__ADS_1


Anak adalah perhiasan.


“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi:46)


__ADS_2