Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Akhir?


__ADS_3

Mobil Ken berhenti didepan pintu masuk mansion, Ellard langsung keluar dan berlari masuk. Pria itu mengedarkan pandangannya kemudian melihat beberapa pria berbaju hitam sedang menundukan kepalanya didepan Darren, tanpa aba-aba Ellard langsung berlari cepat kearah mereka.


"BAGAIMANA KALIAN MENJAGA ISTRIKU HAH!!." Bentak Ellard sambil terus membabi buta salah satu dari para pengawal itu.


Bugh


Bugh


Bugh


Ken dan Adam langsung menghentikan Ellard yang sedang seperti orang kesetanan. Wajahnya merah dan urat-urat lehernya terlihat jelas, Ellard memberontak saat tubuhnya ditarik Adam dan Ken.


"Lepaskan aku! aku akan menghabisi mereka semua!!." Bentaknya tanpa mengalihkan pandangannya dari para pengawal yang berdiri gemetaran


Mereka baru saja mendapatkan pukulan keras dari Darren dan sekarang tuan muda ini yang bersiap akan membunuh mereka sepertinya ini adalah akhir dari hidupnya, pikir mereka bersama.


Darren hanya duduk disofa sambil menyenderkan punggungnya, dia tidak berniat memisahkan Ellard. Karena jika dirinya diposisi putranya itu pasti akan melakukan hal yang sama.


"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA JIKA ISTRIKU SAMPAI TERLUKA!!."


Darren langsung berdiri dari duduknya kemudian berjalan cepat kearah putranya saat melihat Ellard memegangi dada kirinya.


"Kau baik-baik saja?." Tanyanya khawatir, dirinya jelas tau apa yang sedang terjadi pada putranya ini.


"Dara?." Tanya Ellard disela-sela dirinya merintih.


"Kita akan menemukannya, kau harus menenangkan dirimu." Ucap Darren menepuk punggung putranya lalu beralih menatap Adam meminta pria itu lewat sorot matanya untuk mengambilkan obat untuk anaknya .


Adam mengangguk pelan kemudian berjalan menuju kamarnya dimana selama ia menyimpan obat-obatan Ellard, hanya untuk berjaga-jaga. Semenjak remaja Ellard tidak pernah mengonsumsi obat-obatan untuk jantungnya beruntung pria itu selalu mengantisipasi segala hal.


"Tenang Ell." Ucap Darren.


Adam datang dari arah samping sambil membawa satu strip obat dan segelas air.


"Tuan." Ucapnya menatap Darren, pria itu menganggukkan kepalanya membuat Adam langsung mengambil satu butir obat dan memberikannya kepada Ellard yang masih memegangi dadanya.


"Tuan muda minumlah." Ucap Adam sambil menyodorkan obat didepan Ellard.


"Apa itu?." Tanyanya.


"Minum saja."


Ucapan Darren membuat Ellard langsung membuka mulutnya. Adam memberikan segelas air kepada Ellard saat dirinya sudah meminum obat itu. Tidak sengaja arah pandang Ellard melihat strip obat ditangan Adam, ia tidak bodoh dirinya tau obat apa itu.


BETABLOK, nama obat itu tertulis jelas, ia melirik kearah ayahnya yang sedang menatap dirinya khawatir, jadi dirinya selama ini memiliki masalah dengan jantungnya? pikir Ellard tergelak tidak percaya.


Sekarang itu tidak penting, yang jelas dirinya sekarang harus menemukan Dara, pikirnya lalu menurunkan tangannya yang berada di dadanya.


"Sudah lebih baik?." Tanya Darren menatap cemas putranya.


Ellard hanya mengangguk menjawabnya kemudian berlari naik keatas, ia ingat jika dirinya pernah meletakan alat pelacak didompet wanita itu. Dan ternyata alat itu sangat berguna juga kali ini. Ponsel? ah ponsel itu mati saat Ken mencoba melihat GPS-nya, sepertinya orang-orang sialan yang menculik istrinya bukan orang biasa.


Ellard membuka laptopnya jari-jari pria itu bergerak lincah di keyboard, keringat menetes dari keningnya saat melihat layar laptopnya sedang loading mencari letak posisi Dara. Tidak lama Darren dan Ken juga menyusulnya masuk kedalam kamar.


"Bagaimana?." Tanya Darren.


"Ketemu!." Ucapnya keras sambil melempar laptopnya keatas kasur kemudian melangkah membuka lemarinya.


Ellard membuka laci bagian tengah yang terkunci kemudian mengambil sebuah benda yang tertutup kain hitam. Dirinya membuang kain itu lalu memasukkan sebuah pistol kedalam saku jasnya dan berlari keluar kamar.


"Ikuti dia Ken! pria itu gila jika pergi sendiri." Ucap Darren keras membuat Ken menganggukkan kepalanya lalu melangkah keluar kamar.


Kendrick mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian mendial nomor seseorang.


"Ikuti tuan muda! bawa pengawal khusus dan ingat jangan sampai kalian tertinggal!. Pastikan dia baik-baik saja!." Ucap Ken disela-sela berlari turun dari tangga, ia mematikan sambungan teleponnya saat seseorang diseberang telepon menjawab dengan tegas perintahnya.


*****


Dara menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, dari kegelapan Dara melihat seseorang dengan pakaian ketat diatas lutut. Semakin dia mendekat Dara semakin memperjelas pengelihatannya, Dara langsung gemetar saat melihat wanita itu membawa sebuah pistol ditangannya.


"Hai sudah lama kita tidak bermain." Ucap wanita itu sambil berjalan berlenggak-lenggok kearahnya.


"Mi-michel." Cicit Dara pelan saat wanita itu sampai dihadapannya.


"Ya ini aku, ada apa kau takut?." Ucapnya sambil menarik jilbab Dara membuat gadis itu mendongak.


"K-kenapa kau membawaku kesini?." Tanya Dara dengan tubuh gemetar.


"Kenapa? kau masih bertanya kenapa?! ini semua karena kau mendekati Ellard!!." Bentak Michel beralih mencengkram erat pipi Dara, membuat gadis itu meringis pelan saat merasa kuku-kuku wanita itu menancap di pipinya.


"Ini gara-gara kau sampah!!."


Plak


Plak


Michel menampar keras pipi Dara membuat sudut bibir gadis itu berdarah.


"Sudah ku peringatkan sebelumnya! jangan mendekati Ellard!."


"Tapi kau? kau malah mengadukan tindakanku padanya?!."


Plak


Plak


"Kau tau gara-gara dirimu aku tidak bisa mengunakan baju pendek lagi." Ucap Michel sambil melepaskan tangannya dari pipi Dara.


"Lihat ini!! ini karena dirimu!." Bentaknya lagi sambil menunjuk paha kirinya.


Dara melihat arah tunjuk wanita itu, dia melihat luka jahit yang membekas disana. Tapi?, tapi kenapa dia yang disalahkan? ia tidak pernah melukai Michel pikir Dara disela-sela rasa takutnya.

__ADS_1


"Dan kau membuatku saja hampir dibunuh!."


Plak


Plak


"Dan sekarang kau harus menanggung akibatnya!!." Ucap Michel dengan seringai liciknya.


"M-michel." Ucap Dara pelan sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada apa?apa kau takut?." Ucapnya tersenyum sambil mengelus pipi Dara dengan jarinya.


"Ini juga yang aku rasakan waktu itu!!."


Michel menerima panggilan melalui handsfree yang terpasang ditelinganya.


"Jangan lama-lama kau hanya punya waktu sepuluh menit." Ucap seseorang diseberang sana membuatnya mendengus kesal. Apa pria ini tidak tau jika dirinya sedang ingin bermain saat ini?. Tapi dirinya juga tidak bisa membantah Jhon, mengingat pria itu jika marah benar-benar sangat menyeramkan dan dia yakin Jhon pasti memperhitungkan rencananya dengan sangat matang.


"Iya." Jawabnya malas.


"Good baby, jangan lupa untuk malam ini kau milikku."


Michel langsung melepaskan handsfree ditelinganya kemudian membuangnya kesembarang arah.


"Sudahlah kita langsung akhiri ini saja, masih ada yang menunggu diriku." Ucap Michel melirik keatas sambil tersenyum kemudian menodongkan pistol dikepala Dara.


Dara tidak mengeluarkan sepatah katapun ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, bibirnya kelu untuk berbicara. Ia ketakutan sekarang, seumur-umur baru kali ini dirinya melihat senjata dari jarak dekat apalagi peluru didalam senjata itu siap menembus kepalanya.


Yang Dara lakukan kini hanya pasrah, mengharapkan bantuan dari seseorang juga tidak mungkin. Dirinya yakin jika Ellard pasti akan mencarinya, tapi tidak secepat dan semudah itu bukan?.


Michel tersenyum puas saat melihat wajah gadis didepannya ini ketakutan. Rasanya semua beban malu dan marah yang ia pendam akhirnya terbalaskan juga. Perlahan Michel menarik pelatuk pistolnya membuat Dara memejamkan matanya, ia sudah pasrah jika harus tiada dengan cara seperti ini.


Pria yang melihatnya dari lantai atas gedung itu tersenyum puas, oh ayolah cepat sedikit dirinya sudah menahan hasratnya hanya karena ini, pikirnya sambil meneguk segelas kopi ditangannya.


"Selamat tinggal, Dara." Ucap wanita itu lalu menarik pelatuknya.


Dorrr


******


Ellard mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, dirinya menyetir sambil melihat layar GPS dimobilnya.


Saat dirinya melewati pertigaan, beberapa mobil hitam melaju dari arah kanan dan kiri jalan. Mobil-mobil itu langsung mengikuti dibelakang mobilnya saat Ellard melihat mobil-mobil itu dari kaca spion, dirinya baru tau ternyata itu adalah mobil orang-orang kepercayaan Ken. Ellard membiarkan mereka mengikutinya, pria itu menambahkan laju kecepatannya diikuti banyak mobil dibelakangnya.


Ada perasaan mengganjal di hatinya ia merasa sesuatu yang besar sedang terjadi. Ketakutan yang paling besar yang pernah dirinya rasakan kali ini adalah kehilangan Dara, ia tidak tau bagaimana hidupnya kelak jika wanita itu pergi dari sisinya.


"Ku mohon jangan sampai Dara terluka, ambil apapun dariku tapi jangan istriku tuhan." Ucap Ellard disela-sela dirinya menyetir.


Ellard mencengkram erat stir kemudi menahan sesak yang tiba-tiba ada di rongga dadanya. Bagaimana Daranya sekarang? apa dia baik-baik saja? para penculik sialan itu tidak akan melakukan apapun pada istrinya, bukan? pertanyaan itu tiba-tiba masuk di kepalanya.


...............


Akhirnya mobil yang ditumpangi Ellard berhenti didepan gedung kosong, pria itu langsung keluar dan berlari masuk. Tidak lama banyak mobil-mobil yang berhenti dibelakang mobil Ellard. Para pria berbaju hitam lengkap dengan senjata ditangan mereka turun dari mobil kemudian berlari masuk kedalam menyusul Ellard.


Mereka langsung berlari menyerang Ellard dan para pengawalnya saat melihat mereka mendekat kearah gedung.


Pria-pria bertato itu mulai mengeluarkan pistolnya dan menembak para pengawal Ellard mereka semua terlihat mahir mengunakan senjata.


Dorr


Dorr


Dorr


Pengawal-pengawal yang diutus Ken juga tidak bisa diremehkan kemampuannya mereka sangat lincah menghindari peluru yang diarahkannya kepada meraka.


Terjadi baku hantam hebat diluar gedung, suara tembakan saling bersahutan dan darah berceceran dimana-mana. Ellard menembak seseorang yang menghalangi jalannya, wajahnya merah padam menahan amarah.


Pria itu menendang seseorang yang berlari kearahnya, ia sudah tidak sabar melihat Daranya, dia harus memastikan jika istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Bugh


Bughh


Dorr


Dorr


Dorr


Ellard terus menendang, memukul dan menembak semua orang yang mencoba menghalangi jalannya. Tidak ada luka gores dan lebam di sekujur tubuhnya, dirinya sama sekali tidak membiarkan orang lain mendekat kearahnya.


Dorr


Dorr


Dorr


Ellard menembak mereka menggunakan satu tanganya sambil berjalan masuk kedalam.


Dorr


Bunyi tembakan dari dalam gedung disusul suara jeritan seorang wanita, ia tau betul suara siapa itu. Tiba-tiba tubuhnya lemas, pikirannya langsung tertuju pada Dara, ya itu suara Daranya, istrinya, dan suara tembakan yang jelas terdengar ditelinganya.


Dengan kaki gemetar Ellard masuk kedalam dan jika benar itu adalah Daranya maka pistol ditangannya ini sudah siap untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


*****


Didalam gedung


Dorrr

__ADS_1


"Arhhkk." Teriak Dara saat cairan kental mengenai wajahnya.


Brukk


Jhon langsung menjatuhkan paper cup coffe ditangannya saat melihat hal diluar dugaan terjadi.


Sedang apa anak itu!!. Batinnya sambil mengepalkan tangannya erat, dirinya mengeluarkan pistol dari belakang saku celananya.


Perlahan Dara membuka matanya saat dirinya tidak merasakan apa-apa pada tubuhnya. Saat dirinya melihatnya kebawah ia langsung mengatupkan bibirnya menahan jeritan dan isak tangis saat melihat Michel tidak sadarkan diri dengan darah di punggungnya.


Dengan tubuh gemetaran Dara mendongakkan kepalanya melihat siapa yang menembak Michel. Pupil matanya membesar saat melihat seorang anak laki-laki menghadap kearahnya sambil menodongkan pistol ditangannya.


"Kau baik-baik saja?." Tanyanya sambil berjalan kearah Dara dan memasukan senjatanya kedalam saku jaket kecilnya.


"Da-dami-nan." Ucap Dara terbata saat Daminan membuka ikatannya. Dirinya melihat Daminan dengan ekspresi terkejut, tidak percaya dan juga takut.


Daminan memutar tubuhnya sambil melihat kelantai atas dimana ada seorang pria yang mengarahkan pistol kearah Dara.


"Sial!!." Umpat Jhon pelan lalu menurunkan senjatanya, sedikit lagi dirinya bisa membunuh gadis itu. Tapi bocah sialan yang sedang menatapnya tajam membuatnya mengurungkan niatnya. Bukan karena dirinya takut dengan tatapan anak itu tapi anak itu menutupi tubuh gadis yang menjadi sasarannya. Yang otomatis jika dirinya melepas pelatuk pistolnya maka akan langsung terkena anak kecil itu.


Aku akan memberimu hukuman setimpal setelah ini. Batin Jhon kemudian berbicara kepada seseorang melalui handsfree ditelinganya.


"Bawa Michel keluar dari gedung ini secepatnya." Ucapnya kemudian memutus sambungan teleponnya lalu melangkah pergi dari sana.


Semua itu tak luput dari pandangan Daminan, anak kecil itu menghembuskan nafasnya lega saat melihat pria di lantai atas sudah pergi.


"Sudah terbuka." Ucap Daminan saat dirinya sudah berhasil memotong tali pengikat Dara mengunakan cutter yang dibawanya.


"Ada apa?." Tanya anak itu saat Dara melihat dirinya tanpa berkedip.


"K-kamu-." Ucapnya terpotong saat melihat seorang pria kekar bertato berjalan kearahnya. Refleks Dara memeluk Daminan dan membawanya menjauh dari pria yang semakin mendekat kearahnya.


Daminan tersenyum tipis saat merasakan wanita ini semakin erat memeluknya. Pria bertato itu mengangkat tubuh Michel kemudian pergi dari sana, entah mata Dara yang rabun atau bagaimana ia melihat jika pria bertato itu menunduk kearahnya. Walaupun hanya sekilas tapi ia yakin jika pria itu menundukkan kepalanya kearahnya.


Dara tersadar dari lamunannya ia menarik Daminan dari pelukannya dan menatap anak itu menyelidik.


"Dami apa yang aku lakukan disini? d-dan a-apa kau me-menembak Michel?." Tanya Dara terbata, walaupun dirinya sudah tau tapi tetap saja masih ada perasaan tidak percaya jika anak berumur 6 tahun berani mengunakan senjata apalagi menembak seseorang, ini seorang anak kecil! .


"Apa ini sakit?." Tanya anak itu menyentuh sudut bibir Dara yang terluka.


"Ini?." Ah sial anak ini benar-benar bisa mengalihkan pembicaraan, lihatlah tatapan polosnya yang sedang menyentuh bibir Dara membuat gadis itu sedikit salah tingkah.


"Dami-." Ucapannya terpotong saat tubuh Daminan ditarik mundur oleh seseorang.


Orang itu menodongkan senjatanya di kepala Daminan, bukan Daminan namanya jika ia tidak bergerak cepat saat tubuhnya ditarik anak itu langsung mengambil pistol disaku jaketnya. Alhasil kedua pria itu saling menodongkan senjata kearah berlawanan.


Kedua orang itu saling menatap tajam satu sama lain membuat atmosfer di sekeliling Dara menjadi dingin.


Dara meneguk salivanya sendiri lalu berjalan mendekat kerah kedua pria yang melupakan keberadaannya.


Dara tertawa pelan untuk menutupi rasa takut dan gugupnya, "Haha, i-ini tidak lucu ayo turunkan senjata kalian." Ucapnya sambil menyentuh kedua tangan pria itu, tangan Dara gemetar saat menurunkan tangan keduaanya, ini pertama kali dirinya menyentuh senjata api dan itu asli.


Ellard dengan cepat menarik tangan Dara dan mencium kasar bibirnya, Dara melebarkan matanya apa Ellard tidak melihat anak kecil disini? pikir Dara. Dara mencoba lepas dari Ellard tapi semakin dirinya mencoba melepaskan pelukan dan ciuman pria itu, semakin erat dan dalamnya ciuman dan pelukan yang Ellard berikan.


Daminan memutar bola matanya malas, ternyata selain bodoh pria didepanya ini juga tidak punya malu pikirnya lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Apa kalian sudah selesai?." Tanya anak itu datar, ia sudah menunggu dan melihat mereka berciuman selama kurang lebih lima belas menit. Dirinya malah cemas jika wanita di pelukan pria bodoh itu mati karena kekurangan oksigen apalagi saat melihat wajah Dara yang memerah.


Ellard melepaskan ciumannya lalu menarik Dara kedalam pelukannya, ia menghujani kepala Dara dengan ciuman, Dara bisa mendengar detak jantung pria itu yang tidak beraturan. Dan Dara juga merasakan tubuh Ellard gemetar tadi saat memeluknya.


"Kau baik-baik saja? apa ada yang terluka? dimana yang sakit? tunjukkan padaku." Tanya Ellard melepaskan pelukannya lalu menatap dalam wajah Dara.


Dara terperanjat kaget saat melihat wajah pucat Ellard tangannya langsung terulur untuk menyentuh wajah pria itu.


"Aku baik-baik saja Ell." Ucap Dara halus sambil mengelus rahang pria itu.


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi sendiri setelah ini." Ucap Ellard menarik kembali tubuh Dara kedalam pelukannya, menyembunyikan matanya yang mulai berair. Sungguh ia tidak bisa membendung air matanya kali ini antara senang dan takut, senang karena Dara baik-baik saja dan takut saat memikirkan jika dirinya tadi menemukan istrinya dalam keadaan tidak bernyawa.


Dara mengelus punggung Ellard saat merasa bahu pria itu bergetar. "Siapa yang membawamu kemari? apa bocah kerdil itu?." Tanya Ellard melepaskan pelukannya saat merasa dirinya mulai tenang.


Daminan tersedak udara saat mendengarnya, apa pria bodoh itu bilang bocah kerdil? dirinya? kerdil? pikir Daminan dengan raut wajah tidak percaya.


"Tidak sayang, Daminan yang menyelamatkan ku." Ucap Dara.


Ellard menatap tajam Daminan dibalas tatapan tajam juga dari anak kecil itu.


"Sudah Ell, kita kembali ya dan Daminan kamu ikut kami ya." Ucap Dara menyentuh lengan Ellard, dirinya meringis saat melihat kedua pria yang seakan ingin menghabisi satu sama lain.


"Tidak perlu." Tolak Daminan kemudian membalikkan badannya.


Ellard menyipitkan matanya saat melihat gelagat anak itu, dirinya tidak akan membiarkan si kerdil pergi begitu saja. Ia harus meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya.


"Kau ikut kami." Ucap Ellard menarik kerah jaket belakang Daminan membuat anak itu mendengus kesal.


"Ayo sayang." Ucap Ellard mengandeng tangan Dara, bersamaan dengan itu Ken masuk kedalam sambil berlari.


"Nona Dara! tuan muda kalian baik-baik saja?." Tanya Ken.


"Aku baik-baik saja paman." Jawab Dara.


"Ken, kau bawa kerdil ini jangan sampai dia kabur." Ucap Ellard kemudian mengendong tubuh Dara membawanya keluar, dirinya tidak mempedulikan pekikan gadis itu.


Bersambung....


Maaf ya readers sebenernya aku mau up kemarin malem but otor khilaf malah baca novel 😅 hehe maap ya.


Like dan komen ya!!


TAATMU PADA SUAMI MENGANTARKANMU MENUJU SURGA


Rasullullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

__ADS_1


Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga *********** (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, "masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.


HR. Ahmad 1:191 dan Ibnu Hibban 9:471


__ADS_2