Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Memukulinya


__ADS_3

Hayoo khusus part yang sudah menikah ya!!


Mobil Ellard melaju dengan kecepatan tinggi dijalanan kota New York, didalam mobil hanya ada keheningan menyelimuti tiga orang didalamnya. Wajah Ellard sejak tadi terlihat masam membuat orang lain tidak berani menggangunya.


Penjaga gerbang langsung membuka pintu gerbangnya lebar-lebar saat melihat dari kejauhan mobil hitam yang sudah dipastikan siapa pemiliknya.


Ellard langsung turun dari dalam mobilnya dan membuka pintu belakang.


"Ell-." Ucapan Violla terhenti saat melihat Ellard menarik tangan Dara masuk kedalam tanpa berbicara apapun dengannya.


Ellard menarik tangan Dara masuk kedalam lift pria itu sejak tadi tidak mengeluarkan suaranya. Membuat atmosfer di sekeliling Dara menjadi dingin, apa dia memiliki kesalahan? pikirnya.


***


Ellard membawa Dara kedalam kamarnya, pria itu menutup pintunya lalu mendorong pelan tubuh Dara didinding.


"S-sayang." Cicit Dara pelan saat gadis itu berada dikakungan Ellard


Tanpa aba-aba pria itu langsung membungkam bibir Dara mengunakan bibirnya. Ciuman itu semakin menjadi saat Ellard mendapat balasan dari gadisnya. Ellard langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut Dara.


Tangan Ellard bergerak membuka kancing baju atas Dara, gadis itu sama sekali tidak memberontak membuat Ellard melanjutkan aktivitasnya.


"Bolehkah?." Tanya Ellard dengan suara serak, sepertinya pria itu sudah tidak tahan lagi untuk menahan hasrat yang menggelora dalam dirinya. Apalagi saat dirinya merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana.


Apa sekarang?. Batin Dara memejamkan matanya.


Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan membuat Ellard langsung mengangkat tubuh Dara dan membawanya keatas ranjang.


Ellard melepaskan kaos dan jaketnya kemudian membuka resleting celananya. Ellard naik keatas ranjangnya kemudian menindih tubuh Dara.


"Rileks Dara." Ucap Ellard disela-sela aktivitasnya


Dara mencengkram erat sprei tempat tidurnya, terdengar rintihan dan ******* suara Dara yang terdengar merdu ditelinga Ellard, dirinya menjadi yang pertama untuk gadis ini, tidak! sekarang Dara adalah wanitanya!!.


Sore itu ditemani dengan cuaca dingin kota New York Dara akhirnya menjadi milik Ellard seutuhnya.


Desember, akhirnya Dara menyerahkan keperawanannya kepada seseorang yang sudah sah menjadi suaminya. Tidak menyangka jika di umurnya yang masih 18 tahun dirinya sudah melepas sandangan seorang gadis.


*****


Ellard mencium kening Dara, kegiatan panas yang mereka lakukan tadi membuat gadis itu kelelahan.


Ellard tersenyum senang, ah dirinya tidak bisa menggambarkan bagaimana suasana hatinya saat ini. Yang jelas apapun yang dia miliki sekarang dan kesenangan yang sebelumnya pernah dia rasakan terkalahkan oleh rasa senangnya kali ini. Sekarang Ellard yakin bahwa Dara sudah mencintainya, walaupun dia tidak mengatakannya tapi perbuatan yang baru saja mereka lakukan membuatnya yakin. Kalaupun Dara belum mencintainya dirinya tidak perduli, toh sekarang ia sudah memiliki Dara seutuhnya.


Ellard mencium kening Dara lagi lalu menyibak rambut yang menutupi wajah wanitanya.


Oh ****! melihat tubuh mulus Dara membuat hasrat pria itu kembali membara. Tidak! dirinya harus menahannya, wanitamu kelelahan Ell, begitu batinnya.


Ellard turun dari ranjangnya, ia melihat kearah bercak darah yang ada pada sprei. Arghh! dia sudah gila, dirinya tidak bisa mengontrol kesenangannya kali ini. Pria itu melangkah menuju kamar mandi dengan senyum merekah diwajahnya.


****


Dara menggeliat dalam tidurnya, wanita itu menggerjapkan matanya perlahan. Dirinya meringis saat merasakan perih pada **** * miliknya. Kejadian tadi sore langsung berputar di kepalanya, dirinya sudah menyerahkan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya untuk lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.


Dara menarik selimutnya sampai ke lehernya cuacanya sangat dingin hari ini terlebih dirinya tidak memakai baju. Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan wanita itu, Ellard keluar dari dalam kamar mandi hanya mengunakan lilitan handuk. Dada bidang pria itu terekspos jelas membuat Dara meneguk salivanya sendiri, apalagi saat melihat air yang menetes dari rambut pria itu.


"Sudah bangun, sayang?." Ucap Ellard tersenyum senang berjalan mendekati Dara.


"G-ganti baju dulu s-sayang." Ucap Dara terbata, dirinya mencengkram erat selimut dilehernya. Pria itu tidak akan melakukan itu lagi bukan? sakitnya saja belum hilang, pria ini benar-benar sangat ganas pikirnya.


"Apa yang kau pikirkan?." Tanya Ellard menciumi seluruh wajah Dara, pria itu butuh pelampiasan rasa senangnya.


"Ell." Ucap Dara menahan pergerakan pria itu.


Ellard tetap memberi kecupan diwajah Dara, pria itu mengigit pelan leher jenjang Dara kemudian berdiri melangkah menuju ruang ganti dengan senyuman diwajahnya.


Dara yang melihatnya langsung merinding, Ellard jarang sekali tersenyum lebar seperti itu. Dirinya lebih sering melihat Ellard marah-marah, mengamuk bahkan memukul orang sepertinya mulai hari ini dirinya harus menyesuaikan diri, pikirnya.


Dara melirik kearah jam dinding ternyata sudah hampir petang dirinya belum sholat ashar. Dara perlahan turun dari ranjangnya sambil meringis menahan perih. Dara berjalan pelan kearah kamar mandi sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


****


"Sayang kau didalam?." Tanya Ellard dari luar sambil menggedor pintu kamar mandi.


"Iya." Jawab Dara setengah berteriak.


"Apa kau baik-baik saja? tidak sakit? hei Dara buka pintunya biarkan aku masuk, aku akan memandikan mu." Ucap Ellard sambil terus menggedor pintu, suaranya pria itu terdengar khawatir.


Ucapan Ellard tadi membuat Dara membulatkan matanya terkejut.


"T-tidak sayang, aku baik-baik saja." Jawab Dara, yang benar saja Ellard masuk? bisa-bisa yang terjadi malah hal yang lain pikirnya.


"Benarkah? apa kau berbohong padaku?."


"Tidak sayang." Jawab Dara seyakin mungkin agar pria keras kepala ini percaya.


Tidak terdengar lagi suara dari luar membuat Dara menghembuskan nafasnya lega.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, wanita itu menghela nafasnya untuk kesekian kalinya lagi.


"Sudah ya sayang, aku sudah sangat kenyang." Ucap Dara sambil memegang perutnya.


Ellard tadi meminta Adam membawakan makan malam kekamar karena Ellard melarangnya banyak berjalan. Pria itu bilang tidak tega melihatnya selalu meringis menahan sakit karena perbuatannya. Yang menjadi masalahnya adalah Adam membawakan satu troli penuh. Dan pria ini dengan mudahnya mengatakan bahwa dirinya harus menghabiskan itu semua.


"Sayang." Ucap Dara lagi saat Ellard menyodorkan sesendok makanan didepannya.


"Makan sayang, aku ingin kau cepat pulih agar kita bisa melakukannya lagi." Jawabnya.

__ADS_1


Dara langsung bergidik mendengarnya, pria ini benar-benar!.


........


Ellard menutup pintu kamarnya, setelah makan malam tadi dirinya meminta Dara agar tidur. Dara langsung menurut karena memang dirinya terlalu lelah. Ellard berjalan kearah lift dia mendapat pesan dari Ken untuk menyelesaikan pekerjaan, dan mau tidak mau pria itu harus meninggalkan Dara untuk pergi keruang kerja Darren.


"Ell." Teriakan seorang wanita membuat pria itu mengurungkan niatnya untuk membuka pintu lift.


"Vio?." Ucap Ellard mengerutkan keningnya kenapa wanita ini malam-malam sampai disini? kamarnya saja ada dibawah pikirnya.


"Aku sejak tadi menunggumu keluar kamar aku ingin menemuimu tapi selalu dicegah oleh Adam." Ucap Vio saat sampai didepan Ellard dengan wajah ditekuk.


"Ada apa? kau butuh sesuatu?." Tanya Ellard.


"Ya aku ingin makan malam, Ellard kau mau kan makan malam diluar bersama ku?." Tanya Violla penuh berharap sambil menautkan jari-jari tangannya.


"Aku sedang ada pekerjaan Vio, kau bisa meminta juru masak disini untuk memasakkan makanan untukmu." Jawab Ellard.


"Tapi aku ingin makan diluar bersama mu Ell, aku ingin mengulang kembali masa-masa indah kita." Ucap Violla dengan mata berkaca-kaca.


"Dengar Vio tidak ada yang namanya mengulang kembali, aku sudah menikah dan itu sama saja menyakiti perasaan istriku. Aku temanmu hubungan kita tidak lebih dari itu." Jelas Ellard.


"Kau bilang ingin selalu menemaniku?!." Ucapnya tidak terima.


"Aku akan menemanimu tapi bukan berarti aku selalu menuruti apapun kemauanmu terlebih itu menyakiti istriku."


"Kau tidak peduli padaku Ell aku temanmu yang selalu ada saat dirimu membutuhkan sandaran!. Lalu kenapa disaat aku membutuhkan seseorang untuk menemani diriku disisa hidupku kau malah pergi meninggalkan ku!!." Teriak Violla lalu berlari kearah tangga.


Ellard memijit pelipisnya pening, bukan dirinya tidak perduli dengan wanita itu. Tapi setelah Dara menyerahkan kehormatannya pada dirinya sudah tidak ada lagi pemikiran jika Dara tidak mencintainya. Dan itu membuatnya harus bisa menjaga perasaan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


Ellard masuk kedalam lift memencet tombol lantai bawah.


Ting


Pintu lift terbuka Ellard keluar dari dalam kemudian melangkah menuju ruang kerja Darren.


"T-tuan muda." Ucap seorang maid wanita membuat langkah Ellard terhenti. Pria itu mengerutkan keningnya, selama ini tidak ada maid yang berani menyapanya. Tapi ini? pikir pria itu.


"Apa?." Tanya Ellard saat melihat wajah maid itu ketakutan dan berkeringat.


"N-nona v-violla, p-pisau." Ucapnya terbata-bata.


"Bicara yang benar!!." Bentak Ellard geram.


"N-nona Violla ingin mengakhiri hidupnya sendiri, t-tuan.". Ucapnya sambil menghembuskan nafasnya lega karena bisa menyampaikan ucapannya dengan lancar.


Ellard langsung berlari kearah kamar Violla meninggalkan maid yang sedang menatap punggung pria itu.


"Apa yang kau lakukan!!." Ucap Ellard keras saat melihat Violla akan menggores nadinya.


Pria itu dengan cepat merebut pisau ditangan wanita dan membuangnya kesembarang arah.


"Tidak ada yang memperdulikan aku lagi, orangtua dan sekarang dirimu." Ucapnya pelan.


"Lalu apa gunanya aku hidup? jika aku juga akan mati."


"Mungkin jika aku tiada tidak akan ada yang menganggu hidup kalian lagi."


"Apa yang kau katakan?." Ucap Ellard membawa wanita itu kedalam pelukannya.


"Aku sendirian, aku menyedihkan." Ucapnya terisak didada bidang Ellard sambil melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.


"Tidak, kau tidak sendirian jangan melakukan hal gila ini lagi." Ucap Ellard mengelus rambut wanita itu.


Ellard membawa Violla untuk berbaring ditempat tidurnya, wanita itu menurut tangannya masih melingkar di pinggang Ellard.


"Tidur." Ucap Ellard melepaskan pelukannya.


"Kau bisa tidur bersamaku?." Tanyanya pelan.


"Aku-."


Bughhh


"Ellard!!." Teriak Violla saat melihat Ellard jatuh tersungkur.


"Berandal gila!! kurang ajar!." Ucap keras Darren.


Darren tiba-tiba masuk kedalam kamar Violla dan langsung menarik tubuh Ellard kemudian memberinya bogeman mentah sampai sang empunya jatuh tersungkur sambil memegangi sudut bibirnya yang robek.


Darren melangkah mendekati putranya lalu menginjak perut pria itu dan memberinya tendangan kuat.


"Kau memiliki istri!! dan berduaan dengan wanita lain disini!!." Ucapnya keras lalu menarik kerah baju Ellard dan memberinya pukulan keras.


"Paman." Ucap Violla memegang tangan Darren yang ingin memberinya pukulan.


"Dan kau! dasar ******." Ucap Darren mengeram sambil menghempaskan tangannya membuat Violla jatuh terduduk.


"Jika aku tau kau tidak serius dengan Dara tidak akan pernah aku membiarkan kau menikahinya!!." Ucap Darren kembali memukuli putranya.


Bughh


Bughh


"Tuan." Ucap Ken mengentikan Darren.


"Lepas! aku ingin memberi anak itu pelajaran." Ucap Darren memberontak, amarah pria itu benar-benar mencapai puncaknya saat melihat anak semata wayangnya memeluk wanita lain.


"Tuan muda sebaiknya anda pergi dari sini." Ucap Ken disela-sela memegang tubuh Darren, pria itu sangat kuat jika sedang marah.

__ADS_1


Ellard berdiri perlahan sambil memegangi perutnya wajah pria itu babak belur dihajar ayahnya sendiri.


"Kau tidak ingin mendengar penjelasan ku?." Tanya Ellard pelan saat merasa perih disudut bibirnya.


"Tuan muda sebaiknya anda keluar dulu." Ucap Ken saat merasa kewalahan menghadapi Darren.


"Tidak biarkan pria tua itu melakukan apapun yang dia mau." Jawab Ellard.


Ken melepaskan Darren saat pria itu memberinya pukulan keras.


"Kau sadar kesalahan mu?." Ucapnya melangkah mendekati putranya lalu melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.


*****


Mereka bertiga sedang berada didalam ruang kerja Darren, tadi Adam datang dan memisahkan mereka berdua dibantu Ken dan sekarang berakhir disini. Darren setuju untuk mendengar penjelasan putra brandalnya setelah pikirannya bekerja memang tidak mungkin anak itu berselingkuh setelah mendapat seseorang yang bisa menumbuhkan cinta dalam hatinya. Tapi melihat putranya memeluk wanita lain dan pikirannya langsung tertuju pada Dara, bagaimana jika gadis itu tau? pikirnya langsung gelap mata dan membabi buta anaknya.


"Jelaskan." Ucapnya singkat.


"Vio ingin mengakhiri hidupnya aku memeluknya untuk memberinya kekuatan." Ucap Ellard, wajahnya saja belum diobati tapi pria tua ini membiarkannya.


"Apa kau mengajaknya kemari?."


"Mana mungkin."


"Kenapa kau peduli dengannya?." Tanya Darren, pria itu bersandar disofa singlenya sambil jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran sofa.


Adam dan Ken berdiri dibelakang mereka, mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi. Darren mengamuk misalnya? pria tua satu itu paling tidak bisa mengontrol emosinya.


"Dia temanku satu-satunya temanku, dan sekarang dia sedang sakit." Jawabnya.


Darren mengeryitkan dahinya, "Sakit?" Tanya Darren.


"Kanker hati stadium awal." Jawab Ellard.


Salah satu sudut bibir Darren terangkat membentuk senyuman sinis, "Kau sudah memastikannya?." Tanyanya.


"Buat apa memastikan? Vio sendiri yang memberikannya surat dokternya kepadaku." Jawab Ellard.


"Kau sudah mengajaknya menemui Nike?." Tanya Darren.


"Tidak, dia tidak mau Vio bilang jika dirinya ingin disini untuk bersenang-senang sebelum kematian menjemputnya." Jelas Ellard.


Darren semakin yakin jika wanita itu hanya membodohi Ellard, mengingat wanita itu adalah orang terdekat Harry, ayahnya. Dan bodohnya putra brandalnya ini percaya, sepertinya Ellard mulai berpikir mengunakan perasaan mungkin efek samping akibat jatuh cinta, pikir Darren sambil menghembuskan nafasnya kasar.


Darren menatap wajah anaknya yang babak belur akibat perbuatannya, ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya.


"Obati lukamu." Ucap Darren beralih melihat kearah Adam, Adam yang sudah bersiap sejak tadi sambil membawa kotak obat melangkah mendekati ayah dan anak itu.


"Ini tuan."


Darren menerima kotak obatnya lalu berdiri dan duduk disamping putranya.


"Lihat aku." Ucap Darren membuat Ellard menolehkan kepalanya kearah pria itu.


Darren mulai mengobati luka Ellard dengan perlahan tidak ada rintihan yang keluar dari mulut pria itu.


"Kau yang melukainya kau juga yang mengobatinya." Ucap Ellard membuat perhatian Darren teralih dari lukanya kewajah pria itu.


"Dengar Ell aku paling tidak suka dengan penghianatan walaupun kau putraku aku tidak akan membiarkan jika kau berani menghianati istrimu. Aku benar-benar akan membunuhmu jika kau berniat menduakan Dara." Jelas Darren.


"Aku tidak akan membiarkan Dara menangis hanya karena dirimu." Lanjutnya entah sadar atau tidak Darren mengatakan itu. Membuat Ellard mengerutkan keningnya saat mendengarnya.


"Aku yang salah atau memang kau terlalu berlebihan terhadap Dara? aku melihat jika dirimu akhir-akhir ini berubah setelah kedatangan Dara." Ucap Ellard membuat Ken dan Adam saling pandang dengan wajah cemas.


"Aku hanya mengatakan itu sebagai ayahmu." Ucap Darren lalu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar.


Ellard mengepalkan tangannya erat ada yang salah dengan Darren. Dia tau itu, Darren adalah pria yang acuh terhadap wanita, bahkan jika itu dari keluarganya sendiri. Tapi ini kenapa pria tua itu terlihat sangat peduli dengan istrinya? pikiran negatif bermunculan dikepala Ellard membuat pria itu semakin mengeratkan rahangnya. Apa Darren menyukai istrinya?.


*****


Dikamar lain seorang wanita sedang mengigit jarinya sendiri sambil memegangi benda pipih ditelinganya.


"Paman Darren marah besar kakek, dia memukuli Ellard."


"......"


"Hampir saja aku mengajak Ell tidur bersama dan membuat wanita itu sadar dengan posisinya. Tapi paman Darren datang diwaktu yang tidak tepat."


"....."


"Aku takut kek, Ell yang sekarang berbeda dengan Ellard yang dulu. Ellard benar-benar mencintai istrinya."


"......."


"Bagaimana jika ketahuan! aku bisa dibunuh langsung oleh paman Darren." Ucap wanita itu dengan nada kesal.


"......."


"Baiklah, aku akan berusaha lagi."


"......"


"Iya selamat malam kakek." Ucap Violla lalu menutup sambungan teleponnya.


Bersambung....


"Kamu dapati bahwa lidah manusia itu begitu ringan, namun kekuatannya bisa sangat menghancurkan"~ Ali bin Abi Thalib.


Hati-hati dengan perkataan karena lisan lebih tajam dari pada pedang.

__ADS_1


__ADS_2