
Dan sekarang berakhirlah disini diruang tengah Darren dan Daminan sedang duduk saling berhadapan. Anak itu menghembuskan nafasnya kasar untuk yang kesekian kalinya, pria tua didepannya ini sudah menatapnya lebih dari sepuluh menit membuat dirinya jengah.
"Sekarang apa aku boleh pergi?." Tanya Daminan datar, akhirnya dia membuka suaranya.
"Kau siapa?." Tanya Darren sambil menyangga dagunya.
"Daminan."
"Maksudku kenapa kau bisa ada ditempat Dara diculik."
"Aku tidak sengaja melihatnya dibawa orang-orang itu." Jawabnya.
"Kau pikir aku percaya?." Tanya Darren, dari gelagatnya saja anak ini terlihat bukan seperti anak biasa.
"Terserah kau pak tua, aku ingin pulang." Ucap Daminan tanpa senyum dan ekspresi apapun dirinya berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar.
Baru beberapa langkah ia berjalan suara seseorang dibelakang menghentikan langkahnya, anak itu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskanya kasar.
"Kau ingin kabur?." Tanya Ellard sambil melangkahkan kakinya turun dari anak tangga.
Daminan membalikan badannya melihat pria yang bicara padanya sedang duduk di sofa sambil menatapnya tajam.
Beberapa menit yang lalu
"Apa Dara baik-baik saja?." Tanya Darren mendekati Ellard yang baru saja masuk kedalam mansion sambil menggendong Dara, nada bicaranya memang terdengar biasa saja tapi ekspresi wajahnya tidak dapat dibohongi pria tua itu terlihat sangat khawatir.
"Apa paman Nike sudah datang?." Tanya Ellard tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
"Ya dia ada di kamarmu sedang menyiapkan peralatan medisnya." Jawab Darren melihat mata Dara yang terpejam erat di gendongan Ellard.
"Dia hanya tertidur." Ucap Ellard saat melihat wajah cemas ayahnya lalu dirinya langsung berjalan menuju lift.
Darren mengalihkan pandangannya saat pintu lift tertutup, ia melihat kearah Ken yang baru saja masuk sambil menggandeng tangan seorang anak laki-laki.
"Aku bilang aku bisa jalan sendiri." Ucap anak itu datar.
Ken tidak menggubris ucapan anak itu dirinya tetap mengandeng tangan Daminan sampai kedepan Darren kemudian dirinya menundukkan kepalanya singkat.
"Siapa bocah ini?." Tanya Darren sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Anak ini ada ditempat nona Dara diculik tuan, dan tuan muda yang meminta saya membawanya." Jelas Ken membuat Darren mengerutkan keningnya.
****
Brak
Ellard menendang pintu kamarnya pelan membuat orang-orang yang didalam melihat kearahnya.
"Kau sudah datang, bawa Dara kemari." Ucap Nike mendekati Ellard yang sedang melangkah menuju ranjang.
Didalam kamarnya sudah tersedia beberapa alat medis yang sudah tersusun rapi diatas nampan besi dan juga para perawat mulai melakukan tugasnya.
Terdengar suara erangan gadis itu saat Ellard meletakan tubuhnya perlahan diatas ranjang.
"Ell." Ucap Dara pelan sambil membuka sedikit kelopak matanya.
"Suttt, sudah tidur saja sayang." Ucap Ellard pelan sambil mengelus kepala Dara dan memberinya kecupan singkat. Mata Dara langsung tertutup rapat membuat Ellard tersenyum tipis ia mencium bibir Dara dan menyentuh pelan sudut bibir gadis itu yang memar.
Para perawat wanita yang melihatnya hanya bisa menelan salivanya sendiri, gila! itu tuan muda Walton beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya pikir mereka bersama.
"Tidak hanya ada dirimu disini." Ucap Nike malas.
Ellard menghapus sudut matanya yang entah sejak kapan mulai berair. Pria itu menyingkir memberi ruang kepada para tenaga medis untuk menangani istrinya.
Ya ampun dia menangis. Pekik histeris para perawat dalam hati.
"Bagaimana?." Tanya Ellard saat Nike sudah selesai memeriksa Dara.
"Apa lukanya serius?."
"Perlu dibawa kerumah sakit?."
"Hanya luka luar, organ vitalnya baik-baik saja dan lukanya juga akan pulih beberapa hari lagi." Ucap Nike membuat Ellard menghembuskan nafasnya lega.
"Aku akan memberikan obatnya pada Adam." Ucap Nike dianggukki oleh Ellard.
Para perawat mulai membereskan peralatan medisnya sedangkan Nike sudah keluar terlebih dahulu untuk menemui Adam.
"Kami pamit dulu, tuan muda." Ucap salah satu dari mereka sambil menundukkan kepalanya.
Ellard hanya mengangguk kecil, ia langsung naik keatas tempat tidurnya dan memeluk tubuh Dara.
Sekali lagi para perawat itu meneguk ludahnya sediri, mereka bergegas keluar tidak ingin melihat hal yang lebih dari itu.
"Maaf." Ucap Ellard pelan sambil mengecup kening Dara.
"Maaf."
"Maafkan aku." Ucapnya sambil mempererat pelukannya ditubuh gadis itu.
"Ell." Ucap Dara menggeliat sambil melihat wajah Ellard.
"Kau terbangun ya?." Tanya Ellard dengan cepat menghapus air matanya.
"Kenapa?." Tanya Dara menyentuh rahang pria itu, dari suaranya saja dirinya tau jika Ellard tadi menangis. Suara seraknya tidak bisa dibohongi, pria itu menangis sambil memeluknya.
"Tidak." Jawab Ellard.
"Aku baik-baik saja sungguh, eh Ell dimana Daminan?." Tanya Dara mengalihkan perhatian Ellard, dan ternyata berhasil wajah sendu pria itu sekarang berubah menjadi kesal.
__ADS_1
"Kau mencari pria lain didepan ku?." Tanya pria itu kesal.
"Bukan begitu, tadi kamu memaksanya kemari kan? lalu dimana dia sekarang?."
"Tidak tau." Jawabnya sambil mempererat pelukannya pada tubuh Dara.
"Ell jangan marahi Daminan ya, dia yang menolongku jika tidak ada dia mungkin aku sudah tertembak." Ucap Dara membuat Ellard menatapnya serius.
"Kau hampir ditembak?." Tanyanya membuat hawa dingin disekitar Dara.
"Y-ya, hampir saja." Jawab Dara pelan.
Ellard kembali memeluk Dara erat sambil menenggelamkan wajahnya dicengkuk leher gadis itu.
"Syukurlah kau baik-baik saja."
"Ya, Alhamdulillah."
"Aku tidak tau apa yang akan kulakukan jika aku kehilanganmu." Ucap Ellard membuat Dara melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.
"Siapa?." Tanya Ellard masih dalam posisi sama, dirinya menenggelamkan wajahnya dicengkuk leher gadis itu.
"Apa?." Tanya Dara pelan, walaupun dirinya sudah tau apa yang dimaksud pria ini.
"Yang menculik mu? kau pasti melihat wajahnya."
Akhirnya pertanyaan yang dia hindari terucap juga dari mulut Ellard. Sekarang dirinya harus apa? bicara jujur jika Michel pelakunya? tidak-tidak itu hanya menambah masalah. Kata-kata Michel sampai sekarang saja masih terngiang di telinganya jika dirinya membuat wanita itu hampir dibunuh. Jika dipikir-pikir lagi hanya Ellard yang bisa melakukan itu, mengingat pria ini selalu melakukan hal diluar batas hanya karena dirinya.
"Sayang." Tekan Ellard menarik kepalanya dan melihat wajah Dara yang terlihat sedang berpikir.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?." Tanya Ellard dengan raut wajah serius membuat Dara menelan salivanya sendiri.
"T-tidak hanya aku tidak mengenal siapa yang menculikku." Jawab Dara sambil mengigit bibir bawahnya.
Ellard memejamkan matanya sebentar untuk merendam amarahnya,dirinya tau jika Dara sedang berbohong, wanita ini memang tidak pernah bisa membohongi dirinya.
"Baiklah, sekarang tidur kau butuh istirahat." Ucap Ellard menarik selimutnya sampai kepundak Dara.
"Hah?." Ucap Dara, benarkah ini Ellard? pria ini tidak memaksanya bicara? tapi apapun itu syukurlah masalah ini tidak semakin melebar. Entah apa yang terjadi jika Ellard tau bahwa Michel pelakunya.
"Tidur Dara." Ucap Ellard sambil mengelus kepala wanita itu.
Perlahan Dara menutup matanya bukan hanya badannya yang lelah tapi pikirnya juga. Rasanya hari ini sangat berat baginya, mulai dari diculik, hampir ditembak dan yang lebih parahnya lagi dirinya melihat penembakan dengan mata kepalanya sendiri. Rasanya sekarang yang ada di kepalanya hanya pistol dan darah.
Tidak lama suara dengkuran halus terdengar ditelinga Ellard membuat pria itu tersenyum tipis kemudian pria itu perlahan melepaskan pelukannya dan bangun dari tidurnya.
Saat ini bukan saatnya untuk menghakimi Dara, gadis itu sudah melewati hal berat hari ini jangan sampai gadis ini tertekan pikirnya.
Yang benar saja dia akan melepaskan pelakunya? hah sampai matipun dia akan mengejar siapa yang berani menculik istrinya dan mengusik miliknya. Tunggu saja sampai waktunya tiba, bahkan jika pelakunya memohon ampun sampai menangis darah sekalipun dirinya tidak akan mengampuninya.
Ellard memberi kecupan singkat dikening Dara kemudian melangkah keluar dari kamarnya.
*****
Daminan menghembuskan nafasnya kasar dirinya seperti sedang disidang saja. Bukannya berterimakasih karena dia sudah menyelamatkan wanita itu tapi dirinya seakan seorang penjahat kelas kakap yang tertangkap.
"Aku sudah bilang, aku melihatnya dibawa orang-orang itu."
"Lalu pistol itu? bagaimana kau bisa membawa senjata?."
Ucapan Ellard membuat Ken dan Darren sedikit terkejut mereka menatap Daminan dengan raut wajah yang sulit diartikan menunggu jawaban dari anak itu.
"Aku hanya menemukannya, kau lihatkan banyak orang yang membawanya." Jawabnya santai membuat ketiga pria disana tidak bisa membaca raut wajahnya yang sedang berbicara jujur atau tidak.
"Bagaimana kau bisa sampai ditempat seperti itu?." Tanya Ellard masih penasaran, ia tidak bisa percaya begitu saja dengan anak ini. Daminan sangat terlihat jelas jika dia bukan anak biasa, dari anak ini menyembunyikan ekspresi wajahnya, nada bicaranya dan jangan lupakan saat anak ini mengarahkan senjata padanya. Gerakannya terlihat sangat cepat dan tepat, bagaimana mungkin Ellard akan percaya begitu saja denganya?.
"Rumahku lewat jalan itu."
"Benarkah?." Tanya Ellard memincingkan matanya.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, sekarang biarkan aku pergi waktuku terbuang sia-sia disini." Ucap Daminan berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu." Cegah Ellard membuat Daminan menghentikan langkahnya.
"Aku benci mengatakan ini, tapi terimakasih." Ucap Ellard membuat anak laki-laki itu membalikan badannya.
"Terimakasih karena kau telah menyelamatkan istriku." Ucap Ellard memperjelas.
Daminan menarik salah satu sudut bibirnya, wah pria bodoh ini ternyata lumayan pintar juga tapi sepertinya dirinya harus memanfaatkan situasi.
"Kau hanya berterimakasih? apa tidak ada hadiah untukku?." Tanya anak itu sambil melipat kedua tangannya didada.
Ellard tergelak saat melihatnya, "Kau ingin minta apa?." Tanya pria itu, jika dipikir-pikir lagi dirinya juga tidak ingin memiliki hutang budi dengan anak menyebalkan ini.
"Aku ingin bertemu dengan wanita itu." Ucap Daminan membuat Ellard mengerutkan keningnya.
"Siapa?."
"Istrimu." Jawabnya santai.
"Apa?! tidak akan, untuk apa menemuinya? hei kerdil permintaan macam apa itu!." Ucap Ellard kesal sambil berdiri dari duduknya.
"Tidak sekarang tapi aku akan kembali untuk menemuinya, selamat tinggal." Ucap Daminan kemudian berjalan meninggalkan ketiga pria yang menatap kepergiannya dengan ekspresi wajah yang berbeda.
"Kerdil sialan! apa dia berniat untuk merebut istriku? tidak akan pernah kubiarkan!. Seharusnya aku menyadari jika anak sialan itu menyukai Dara dari awal." Ucap Ellard melihat kepergian Daminan sampai hilang dari pandangannya.
Ellard langsung berjalan pergi meninggalkan Ken dan Darren yang masih terdiam. Pria itu melangkah naik anak tangga dengan umpatan-umpatan yang keluar dari mulutnya.
"Ken sepertinya kau harus menyelidiki siapa anak itu." Ucap Darren sambil mengetuk-ngetuk tangannya dipinggiran sofa.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab Ken menundukkan kepalanya.
.......
"Apa ada anak laki-laki yang baru saja keluar?." Tanya Ken pada penjaga diluar pintu masuk mansion.
"Benar tuan." Jawab pengawal itu sambil menundukkan kepalanya.
"Dimana dia?." Tanya Ken melihat sekelilingnya.
"Ada mobil yang baru saja menjemputnya tuan."
"Apa mobil itu masuk gerbang utama?."
"Benar tuan."
"Kau melihat siapa yang menjemputnya?."
"Tidak tuan, anak itu langsung masuk kedalam mobil dan saya tidak dapat melihat siapa yang menjemputnya." Jawab pengawal itu menunduk takut.
Ken tidak bertanya lagi dirinya lebih memilih masuk kedalam mansion untuk menemui Darren.
******
Ditempat lain, hawa mencekam menyelimuti sebuah bangunan bernuansa hitam dengan gaya eropa. Ukuran naga tergambar di sepanjang dinding dan pilar-pilar kokoh bangunan itu.
Seorang pria bertubuh kekar dengan aura hitam yang kental sedang berdiri sambil membawa cambuk ditangannya.
Cetar
Cetar
Cetar
Suara nyaring cambuk yang mengenai kulit seseorang membuat dengung telinga setiap orang yang mendengarnya. Banyak pria yang sedang berdiri di sudut-sudut ruangan dengan wajah datar tanpa senyuman, tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekat bahkan suara nafas mereka sama sekali tidak terdengar diruangan ini.
***Cetar
Cetar***
Seorang anak laki-laki sedang berdiri diatas karpet bludru hitam tanpa mengunakan pakaian. Mimik wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, anak itu hanya diam saja saat sebuah benda melayang membuat garis merah dan biru ditubuhnya.
Entah sudah keberapa kalinya pria bertubuh besar itu mencambuk anak laki-laki yang sedang berdiri diam tanpa mengerakkan badannya. Para pria disudut ruangan yang melihatnya saja ikut merasakan perih dan panas tapi anak itu? dia bahkan tidak mengeluarkan ringisan apapun.
"Kenapa kau melakukan itu?." Tanya pria itu sambil menundukkan tubuhnya kesofa lalu dengan cepat dirinya meneguk sebotol alkohol yang sudah tersedia dimeja.
"JAWAB!!." Bentaknya sambil melempar botol minuman itu sampai hancur berkeping-keping dilantai, beberapa pecahan kaca mungkin menancap dikaki anak kecil yang sedang berdiri tanpa ekspresi takut sedikitpun.
"Aku tidak ingin jala*g sialanmu itu melukai wanita itu." Jawabnya datar.
"Kenapa?." Tanya pria itu lagi sambil membuka kasar satu botol alkohol lagi dimeja dan meneguknya.
"Aku tidak bisa menjawabnya."
"Kau tau apa yang kau lakukan?." Tanya pria itu mengeram marah.
"Aku tau."
"Kau tau akibat dari perbuatan mu itu?."
"Ya, aku menembaknya di bagian kiri bawah tulang rusuk bagian belakang. Artinya aku menembak ginjalnya, mungkin sekarang dia akan hidup dengan satu ginjal?." Ucap Daminan datar.
"Jadi sekarang kau harus bersiap menerima hukuman dariku." Ucap pria itu sambil berdiri dari duduknya kemudian melayangkan satu tamparan keras tepat mengenai pipi anak itu, sampai membuatnya terjatuh dipecahan botol alkohol yang berserakan dimana-mana.
"Aku akan menerima hukuman apapun itu, tapi aku meminta satu hal padamu." Ucap anak itu sambil berdiri.
"Apa?."
"Jangan menyentuh wanita itu lagi." Ucap Daminan tanpa ekspresi apapun dirinya menatap pria didepannya yang sedang menghisap rokoknya.
"Kenapa? apa pentingnya wanita itu untukmu dan kenapa aku harus memenuhi permintaan mu." Jawab pria itu sambil menghembuskan asap rokoknya dan mendudukkan dirinya di sofa.
"Aku menyayanginya dia seperti ibu untukku." Jawabnya datar.
Pria yang sedang duduk di sofa itu langsung menghentikan aktifitasnya yang sedang menghisap rokoknya dia tertegun sebentar kemudian mengangguk singkat. Anak ini tidak pernah meminta sesuatu darinya, dan ini pertama kalinya anak laki-laki didepannya ini berbicara hal membuatnya terkejut hal yang bahkan tidak pernah dibayangkan olehnya sendiri.
"Oke lalu apa yang aku dapatkan jika menuruti permintaan mu?." Tanyanya.
"Aku akan menuruti apapun perintahmu termasuk pergi ke Italia."
"Kau yakin?." Tanya pria itu, anak didepannya ini selalu menolak perintahnya untuk pergi ke Italia untuk tinggal bersama orang yang akan mengajarinya didunia hitam yang pekat dengan kegelapan.
"Yakin, jika kau tidak menyentuh wanita itu lagi." Jawabnya.
"Baik." Ucap pria itu kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan anak laki-laki yang masih berdiri diatas karpet bludru hitam menatap kepergiannya, para pria disudut ruangan langsung membungkukkan badannya saat pria itu melewatinya.
"Tuan muda Daminan, saya akan mengobati luka anda." Ucap seorang pria bertato naga dilehernya sambil membawa sekotak p3k.
"Tidak perlu." Jawabnya datar sambil mengunakan kembali bajunya dan pergi kekamarnya.
Bersambung.....
Like dan komen ya!
Jangan tinggalkan sholat ya!!!
Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 45 :
"Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan"
__ADS_1
Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti yang nyata, sabar adalah sinar, sedangkan Al-Qur'an adalah pembela atau penuntunmu .
~ HR. Muslim