
Daminan dan Ellard duduk di kursi panjang disalah satu stand makanan. Ellard menengok kesamping dimana Daminan duduk, dari tadi bocah itu tidak berbicara apapun padanya membuatnya sedikit merasa, aneh. Walaupun memang anak disampingnya ini tidak pernah mengatakan hal benar dengannya dengan kata lain kerdil ini selalu membuat moodnya memburuk dan membuat dirinya darah tinggi. Tapi kali ini Daminan hanya diam saja dengan wajahnya yang masih merah padam, mereka hanya berdua sedangkan Dara sedang pergi untuk membeli es krim dari dua puluh menit yang lalu.
"Kau kenapa?." Tanya Ellard melihat kearah Daminan yang juga sedang menatapnya.
Dami hanya berdecih sambil memalingkan wajahnya kearah lain. Membuat pria disampingnya mengangkat salah satu alisnya kemudian tergelak.
"Wah kau marah padaku ya?." Tanyanya kemudian tertawa keras membuat beberapa pasang mata memandangnya.
"Diamlah." Jawabnya ketus.
"Hei kerdil kenapa kau marah? bukankah tadi itu menyenangkan? kau seharusnya berterimakasih padaku, kau menjadi bintang di bak bola tadi, bukan?." Tanyanya kemudian dirinya tergelak mengingat ucapnya sendiri. Dirinya tau betul rasanya dikerumuni pada lebah penganggu, itu benar-benar sangat menyebalkan. Tapi sepertinya hal yang dirasakannya tidak sebanding dengan yang dilalui bocah ini. Jika Ellard selalu dikerumuni para wanita yang tidak berani mendekat kearahnya dan tidak berani mengusiknya, seorang gadis kecil kuncir kuda berani mencium pipi Daminan dan Ellard melihat itu semua.
Karena kejadian ciuman itu Ellard harus mengeluarkan Dami dari permainan mandi bola, sebenarnya itu bukan hal yang besar. Tapi Ellard melihat anak kerdil satu ini mengepalkan tangannya erat bahkan urat lehernya menonjol keluar dan itu bukan hal yang bagus, pikir Ellard langsung menghentikan aksi para gadis kecil itu, hitung-hitung menyelamatkan nyawa mereka dari amukan kerdil gila ini.
"Gara-gara kau aku harus berurusan dengan pada bocah sialan itu!." Jawabnya kesal sambil melipat tangannya didada.
"Kau juga bocah, sadar diri dulu sebelum mengatai orang lain."
***
"Kamu tidak mau Ell?." Tanya Dara sambil memberikan secup es krim pada Daminan.
"Tidak."
"Dami, kamu mau makan apa lagi?." Tanya Dara mengelus rambut Daminan.
"Apa kamu mau bermain lagi?."
"Tidak!." Jawabnya cepat sambil menggelengkan kepalanya.
Ellard mengangkat salah satu sudut bibirnya keatas, "Dara aku ketoilet sebentar, ingat jangan kemana-mana sebelum aku kembali!." Ucap Ellard dengan nada mengancam sambil menunjuk kearah Dara mengunakan jari telunjuknya.
"Iya." Jawab Dara kemudian menunduk menerima kecupan lembut di kepalanya, lalu melihat tubuh Ellard yang perlahan menjauh.
"Apa es krimnya tidak enak?." Tanya Dara menoleh kearah Daminan saat anak itu meletakkan cup esnya dimeja, dan sepertinya baru dimakan beberapa suap oleh anak itu.
"Aku tidak terlalu suka manis." Jawabnya mendapat hembusan nafas pelan dari Dara, kenapa tidak mengatakan dari tadi? pikirnya.
"Baiklah kalau begitu kamu harus mengisi perutmu dengan karbohidrat, makan ini ya." Ucap Dara sambil mendekatkan sepiring pasta didepan Daminan.
"Ayo dimakan." Tanya Dara tersenyum kemudian mengambil cup es krim milik Daminan dan memakannya.
Daminan menatap Dara dalam dengan pandangan yang sulit diartikan. Tangan anak itu mencengkram erat pahanya sendiri dibawah meja, mungkin menimbulkan bekas merah disana.
"Dami kenapa tidak makan? apa mau kakak suapi?."
"Dami?.." Tanya Dara saat dirinya tidak mendapatkan jawaban dari anak kecil didepannya ini. Dara meletakan sendok es krimnya kemudian mengambil pasta didepan Daminan bersiap menyuapi anak itu.
"Kamu kena-."
__ADS_1
"Mom..."
"Hah?" ucap Dara dengan wajah binggung dirinya masih mematung mencoba mencerna ucapan anak laki-laki didepannya ini.
"Apa aku boleh memanggil mu mommy?." Tanya Daminan dengan suara pelan tapi masih terdengar ditelinga Dara.
hening
Dara menggerjapkan matanya beberapa kali, apa dirinya tidak salah dengar? mommy? pikir Dara tidak percaya.
"A-apa?, ibu? m-maksudmu m-mommy?." Tanya Dara mengulangi ucapan Daminan.
Anggukan kecil dari Daminan membuat Dara menelan salivanya sendiri. Dipanggil dengan sebutan seorang mama diusianya yang masih 18 tahun? is this a joke?.
"Dami-,emm.....kenapa mau memanggilku mommy? jika mom aslimu tau dia bisa sakit hati nanti. Karena seorang ibu selalu ingin menjadi nomor satu untuk anak-anaknya."
"Aku tidak punya ibu."
Jawaban Daminan membuat sesuatu tiba-tiba mencubit hati Dara. Apalagi saat dirinya tidak melihat ekspresi apapun yang dikeluarkan oleh Daminan seolah perkataanya bukanlah perkataan yang menyakitkan jika diucapkan. Benar-benar seorang aktor cilik yang hebat, pikir Dara.
"Baiklah, panggil aku sesukamu." Ucap Dara sambil tersenyum, tapi matanya tidak bisa diajak kompromi. Buliran bening membasahi pipi wanita itu, sekarang Dara tau kenapa Daminan tidak seperti anak-anak lainnya. Ini kasus yang sama seperti Ellard, kurangnya kasih sayang seorang ibu yang mana itu sangat penting untuk anak-anaknya. Tapi entah kenapa Dara berpikir, walaupun kasus yang sama tapi Daminan cenderung lebih tertutup, anak itu seperti sedang menanggung sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan anak seusianya.
"Do not cry." Daminan berdiri dari tempat duduknya, mendekati Dara dan mengusap pipi wanita itu.
"You're prettier when you smile."
(kau lebih cantik saat tersenyum) Ucap Daminan menurukan tanganya dari pipi Dara.
"Dami, mulai sekarang jangan ada apapun yang kau sembunyikan ya. Bukankah aku sudah menjadi mommy mu mulai sekarang? jadi aku berhak mengetahui masalah apa yang sedang dihadapi putraku ini." Ucapnya sambil mengelus kepala Dara.
"Terimakasih." Ucapnya pelan, bagaimana mungkin untuk menceritakan semuanya?, jika kita tidak akan bertemu lagi pikir Daminan.
Mommy? kata itu aku anggap sebagai hadiah perpisahan mu untukku. Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk bisa merasakan menjadi seorang anak. Batin Daminan sambil memejamkan matanya.
"Sekarang kamu harus makan, mau kak-, mau mommy suapi?." Ucapnya, rasanya sesuatu menggelitiki hati Dara saat mengatakan itu.
****
"Dara!." Suara seseorang mengalihkan perhatian Dara yang sedang menyiapkannya sesendok pasta kepada Daminan. Mereka berdua mengalihkan pandangannya keasal suara.
"Devan?."
"Kamu disini?." Tanyanya tersenyum sambil mendudukkan dirinya disamping Dara.
"Ya." Jawab wanita itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian melihat kearah Daminan yang sedang melihat Devan dengan tatapan tajamnya.
Daminan jika seperti itu benar-benar terlihat menyeramkan. Batin Dara.
Daminan yang merasa diperhatikan langsung menundukan tatapan matanya kemudian meneguk segelas air putih dimeja.
__ADS_1
"Dara kau sudah lama sekali tidak kesekolah para guru bilang kamu mengikuti ujian personal dirumah Apa ada masalah?." Tanya Devan tidak mendapat jawaban dari Dara, wanita itu masih menatap intens kearah Daminan.
"Dara." Panggil Devan sekali lagi membuat Dara terperanjat kaget.
"Y-ya, a-apa tadi?."
Devan melihat kearah bocah kecil yang duduk tepat dihadapan Dara dirinya mengangkat salah satu alisnya saat melihat anak laki-laki itu. Bukankah Dara sebatang kara? dirinya pernah melihat biodata wanita itu saat mengantarkan formulir pendaftaran olimpiade waktu itu, tapi siapa anak ini? dilihat dari baju dan sepatunya saja Devan langsung mengetahui jika anak ini bukan dari kalangan bawah.
"Dia siapa?." Tanya Devan melupakan pertanyaan yang tadi, dirinya lebih penasaran dengan anak laki-laki yang dari tadi tidak memandangnya.
"Di-dia." Ucap Dara terbata, dirinya binggung bagaimana cara memperkenalkan Daminan pada pria ini.
"Mom aku sudah selesai, ayo pulang." Ucap Daminan sambil menyeka mulutnya dengan tisu kemudian berdiri dari duduknya. Ucapnya itu membuat Dara dan Devan sama-sama membelalakkan matanya terkejut.
"M-mom?....dia?." Tanya Devan tidak bisa melanjutkan ucapannya, dirinya menatap Dara meminta penjelasan dari wanita disampingnya yang sedang menyeka keringatnya.
"D-dia-."
"Tuan muda Atletico." Suara berat itu membuat bulu disekujur tubuh Dara meremang. Dirinya menoleh perlahan kebelakang, disana Ellard sedang berdiri dengan tatapan matanya yang tajam menatap kearah mereka. Pandangan Dara turun kearah tangan pria itu yang mengepal erat membuat Dara menelan salivanya sendiri.
"Ellard? kau juga disini?." Sapa Devan sambil berdiri dari duduknya melihat kearah Ellard yang berjalan kearah mereka berdua.
"Istriku disini tentu aku juga disini." Ucap Ellard datar.
"Istri? kau?-." Ucapannya berhenti saat melihat Ellard merengkuh pinggang Dara erat membuatnya membuka matanya lebar.
"Apa-apaan itu?!." Ucapnya tidak terima sambil mengebrak meja. Selama ini dirinya mengenal Dara, wanita itu tidak pernah mau bersentuhan maupun disentuh oleh pria lain, tapi ini? bahkan Dara tidak melepaskan paksa pelukan Ellard dan tidak menamparnya seperti yang wanita itu lakukan kepada para pria yang berani kurang ajar padanya.
Ellard yang mendengar ucapan Devan langsung melu*at bibir Dara didepan pria yang sedang mengepalkan tangannya erat dengan gigi gemeletuk menahan amarahnya.
Dara pemukul dada Ellard, pria ini sangat kasar menciumnya dan tidak memberikannya kesempatan untuk bernafas.
Ellard melepaskan ciumannya kemudian mengusap bibirnya kasar dengan punggung tanganya.
"Apa sudah jelas? tuan muda Atletico, Dara sudah menjadi istriku sekarang." Tekan Ellard kemudian dirinya tersenyum miring membuat Devan tambah mempererat kepalan tangannya.
"Cih, kau pikir aku percaya?." Tanya Devan mencoba mengelak.
"Terserah kau, aku bahkan sudah mempunyai seorang putra." Ucap Ellard kemudian berjalan kearah Daminan dan mengangkat tubuh anak itu, menggendongnya dengan satu tangannya.
"Hei bodoh apa yang kau lakukan?!." Bisik Daminan tidak terima dirinya diperlakukan seperti seorang bocah. Tapi anak itu tetap melingkarkan tangannya dileher Ellard, hanya untuk berjaga-jaga saja jika sewaktu-waktu pria ini melepaskan gendonganya.
Ellard tidak menanggapi ucapan Daminan, dirinya masih menatap Devan dengan tatapan tajamnya.
"Kau bercanda? Dara baru delapan belas tahun, dia baru lulus kemarin mana mungkin kalian sudah memiliki anak sebesar itu." Ucap Devan tergelak mengejak, sepertinya pria itu terlalu banyak bicara bertolak belakang dengan sifatnya selama ini yang selalu tertutup dan pendiam.
"Anak tidak harus dari rahim sendiri bukan? kami memiliki anak dan ini adalah anak kita. Aku dan Dara adalah orangtuanya, kita berdua sudah resmi menikah." Tekan Ellard kemudian menarik tangan Dara mengajaknya keluar dari tempat makan itu. Meninggalkan Devan yang sedang mengeram melihat kepergian ketiga orang yang sudah seperti keluarga bahagia.
Bersambung.....
__ADS_1
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” - QS. An-Nur: 26