
Dara berjalan disamping Ellard sampai didepan pintu mansion, wanita itu menyodorkan tangannya langsung disambut dengan uluran tangan Ellard.
"Hati-hati sayang dan cepat pulang" ujar Dara sambil mencium punggung tangan pria itu.
"Pasti" jawab Ellard kemudian mencium pucuk kepala Dara.
"Jika terjadi sesuatu segera kabari aku. Mengerti?!"
Dara mengangguk kemudian matanya membola saat tiba-tiba Ellard ******* bibirnya.
"Wanita pintar" ucap Ellard sambil menepuk-nepuk kepalanya membuat semburat kemerahan muncul dipipi istrinya.
"Aku pergi dulu. Tidak akan lama hanya menyelesaikan separuh tugas Darren dan langsung pulang"
"Awwshhh" pekik Ellard terkejut saat Dara mencubit pinggangnya.
"Daddy sayang. Kamu juga akan menjadi ayah, aku tidak mau jika anak kita kurang ajar sepertimu" ucap Dara kemudian masuk kedalam mansion meninggalkan Ellard yang sedang terpaku dengan tingkahnya barusan.
"Wah istri siapa dia? beraninya bilang aku kurang ajar" ucap Ellard menggeleng pelan sambil terkekeh kemudian masuk kedalam mobil.
***
"Dimana Mad?" Tanya Ellard saat mobil berjalan keluar dari mansion Walton.
"Tuan Mad bilang sedang ada urusan tuan. Tuan Mad akan menyusul ke perusahaan setelah urusannya selesai" jawab supir itu tegas.
"Apa yang ingin dia selesaikan sekarang" ucap Ellard sambil menyenderkan punggungnya dan menutup mata.
Ellard tau, urusan yang dimiliki Mad pasti sangat penting karena pria itu langsung turun tangan mengerjakannya sendiri. Dan Ellard penasaran urusan apa itu yang sampai membuat Mad menyelesaikannya sendiri.
''Tuan apa anda baik-baik saja? anda tidak terlihat sehat hari ini'' tanya sopir itu sambil melirik kerah sepion.
'' Aku hanya sedikit pusing'' jawabnya sambil memijat pelipisnya.
''Apa perlu saya bilang tuan Mad, tuan?'' ucap supir itu tiba-tiba cemas, ia mengurangi kecepatan mobil bersiap untuk memberhentikan kendaraannya.
''Tidak usah, aku hanya akan kekantor sebentar dan langsung pulang"
''Baiklah tuan''
***
Sedangkan dimansion, Dara naik tangga menuju kamarnya. Ia tersenyum sangat menginggat tingkah laku Ellard tadi. Sepertinya mood ibu hamilnya sedang baik hari ini. Saat menuju anak tangga terakhir dari atas tiba-tiba seseorang menarik tangannya lalu kemudian sebuah tangan mendarat dipipinya dengan keras membuat sensasi perih dan panas menjalar secara bersamaan.
Plakk
Dara memegangi pipinya sendiri kemudian menoleh kebelakang, dibawahnya Violla berdiri dengan wajah penuh amarah menatap nyalang kearah Dara.
''Apa maksudmu Violla?''
__ADS_1
''Dasar ******!!''
Violla kembali mengangkat tangannya berniat menampar pipi Dara, Dara yang menyadari itu langsung mencengkram erat pergelangan tangan Vio membuat wanita itu menggeram marah.
''Apa maksudmu Vio?!'' Dara sedikit menaikan nada suaranya, Violla sempat merasa terkejut kemudian menetralkan kembali raut wajahnya.
"Apa kau senang merebut sesuatu dari orang lain hah?! kau merebut Ell dariku dan sekarang? apa kau ingin menjadi nyonya rumah ini juga?. Dara, sepertinya kau terlalu rakus untuk ukuran orang rendahan sepertimu"
"Kau seharusnya sadar dengan posisimu Dara. Walton adalah keluarga terpandang, apa kau ingin memberi kotoran pada keluarga ini dengan anakmu itu?"
Plak
Kali ini bukan Violla yang menampar Dara tapi justru sebaliknya. Kepala Violla tertoleh kekanan, ia melihat Dara dengan raut wajah tidak percaya.
"Kau menamparku ******?!"
Plak
Dara memberi tamparan lagi dipipi kanan Vio, "Aku mungkin akan terima jika kamu merendahkan diriku Vio. Tapi tidak untuk anakku, aku tidak akan pernah membiarkan seseorang merendahkannya bahkan saat dia belum lahir kedunia ini sekalipun"
Vio tersenyum sinis sambil memegangi pipinya, "Oh ya? lalu bagaimana jika anak itu tidak akan lahir?"
"Apa maksudmu?!"
"Aku akan membunuh kalian berdua!"
"Kau- akhhh"
Posisi dan situasi yang sangat tidak aman, mereka ada ditangga atas yang mana jika salah satu dari mereka terjatuh akan sangat berakibat fatal.
Pasrah, hanya itu yang bisa dilakukan Dara. Wanita itu menutup matanya bersiap menerima rasa sakit yang akan didapatkan. Ia hanya berharap janin yang ada dikandungnya akan tetap bertahan walau ia ragu apakah nyawanya selamat.
Brukk
Aroma maskulin dengan tatanan dada bidang sempurna untuk seorang pria. Dada seluas samudera menangkap tubuh Dara membawa wanita itu kedalam rengkuhannya.
Dara membuka matanya kemudian mendongak menatap pria yang menolong dirinya.
"M-madrick" Bibir Violla bergetar saat menyebutkan namanya. Entah sadar atau tidak badanya perlahan ikut panas dingin saat melihat sorot mata tajam itu seperti menembus ulu hatinya.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Ellard berada dilantai bawah melihat Dara berada diperlukan Mad seketika matanya berkilat marah.
Mad dengan wajah datarnya mengangkat tubuh Dara menggendongnya turun kebawah. Dara terkejut, ia bahkan membelalakkan matanya saat pria itu tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Ingin menolak dan memberontak tapi tubuhnya tidak memiliki kekuatan, ia masih lemas karena hampir kehilangan janin atau bahkan nyawanya.
"MAD!" teriak Ellard dari bawah sambil mengepalkan tangannya. Dara yang mendengar itu langsung menutup mata, teriakan Ell benar-benar mengema diruang tamu.
Sampai dianak tangga terakhir Mad menurunkan tubuh Dara hati-hati. Pria itu melihat kearah Ellard yang saat ini sedang menatap marah dirinya. Mad menundukkan kepalanya pertanda minta maaf kemudian berjalan cepat naik keatas.
__ADS_1
Langkah lebar Mad membawanya kearah dimana Violla sedang berdiri kaku melihat pria itu. Sampai didepan Vio, Mad mencengkram pergelangan tangan wanita itu erat membuatnya meringis kesakitan.
"M-mad" gumam Vio putus asa saat merasa tangan kirinya mati rasa bahkan sudah membiru.
Mad menarik kasar tangan Violla membuat wanita itu berjalan terseok-seok turun tangga. Berbanding terbalik saat pria itu memperlakukan Dara tadi. Ia bahkan tidak melihat apakah Violla berjalan dengan benar atau tidak.
Mad mendorong tangan Violla saat dia sampai dilantai bawah. Karena dorongan kencang pria itu, Violla sampai jatuh tersungkur ke lantai.
Dara menutup matanya melihat kejadian itu, ia tidak menyangka bahwa pria berwajah datar tanpa ekspresi itu mampu melakukan kekerasan kepada seorang wanita.
Violla menangis sambil melihat kearah Ellard berharap pria itu menolongnya. Tapi yang diharapkan hanya melihatnya tanpa berniat meninggalkan posisinya.
"Tuan muda, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada anda" ucap Mad membuka suaranya.
"Aku akan membunuhmu karena sudah menyentuh istriku sembarangan" bukannya menjawab, pria itu malah mengancam Mad. Sepertinya hal tadi masih mengganjal dipikiran Ellard.
"Saya minta maaf tuan muda, anda bisa menghukum saya sepuas hati anda setelah tuan muda menyingkirkan ular berbisa dimansion ini" ucap Mad sambil melihat tajam kearah Violla.
"Apa maksudmu?"
Mad melihat kearah samping pilar, disana berdiri dua orang berbaju hitam. Salah satu dari mereka maju kearah Mad sambil membawa laptop ditangannya.
Mad mengambil laptop kemudian membukanya, mengarahkannya kepada Ellard. Sebuah vidio berdurasi sekitar kurang lebih lima menit itu mampu membuat darah ditubuh Ellard mendidih.
Ellard beralih menatap nyalang kearah Violla yang saat ini sedang menggelengkan kepalanya sambil menatapnya memohon ampun. Ellard kemudian berjalan kearah Dara yang masih berdiri diposisinya.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Ellard saat sampai didepan Dara. Pria itu mengelus lembut pipi Dara yang memerah.
"Tidak, aku tidak apa-apa sayang. Sekarang kita kekamar saja ya" ucap Dara menutupi rasa cemasnya, ia juga melihat vidio itu dan sekarang Dara yakin Ellard akan hilang kendali terhadap Violla. Ia hanya tidak mau Ellard salah mengambil tindakan, saat ini dirinya sedang mengandung dan tidak ingin suaminya terlibat hal buruk apapun.
Ellard mengelus kepala Dara kemudian menoleh ke kiri, "Kalian, antar Dara masuk kamar" ucap Ellard yang langsung Dara tolak dengan menggelengkan kepalanya. Beberapa maid perempuan yang melihat kejadian itu dibalik jendela kaca terkejut kemudian dengan cepat menghampiri nyonya muda mereka.
"Ell-"
"Menurutlah Dara. Aku akan menyusul kekamar" ucap Ellard kemudian berjongkok mencium perut istrinya.
"Jangan membuat mama mu susah baby" ucap Ellard pelan kemudian berdiri meminta kembali istrinya untuk naik kekamar.
Dara sekali lagi ingin menolak tapi melihat wajah Ellard yang sudah memerah bahkan urat dilehernya sedikit menonjol pertanda jika pria itu berusaha keras mengontrol emosinya.
Dara mengangguk, ia berjalan naik kearah tangga diikuti dua maid perempuan dibelakangnya.
"Jangan lewat tangga, pakai lift" ucap Ellard saat Dara berjalan melewati Violla yang masih terduduk dilantai.
Saat Dara akan berbalik tiba-tiba Violla mengambil benda tajam yang sudah ia selipkan disaku celana jeans ketatnya.
Rasa takut Violla hilang digantikan dengan rasa marah saat melihat bagaimana semua orang memperlakukan Dara yang seharusnya posisi itu menjadi miliknya.
......
__ADS_1
Jangan lupa like😃