
Dara melirik kearah Ellard yang masih menunjukkan wajah kesalnya, pria itu menatap lurus kedepan sambil menyetir. Sejak tadi Ellard tidak mengeluarkan sepatah katapun membuat Dara semakin yakin jika suaminya itu sedang dalam mode marah.
Apa yang harus aku lakukan?. Batinnya kemudian matanya beralih melirik kearah kaca depan melihat Daminan yang sedang duduk di kursi belakang sambil memejamkan matanya. Bocah itu sama sekali tidak terusik dengan suasana mencekam didalam mobil.
"Sayang." Panggil Dara pelan kemudian mengigit bibir bawahnya memikirkan kata apa yang bisa kembali meluluhkan hati pria disampingnya ini.
"Ell." Panggil Dara sekali lagi saat tidak mendapat jawaban dari Ellard.
"Dimana rumahmu?." Tanya Ellard melirik kearah kaca depan.
Daminan membuka kedua matanya saat merasa pertanyaan itu diarahkan untuknya.
"Jalan XX, turunkan saja aku disana." Jawab Daminan.
Ellard langsung memutar stir mobilnya, dengan pandangan lurus kedepan.
Setengah jam perjalanan dalam keheningan akhirnya mobil Ellard sampai dijalan yang dikatakan Daminan. Ellard memutar pandangannya melihat jalanan sekitar, begitu juga dengan Dara.
"Dami kenapa kamu minta turun disini?." Tanya Dara binggung, tubuhnya memutar kearah belakang melihat kearah Daminan yang akan membuka pintu mobil.
"Aku sudah meminta supir menjemput disini."
"Kenapa tidak kerumah saja? kita akan mengantarmu kesana." Ucap Dara kembali, melihat jalanan disini sepi membuatnya ragu untuk meninggalkan Daminan sendirian disini.
"Tidak perlu, sebentar lagi supir akan menjemputku dan terimakasih untuk hari ini mom." Ucap Daminan memelankan kata terakhirnya.
Dara tersenyum senang mendengarnya apalagi melihat wajah merah Daminan saat memanggilnya mommy, Daminan sendiri yang meminta memanggilnya ibu tapi wajahnya selalu menahan malu saat mengucapkannya dan itu benar-benar lucu untuk Dara.
"Tidak masalah, kita akan bersenang-senang dilain waktu lagi."
Daminan hanya tersenyum tipis menanggapinya kemudian dirinya mencoba membuka pintu mobil.
"Kau menguncinya?." Tanya anak itu pada Ellard yang masih duduk diam didepan. Dara juga melihat kearah Ellard yang masih menatap lurus kedepan.
"Minta supirmu untuk menjemput dimansion Walton." Ucap Ellard lalu menancapkan gasnya pergi dari jalanan sepi itu.
"Hei-." Ucap Daminan tidak terima.
"Tidak apa-apa Dami, Ell benar tidak baik meninggalkan mu ditempat tadi."
"Kau dengar itu, aku masih memiliki hati, jika kau hilang aku juga yang repot." Ellard tiba-tiba menimpali ucapan Dara membuat wanita itu tersenyum senang.
Akhirnya... Batin Dara menghembuskan nafasnya lega.
"Kau pikir aku sebodoh itu bisa hilang dijalan?." Tanya Daminan tidak terima kemudian melipat kedua tangannya didada dan menyenderkan punggungnya.
"Siapa yang tau? kau masih seukuran kecebong bisa hilang dimana saja."
"Kecebong kau bilang?! aku bukan lagi benih yang berhasil dibuahi!." Jawab Daminan cepat kemudian mendapat tatapan mata dari Dara yang menatapnya tidak percaya.
"M-maksudku-."
"Wah lihat! apa kerdil ini sudah mendapat pelajaran seperti itu disekolah?." Tanya Ellard tersenyum puas saat melihat Daminan yang sedang menelan salivanya sendiri.
"Mom, a-aku-."
"Tunggu! apa tadi? Mom?!." Tanya Ellard keras membuat kedua orang didalam mobil itu terperanjat kaget.
Ellard sampai lupa untuk membahas masalah itu, sebenarnya dirinya sudah mendengar panggilan mom itu saat di mall tadi tapi karena ia melihat Devan membuatnya lupa segalanya.
"Kerdil ini memanggilmu mom? mommy?!." Tanya Ellard lagi melihat kearah Dara meminta penjelasan dari wanita itu.
"Iya sayang." Jawab Dara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bagaimana bisa!!." Ucapnya tidak terima.
"I-tu Daminan-."
"Aku ingin memangilnya mom? apa ada yang salah?."
"Tentu saja! sejak kapan kau jadi anakku."
"Bukankah kau tadi bilang jika aku putramu?." Tanya Daminan tanpa rasa bersalah.
"Itu-"
"Aku memanggilnya mommy, bukan berarti aku menyetujui kau juga menjadi ayahku." Ucap Daminan membuat Ellard mengeram.
"Hei kerdil sialan! yang kau panggil ibu itu istriku!."
"Aku tau." Jawabnya santai.
Ellard menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskanya kasar, "Baiklah kau bisa memanggil Dara dengan sebutan apapun itu, anggap saja sebagai bentuk terimakasihku karena sudah membuat bedebah sialan itu patah hati." Ucap Ellard lalu tersenyum puas saat mengingat kembali wajah tidak terima Devan saat dirinya mengatakan jika dia dan Dara sudah menikah apalagi memiliki seorang putra.
Daminan hanya berdecih malas sambil memalingkan wajahnya kesamping, padahal didalam hatinya ia benar-benar sangat senang dan tidak menyangka jika pria gila satu ini bisa dengan mudah menyetujui panggilan yang dirinya berikan untuk istrinya. Daminan sudah membayangkan jika Ellard pasti tidak akan terma mengingat bagaimana posesif pria itu.
Ternyata kau lumayan baik hati. Batin Daminan tersenyum tipis.
"Tapi kau juga harus memanggilku dengan sebutan ayah." Ucap Ellard membuat Daminan kembali mengumpat pria itu lagi.
"Apa maksudnya?!."
"Ya panggil aku Daddy." Ucap Ellard kemudian tertawa sendiri saat merasa panggilan ayah terlalu tua untuknya yang masih dua puluh tahun ini.
__ADS_1
Aku seharusnya sudah tau jika pria ini selalu melakukan apapun untuk kebahagiaannya sendiri. Batin Daminan menatap malas kedepan.
"Ayo panggil Daddy jika kau ingin memanggil Dara mom. Aku tidak terima jika kau memanggil istriku ibu dan tidak memanggilku ayah. Bisa-bisa orang lain salah mengartikan jika ayahmu menikahi istriku." Ucap Ellard.
"Cepat! kenapa diam saja!." Lanjut Ellard tidak sabar.
Daddy? memikirkannya saja membuatku merinding. Batin Daminan.
"D-dad." Ucapnya pelan dengan wajah memerah, bukan terharu atau malu lebih tepatnya dirinya kesal dan ngeri sendiri dengan panggilan itu.
Sedangkan Ellard merasa hatinya seperti sedang terkena desiran aneh yang membuatnya geli saat mendengar ucapan pelan dari Daminan. Ternyata rasanya mengelikan sekali saat mendengar ucapan ayah pertama kali untuknya, yang langsung dilakukan bocah berusia enam tahun apalagi bocah itu yang selalu membuatnya kesal setengah mati.
Sedangkan Dara hanya tertawa kecil saat mendengar perdebatan kedua pria berbeda usia itu. Ia jadi merasa mempunyai keluarga yang lengkap jika seperti ini. Mungkin hidupnya akan bahagia jika memiliki keluarga yang sempurna, dimana selalu ada pertengkaran kecil sebagai bumbunya.
***
Mobil mereka sudah sampai dihalaman depan mansion, seorang pengawal membuka pintu mobil untuk Ellard. Saat Ellard keluar pria itu memutari mobilnya dan membantu Dara membuka pintu mobilnya.
"Dami, masuk kedalam dulu." Ucap Dara saat Daminan menutup pintu mobilnya.
Mereka bertiga masuk kedalam mansion lalu mengistirahatkan tubuh mereka disofa. Dara duduk disamping Ellard sedangkan Daminan duduk sendiri.
"Kau lelah sayang?." Tanya Ellard sambil memijat pundak Dara.
"Tidak." Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah, kita batal kehotel jadi kita akan melakukannya dikamar saja." Ucap Ellard tersenyum kemudian menyenderkan punggungnya disofa.
Dara menghembuskan nafasnya pelan dengan wajah memerah dirinya mengalihkan pandangannya dari Daminan yang sedang melihatnya.
"Tuan, nona dan tuan kecil apa kalian butuh minuman?." Tanya Adam yang baru saja datang menghampiri mereka.
Ellard mengangguk menjawabnya tanpa membuka matanya.
"Iya paman, tolong tiga jus jeruk." Ucap Dara.
"Aku soda saja." Ucap Ellard.
"Aku juga." Sahut Daminan membuat semua pasang mata melihatnya termasuk Ellard yang langsung membuka matanya.
"Itu tidak bagus untuk gigimu." Ucap Ellard kemudian beralih menatap Adam yang sedang berdiri tepat dihadapannya.
"Satu soda dan dua jus jeruk." Ucapnya.
"Baik tuan." Jawab Adam sambil menundukkan kepalanya kemudian berjalan kearah dapur.
*****
"Tuan muda." Sapa seorang pria dari arah pintu depan berjalan kearah mereka kemudian menunjukkan setengah badannya.
"Ada apa?." Tanya Ellard sambil menegakkan tubuhnya.
"Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan dan juga tuan Darren meminta anda menandatangani kontrak dengan perusahaan manufaktur asal Swedia."
"Kenapa harus aku?." Tanyanya sambil mendesah malas.
"Karena anda Presdir selanjutnya yang akan mengurus proyek-proyek baru ditahun ini dan tahun seterusnya. Tuan Darren akan memindahkan kekuasaannya secepat mungkin." Jelasnya dengan ekspresi datar, tatapannya beralih kearah anak kecil yang sedang duduk sambil menatapnya sedari tadi.
Daminan langsung mengalihkan pandangannya saat mata elang itu melihat kearahnya.
"Aku akan menandatanganinya nanti." Ucap Ellard lalu kembali menyenderkan punggungnya.
"Tuan Darren meminta malam ini perjanjian harus sudah ditandatangani."
"Ck. Kalau begitu kenapa tidak kau saja!." Ucapnya kesal kemudian menyambar map berlogo Walton bedrijf dari tangan Madrick dengan kasar.
"Saya-."
"Aku tau!." Ucap Ellard sambil mengangkat salah satu tangannya, dirinya sudah tau apa yang akan dikatakan pria datar ini.
"Tuan muda, anda sudah diajarkan untuk membaca perjanjian sebelum menandatangani kontrak bukan?." Tanya Mad saat melihat Ellard akan menggoreskan tinta hitam itu diatas materai.
"Jika aku harus melakukan itu lalu apa tugasmu?." Tanya Ellard kemudian mencoretkan tanda tangannya diatas materai tanpa mempedulikan tatapan Mad yang seakan ingin menelannya. Mereka pikir Ellard akan takut dengan seorang Madrick? that's a big mistake ( itu salah besar).
Saat Ellard sibuk menandatangani berkas-berkas itu, mata Mad tidak lepas dari bocah kecil yang duduk tepat berada disamping dirinya berdiri. Tatapan Mad melihat setiap inchi tubuh Daminan dan saat matanya melihat kearah leher anak itu mata Mad langsung berubah menajam.
Karena merasa diperhatikan Daminan langsung menarik resleting jaketnya sampai menutupi lehernya.
Madrick tersenyum menatap kearah Daminan, "Siapa anak manis ini?." Tanyanya dengan nada halus.
Dara langsung menelan salivanya sendiri saat mendengar suara Mad yang berbeda dari sebelumnya.
Bukankah dulu dia sangat mengerikan? tapi apa ini?. Batinnya sambil mengelus-elus tangannya.
Sedangkan Ellard langsung menghentikan tangannya dan mendongak melihat kearah Mad.
"Saya sepertinya baru melihat ada anak kecil disini." Ucap Mad menatap wajah Daminan yang masih memalingkan wajahnya kearah lain.
"Namanya Daminan." Sahut Ellard kemudian kembali menadatangani berkas ditangannya.
"Itu nama yang bagus." Ucap Mad sambil tersenyum tipis.
Daminan berdeham pelan kemudian berdiri dari duduknya, "Sopirku sudah datang, mom aku pergi dulu." Ucap Daminan tersenyum kearah Dara membuat wanita itu membalas senyuman anak itu lebar.
__ADS_1
"Baiklah, ayo mom akan mengantarmu keluar." Ucap Dara sambil berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu repot-repot nona, biar saya saja yang mengantar Daminan keluar." Sahut Mad.
"Tidak masalah tuan, aku saja yang mengantarnya." Ucap Dara.
"T-tidak perlu, aku bisa keluar sendiri." Ucap Daminan cepat kemudian berjalan kearah pintu keluar.
"Aku akan menyusulnya." Ucap Dara kepada Ellard yang sedang menatapnya.
Dara berdiri dari duduknya kemudian bersiap melangkah kearah pintu keluar.
"Biarkan saya saja yang mengurusnya nona, anda duduk diam disini saja dengan tuan muda." Ucap Mad membuat langkah Dara berhenti. Mad memang tersenyum saat mengucapkannya tapi berbeda dengan raut wajahnya yang menunjukkan bahwa ucapan pria itu adalah sebuah perintah yang wajib dipatuhi.
Dara langsung mendudukkan dirinya disofa kembali saat mata tajam Mad melihat kearahnya.
"B-baiklah, tolong pastikan Dami pulang dengan selamat dan jangan lupa memintanya untuk datang lagu kemari." Ucap Dara.
Mad tidak menjawab atau menyetujui permintaan Dara pria itu langsung berjalan cepat kearah pintu keluar.
Ellard meletakan berkas-berkasnya diatas meja kemudian menarik kepala Dara untuk bersender di dadanya.
"Apa kau takut dengannya?." Tanya Ellard kemudian tergelak pelan.
"Ell, apa dia memang menyeramkan seperti itu?." Tanya Dara mendongakkan kepalanya.
"Dia dari dulu selalu seperti itu, sifatnya tidak pernah berubah."
"Dia mengerikan." Ucap Dara sambil melingkarkan tangannya diperut Ellard.
Ellard tertawa menanggapinya pria itu memberikan banyak kecupan dikepala Dara, "Dia tidak akan berani menganggu mu jadi jangan takut."
"Apa maksudnya dia akan mengurus Daminan?. Bukankah dia hanya akan mengantarnya saja? " Tanya Dara binggung saat mengingat ucapan Mad.
"Sayang, dia tidak akan macam-macam dengan Daminan kan?." Tanya Dara cemas.
Sedangkan Ellard hanya diam saat mendengar ucapan Dara, dilihat dari sikap Mad yang berbeda tadi dirinya yakin asistennya itu sedang menemukan hal yang tidak beres.
"Sayang." Panggil Dara saat pertanyaannya tidak dijawab.
"Apa?."
"Dia tidak akan macam-macam dengan Dami kan?." Ulang Dara.
"Tidak sayang, tenanglah." Jawab Ellard kemudian kembali mengelus kepala Dara dan memberinya kecupan.
"Tapi sayang-."
"Kita solat dulu, sudah masuk waktu beribadah." Ucap Ellard memotong ucapan Dara.
*****
"La Lubis." Ucap Mad membuat langkah Daminan terhenti saat akan berjalan kearah mobilnya.
Badan Daminan langsung menegang saat mendengar panggilan itu dari arah belakang tubuhnya. Anak kecil itu memutar tubuhnya kebelakang melihat pria dewasa yang sedang berdiri dihadapannya dengan raut wajah datar dan menatapnya tajam.
"Itu artinya benar, kau dari keluarga La? pendiri sekaligus pembesar Deadly Dragon." Jelas Mad kemudian tersenyum miring.
"Apa maksudmu?." Tanya Daminan menetralkan kembali ekspresi wajahnya yang semula terkejut, tapi itu semua sudah terlambat Madrick lebih dulu melihatnya.
"Apa tujuanmu masuk kedalam keluarga Walton?." Ucap Mad dengan nada pelan penuh penekanan.
"Aku tidak memiliki maksud apapun."
"Deadly Dragon, semua orang pasti akan terkejut saat mendengarnya termasuk tuan dan nona muda. Apa mereka berdua sudah mengetahui asal usulmu?."
Kali ini Daminan tidak menutupi ekspresi cemasnya, jangan sampai mommy barunya tau siapa dia sebenarnya pikir Daminan.
"Aku tidak memiliki maksud apapun disini, dan aku minta padamu untuk tidak memberitahukan asalku pada mereka. Setelah ini aku berjanji tidak akan pernah menemui mereka lagi, karena aku akan segera dipindahkan kenegara asalku." Jelas Daminan dengan raut wajah memohon.
"Aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi." Lanjutnya.
"Seharusnya begitu, kau akan membahayakan keselamatan mereka jika tetap disini. Pergi sejauh mungkin dan jangan menampakkan dirimu lagi."
"Aku mengerti." Jawab Daminan sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan pernah meninggalkan apapun untuk keluarga ini, kenangan atau bahkan masalah. Simpan semua itu untukmu sendiri."
Daminan mengangguk menjawabnya lagi pula ia juga tidak akan berharap lebih. Bisa merasakan menjadi anak dalam sehari saja dirinya sudah bersyukur.
Aku menyayangimu mom, aku berjanji tidak akan menemuimu lagi tapi jika kita tidak sengaja bertemu aku tidak akan pernah melepaskan kesempatan itu. Batin Daminan kemudian berjalan kearah mobilnya.
"Daminan Smith LA Lubis, aku tidak menyangka jika rumor tentang Deadly Dragon memiliki calon ketua baru itu benar." Gumam Mad kemudian dirinya menyunggingkan senyum tipisnya.
"Anak itu masih terlalu kecil untuk menjadi bagian dari Mafioso."
Bersambung.....
Jadi udah jelaskan siapa Daminan?
Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu. ~ Ali bin Abi Thalib
Pikirkan dulu sebelum berbicara jangan sampai perkataan mu membuat seseorang terluka.
__ADS_1