
Ellard membuka matanya perlahan saat merasa ada jari tangan menyentuh wajahnya. Saat pandangannya mulai jelas pria itu melihat Dara sedang menatapnya sambil mengobati lukanya.
"Pagi sayang." Sapa Ellard dengan suara khas bangun tidur.
"Kenapa?." Tanya Dara tanpa menjawab pertanyaan pria itu, wajahnya terlihat cemas tangannya gemetar saat mengobati luka Ellard.
"Hanya luka kecil Dara." Ucap Ellard lalu menarik tubuh Dara membawanya kedalam pelukannya. Disatu sisi dirinya sangat senang diperhatikan oleh wanita ini, tapi disisi lain ia juga kasihan melihat wajah Dara yang ketakutan karena lukanya.
"Ell biarkan aku mengobatinya dulu." Ucap Dara mencoba lepas dari pelukan pria itu.
"Sutt, diamlah." Ucap Ellard lalu memejamkan matanya, memikirkan jika Darren benar-benar menyukai Dara membuatnya was-was, takut, marah dan cemburu secara bersamaan. Ini seorang Darren Levon! bukan pria biasa, dia pria yang acuh terhadap para wanita. Bahkan pria itu bisa melajang 20 tahun lamanya, tapi kenapa harus istrinya?. Dari sekian banyaknya wanita kenapa Darren perduli pada istrinya?. Suka? ah memikirkan itu rasanya tidak mungkin, Ellard sendiri tau sebesar apa cinta Darren terhadap ibunya. Tapi tetap saja dirinya merasa ada yang salah dengan pria tua itu.
"Ada apa Ell? ada masalah?." Tanya Dara saat merasa pelukan Ellard semakin erat membuatnya sulit bernapas.
"Tidak."Jawab Ellard mengendurkan pelukannya, dirinya tidak sadar jika mengencangkan pelukannya pada tubuh Dara, setakut itu dirinya kehilangan wanita didekapnya ini.
"Mau sekolah?." Tanya Dara mendongak menatap wajah Ellard.
"Jika aku tidak, kau tetap berangkat bukan?." Jawab Ellard menundukkan kepalanya melihat wajah Dara.
Dara tidak menjawabnya, jika tidak berangkat pasti akan tertinggal, dirinya sudah tertinggal banyak karena mengikuti olimpiade waktu itu belum lagi untuk persiapan sebelum olimpiade.
"Mana mungkin aku meninggalkan mu berkeliaran sendiri." Ucap Ellard membuat bibir Dara mengerucut, berkeliaran? pria itu pikir dirinya hewan?.
Ellard langsung mengecup bibir Dara membuat sang empunya terkejut.
"Lihat, sekarang kau sudah bisa merajuk ya." Ucap Ellard tertawa lalu menghujani wajah Dara dengan ciuman.
"Ell." Ucap Dara mencoba menghentikan perbuatan pria itu.
"Aku mencintaimu." Ucapnya sesudah dirinya mengentikan ciumannya.
Dara hanya tersenyum menanggapinya, ungkapan hangat pria itu selalu membuat jantungnya berdebar.
"Sekarang mandi lalu beribadah kita harus berangkat sekolah hari ini." Ucap Dara sambil bangun dari tidurnya dan menguncir rambutnya.
"Baiklah." Jawab Ellard ikut bangun dari tidurnya kemudian mengigit pelan leher jenjang Dara, sebelum dirinya melangkah kekamar mandi.
****
Mereka berdua turun dari tangga bersama seperti biasa dengan bergandengan tangan. Mereka melangkah menuju ruang makan, sesampainya mereka berdua disana ternyata sudah ada Darren yang duduk sambil memakan sarapannya.
Ellard merengkuh pinggang Dara saat tatapannya bertemu dengan tatapan Darren. Salah satu bibir pria tua itu terangkat saat melihat tingkah putranya.
"Duduklah, kalian mau berdiri disana berapa lama?." Ucap Darren tanpa menghentikan sarapannya.
Ellard menarik kursi untuk Dara duduk lalu setelah itu dirinya duduk saat maid lain menarik kursi untuknya.
"Makan makananmu kenapa melihatku seperti itu." Ucap Darren saat melihat mata putranya menatapnya tajam.
"Terserah aku, kau percaya diri sekali jika aku melihatmu." Elak Ellard lalu memotong daging di piringnya kemudian memberikannya pada Dara.
"Lalu apa kau melihat Adam?." Jawabnya.
Adam yang berdiri dibelakang Darren hanya menghembuskan nafasnya pelan. Kenapa namanya ikut terbawa, pikirnya.
Ellard tidak menjawabnya, pria itu sibuk membersihkan saus dibibir Dara mengunakan jarinya kemudian memakannya.
"Aku jadi ingin mencium bibirmu." Ucap Ellard menyentuh bibir Dara mengunakan ibu jarinya.
Dara yang mendengarnya langsung memelototkan matanya, wajahnya sudah merah padam karena malu. Dara mengambil segelas air putih lalu meminumnya mencoba mengalihkan diri dari ucapan Ellard, bisa gawat jika pria ini menciumnya didepan tuan Darren. Dara tidak akan pernah berani menampakkan wajahnya didepan mertuanya itu jika pria ini benar-benar menciumnya disini.
"Brandal gila!, tidak punya malu! mengatakan itu didepan orangtua." Umpat Darren.
Darren bisa melihat jika putra brandal itu memberinya senyuman mengejek membuatnya tergelak kesal.
"Selamat pagi Ellard." Sapa Vio membuat semua orang dimeja makan itu melihatnya.
Vio sudah bersiap untuk mencium pipi Ellard tapi pria itu memalingkan wajahnya membuat pergerakannya terhenti.
"Ada apa Ell?." Tanyanya.
"Kau tidak punya malu?." Ucap Darren datar, membuat Violla mengalihkan pandangannya melihat Darren. Wanita itu terkejut saat melihat Darren duduk disana, gara-gara dirinya terbakar melihat Ellard bermesraan dengan Dara membuatnya tidak sadar jika Darren disana.
"P-paman Darren." Ucapnya terkejut.
"Benar-benar jala*g! kau tidak lihat jika ada istrinya disini?." Ucapnya mengeram.
"A-aku hanya me-menyapa Ellard." Jawabnya.
"Dengan cara menciumnya?! kau sangat terlihat murahan, ah ya aku lupa kau memang murahan." Ucapnya lalu membersihkan mulutnya dengan kain dimeja.
"Sudahlah, Vio aku ingin kau mengerti batasanmu, mulai sekarang jangan menciumiku lagi." Ucap Ellard menyela, selain risih dirinya juga memikirkan perkataan Darren kemarin. Orangtua itu akan membunuhnya jika dirinya bermain belakang dengan wanita lain. Bukannya dirinya berpikir ingin bermain dibelakang dengan wanita lain tapi pria tua satu ini selalu salah paham dengannya.
"Baiklah maafkan aku." Ucap Vio pelan dengan kepala tertunduk bahkan suaranya nyaris berbisik. Wanita itu sekuat tenaga menahan tangisnya sambil mengepalkan tangannya.
"Tidak apa-apa, sekarang makan sarapanmu jangan sampai telat makan. Kau harus minum obat bukan?." Ucap Ellard lalu menjentikkan jarinya menyuruh maid menyiapkan sarapan wanita itu.
Vio mengangguk lalu duduk disebelah Dara, sedangkan Dara hanya diam saja ada sedikit rasa gores dihatinya saat Ellard memperhatikan wanita itu. Tapi dirinya mencoba menguatkan hatinya saat mengingat Ellard menolak ciuman Violla.
"Bagaimana pengobatan mu Vio?." Tanya Darren lalu mengesap kopi hitamnya.
Violla langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar Darren bertanya padanya.
"B-baik paman." Jawabnya, entah sekarang dirinya harus senang atau cemas karena paman Darren bertanya tentang kondisinya.
Darren mengangguk, "Bukankah kau harus menjalani pengobatan? kanapa malah berkeliaran sampai disini?." Tanya Darren dengan raut wajah tenang tanpa ekspresi.
Vio meremas jari-jari tangannya dibawah meja, dirinya binggung ingin menjawab apa. Violla mengambil segelas air putih lalu meneguknya mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Penyakitmu itu masih bisa sembuh, aku akan membawakan dokter terbaik dunia untuk menangani mu." Ucap Darren, memegang cangkir kopi didepan mulutnya.
Uhuk....Uhuk....Uhuk...
Violla langsung tersedak saat mendengarnya bahkan gelas ditangannya sampai bergetar.
__ADS_1
Senyuman tipis tersunging dibibir Darren dibalik cangkir kopinya.
"Kau baik-baik saja Vio?." Tanya Ellard berdiri dari duduknya lalu menepuk punggung Violla dan mengambil gelas dari tangan wanita itu.
"Darren bukankah tidak seharusnya kau membahas itu disini?." Ucap Ellard menatap Darren lalu kembali melihat wajah Violla yang memerah.
Darren mengerutkan keningnya, " Apa salahku? bukankah aku benar, aku hanya ingin membantu mencarikan dokter untuknya dari pada dia mati tanpa diobati? kenapa sepertinya temanmu itu tidak ingin sembuh, buktinya dia ada disini bukanya berobat malah bersenang-senang." Jawab Darren tenang.
"Jaga bicaramu." Ucap Ellard.
"Kenapa? itu faktanya." Jawab Darren.
"Ell sepertinya aku ingin beristirahat dikamar saja." Ucapnya mendongak menatap wajah Ellard.
"Baiklah ayo aku antar." Jawab Ellard lalu memegang lengan Vio mengajaknya berdiri.
Darren mengeraskan rahangnya saat melihat tindakan bodoh putranya, apa brandal itu tidak melihat istrinya? pikir Darren. Dirinya bisa melihat jika Dara mengigit bibir bawahnya menahan air matanya.
"Ayo Dara aku antar kau kesekolah." Ucap Darren berdiri dari duduknya.
Ellard yang mendengar itu spontan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam ayahnya.
"Kau kekamar dengan pelayan saja." Ucap pria itu melepaskan tangannya dari tubuh wanita itu.
"Tapi Ell aku ingin ka-." Ucapannya terpotong saat melihat Ellard berjalan menjauh darinya.
"Antar dia kekamar." Ucap Ellard kepada pelayan lalu berjalan mendekati Dara.
"Tidak perlu repot-repot." Ucap Ellard mengeram lalu menarik tangan Dara membawanya pergi dari meja makan.
Saat Ellard dan Dara pergi dari pandangan Darren, pria itu melangkah mendekati Violla yang masih mematung sambil mencengkram dress-nya.
Plakkk
"Arhh." Ringis Violla saat rasa perih menjalar dipipi kanannya.
"P-paman." Ucap Vio lirih, bahkan para pelayan juga terkejut dengan tindakan pria itu yang tiba-tiba, tapi mereka hanya diam saja karena tidak memiliki hak untuk berbicara terlebih tatapan tajam dari Adam menyuruh mereka menutup mulut rapat-rapat.
"Jangan coba-coba mendekati putraku lagi, jika aku melihatnya aku akan melupakan jika kau seorang wanita." Ucapnya lalu melangkah pergi.
****
Ellard dan Dara sama-sama diam didalam mobil, tidak sadar air mata Dara menetes di pipinya mengingat perhatian suaminya terhadap wanita lain didepan matanya sendiri.
Dara langsung menghapus air matanya cepat takut Ellard tau jika dirinya menangis. Tapi terlambat pria itu sudah mengetahuinya, Ellard menarik tangan Dara menghadap kearah pria itu.
"Ada apa Dara? kau sakit? kenapa menangis?." Tanyanya khawatir sambil menghapus air mata Dara yang semakin mengalir.
Entahlah Dara juga kesal dengan dirinya sendiri kenapa air matanya malah tambah banyak? pikirnya.
"Dara jawab." Ucap Ellard cemas saat Dara tidak meresponnya.
"Ell apa kau mencintai Violla?." Tanya Dara, kalimat itu langsung lolos dari mulutnya sendiri tanpa ada rencana untuk bertanya.
"Apa maksudmu? aku hanya mencintaimu hanya kau, wanita pertama yang masuk kedalam hatiku." Jawab Ellard yakin.
"Kau ingin aku melakukan apa agar kau percaya? seperti saat aku memaksamu menikah denganku?." Tanya Ellard saat Dara hanya diam saja.
Dara yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak." Jawabnya.
Ellard membawa Dara kedalam pelukannya, "Percaya padaku, aku tidak mencintai siapapun selain dirimu." Ucap Ellard mengelus kepala Dara.
"Apa kau cemburu dengan Violla?." Tanya Ellard menunduk melihat ekspresi wajah Dara.
"Itu-."
"Kau cemburu." Ucap Ellard langsung saat Dara gugup untuk menjawabnya, pria itu tersenyum tipis.
"Maafkan aku karena membuatmu menangis, aku memperhatikan Vio karena dia sedang sakit. Karena dia pernah menolongku disaat aku sendiri maka dari itu aku ingin membalas perbuatannya. Dia tidak memiliki siapapun selain diriku dan kakek." Jelas Ellard.
"Tapi aku janji setelah ini aku akan menjaga jarak dari Violla." Lanjut pria itu sambil memberi kecupan dikepala Dara.
"Sakit? Vio sakit apa Ell? dan apa Violla tidak punya orang tua?." Tanya Dara menatap wajah Ellard menunggu jawaban pria itu.
"Vio sakit kangker hati stadium awal dan orang tua Vio tidak memperdulikan dirinya karena mereka berpisah, Violla anak broken home." Jawab Ellard.
"Inna lillahi." Ucap Dara terkejut
"lalu kenapa Vio tidak menjalani pengobatan?."Tanya Dara.
"Dia tidak mau, aku sudah memaksanya tapi tetap saja." Jawab Ellard.
******
"Dara kau kenapa?." Tanya Thisa saat melihat Dara hanya diam saja, mereka sudah duduk di kursi taman sepuluh menit lamanya, selama itu Dara hanya melamun menatap kedepan.
"Tidak ada, Thisa menurutmu jika ada seorang wanita yang ingin merebut suamimu bagaimana?." Tanya Dara membuat Thisa mengerutkan keningnya.
"Tentu saja aku akan membunuhnya!." Jawabnya yakin.
Dara yang mendengarnya langsung menoleh menatap wajah Thisa.
"Me-membunuh?." Tanya Dara meyakinkan jika dirinya tidak salah dengar.
"Jelas! aku akan membunuhnya, enak saja dia merebut Devan dari tanganku setelah aku bersusah payah menjadi istrinya." Jawab Thisa, kali ini giliran Dara yang mengerutkan keningnya binggung mendengar ucapan gadis didepannya ini.
"Kenapa jadi Devan?." Tanyanya.
"Karena dia yang akan menjadi suamiku." Jawab Thisa enteng membuat Dara menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi Dara, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?." Tanya Thisa membuat Dara gugup menjawabnya.
"I-tu temanku dia bertanya padaku." Jawab Dara sambil memohon ampun karena telah berbohong.
Thisa hanya mengangguk menanggapinya, "Dengar Dara bilang pada temanmu itu, jangan diam saja jika wanita lain ingin merebut suaminya. Dia istri sah, dirinya yang lebih berhak atas suaminya, jangan sampai karena kebodohannya membuat hubungan rumah tangganya yang semula harmonis menjadi rusak hanya karena orang ketiga." Ucap Thisa sambil mengayunkan lollipop didepan wajah Dara.
__ADS_1
Dara diam saja meresapi setiap ucapan yang keluar dari mulut gadis disampingnya ini.
*****
Sekolah pulang lebih awal hari ini para murid juga diberi pengumuman jika ujian kelulusan akan diajukan. Mengingat musim dingin di bulan Desember akan ada badai salju. Khawatir jika badai itu datang disaat murid sedang menghadapi ujian.
"Kau pulang naik apa Dara?." Tanya Thisa sambil menoleh kekanan dan kekiri melihat apa mobil jemputannya sudah datang atau belum.
"Aku akan naik taksi." Jawab Dara.
"Kalau begitu pulang bersamaku saja, bagaimana?." Tanya Thisa melihat wajah Dara.
"Tidak perlu Thisa, kita beda arah." Elak Dara.
"Memangnya kau tau dimana rumahku? sudahlah kau bersamaku saja ya! aku juga ingin tau dimana rumahmu agar aku bisa bermain kesana." Ucap Thisa semangat
Dara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sekarang bagaimana cara menolaknya pikir Dara.
"Nah itu dia mobilnya sudah datang." Ucap Thisa senang lalu menarik pergelangan tangan Dara.
"Ayo Dara." Ucap Thisa menoleh saat merasa tubuh Dara hanya diam saja tidak mengikuti langkahnya.
Thisa spontan melepas tangan Dara dari tangannya saat melihat seorang pria memegang sebelah tangan Dara sambil menatap tajam kearahnya.
"Dia pulang bersamaku." Ucapnya dingin membuat Thisa menelan salivanya sekeras batu.
Ellard langsung menarik tangan Dara membawanya masuk kedalam mobil hitam yang sudah terparkir didepan mereka, entah sejak kapan mobil itu ada disana.
"Gila! tampan tapi menyeramkan." Ucap Thisa sambil menyeka keringatnya lalu berjalan kearah mobilnya.
*****
Sekarang Dara dan Ellard sedang berada didalam mobil menuju mansion Walton.
"Sayang kenapa kau tidak menungguku ditempat biasa?." Tanya Dara.
Ellard mengentikan tanganya yang mengelus kepala Dara lalu menunduk melihat wajah wanitanya.
"Lalu aku akan membiarkanmu pulang dengan orang lain?." Tanyanya.
"Will not." Lanjutnya.
Dara hanya diam saja, kepalanya bergerak mencari posisi yang nyaman didada bidang pria itu. Ellard memejamkan matanya saat merasakan ada sesuatu yang mengeras dibawah.
"Kau membangunkan miliku, sayang." Ucap Ellard dengan suara serak.
Dara langsung terdiam diposisinya sekarang, Dara paham apa yang dimaksud pria ini.
"Kau harus tanggung jawab nanti." Ucap Ellard membuat Dara menelan salivanya sendiri.
****
Mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang mansion Walton, pria itu membukakan pintu untuk Dara. Saat Dara turun dari mobil tangan Ellard berada di atas kepala wanita itu.
"Terimakasih." Ucap Dara sambil tersenyum, Ellard tidak menjawabnya pria itu menarik tangan Dara masuk kedalam.
Tangan kanan Ellard mengandeng Dara sedangkan tangan kiri pria itu dimasukkan kedalam saku celananya. Ah membuat iri para pelayan yang melihatnya gaya tuan muda mereka itu selalu mempesona membuat semua mata memandangnya kagum.
"Hai bos." Suara pria membuat langkah Ellard terhenti lalu arah pandangnya melihat keruang televisi.
Terlihat dua orang anak manusia sedang bersantai dikursi sofa dengan camilan berserakan dimana-mana.
"Kalian?." Tanya Dara menunjuk kearah mereka lalu mendongak melihat wajah Ellard yang datar.
"Hai Bu bos."
"Hai Dara." Sapa mereka bersaman.
"Kalian sudah pulang? tapi kanapa aku tidak melihat kalian disekolah tadi." Ucap Dara binggung apalagi melihat mereka masih mengenakan seragam sekolah.
"Kita tidak kesekolah." Jawab Lay enteng sambil terus mengunyah keripik ditangannya dan matanya fokus melihat layar televisi.
"Mereka membolos?." Tanya Dara mendongak menatap Ellard yang hanya diam saja tidak berniat membuka suaranya.
"Dara ingin main game? si gila ini tidak mau main bersama." Tanya Frank melempar Lay mengunakan sebotol kaleng bir kosong lalu menunjukkan game di ponselnya. Lebih baik mengajak Dara dari pada pria disamping gadis itu, sekali start dirinya langsung kalah.
"Bole-."
"Tidak." Jawab Ellard datar lalu menarik tangan Dara membawanya ke dalam kamar, ada yang sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan jatahnya.
"Kenapa dia? seperti sedang menahan burungnya saja." Ucap Frank lalu diam memikirkan perkataanya, Lay juga berhenti mengunyah dan melihat kearah Frank. Mereka berdua saling pandang lalu mengambil minumnya masing-masing.
*****
Ellard membuka pintu kamarnya lalu menguncinya, pria itu melempar tasnya keatas sofa lalu menarik tangan Dara membawanya keranjang.
"Ell a-aku belum ganti baju." Ucapnya terbata.
"Kenapa harus ganti? kau tidak perlu memakai baju." Ucap Ellard tersenyum lalu membuka satu persatu kancing seragam Dara.
Senyuman itu benar-benar membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
Bersambung......
Nah lho kena tampar Daddy Darren kan
Like dan komen ya!!, vote? terserah kalian
......................
"Pada Dasarnya Takdir Allah selalu Baik, Walau Terkadang Perlu Air Mata Untuk Menerimanya"~Umar bin Khattab
Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 216:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
__ADS_1