Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Menuduh


__ADS_3

Brak


"Ellard? kau kemari? ada apa?" ucap Violla sumringah lalu berdiri dari duduknya dan beranjak mendekati Ellard.


"How dare you slap my wife"


(Beraninya kau menampar istriku) ucap Ellard pelan dengan tatapan mengintimidasi.


Tubuh Violla langsung menegang seketika, nada bicara Ellard terdengar sangat tajam ditelinganya.


Beraninya gadis murahan itu mengadu!, batin Violla geram.


Violla merubah mimik wajahnya menjadi sendu ia menatap Ellard dengan air mata yang mengenang di pelupuk matanya.


"Kamu menuduhku?" tanyanya lirih.


"Hanya kau yang tidak menyukai Dara disini Violla" desis Ellard tajam.


"Kenapa kau menyimpulkan sesuatu sendirian Ellard? bukankah kau yang paling mengenalku?" tanya Violla menatap Ellard dengan tatapan terluka.


Ellard terkekeh pelan sambil menatap sinis kearah Violla, "Ya benar, hanya aku yang paling mengenalmu, semenjak aku memutuskan pertemanan kita kau semakin agresif Violla. Aku bahkan tau bagaimana kau menatap Dara jelas sekali didalam matamu itu kau tidak menyukai istriku" jelas Ellard membuat Violla mengepalkan tangannya erat.


"Aku awalnya tidak terlalu mempermasalahkan itu karena aku paham bagaimana perasaanmu. Melihat orang yang ada dari dulu bersamamu bersanding dengan wanita lain.


Aku kira kau hanya perlu waktu untuk menghilangkan perasaanmu padaku dan menerima Dara untuk menjadikannya temanmu.Tapi aku lihat kau malah semakin menjadi, aku bisa menerimanya apapun itu tapi tidak jika kau mulai melukai istriku Violla" tekan Ellard diakhir katanya.


Setetes cairan bening keluar dari mata Violla perkataan Ellard membuat rasa bencinya kepada Dara semakin membuncah. Andai gadis murahan itu tidak hadir kedalam hubungannya dengan Ellard semuanya pasti akan baik-baik saja, pikir Violla.


Perempuan sialan!, batinnya sambil menghapus air matanya dengan kasar.


"Benar aku memang menamparnya, tapi apa kau berfikir kanapa aku melakukan itu Ell? gadis itu sendiri yang memulainya! lihat ini" ucap Violla sambil menyibak rambutnya dan memperlihatkan pipi bagian kanannya yang memerah.


"Dia yang menamparku lebih dulu! Aku hanya membalas apa yang dia perbuat padaku" lanjut Violla membuat Ellard mengerutkan keningnya.


"Kau membodohi ku Violla?" tanya Ellard memincingkan matanya, jelas ia langsung tidak percaya.


"Lihatkan! kau bahkan tidak mempercayai perkataanku kenapa kau hanya mendengar ucapannya saja? setidaknya kau juga harus mendengarkan aku, Dia menuduhku Ell padahal Dara dulu yang membuat masalah denganku" jawabnya.


Ellard tergelak pelan kemudian membuang wajahnya kearah lain,


" Violla, Dara bahkan tidak mengatakan jika kau yang menamparnya, dia diam saat aku bertanya padanya" jelas Ellard membuat Violla tambah mengepalkan tangannya erat.


Kurang ajar, dia lebih pintar dari yang aku duga sekarang aku harus bagaimana?. Batinnya cemas, jika ini terus berlanjut ia yakin Ellard akan semakin memojokkannya pikir Violla.


Tiba-tiba Violla meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, "Shhhh......Ell aku hanya ingin dekat denganmu itu saja" lirihnya sambil menahan sakit.


Ellard menatap Violla dengan pandangan yang sulit diartikan, pria itu sama sekali tidak bergeming dari posisinya untuk membantu wanita yang sedang meringis kesakitan dengan wajah memucat tidak seperti dirinya dulu yang akan langsung siaga membantunya.


"Violla aku harap kedepannya kau sadar dan berhenti menyukaiku karena sampai kapanpun aku hanya menganggapmu sebagai adikku.


Dan jika sekali lagi kau melukai Dara aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini,


aku masih mengijinkanmu tinggal disini hanya sebatas rasa kemanusiaan tapi jika kau berbuat semaumu aku juga akan bertindak sesuka hatiku dan setelah itu jangan harap ada rasa belas kasih dariku.


Karena yang paling penting untukku saat ini dan selamanya adalah Dara hanya itu, aku harap kau paham Violla" jelas Ellard panjang lebar kemudian berjalan keluar dari kamar Violla meninggalkan wanita yang sedang mencengkram erat perutnya.


Ellard bahkan tidak bertanya lagi tentang kondisinya, biasanya pria itu akan mencemaskan dirinya saat ia merasa kesakitan, tapi apa ini?


Dara kau merusak segalanya, aku membencimu sangat membencimu!!. Batinnya sambil meneteskan air mata penuh kebencian.


*****


Dara mondar mandir didalam pintu kamar ia cemas memikirkan apa yang akan diperbuat Ellard. Ingin keluar tapi takut memicu kemarahan suaminya jadi hanya ini yang bisa ia lakukan, menunggu pria itu kembali.


Tak lama suara pintu terbuka membuat Dara langsung melihat kearah Ellard yang baru saja masuk kedalam.


"Sayang" ucap Dara pelan sambil berjalan mendekati Ellard.


"Dara aku-" ucapan Ellard terhenti, pria itu langsung berlari masuk kedalam kamar mandi sambil memuntahkan seluruh isi perutnya.


Dara langsung mengikuti langkah Ellard memasuki kamar mandi, ia melihat pria itu sedang membungkuk didepan wastafel.


"Masih masuk angin?" tanya Dara khawatir sambil memijit tengkuk leher Ellard.


Ellard menopang berat tubuhnya dengan menyangga kedua tangannya dipinggiran wastafel. Pria itu kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya mengeluarkan cairan bening.


Huek


Huek


"Hah.....hah...... hah....." Keringat sebesar biji jagung menetes dari kening pria itu.


Nafas Ellard memburu setelah merasa ia sudah tidak lagi muntah pria itu mengangkat tuas wastafel kemudian membasuh mulutnya.


"Sayang kita panggil paman Nike saja ya?" tanya Dara cemas apalagi saat melihat Ellard berbalik menghadapnya dengan wajah pucat juga keringat membasahi pelipisnya.


Ellard menggeleng pelan kemudian memeluk tubuh Dara erat dan memasukan wajahnya kedalam cengkuk leher wanita itu.


"Dara aku mau......" ucapnya terhenti masih dalam posisi yang sama membuat Dara tidak bisa melihat ekspresi wajah pria itu.


"Mau apa hm?" balas Dara sambil mengelus punggung pria itu.


"Makan? dari tadi belum makan kan?" tanya Dara dibalas gelengan kepala oleh Ellard.


"Lalu?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Make baby" jawabnya membuat Dara melebarkan matanya terkejut.


"Sayang, kamukan masih sakit istirahat saja dulu ya"


"I want a baby, let's make it "


(aku mau bayi, ayo kita buat), ucap Ellard merengek sepertinya pria itu lupa jika beberapa jam yang lalu dia mengamuk bak singa kelaparan.


"Ell-"


"hiks....kamu tidak menyayangiku lagi" ucap Ellard lalu melepas pelukannya dan berjalan cepat keluar dari dalam kamar mandi.


Dara mengikuti Ellard yang berjalan menuju kearah tempat tidurnya, pria itu langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Dara dan menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya.


"Sayang b-bukan begitu maksudku" ucap Dara bingung , ia mencoba menyentuh tubuh Ellard yang bergetar dibalik selimut.


"I want baby" lirih Ellard dibalik selimutnya yang terdengar samar ditelinga Dara.


"Sayang kamukan harus istirahat"


Suara isak tangis Ellard makin mengeras membuat Dara kelimpungan sendiri, "Baiklah-baiklah ayo kita buat" ucap Dara tanpa sadar.


Ellard yang mendengarnya langsung menyibak selimutnya yang menutupi kepala dan menoleh menatap Dara yang sedang memukul pelan mulutnya sendiri.


"Benarkah?" tanya Ellard berbinar, pipinya masih dipenuhi oleh air mata dengan hidung memerah membuat Dara yang melihatnya langsung merasa gemas.


"I-iya tapi setelah kamu makan saja ya?" tanya Dara menawar, sebenarnya ia hanya mengulur waktu saja.


"Tidak perlu" jawab Ellard dengan cepat pria itu langsung menarik pergelangan tangan Dara membuat wanita itu jatuh diatas tubuh Ellard.


"Aku hanya ingin memakanmu" Ucapnya kemudian memutar posisi mereka, Dara yang berada dibawah dan sedangkan Ellard diatas sambil tersenyum smirk membuat tubuh Dara merinding seketika, entah dimana wajah mengemaskan yang beberapa saat tadi ia puji.


"Tahan ya sayang, aku ingin sampai malam" bisik Ellard dengan suara serak sambil membuka jilbab Dara.


*****


Sehari berlalu, saat ini Dara sedang berjalan menuju kearah ruang tamu mungkin keluar dari dalam kamar bisa sedikit mengurangi rasa bosannya.


Salju masih memenuhi kota New York membuat Dara tidak bebas untuk pergi kemanapun.


Ellard melarang keras dirinya untuk keluar dari dalam mansion alasannya karena takut dirinya demam, berlebihan memang dari dulu sifatnya tidak pernah berubah.


Ellard masih dikantor membuatnya merasa bosan karena tidak ada teman mengobrol dan menghabiskan waktu.


Banyak para pelayan yang bisa ia jadikan teman mengobrol tapi mereka selalu segan dan berbicara formal padanya.


Bukan hanya itu mereka selalu bergerak gelisah saat dirinya ajak bicara membuat Dara merasa kasihan, mereka seperti tertekan berbicara padanya.


Mungkin ada yang sengaja menekan mereka agar tidak berbicara sembarangan dengannya dan yang langsung ada dipikiran Dara saat itu hanyalah Madrick hanya pria itu yang bisa membuat orang lain langsung tunduk patuh.


Mereka menyebar diberbagai titik ada yang menetap tanpa bergerak dari posisinya ada juga yang berjalan sambil mengenakan payung hitam mungkin sedang berkeliling pikir Dara.


Dara menghembuskan nafasnya kasar ternyata ini juga tetap membosankan pikirnya.


"Nona coklat hangat untuk anda" ucap Adam membuat Dara menoleh menatap pria berusia lima puluh tahunan itu sedang meletakkan gelas mug diatas meja.


"Terimakasih paman" jawab Dara sambil tersenyum.


"Sama-sama nona, nona apa perapianya sudah hangat atau perlu saya naikkan suhu ruangan?"


"Tidak perlu keduanya, terimakasih ini sudah cukup hangat"


"Maaf nona tapi sebaiknya anda memakai jaket atau baju yang tebal jika tuan muda pulang beliau bisa marah nanti" ucap Adam kemudian menundukkan kepalanya.


"Em baiklah paman, aku akan memakainya nanti" jawab Dara.


"Apa perlu saya ambilkan nona?"


"Tidak, tidak perlu"


"Baiklah kalau begitu saya kebelakang dulu nona jika ada apa-apa panggil saja pelayan disini"


"Baik paman"


Adam membalikan badannya melangkah pergi meninggalkan Dara.


"Tunggu paman!" panggil Dara membuat Adam membalikan badan dan menatapnya.


"Ya nona? nona membutuhkan sesuatu?"


"Sebenarnya aku mau bertanya paman, apa sampai sekarang tidak ada anak laki-laki yang mencariku? atau menanyakanku pada pengawal gerbang utama?" tanya Dara berharap jawaban yang bisa memuaskan hatinya.


"Tidak nona, tidak ada pemberitahuan jika ada seseorang yang ingin menemui anda. Tapi saya juga tidak terlalu banyak mengetahuinya, karena semua informasi kontrol pengawal gerbang utama ada pada Mad. Dia yang mengurus semua pengawal yang bertugas mengamankan kediaman Walton" jelas Adam membuat Dara menghembuskan nafasnya pelan.


Tidak mungkinkan aku bertanya pada pria itu?. Batin Dara.


"Baiklah paman terimakasih atas informasinya"


"Sama-sama nona" jawabnya kemudian berjalan pergi meninggalkan Dara.


"Kenapa Daminan tidak pernah berkunjung kemari?" monolog Dara pada dirinya sendiri.


Entah kenapa Dara akhir-akhir ini sangat merindukan sosok kecil Daminan. Ia selalu berharap bisa bertemu lagi dengan anak kecil itu, Dara sebelumnya meruntuki dirinya sendiri kenapa dulu ia tidak meminta alamat atau nomor ponsel anak itu.


Bertanya pada Ellard hanya berujung kecemburuan yang tidak mendasar, hei ini hanya seorang anak kecil! pikir Dara saat itu kesal tapi penjelasan apapun tidak berfungsi untuk Ellard pria itu tetap menjadi pria keras kepala.

__ADS_1


Dara kembali melihat kearah kaca jendela, ia melihat salah seorang pengawal sedang berbicara melalui HT ditangannya.


Pengawal itu mengucapkan beberapa kata kemudian mengangguk singkat. Tidak lama setelah itu Dara mendengar deru suara mobil sport yang berhenti didepan pintu.


Siapa yang datang?. Batinnya sambil terus melihat kearah pintu keluar.


Bug


Suara pintu mobil tertutup dengan keras, "Kenapa lama sekali hah! tidak lihat diluar dingin?!" bentaknya pada salah satu pengawal yang tadi Dara lihat sedang berbicara melalui HT.


"Maaf tuan, saya hanya mematuhi perintah tuan Mad untuk melaporkan setiap orang yang masuk kedalam kediaman Walton." jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


"Ah pantas saja, si gila itu ternyata" jawabnya kesal sambil merapikan jaket tebal yang melekat ditubuhnya.


"Sudahlah ayo masuk" ucap salah satu pria kemudian melangkah masuk kedalam mansion.


"Dara?" pria itu berjalan mendekat kearah Dara kemudian mendudukkan dirinya disamping wanita itu.


"Kalian?" tanya Dara bingung, karena sudah lama sekali ia tidak melihat kedua orang ini siapa lagi jika bukan Lay dan Frank.


"Ugh dingin sekali" ucap Lay lalu mendekat kearah perapian.


"Apa Ellard masih dikantor?" tanya Frank sambil mengangkat tangannya memanggil salah satu maid yang kebetulan melintas.


"Iya mungkin sebentar lagi dia pulang" jawab Dara membuat Frank menganggukkan kepalanya.


"Satu gelas wine" ucap Frank pada maid yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Aku juga" sahut Lay kemudian berjalan kearah sofa disamping Dara, posisi wanita itu ada ditengah-tengah Lay dan Frank karena ia duduk ditengah sofa panjang.


"Baik tuan" jawab maid kemudian pergi menuju kearah kitchen.


"Kalian mau mabok?" tanya Dara spontan membuat Frank tertawa.


"Satu gelas tidak akan membuat kita mabok Bu boss" jawab Lay, sepertinya pria itu sudah mulai melupakan kejadian tiga minggu yang lalu.


"Benarkah?" tanya Dara lagi, maklum dia belum pernah mengonsumsi minuman berbau alkohol seperti itu.


"Iya, lagi pula itu hanya untuk menghangatkan tubuh saja" jawab Frank membuat Dara mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bu boss mau mencoba?" tawar Lay saat seorang maid meletakkan segelas kecil wine dimeja.


"Kau mau dibunuh Ellard?"


"Tidak-tidak" jawab Lay kemudian beralih menatap kearah Dara.


"Aku hanya bercanda Bu boss" ucap Lay sambil membentuk peace dengan jari tengah dan telunjuknya.


Dara menggelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh kecil, "Kenapa kalian jarang kemari?"


"Mengindari monster apalagi? aku masih ingin hidup lebih lama" jawab Lay membuat Dara mengeryitkan keningnya.


"Benar, kita datang kemari saja karena mendengar jika asisten gila itu sedang pergi keluar negeri" jawab Frank ikut menimpali sambil menenguk segelas wine ditangannya.


Dara paham sekarang siapa yang sedang mereka maksud itu.


****


Asik berbincang-bincang sambil tertawa sebuah suara deru mobil berhenti didepan pintu mansion membuat ketiga orang didalam sama-sama melihat kearah luar.


"Dara......." suara berat menahan tangis itu membuat badan Frank dan Lay langsung merinding.


Berbeda dengan Dara yang langsung membelalakkan matanya terkejut, ia kenal jelas suara siapa itu.


"Hiks....aku merindukanmu!" entah kapan tiba-tiba Ellard langsung memeluk tubuh Dara yang masih duduk diam dengan kedua pria disampingnya yang masih dalam mode syok.


Lay dan Frank saling melirik satu sama lain saat mereka telah sadar dari keterkejutannya.


Apa-apaan itu?. Tanya mereka berdua sama didalam hati, apalagi saat mendengar suara isak tangis Ellard yang semakin keras.


"Ehem....." Lay berdeham saat merasa tenggorokannya kering.


Ellard langsung mendongak melihat kearah Lay dengan mata sembab dan hidung memerah yang langsung mengundang tawa Lay dan Frank.


Bwahahahaha


Mereka tertawa keras sampai buliran bening keluar dari sudut matanya.


"DIAM!!" Bentak Ellard keras membuat Lay dan Frank spontan terdiam.


"PERGI! APA-APAAN KALIAN MENDEKATI ISTRIKU!" Ucapnya keras membuat Lay dan Frank langsung beranjak pindah kesofa yang lain.


"Sayang sabar" ucap Dara sambil mengelus punggung pria itu yang masih memeluk erat perutnya. Ia sebenarnya juga terkejut tadi, memang akhir-akhir ini tingkah laku dan sikap Ellard benar-benar berubah pria itu menjadi sangat manja dan gampang menangis jangan lupakan moodnya yang gampang sekali turun drastis.


"Mereka mendekatimu Dara aku tidak suka" adunya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca membuat Lay meringis saat melihatnya.


Gila kenapa bos Ell cosplay jadi bayi begitu! batinnya sambil menelan salivanya sendiri kemudian beralih menatap kearah Frank yang juga sedang meringis melihat tingkah Ellard.


Bersambung.....


Suka Ell yang pemarah+pemaksa atau yang cengeng gini sih?? :)


Maaf ya updatenya lama.....


“Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khinat terhadap amanah.” [HR Bukhari no. 2682 dan Muslim no. 59, dari Abu Hurairah]

__ADS_1


__ADS_2