Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Kembali


__ADS_3

Ornamen batik terlukis indah di sepanjang tembok dan pilar-pilar bandara internasional. Juga


makanan khas daerah dan beberapa barang-barang tradisional buatan tangan terpajang rapi didalam etalase toko oleh-oleh.


Para staf bandara dengan ramah melayani para calon penumpang yang akan terbang kedalam hingga keluar negeri. Ucapan selamat datang pada warga asing dan juga warga lokal terdengar saat para penumpang baru menginjakkan kakinya keluar dari dalam bilik pesawat.


Kondisi bandara cukup ramai mengingat ini adalah akhir tahun, banyak orang yang pulang untuk mudik bertemu dengan keluarga dirumah. Banyak juga dari mereka yang memilih berlibur untuk merayakan akhir tahun.


Di bandara internasional tepat pukul 14.00 siang, jet pribadi dengan lambang W dibagian badan telah mendarat dengan selamat. New York- Indonesia, bukanlah jarak tempuh yang sebentar kurang lebih sekitar 23 jam mereka terbang diatas awan.


Pria dengan hoodie hitam dan celana jeans putih turun dari jet pribadi dengan menggandeng tangan seorang wanita berjilbab. Terik matahari menyorot langkah jalan mereka berdua, orang-orang yang melihat mereka dari kejauhan langsung berteriak histeris saat melihat sosok pria bertubuh jangkung berjalan dengan langkah tegas, mata tajamnya tertutupi dengan kaca mata hitam yang bertengger dihidungnya.


Dibelakang mereka ada dua orang pria tak kalah menawan menarik perhatian para gadis-gadis muda. Tiga pria tampan dengan satu wanita itu sangat membuat iri para kaum hawa yang melihatnya.


Ellard menggenggam erat tangan Dara seolah mereka akan terpisah kapan saja. Dara membalas senyuman staf bandara yang mengatupkan kedua tangannya menyambut kedatangan mereka. Sedangkan pria disampingnya hanya diam acuh sambil terus menarik tangan istrinya.


Para petugas keamanan bandara membantu mengamankan langkah jalan mereka.Orang-orang didalam bandara spontan menyingkir memberi jalan kepada empat orang yang tengah berjalan kearah pintu keluar. Dari aura pria paling depan mereka sudah menduga jika dia bukanlah orang sembarangan.


Saat sampai didepan bandara dua mobil hitam berkilau sudah terparkir depan belakang. Sopir menundukkan kepala sambil membuka pintu belakang. Dara masuk kedalam mobil kemudian disusul Ellard.


Sedangkan kedua pria lain memasukki mobil dibelakangnya.


***


Ellard melepas kacamata hitamnya kemudian menyenderkan punggungnya dikursi.


"Ah panas sekali" ucapnya membuat Dara menoleh kearahnya.


Dara menatap miris kearah Ellard, pria itu banjir keringat wajahnya merah padam karena kepanasan. Dara maklum karena di negara sebelumnya sedang musim dingin dan disini sangat terik, perubahan cuaca yang sangat drastis membuat pria itu belum terbiasa.


Sopir menurunkan suhu AC mobil tapi itu tetap tidak menurunkan rasa gerah Ellard.


Pria itu dengan cepat melepas hoodie bermerek Nike ditubuhnya menyisakan kaos oblong berwarna putih.


Dara menelan ludahnya sendiri saat melihat kaos ditubuh Ellard sedikit tersingkap diarea perutnya membuat Dara tidak sengaja melihat perut kotak pria itu.


Dara menggelengkan kepalanya cepat saat pikiran mesum hinggap di otaknya. Kenapa ia malah ingin sekali menyentuhnya?.


"Ada apa?" tanya Ellard ternyata pria itu melihatnya menggeleng tadi.


Dara hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil tersenyum seolah ia tidak apa-apa. Padahal dirinya sedang mengontrol diri agar tidak salah bertingkah.


"Kamu sakit? pusing? perlu pergi kerumah sakit?" tanya Ellard cemas, pria itu seperti sedang melupakan sesuatu yang besar.


"Tidak" jawab Dara sambil menggelengkan kepalanya, apanya yang sakit? pikirnya.


"Perubahan cuaca di New York dan disini sangat signifikan Dara, apa kamu yakin tidak apa-apa?" tanyanya sambil menempelkan punggung tangannya dikening Dara.


"Aku tidak apa-apa sayang, seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa kamu baik-baik saja?" jawab Dara sambil menurunkan tangan Ellard dari keningnya.


"I'm fine" jawab Ellard lalu mencium tangan Dara.


Ellard mengalihkan pandangannya keluar kaca jendela, "Apa ini kota tempat kelahiranmu sayang?" tanya Ellard kemudian menoleh menatap kearah Dara yang juga sedang melihat keluar jendela.


"Iya" jawabnya sambil tersenyum kemudian matanya melihat bangunan-bangunan tinggi dan para pekerja kaki lima dipinggir jalan. Rasanya ia sudah lama sekali tidak melihat pemandangan ini.


Secara tidak sadar bibir Ellard ikut tertarik keatas saat melihat raut bahagia diwajah Dara. Jika dari dulu ia tau mengajak istrinya kesini bisa membuatnya senang maka sudah sejak dulu ia melakukannya.


Tiga puluh menit dalam perjalanan akhirnya mobil mereka berhenti didepan hotel berbintang lima. Ellard turun dari mobil saat sopir membuka pintu untuknya, pria itu memutari mobil kemudian membuka pintu untuk Dara.


Setelah mereka berdua keluar dan berjalan masuk, mobil hitam dengan brand ternama ikut berhenti dibelakang mobil yang ditumpangi Ellard. Dua pria remaja turun dari dalamnya kemudian berjalan masuk kedalam.


"Welcome Mr Ellard and Mrs Dara"


Dara tidak sengaja membaca name tag dibaju pria yang sedang menyambut mereka. Ia heran kenapa dia bisa mengetahui namanya dan Ellard, padahal sebelumnya ia sudah meminta Ellard untuk tidak terlalu berlebihan disini maka dari itu mereka sampai tidak membawa pengawal.


Keheranan Dara diganti dengan keterkejutan saat melihat jabatan pria itu, tertulis nama GM.Bagas Indra Sjafri.


General Manager, sendiri yang menyambut mereka? apa mereka sudah mengetahui siapa Ellard sebelumnya sampai-sampai harus GM sendiri yang menyambut mereka pikir Dara tapi saat ia mengingat bagaimana kekuasaannya keluarga Walton Dara hanya menghembuskan nafasnya kasar.


"Sir, kami sudah menyiapkan satu kamar presidential suite untuk anda dan nyonya. Mari saya antarkan kekamar" tawarnya ramah hanya dibalas anggukan kepala singkat Ellard.


"Boss jika boss akan pergi jangan lupa menghubungi kami" ucap Lay membuat Ellard mendengus kesal kemudian mengandeng tangan Dara masuk kedalam lift.


Lay dan Frank berhasil ikut, entah bagaimana caranya mereka berdua bisa ada didalam jet pribadi Ellard sebelum pria itu dan Dara datang. Padahal Dara dan Ellard berangkat pukul dua malam dari bandara internasional New York. Selain menghindari permintaan kedua pria yang ingin mengikutinya, Ellard juga menghindari keramaian dan kericuhan bandara di New York saat mereka melihat kedatangannya.


****


Dara merebahkan tubuhnya dirajang, meminta Ellard untuk tidak berlebihan disini hanya membuang-buang tenang saja. Lihat sekarang saja mereka tidur dikamar presidential, ingin menangis rasanya Dara saat menduga-duga berapa biaya permalamnya tidur dikamar ini. Walaupun ia tau Ellard kaya tapi tetap saja menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting membuatnya tidak rela.


Dara memejamkan matanya sebentar mencoba untuk memendam rasa sayangnya pada uang yang dihabiskan suaminya. Wanita itu beranjak bangun dari tidurannya untuk mengambil ponsel diatas meja.


Dara berjalan kearah sofa kemudian mendudukkan dirinya disana. Dara membuka ponselnya kemudian membuka aplikasi sosial medianya mencari akun sahabatnya didesa ingin memberitahu jika ia sedang berada di Indonesia dan akan kembali menemuinya.


Sebenarnya bisa saja besok ia langsung bertemu dengan Killa-sahabatnya, tapi Dara tidak sabaran ingin segara berbicara dengan sahabat kecilnya itu, Dara membayangkan akan sehoboh apa sahabatnya jika tau dirinya kembali, ah memikirkan itu saja membuat rasa tidak sabar Dara semakin membuncah.


Jari-jari Dara berseluncur diatas layar ponsel yang baru dibelikan suaminya beberapa bulan yang lalu. Ia mencari nama sahabatnya-killa karena terlalu banyak nama yang sama membuatnya kesulitan untuk menemukan akun asli sahabatnya itu.

__ADS_1


Setelah beberapa menit membuka satu-persatu nama akun Killa akhirnya Dara menemukan apa yang dicarinya.


Ia mengirim Direct Message kepada Killa tapi sepertinya akun sahabatnya sedang tidak aktif. Karena tidak akan mendapat jawaban dari Killa, Dara memilih membuka satu-persatu postingan sahabatnya.


Dara tertawa kecil saat melihat salah satu postingan Killa yang sedang naik diatas pohon jambu didepan rumahnya. Gadis itu sama sekali tidak berubah masih saja pecicilan seperti dulu pikirnya.


Cklek


Ellard keluar dari dalam kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat Dara tertawa sambil melihat ponsel. Bahkan wanita itu tidak sadar jika dirinya sudah selesai mandi.


Ehem, Ellard berdehem pelan berniat membuat Dara meliriknya tapi wanita itu malah sibuk dengan dunianya sendiri dan itu membuat hati Ellard panas. Pria itu berjalan kearah lemari dengan perasaan dongkol matanya terus menatap tajam kearah Dara.


Brak


Ellard menutup pintu lemari dengan kencang sampai menimbulkan bunyi keras membuat Dara menoleh kearahnya.


"Hati-hati sayang nanti rusak" jawaban Dara yang sama sekali tidak diharapkan oleh Ellard.


Wanita itu kembali menatap layar ponselnya dan Ellard yang melihat itu tiba-tiba hatinya tercubit, matanya memanas ingin menumpahkan air mata yang mengenang dipelupuk matanya. Kenapa ia merasa sangat menyesal telah membelikan istrinya ponsel? ia jadi merasa terabaikan sekarang.


"Dara dimana sirirnya?" tanya Ellard dengan suara keras.


"Cari dulu sayang, tadi ada dimeja rias" jawab Dara tanpa mengalihkan pandangannya kearah Ellard.


"Dimana gel rambutku?!" teriaknya lagi setelah menyambar dengan kasar sisir diatas meja rias.


"Di laci"


"Dimana parfumku?!"


"Di meja sayang, aku-" jawab Dara berhenti kemudian dengan wajah cerah wanita itu membuka Direct Message yang ia kirimkan tadi ternyata sudah dibalas oleh sahabatnya.


@Killa_maheswari


Maaf siapa ya?


Dara tertawa saat membaca pesan sahabatnya itu, apa Killa tidak bisa membaca usernamenya? pikir Dara sambil geleng-geleng kepala.


Baru saja Dara akan membalas pesan Killa sebuah tangan besar merampas ponselnya lalu melemparnya dengan keras kedinding kamar.


Dara terkejut ia melihat ponselnya yang hancur berkeping-keping kemudian mendongak menatap keatas melihat wajah Ellard yang memerah dengan nafas memburu.


"Ellard!" ucap Dara sedikit keras sambil berdiri dari duduknya, ia marah karena Ellard seenaknya menghancurkan ponsel yang harganya bahkan setara dengan mobil yang mereka tumpangi tadi. Lagi-lagi Ellard seenaknya membuang-buang uang, pikirnya.


Wajah Ellard yang tadinya marah tiba-tiba menjadi pias entah kenapa nyalinya menciut melihat kemarahan diwajah istrinya. Ini pertama kali Dara berteriak padanya, bibir Ellard melengkung kebawah, matanya berkaca-kaca, jari-jemarinya saling bertautan dibawah.


"hiks......jangan marah" cicitnya pelan, pria itu bahkan tidak berani mantap mata Dara.


Dara menelan ludahnya sendiri, apa ia keterlaluan sampai membuat Ellard menangis seperti ini.


Ellard yang tidak mendengar ucapan apapun keluar dari mulut Dara menganggap wanita itu bertambah marah kepadanya.


Bruk


"Daraa...hiks....maaf..maaf" ucap Ellard tiba-tiba sambil menjatuhkan dirinya dilantai dengan bertumpu pada kedua lututnya. Pria itu memeluk erat perut Dara dan memasukan wajahnya disana.


"Maaf jangan marah....hiks.....maaf" racaunya tidak jelas.


Dara yang bingung sendiri harus melakukan apa hanya diam saja sambil berpikir. Ingin marah karena Ellard yang seenaknya membuang barang tapi juga tidak tega dengan suaminya yang menangis seperti ini


"Sudah-sudah tidak apa-apa sayang, sekarang berdiri ya"


Ellard menggeleng kuat sambil memeluk pinggang Dara erat.


"Sayang bangun dulu ya"


"Ellard" ucap Dara saat tidak mendapat jawaban apapun dari pria itu. Ellard yang mendengar Dara sudah menyebutkan namanya langsung berdiri menurut.


Dara menarik tangan Ellard mengajak pria itu duduk ditempat tidur, bukannya duduk Ellard malah menarik tubuh Dara membuat keduanya sama-sama jatuh berpelukan diatas spring bed empuk.


"Ell-" ucapannya terhenti saat merasa bibirnya dibungkam oleh bibir Ellard.


Setelah menikmati rasa bibir istrinya Ellard melepaskan ciumannya kemudian memasukkan wajahnya kedalam dada Dara.


Dara yang masih menormalkan kembali pernafasannya ingin melonggarkan sedikit tubuhnya dipelukan Ellard tapi tetap saja tidak bisa semakin ia berusaha lepas semakin erat pula pelukan Ellard ditubuhnya.


Sekarang Dara merasa kerudungnya basah apa Ellard menangis lagi? pikirnya.


"Dara t-tadi chattingan sama siapa?" tanya Ellard dengan suara bergetar menahan tangis dan takut.


Takut karena jawaban istrinya seperti apa yang ada dipikirannya, apa mungkin Dara selingkuh? ia tadi tidak sengaja eh bukan lebih tepatnya sengaja melihat wajah sumringah istrinya saat mendengar notifikasi pesan masuk juga ia melihat jika Dara ingin cepat-cepat membalas pesan itu.


Dara mengelus punggung Ellard agar pria itu sedikit tenang, tapi bukannya tenang malah suara isak tangis Ellard mengeras.


"Sahabat didesa sayang, namanya Killa. Aku ingin menghubunginya jika aku akan menemuinya besok" jawab Dara.


"Benarkah?" tanya Ellard dengan suara serak, tangisnya tiba-tiba terhenti.

__ADS_1


"Iya sayang" jawab Dara membuat Ellard langsung menghembuskan nafasnya lega.


Keheningan menyelimuti Dara masih setia mengelus punggung Ellard membuat pria itu mengantuk apalagi setelah menangis yang mengeluarkan air mata cukup banyak.


Elusan dipunggung Ellard melemah mata Dara sayu-sayu mulai tertutup. Mereka berdua sama-sama terlelap dalam posisi berpelukan.


****


Ellard menggandeng tangan Dara keluar dari lobi hotel para staf petinggi hotel tersebut membungkuk hormat saat dua orang terpandang itu berjalan melewati mereka.


"Mr. Ellard apa anda memerlukan pengawalan? hotel kami siap untuk menghubungi para petugas keamanan untuk anda dan nyonya" ucap pria bernama Bagas, General Manager hotel.


Ellard menoleh kearah Dara meminta jawaban wanita itu. Dara juga mendongak menatap kearah Ellard kemudian menggelengkan kepalanya pelan dan itu membuat Ellard menghembuskan nafasnya kasar. Ia hanya tidak ingin jika mereka pergi tanpa pengawalan Dara hilang dari genggamannya mengingat ini bukan di negaranya.


"Tidak perlu" jawab Ellard setelah mendesah berat.


"Baiklah Mr. Ellard"


Mobil hitam dengan gaya classic berhenti didepan lobi, Ellard menggandeng tangan Dara menariknya keluar.


"Good morning, Mr. Ellard and Mrs. Dara" sapa pria berkisaran umur 25 tahun berdiri disamping mobil.


Dara mendongak menatap kearah Ellard yang sedang memandang lurus kedepan tanpa berniat menjawab sapaan pria itu.


Tangan Ellard terulur keatas kepala Dara saat wanita itu masuk kedalam mobil. Setelah memastikan Dara aman Ellard memutari mobilnya, saat kakinya akan melangkah masuk kedalam mobil suara teriakan dua orang pria membuatnya mendengus kesal.


"Tunggu boss!!"


"**** Ell tungguin kita!"


Ellard tidak perduli pria itu memilih masuk kedalam mobil tanpa menghiraukan umpatan yang keluar dari mulut kedua temannya itu.


Mobil berjalan meninggalkan Lay dan Frank yang mengumpat menyebutkan semua nama hewan dikebun binatang.


Sedangkan didalam mobil Dara melihat kedepan lebih tepatnya kearah pria disamping sopir pria yang tadi menyapanya dan Ellard.


"Jangan melihatnya terus sayang" rengek Ellard membuat Dara menoleh kearahnya.


ini gawat! pikir Dara, jangan sampai pria itu menangis disini atau urusannya akan panjang nanti.


"Tidak-tidak aku hanya melihat jalanan depan sayang" jawab Dara.


Ellard mengecup singkat bibir Dara membuat sang empunya terkejut.


"Do not lie"


(jangan berbohong)


Dara hanya tertawa canggung kenapa tiba-tiba tatapan Ellard terlihat menusuk.


"Tidak sayang, eum..aku hanya penasaran siapa dia?" tanyanya.


"Penerjemah bahasa ku" jawabnya sambil menarik tubuh Dara agar bersender didada bidangnya.


"Penerjemah?" beo Dara mendongak menatap wajah Ellard yang sedang menunduk menatapnya.


"Ya, aku belum terlalu memahami bahasa negaramu jadi aku membawa penerjemah kemana-mana agar aku bisa mengetahui apa saja yang kamu dan orang lain bicarakan nanti" jawab Ellard membuat Dara menganggukkan kepalanya mengerti.


"Salam kenal nyonya nama saya Arga, penerjemah bahasa Mr. Ellard" ucap pria dengan logat bahasa Indonesia tanpa menoleh kebelakang, jangankan menoleh pria itu bahkan tidak melirik sekilas pun kearah Dara.


Tapi Dara bisa melihat dari postur tubuh pria itu seperti sedang gugup dan juga tremor.


"Salam kenal juga Arga, apa kamu orang asli daerah sini?" balas Dara juga dengan mengunakan logat bahasa yang dama dengan Arga.


"Bukan nyonya, saya asli ibukota yang baru saja menyelesaikan pendidikan interpreter" jawabnya gugup.


"Benarkah? bahasa apa saja yang sudah kamu kuasai?" tanya Dara antusias sudah lama sekali ia tidak berbicara dengan bahasa negaranya sendiri.


"Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, Mandarin, dan Arab"


"Wahh, semua bahasa internasional? sangat hebat"


"Terimakasih nyonya" jawab Arga dengan wajah memerah sampai menjalar ke telinganya.


"Lalu-"


"Don't talk to other men dear, especially in a language I don't know" potong Ellard dengan wajah memelas.


(jangan berbicara dengan pria lain sayang, apalagi dengan bahasa yang aku tidak tau)


"Maaf sayang aku lupa" jawab Dara meringis saat merasa pelukan Ellard semakin menguat.


bersambung.....


"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."


(QS. Al-Luqman: 13)

__ADS_1


__ADS_2