Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Mad?


__ADS_3

"Kau ingin membahas apa?." Tanya Ellard sambil mendudukkan dirinya di sofa.


"Ada seorang yang akan menemui mu."


"Siapa?." Tanya Ellard sambil mengerutkan keningnya.


"Tunggu saja."


"Ken apa dia sudah datang?." Tanya Darren menoleh kearah Ken yang berdiri dibelakangnya.


"Sudah tuan."


tok...tok...tok


Ceklek


Suara pintu terbuka membuat ketiga pria didalam ruangan menoleh bersamaan. Seorang pria berjas hitam sedang menutup pintunya kemudian berjalan mendekati mereka dan menundukkan kepalanya hormat.


"Madrick." Ucap Ellard mengangkat salah satu alisnya kemudian dirinya beralih menatap Darren.


"Ya Madrick, dia yang akan membantumu mengurus segala urusanmu."


Madrick yang berdiri didepan mereka menundukkan kepalanya saat Ellard menatapnya.


"Ah aku seharusnya tidak perlu terkejut." Ucap Ellard pelan sambil menghembuskan nafasnya.


"Kapan kau kembali?." Tanya Ellard menatap malas pria yang sedang berdiri tanpa ekspresi didepannya.


"Siang tadi, tuan."


"Kau kembali sendiri?."


"Benar, tuan muda."


"Apa kau sudah memiliki kekasih?." Tanya Ellard.


Ellard tergelak mengejek saat pria itu tidak menjawab pertanyaannya, "Aku yakin kau belum punya pasangan, siapa juga wanita yang ingin menjalin hubungan dengan bongkahan es sepertimu." Ucapnya membuat Mad mengembuskan nafasnya pelan.


"Jomblo karatan." Ucap Ellard kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar.


"Mad."


"Ya tuan." Jawab tegas Madrick.


"Kau sudah bertemu wanita itu?."


"Nona Vio? saya sudah bertemu dengannya tuan."


"Bagaimana menurutmu?." Tanya Darren sambil menyilangkan kakinya dan mengetuk jari-jarinya disofa.


"Seperti yang anda duga, tuan besar Herry yang ada dibalik ini semua." Jawab Mad.


"Pria tua itu sudah mulai berulah."


"Saya akan mengurusnya tuan."


Darren menganggukkan kepala menanggapinya, "Mad, aku harap kau bisa menjaga brandal itu dengan baik." Ucap Darren dengan raut wajah serius.


"Saya akan menjaga tuan muda dengan nyawa saya sendiri, tuan." Jawabnya tegas tanpa mengubah raut wajahnya.


****


Sinar matahari masuk melalui celah-celah gorden besar kamar, dua insan sedang tidur sambil berpelukan dibawah selimut spring bed hangat, suhu cuaca hari ini benar-benar sangat dingin membuat sepasang suami-istri itu semakin tidak ingin membuka matanya. Apalagi karena kegiatan panas mereka semalam membuat keduanya tepar kelelahan.


"Enghh." Dara menggeliat dalam tidurnya membuat tangan kekar yang ada di pinggangnya semakin mempererat pelukannya.


"Sayang." Ucap Dara dengan suara serak sambil mengucek matanya.


"Ell." Panggilannya sekali lagi saat tidak ada pergerakan dari tangan kekar itu.

__ADS_1


Dara melihat kearah jam dinding ternyata sudah pukul sepuluh pagi, untung saja dirinya sudah sholat subuh. Gara-gara pria yang sedang memeluknya ini meminta melakukan hal itu lagi dengannya membuatnya bangun kesiangan.


"Sayang." Panggil Dara sambil mengelus kepala Ellard yang ada di dadanya.


"Hm."


"Sayang, kamu tidak kekantor?." Tanya Dara, bermaksud agar pria ini melepaskan pelukannya.


"Tidak, aku ingin bersamamu seharian ini." Jawab Ellard membuat Dara tiba-tiba bergidik, berdua? seharian? pikir Dara sambil menelan salivanya.


"Apa paman-, maksudku Dad Darren tidak marah?."


"Tidak."


Dara hanya menghembuskan nafasnya pelan, tiba-tiba pikirnya teringat dengan pria datar didalam lift kemarin. Jika pria itu masuk ruang kerja ayah mertuanya itu berarti dia orang penting.


"Sayang." Panggil Dara, mengetes apakah Ellard tidur lagi atau tidak.


"Hmm."


Dara merangkai kata-katanya agar tidak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Dirinya masih ingat jelas jika Ellard pria yang gampang sekali cemburu.


"Emm, sayang aku kemarin melihat pria asing disini." Ucap Dara kemudian menahan nafasnya menunggu respon Ellard, ia sudah merangkai dengan baik bukan? dirinya tidak akan membuat macan terbangun kan? pikirnya.


"Siapa?." Tanya Ellard mendongakkan kepalanya melihat wajah Dara tajam.


Sekali lagi Dara menelan salivanya sendiri sepertinya kalimat itu sudah yang paling sederhana, tapi pria ini?.


"A-aku tidak tau sayang, makanya aku bertanya padamu."


"Apa pria itu tampan?." Tanya Ellard menatap wajah Dara menunggu jawaban gadis itu.


Dara gelalapan untuk menjawabnya, pria kemarin memang tampan tapi mengatakannya didepan Ellard itu sama saja memulung masalah bukan?.


"T-tidak." Jawab Dara sambil menggelengkan kepalanya.


"Dia jelek kan?."


"Aku lebih tampan darinya bukan?."


"Iya." Dara tidak berbohong kali ini, pria kemarin memang tampan tapi tidak lebih dari Ellard. Ellard masih memegang nominasi pria tertampan yang pernah Dara temui.


"Aku tau itu." Jawab Ellard tersenyum puas kemudian kembali menenggelamkan wajahnya didada Dara.


"Jadi sayang sebenarnya siapa dia?." Tanya Dara penasaran.


"Asisten pribadiku." Jawab Ellard membuat Dara mengerutkan keningnya.


"Asisten?."


"Ya, aku membutuhkannya saat menjadi pengganti Darren nanti." Jelasnya.


"Apa seperti paman Ken?."


"Iya sayang."


Dara menganggukkan kepalanya tanda mengerti, "Siapa namanya, sayang?." .


"Mad."


"Mad?." Ucap Dara mengulangi ucapan Ellard saat merasa nama itu terlalu singkat.


"Madrick." Jelas Ellard membuat Dara mengangguk lagi, dua detik kemudian dirinya terkejut.


"Sayang, nama paman Ken-."


"Mad anaknya." Jawab Ellard memotong ucapan Dara.


"Ah pantas saja." Ucap Dara sambil tertawa kecil, ternyata ayah dan anak memiliki sifat yang sama, datar pikirnya.

__ADS_1


****


Sebuah kamar berwarna abu-abu dengan dominan putih seorang wanita berambut pirang dan juga baju kimono pink masih melekat ditubuh rampingnya. Tanganya gemetar saat dirinya mendial nomor seseorang, wanita itu melangkahkan kakinya menuju kursi sofa dan mendudukkan dirinya disana.


"Halo Vio"


"Halo kakek." Sapanya dengan suara parau.


"Ada apa sayang."


"Ini gawat kakek!."


"Ada apa."


"M-mad kembali kek." Ucapnya kemudian diiringi isak tangis kecil wanita itu.


"Madrick?!." Tanya pria tua disana sambil mengeram marah.


"Siapa lagi jika bukan dia kek! pria itu sepertinya sudah mengetahui semuanya tentangku." Ucap Violla dengan nada cemas.


"Itu pasti, ternyata Darren sudah menyiapkan semuanya."


"Lalu bagaimana kek."


"Tunggu aku kembali, selama itu kau harus mengulur waktu."


"Bagaimana caraku-."


Tut


Violla langsung melemparkan ponselnya saat pria tua disana memutuskan sambungannya sepihak.


"Aku bisa mati ditangannya." Ucap Vio cemas sambil mengigit kuku jarinya.


Flashback on


"K-kau mau apa M-mad." Tanya Vio saat dirinya berusia delapan tahun.


Seorang laki-laki berusia sebelas tahun itu tersenyum smrik membuat Vio kecil ingin menangis rasanya.


"Nona, apakah kau mengadu pada tuan besar Herry jika tuan muda membuatmu jatuh dari sepeda?." Tanya Mad dengan nada penuh tekanan.


"A-aku." Ucap Vio tidak bisa melanjutkan ucapannya dirinya terlalu ketakutan. Bola matanya bergerak kekanan dan kekiri mencari jalan agar bisa kabur dari anak laki-laki didepannya yang sedang memojokkannya Kedinding.


"Anda tau nona? gara-gara kebohongan anda itu tuan muda menerima pukulan dari tuan besar." Ucap Mad sambil mengepalkan tangannya.


Badan Vio langsung gemetar hebat apalagi melihat wajah anak laki-laki itu memerah, "A-aku t-tidak tau jika kakek a-akan-."


Jeduk


Belum sempat anak perempuan itu menyelesaikan ucapannya yang terbata, Mad langsung menjambak rambutnya dan membenturkan kepalanya didinding membuat kepala gadis kecil itu berdarah.


"Arkhhh." Teriak Violla kesakitan sambil menangis dengan keras dan memegangi keningnya.


"Menangislah nona, hanya itu bukan senjata yang anda miliki? Anda selalu membuat masalah dan menyalahkan tuan muda yang lalai menjaga Anda." Ucap Mad kemudian melenturkan kembali kepala gadis kecil itu kedinding sampai membuat Violla tidak sadarkan diri.


Mad langsung pergi meninggalkan Vio yang tergeletak dilantai dengan darah bercucuran dari kepalanya.


Aku akan melenyapkannya jika dia membuat ulah lagi. Batin Mad sambil mengepalkan tangannya.


Karena kejadian itu Violla harus masuk ICU karena kekurangan darah. Sejak itu Vio selalu ketakutan saat melihat Mad disekelilingnya dan anak laki-laki itu selalu tersenyum saat melihat tubuh Violla yang gemetar ketakutan karena dirinya.


Tidak lama setelah kejadian itu Mad dikirim pergi kesuatu tempat. Dan karena Mad pergi perlahan Vio mulai mencari perhatian Ellard dan selalu menempel padanya. Sejak Mad pergi hidupnya benar-benar menyenangkan, Ellard menjadi perhatian dengannya karena kerja kerasnya sendiri walaupun masih juga dengan paksaan kakeknya tapi dirinya tidak perduli yang terpenting Ellard selalu bersamanya.


Flashback off


Tapi sekarang dia sudah kembali, Ellard juga lepas dari genggaman ku. Batin Violla dengan wajah pucat pasi.


****

__ADS_1


Bersambung...


"Risau terhadap dunia adalah kegelapan bagi hati, sedangkan risau terhadap akhirat adalah cahaya bagi hati."~Usman bin Affan


__ADS_2