Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Terkurung lagi


__ADS_3

Dara mengerjapkan matanya beberapakali ia menunduk saat merasa ada tangan kekar memeluk pinggangnya. Dirinya melirik kearah jam dinding, ia harus segera sholat subuh. Dara perlahan mengangkat tangan Ellard sambil berdoa semoga pria ini tidak terusik dengan tindakannya.


"Mau kemana?." Tanya pria itu dengan suara serak sambil mempererat pelukannya.


"Sholat sayang."


"Ell." Ucap Dara lagi saat pria itu tidak melepaskan pelukannya.


"Hm." Jawab Ellard sambil menarik tangannya dipinggang Dara.


Dara menghembuskan nafasnya kemudian bangun dari tidurnya perlahan. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Ellard juga ikut bangun dari tidurnya.


"Ada ap-, Ell!." Pekik Dara saat merasa tubuhnya melayang.


Ellard mengendong gadis itu turun dari tempat tidur kemudian berjalan kearah kamar mandi.


"Kau masih sakit sayang, aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesuatu sendiri." Ucap Ellard disela-sela langkahnya menuju kamar mandi.


*****


Ellard memeluk pinggang Dara dari belakang saat gadis itu sedang membuka tirai kamar mereka.


"Kau seharusnya istirahat saja." Ucap Ellard kemudian memberi gigitan kecil dileher gadis itu.


"Aku sudah tidak apa-apa sayang, sungguh." Jawab Dara yakin.


"Mulai sekarang kau tidak perlu kesekolah, aku meminta Ken mendaftarkan mu homeschooling." Ucap Ellard membuat Dara langsung mendongakkan kepalanya terkejut.


"Tapi Ell-."


"Aku tidak menerima penolakan, kau tidak ingin menuruti perintahku?." Tanya Ellard melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh Dara menghadap dirinya.


"Tapi sayang bukankah aku tinggal mengikuti ujian saja, sayang jika-."


"Aku tidak peduli, kau bisa mengikuti ujian dirumah aku tidak akan mengambil resiko untuk yang kedua kalinya." Ucap Ellard membuat Dara bungkam. Jika pria didepannya ini sudah memutuskan tidak akan ada yang bisa merubahnya bahkan dirinya sekalipun.


"Sekarang kau harus sarapan." Ucap Ellard sambil melangkah mengambil telepon diatas nakas.


"Sayang kita makan dibawah saja." Ucap Dara saat tau apa yang akan dilakukan pria itu.


"Kau pikir aku akan mengijinkan mu keluar kamar hari ini?." Ucap Ellard kemudian mengambil gagang telepon.


"Antar sarapan kekamar, sekarang." Ucapnya kemudian meletakkan kembali gagang teleponnya.


Dara menelan salivanya sendiri saat mendengar ucapan Ellard, itu artinya dirinya akan terkurung dikamar ini lagi? pikirnya tidak percaya.


"Ada apa?." Tanya Ellard saat melihat raut wajah pias istrinya.


"Ti-tidak."


Ellard menarik salah satu sudut bibirnya keatas, ia tau jika Dara sedang mengerutu dirinya didalam hati. Tapi dia tidak peduli, lagi pula ini untuk kebaikan istrinya juga.


****


Ellard menutup pintu kamarnya perlahan dirinya meninggalkan Dara yang sedang terlelap dalam tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, ia harus menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan dikantor. Tapi berhubung dirinya tidak mau dan tidak bisa meninggalkan Dara, ia harus mengerjakannya dari rumah.


Baru saja keluar dari dalam lift suara Violla membuat langkahnya berhenti.


"Hai Ell." Sapanya sambil berjalan mendekat kearah Ellard.


"Ya ada apa?."


"Aku dengar kemarin Dara diculik? bagaimana keadaannya sekarang? maaf aku tidak membantu mencarinya kemarin, kau tau kan aku memiliki penyakit yang serius aku kemarin memiliki janji dengan dokter pribadiku yang kebetulan sedang ada di Amerika." Jelas Violla dengan wajah sendu dan nada penuh penyesalan.


"Tidak apa, Dara juga baik-baik saja lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan mu?." Tanya Ellard balik, mengingat kata diculik membuat darahnya mendidih dirinya tidak tahan untuk segera menangkap pelakunya dan memberikan hukuman setimpal dengan perbuatannya.

__ADS_1


"Dokter masih menyarankan untuk minum obat, tapi aku takut Ell jika sewaktu-waktu kangkernya menyebar." Ucap Vio sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya.


"Kau pasti akan sembuh Vio, kau hanya harus mengikuti saran dari dokter dan jangan pernah menyerah." Ucap Ellard menyemangati wanita didepanya ini.


"Tapi aku takut Ell..." Ucapnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ellard.


Ellard terkejut dengan tindakan tiba-tiba wanita itu saat akan melepaskan pelukannya dirinya mendengar isak tangis Violla membuatnya mengurungkan niatnya.


Dering ponsel disaku celana Ellard membuatnya melepaskan pelukan Violla dari tubuhnya. Wanita itu mengeram tapi dirinya juga tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya bisa melihat Ellard yang sedang mengangkat telepon didepannya.


"Ya, baiklah." Ucap Ellard menutup sambungan teleponnya kemudian memasukkan kembali ponselnya disaku celananya.


"Siapa Ell?." Tanya Violla dengan suara serak sambil menghapus sudut matanya yang berair.


"Aku ada urusan Vio, aku tinggal dulu ya." Ucap Ellard pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.


Kenapa kau harus kembali Dara! seharusnya kau mati saja. Batin Violla sambil mengepalkan tangannya erat.


Flashback on


Violla yang melihat kejadian itu dari balik pilar mengepalkan tangannya erat.


"Kesabaran ku sudah habis, semakin lama gadis itu semakin dekat dengan Ellard. Aku tidak akan membiarkan ini, tunggu saja balasan untukmu karena telah merebut Ell dariku." Ucapnya pelan lalu pergi dari sana sambil mengeluarkan ponselnya


Violla mengunci pintunya saat dirinya sudah masuk kedalam kamar. Wanita itu mendial nomor seseorang kemudian menempelkan benda pipih itu ditelinganya.


"Halo." Suara bariton tegas dari sebrang telpon langsung terdengar ditelinga Vio.


"Halo kakek."


"Ada apa cucu menantu, apa gadis jala*g itu menganggu dirimu lagi."


"Jelas! dia selalu mengangguku gadis itu semakin hari semakin dekat dengan Ellard, aku tidak menyukainya kek aku ingin menyingkirkannya secepatnya." Ucapnya dengan nada penuh kekesalan.


"Sabar, banyak orang yang mendukungnya, kau tau putra tidak tahu diriku bukan? dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada istri anaknya."


"Dia tidak akan membunuhmu, aku akan ke Amerika secepatnya. Putraku yang tidak tau diri itu sudah membuat perusahaanku goyah sepertinya dia sengaja melakukan itu. Tunggu saja aku, aku akan kembali secepatnya." Ucap pria diseberang telepon dengan nada penuh dengan keyakinan dan kemarahan.


"Aku menunggumu kek."


"Baik selamat tinggal." Ucap Violla kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Violla melemparkan ponselnya keatas tempat tidurnya ia mengusap rambut panjangnya kebelakang dengan kasar, wajahnya memerah menahan amarah saat mengingat kembali kejadian pagi tadi didepan mansion membuat darahnya mendidih.


"Sepertinya Bar tempat yang cocok untukku sekarang." Ucapnya kemudian melangkah mengambil tasnya dilemari pakaian.


Flashback off


Dua orang pria berpakaian casual baru saja masuk kedalam mansion Walton. Mereka berdua duduk disofa ruang tengah sambil mengedarkan pandangannya.


"Adam dimana Ellard?." Tanya Frank saat melihat pria tua melewati mereka sambil membawa sebuah papan catatan berisi menu makan malam dan juga catatan kegiatan para pelayan.


"Tuan muda sedang ada diruang kerja tuan Darren." Jawab Adam.


"Lalu dimana Dara?."


"Nona muda dari tadi pagi belum keluar kamar."


"Apa Bu bos dikurung bos Ell lagi?." Tanya Lay sambil melihat kearah Frank.


"Apa Dara baik-baik saja?." Tanya Frank, biasanya Dara akan keluar kamar jika Ellard sedang tidak bersamanya, gadis itu selalu bercerita jika dirinya bosan berada dikamar seharian.


"Nona Dara baik-."


"Kalian tidak tau? Dara baru saja diculik." Ucap Vio tiba-tiba datang dari arah samping membuat semua mata mengarah kepadanya.

__ADS_1


"Maksudmu?." Tanya Frank sambil mengerutkan keningnya.


"Kau bercanda." Ucap Lay tergelak, mana mungkin ada yang berani menculik Dara sedangkan pawangnya saja seorang macam yang siap mengabisi seseorang yang berani mengusik miliknya pikir Lay.


"Dara kemarin diculik, terserah kalian mau percaya atau tidak." Ucap Vio kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.


"Apa itu benar?." Tanya Frank menatap Adam meminta jawaban pria tua itu begitu juga dengan Lay.


"Nona Dara-." Belum sempat Adam menyelesaikan ucapannya kedua pria itu langsung berlari naik kearah tangga.


Walaupun belum lama mereka berdua kenal dengan gadis berjilbab itu tapi mereka sudah cukup mengenalnya untuk menjadikannya teman dan bahkan seorang adik. Dara, gadis itu yang bisa menjinakkan macan yang sedang mengamuk, dia yang bisa mengendalikan Ellard sebuah hal yang mustahil dilakukan oleh orang lain.


****


Dara keluar dari dalam kamar mandi, ia tidur terlalu awal semalam membuatnya tidak bisa tidur lagi siang ini. Dara menengok kearah pintu saat mendengar suara ketukan keras dari luar. Dirinya mengambil jilbab instannya kemudian berjalan membuka pintu kamarnya.


Tok.....Tok....Tok..


Ceklek


"Bu bos!?"


"Dara?!."


"Eh kalian?." Tanya Dara binggung apalagi melihat wajah mereka berdua yang berkeringat dan nafasnya yang tidak beraturan.


"Ada apa?." Tanya Dara.


"Kau baik-baik saja?."


"Bu bos baik-baik saja?." Tanya mereka berdua bersamaan.


"Aku baik-baik saja." Jawab Dara kikuk, dirinya masih belum mengerti apa yang terjadi pada mereka berdua.


"Aku dengar kau baru saja diculik?." Tanya Frank, ah sekarang Dara tau kenapa dengan mereka berdua, ternyata itu pikir Dara sambil menganggukkan kepalanya.


"Jadi benar!!." Ucap Lay heboh.


"Kau diculik?


"Apa bu bos baik-baik saja?"


"Apa mereka melukaimu?."


"Bu bos kenal dengan penculiknya?."


"Apa Ellard sudah menangkap orangnya?."


Tanya mereka berdua saling bersahutan membuat Dara menggaruk tengkuknya sendiri berpikir cara untuk menghentikan mereka berdua.


"Hei kalian!." Suara seorang pria dari arah belakang membuat kedua pria didepan Dara langsung menghentikan bicaranya.


Lay dan Frank sama-sama menoleh ke asal suara yang mereka sendiri sudah tau siapa pemiliknya.


"Sedang apa kalian disini?."


"Kita dengar Dara diculik jadi kita hanya memastikan jika Dara baik-baik saja." Jawab Frank.


"Dara baik-baik saja sekarang kalian pergilah." Ucap Ellard merengkuh pinggang Dara membawanya kedalam pelukannya.


"Ah baiklah-baiklah." Jawab Frank malas, mereka berdua sama-sama berjalan lift tidak ingin menyaksikan kemesraan dua suami istri yang membuat iri diri mereka sendiri.


Bersambung....


Sedikit ya? maaf ya, udah mentok banget ini

__ADS_1


Lupa like dan komen ya!


Nasihat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya, karena terasa pahit oleh hawa ***** yang menyukai segala yang terhalang. ~ Imam Al-Ghazali


__ADS_2