Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Sakit itu datang lagi


__ADS_3

Darren juga melakukan hal yang sama ia langsung menoleh kearah Dara, keterkejutan sampai saat Ellard mendorongnya kebelakang lalu berlari memeluk istrinya.


"Apa? kenapa sayang?apa kamu merasakan sakit? apa yang sakit?" tanya Ellard cemas, keringat dingin mulai menetes dari keningnya saat menengar tangisan Dara semakin kuat.


"Apa dia tidak diinginkan disini?" tanyanya lirih dengan nada tersendat yang langsung menusuk hati Ellard.


"Sayang bukan-"


"Apa maksudmu Dara?"


Suara Darren membuat Ellard melepaskan pelukannya sembari menatap sengit kearah pria tua itu yang secara tidak langsung membuat istrinya menangis.


Darren berjalan kearah Dara yang sedang menghapus air matanya sendiri, wanita itu terkejut saat tiba-tiba Darren memeluknya.


Darren melupakan jika Dara masih ada disini, ia memang bodoh melampiaskan kemarahannya didepan wanita ini. Wanita yang belum tau apa permasalahan yang mungkin akan ia hadapi kedepannya.


Ia hanya terlalu cemas jika kejadian dulu terulang kembali, Darren benar-benar akan menghancurkannya jika orang itu kembali merusak kebahagiaan keluarganya walaupun itu ayahnya sekalipun


"Tentu saja aku senang karena aku akan menjadi kakek muda, bukan begitu?" ucapan sambil mengelus lembut kepala Dara yang berada didada bidangnya.


Pria tua itu bahkan tidak memikirkan semerah apa wajah anaknya sekarang.


Damn!! batin Ellard sambil mengangkat tangannya bergerak ingin memisahkan ayahnya yang sembarangan memeluk Dara, wanitanya.


Ellard mengurungkan niatnya saat akan menjauhkan Darren dari istrinya karena melihat wajah Dara yang mulai tenang dalam pelukan pria itu.


Dan untungnya ia hanya melihat ketulusan sebagai seorang ayah pada anaknya saat melihat Darren memeluk Dara.


Bukan seperti dulu, ia seperti melihat pantulan dirinya sendiri saat melihat Darren menatap Dara. Itu tatapan teduh penuh makna didalamnya. Tetapi kali ini berbeda, ia melihat Darren benar-benar tulus memeluk Dara selayaknya putri sendiri.


"Tidak perlu memikirkan macam-macam, aku benar-benar senang mendengar kalian akan segera miliki anak. Hanya saja Dara, aku menyayangkan masa depanmu. Kamu baru saja lulus sekolah, tanpa mencari saja kamu pasti langsung diterima di perguruan tinggi manapun tapi karena kau berbadan dua sekarang aktivitas mu akan terbatas. Dan aku tidak akan membiarkanmu berkuliah saat sedang mengandung, itu demi kebaikanmu dan anak kalian Ellard pasti berpikiran sama sepertiku"


jelas Darren kemudian melepaskan pelukannya, tangan pria itu mengelus lembut kepala Dara sambil tersenyum membuat wanita itu ikut menerbitkan senyum di bibirnya.


"Aku mengerti Dad" ucap Dara sambil mengangguk.


"Baguslah kalau begitu, sekarang istirahatlah. Jaga cucuku dengan baik aku akan memanggilkan Nike untuk memeriksa kehamilanmu"

__ADS_1


****


Nike meletakkan stetoskopnya diatas nakas dengan gerakan kasar yang menimbulkan suara sedikit keras. Mata pria berjas putih itu menatap tajam kearah Ellard dan Darren bergantian kemudian menghembuskan nafas kasar sambil memijit pelipisnya sendiri.


"Aku paham apa yang kalian rasakan saat ini, tapi tolong ingatlah jika aku adalah dokter spesialis penyakit dalam. Jika aku tau kalian memanggilku kesini untuk memeriksa kehamilan Dara, maka aku akan membawa dokter spesialis kandungan bersamaku tadi" ucap Nike dengan raut wajah kesal, ia sedang menjalani rapat penting dirumah sakit tadi tapi tiba-tiba mendapatkan telpon langsung dari Darren yang menyuruhnya segera datang kemansion Walton.


Ia yang panik karena mengira sesuatu telah terjadi kini mencoba meredakan emosinya yang memuncak. Pria yang berstatus sahabatnya lebih dari dua puluh tahun itu memang selalu membuat darah tingginya kumat. Apa susahnya berbicara jika Dara membutuhkan dokter kandungan? bukannya telfon dan mengatakan 'Datang kemari secepatnya, tidak ada bantahan' setelah itu sambungan terputus. Gila memang.


"Aku tidak ingat" jawab Darren yang langsung membuat Nike tambah kesal.


"Kalian bisa pergi dari kamarku? istriku harus istirahat"


"Bocah sialan" umapat Nike pelan.


Darren tersenyum tipis sambil mengelus kepala Dara yang sudah tertidur di ranjangnya.


"Dia kelelahan" ucap pria tua itu pelan sambil terus mengembangkan senyumnya.


Ellard dengan cepat menepis tangan ayahnya membuat Darren tergelak pelan.


"Jaga Dara, aku pergi dulu"


"Kau tidak tahu kedepannya akan seperti apa, mungkin akan sangat sulit" ucap Darren sebelum melangkah pergi meninggalkan Ellard dengan tanda tanya besar di kepalanya.


"Ya pasti sulit, karena aku akan menjadi ayah" gumam Ellard.


****


Nike ikut mendudukkan dirinya disebelah Darren yang sedang memegang segelas anggur ditangannya. Dokter berkisaran umur empat puluh tahunan itu mengulurkan tangannya mengambil gelas kristal dimeja lalu menuangkan alkohol kedalamnya.


"Aku tau apa yang kau khawatirkan"ucap Nike kemudian meneguk minuman ditangannya.


Darren meneguk habis anggur digelasnya kemudian meletakkan gelas itu dimeja dengan kasar.


"Aku mungkin tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya, apalagi dengan tindakan Ellard yang sudah resmi membocorkan statusnya tadi siang"


"Yah kau benar, berita itu pasti sudah menyebar dengan cepat ke penjuru Amerika"

__ADS_1


"Aku harus mulai waspada"


Keduanya menoleh saat mendengar pintu diketuk dari luar.


"Mad"


Madrick menundukkan kepalanya singkat lalu berjalan mendekat kearah Darren.


"Tuan, wanita itu menghabiskan waktunya di Bar dan mungkin mendengar tuan muda kembali dia akan segera datang lagi"


"Kapan kau akan membereskannya, Mad?" tanya Darren geram.


"Beri saya waktu lagi tuan, mencabut rumput liar sampai ke akar terdalamnya sedikit memakan waktu lebih lama"


"Wanita itu pasti tidak akan tinggal diam jika mengetahui kehamilan Dara. Kau paham apa yang ku maksud bukan?"


"Ya tuan, saya akan menjaga nona Dara dan calon pewaris Walton dengan baik"


***


Ellard mengeliat dalam tidurnya sambil merintih kesakitan. Bibirnya pucat dan matanya sayu, pria itu memegang dada kirinya sambil mengerjapkan matanya.


"Sialan" desisnya pelan saat merasakan rasa sakit luar biasa disekitar jantungnya.


Ellard menoleh kesamping tepatnya disebelah tempat tidurnya melihat wajah istrinya yang masih nyenyak menjelajah alam mimpi.


"Sayang" ucapnya lirih dengan nada suara serak.


Ellard menelan ludah kasar saat merasa rasa sakitnya semakin lama semakin menjadi. Pria itu perlahan bangkit dari tempat tidurnya, bersender disandaran tempat tidur. Ia mencengkram dada kirinya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk membuka laci disamping tempat tidur.


Ellard mengambil satu pil obat lalu menelannya kemudian meneguk segelas air putih yang sebelumnya sudah berada diatas nakas.


Ellard masih duduk bersandar sambil mengatur nafasnya yang entah kenapa terasa berat, tangan yang sebelumnya ia letakkan didada terangkat untuk menghapus bulir-bulir keringat didahinya.


Saat rasa sakitnya berangsur hilang Ellard menoleh kearah Dara yang sama sekali tidak terusik tidurnya, mungkin bawaan hamil atau kelelahan.


Tangannya terulur mengelus rambut panjang istrinya, senyum tipis tersemat di bibir pria itu saat melihat wajah damai istrinya.

__ADS_1


Sebenarnya kenapa denganku? batinnya sambil menatap kosong kedepan.


__ADS_2