Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab

Cinta Sang Tuan Muda Arogan Dan Gadis Berhijab
Dia Datang!


__ADS_3

Ini sudah satu minggu dari kejadian penculikan itu dan hari ini adalah hari terakhir Dara mengerjakan ujian Nasional.


Dara keluar dari ruang belajarnya ditemani seorang wanita paruh baya dibelakangnya.


"Hopefully your grades satisfy Dara."


(Semoga nilai kamu memuaskan Dara.)


"Thank you Mrs."


(Terimakasih Mrs)


"Then I'll say goodbye first."


(Kalau begitu saya pamit dulu)


"Take care Mrs and thank you for your time."


(Baik hati-hati Mrs dan terimakasih untuk waktunya)


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kearah pintu keluar mansion. Dia adalah pengawas ujian yang dikirim untuk mengawasi Dara mengerjakan ujian Nasional personal. Ujian dilakukan empat hari berturut-turut dengan satu mata pelajaran berbeda disetiap harinya. Ellard juga mengikuti ujian tapi pria itu langsung pergi kekantor setelah mengerjakannya, bisa dibilang jika Ellard sudah menjadi pria sibuk sekarang.


Ting


Dara melangkahkan kakinya masuk kedalam lift saat pintunya terbuka.


****


Dara masuk kedalam kamarnya lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Gadis itu menghela nafasnya, seminggu sudah dirinya hanya berada dikamar, keluar pun hanya untuk sekedar mengerjakan ujian atau makan bersama dibawah. Bukannya kurang merasa bersyukur dirinya hanya merasa bosan, ibaratnya dia sekarang sedang dikurung disangkar emas. Mewah memang, tapi lama-kelamaan itu membosankan.


Biasanya gadis itu memiliki jadwal padat setiap harinya, mulai dari bersekolah, kerja part time, dan membersihkan tempat kostnya. Belum lagi jika dirinya tidak memiliki uang ia harus berjalan kaki dari tempat kostnya menuju sekolah dan tempat kerjanya, itu tidak membutuhkan waktu yang singkat bukan?.


Dan sekarang, hidupnya berubah 180° kearah yang tidak pernah dibayangkan oleh dirinya sendiri. Dara bergelut dengan pemikirannya sendiri sampai rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya.


****


Gadis berjilbab hitam keluar dari dalam kamarnya, dirinya sudah melaksanakan sholat ashar ternyata ia tidur cukup lama juga. Dari pada hanya tidur, makan dan menonton televisi dikamar lebih baik dirinya kerumah belakang. Melihat tanaman bunga disore hari sepertinya pilihan yang bagus untuk menghilangkan rasa jenuhnya pikir gadis itu.


Dara menekan tombol lift ia menundukkan kepala melihat sandal kelinci bulunya yang ia kenakan, sepertinya sedikit terkena air saat ia pergi kekamar mandi tadi untuk mencuci muka pikirnya.


Ting


Pintu lift terbuka Dara mendongakkan kepalanya sambil melangkah masuk baru satu langkah ia berjalan gadis itu langsung diam mematung sambil melebarkan matanya. Didepanya, tepatnya didalam lift berdiri seorang pria dengan stelan jas hitam sedang menatap tajam kearahnya.


"Anda mau masuk, nona." Suara berat itu menyadarkan Dara dari lamunannya. Pria didalam lift itu menahan pintunya agar tidak tertutup sambil menatap kearahnya.


Dara menganggukkan kepalanya pelan lalu masuk kedalam saat pintunya tertutup Dara mencoba mendongakkan kepalanya mencuri pandang pria disampingnya ini.


Sejenak Dara terkesiap melihatnya wajahnya benar-benar sangat tampan, rahang tegas, alis tebal dan hidung mancung jangan lupakan matanya yang selalu menatap tajam apa yang dilihatnya membuat pria itu terlihat, sempurna!.


Dara menggelengkan kepalanya saat pikiran-pikiran itu muncul di kepalanya.


Dosa Dara!. Batinnya sambil memejamkan matanya.


Entah kenapa Dara merasa atmosfer disekelilingnya menjadi dingin, ia mendongakkan kepalanya lagi melihat wajah pria itu. Datar, hanya itu raut wajah yang ditampilkan pria disampingnya ini. Bahkan pria ini hanya menatap lurus kedepan melihat pintu lift didepannya dengan pandangan menusuk. Tiba-tiba bulu kuduk Dara berdiri, gadis itu mengeser langkahnya menjauh dari pria itu. Sekarang Dara merasa lift ini bergerak sangat lambat, kenapa tidak sampai-sampai! pikirnya.


Di lantai bawah


Dua orang pria mengenakan seragam sekolah yang acak-acakan sambil menggendong tas dibahu kirinya.


"Akhirnya lulus juga, ah selamat tinggal sekolah membosankan!!." Teriak Lay berjalan kearah lift sambil merentangkan kedua tangannya ke udara.


"Nilai saja belum keluar, kau yakin sekali jika bisa lulus." Cibir Frank lalu meneguk segelas starbucks ditangannya.


"Kau pikir aku sebodoh itu? soal-soal tadi hanya sebuah angin lalu untukku." Jawabnya sambil membusungkan dadanya.


"Jika kau pintar kenapa merengek meminta jawaban padaku tadi." Ucap Frank dengan wajah menyebalkan membuat Lay tidak tahan untuk menendang pria itu.


"Hei kau bermimpi?! aku tadi hanya memastikan jika jawabanmu benar." Ucapnya mencoba mengelak.


"Oh ya? lalu bagaimana jawabanku apa itu benar?." Ucap Frank sambil memincingkan matanya dan tersenyum puas saat melihat wajah kesal Lay.


"Kau-."


Ting


Mereka berdua mengentikan perdebatannya kemudian sama-sama melihat kearah lift.


Bruk


Gelas kopi ditangan Frank langsung jatuh dari genggamannya saat melihat seorang pria berdiri didalam lift sedang menatap datar kearahnya. Sedangkan badan Lay langsung gemetar hebat saat melihat pria itu menarik sedikit bibirnya, walaupun tidak akan terlihat oleh mata orang normal lainnya tapi itu berbeda untuk Lay dan Frank. Karena itu adalah alarm bahaya untuk mereka.


"Ti-tidak." Ucap Lay dan Frank sambil menggelengkan kepalanya cepat dan berjalan mundur.


Dia kembali. Batin Lay dan Frank bersama sambil menelan salivanya.


"Halo tuan." Sapa pria itu tanpa menampilkan sedikitpun wajah ramahnya tapi sudah membuat Lay dan Frank jatuh terduduk saat berjalan mundur, mereka berdua cepat-cepat berdiri kemudian berlari tergopoh-gopoh secepat mungkin kearah pintu keluar mansion.

__ADS_1


"Ada apa dengan mereka?." Ucap Dara pelan pada dirinya, kemudian ia mendongakkan kepalanya melihat wajah pria itu.


Pria disamping Dara langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift tanpa menengok kebelakang. Dara ikut keluar matanya melihat punggung pria itu yang semakin menjauh. Dirinya mengerutkan keningnya binggung menebak-nebak siapa sebenarnya pria datar itu. Dara semakin penasaran saat melihat pria tadi memasuki ruang kerja Darren, dimana ruangan itu bukan ruangan yang bisa dimasuki sembarang orang.


Sebenarnya dia siapa?. Tanya Dara dalam hati, jika dilihat dari segi fisik pria datar tadi terbilang sempurna. Tapi seperti yang di bilang banyak orang di dunia ini tidak ada yang sempurna, kesempurnaan itu hanya milik tuhan. Begitu juga pria tadi, wajahnya tampan, badannya lumayan tapi tampang dingin dan datar pria tadi membuat nilai minus untuknya.


Dara tiba-tiba tergelak dalam hati kenapa dirinya jadi memikirkan pria datar tadi? pikirnya menggelengkan kepalanya kemudian berjalan kearah rumah belakang.


*****


"Nona?!." Ucap terkejut seorang wanita yang sedang membawa alat kebersihan ditangannya.


"Hai!." Sapa Dara sambil mengangkat tangannya.


"A-ada apa anda kemari nona?." Tanya wanita itu kemudian dengan cepat menyenderkan alat penyedot debu didinding dan berlari kecil kearah Dara.


"A-ada sesuatu yang anda butuhkan, nona?." Tanya wanita itu sambil menundukkan kepalanya takut. Berita tentang kedatangan Dara ketempat tinggal para pelayan dimalam hari dan membuat tuan muda Ellard marah besar langsung tersebar cepat ditelinga para pelayan dan penjaga mansion Walton. Mereka harus lebih berhati-hati jika menyangkut nona mudanya ini.


"Eh tidak-tidak, aku hanya ingin mencari teman, kamu mau minum teh bersama ku?." Tanya Dara berharap jawaban dari wanita didepannya ini.


Jantung pelayan itu rasanya ingin berhenti berdetak, dirinya ingin menolak tapi melihat tatapan nona muda didepanya ini rasanya ia tidak berani. Tapi menyetujuinya juga bukan hal yang baik, mengingat saat kekacauan malam itu para pelayan langsung diberi ultimatum panjang lebar dari Adam.


"Tenang saja tidak akan ada yang marah." Ucap Dara saat tau apa yang dipikirkan wanita didepannya ini.


Pelayan wanita itu tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya kecil.


"Baiklah ayo." Ucap Dara tersenyum lalu berjalan kearah kursi kayu dibawah pohon rindang.


"Sa-saya buatkan tehnya dulu, nona." Ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.


Dara mengangguk menjawabnya, "Dua cangkir ya." Ucapnya sebelum pelayan itu berbalik.


"B-baik nona." Jawabnya kikuk kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam dapur para pelayan.


****


Seorang pria berjas hitam sedang duduk di sofa, matanya fokus melihat layar laptop dimeja. Jari-jari pria itu menari lincah diatas keyboard, pandangannya tajam penuh konsentrasi. Tidak ada senyuman di bibirnya, hanya raut wajah datar saja yang selalu ditampilkan. Pria itu merogoh saku jasnya saat merasa ponselnya bergetar.


"Kau sudah sampai?." Tanya pria paruh baya dari sebrang telpon.


"Hm."


"Tunggu tiga puluh menit lagi tuan muda dan tuan Darren akan segera kembali."


"Baik, ada lagi?."


"Tidak."


Pria itu menutup laptopnya kemudian berjalan dengan langkah lebarnya kearah pintu keluar.


****


"Ayo duduk, kenapa hanya berdiri saja disana." Ucap Dara membuat pelayan wanita itu menggelengkan kepalanya pelan.


"T-tidak nona, saya berdiri saja." Jawabnya.


"Tidak apa-apa." Ucap Dara berdiri kemudian menarik tangan wanita itu pelan mengajaknya duduk di kursi.


"Nah begini kan enak, jangan menunduk begitu apa wajahku menakutkan?." Tanya Dara bercanda, tapi sepertinya wanita disampingnya ini menganggapnya serius dirinya menggelengkan kepalanya cepat sambil mendongakkan kepalanya.


"T-tidak nona, anda sangat cantik." Jawabnya cepat.


Dara terkekeh kecil saat melihatnya dirinya mengambil secangkir teh kemudian meneguknya pelan.


"Oh iya aku hampir lupa siapa namamu?." Tanya Dara sambil meletakkan tehnya diatas nampan.


"Saya Rita, nona."


Dara menganggukkan kepalanya tanda mengerti, "Rita berapa lama kamu kerja disini?." Tanya Dara.


"Saya baru enam tahun mengabdi kepada keluarga Walton."


"Enam tahun ya?." Tanya Dara sambil menganggukkan kepalanya, lama juga pikirnya.


"Rita, bagaimana sifat Ellard dulu?." Tanya Dara antusias sepertinya mengetahui sedikit tentang Ellard membuat rasa penasarannya sedikit terobati mengingat pria itu pernah berbicara jika ia tidak pernah merasakan kasih sayang.


"Nona, saya-." Ucap pelayan wanita itu tidak berani melanjutkan bicaranya.


"Tidak apa-apa Rita, bukankah aku istrinya Ellard?, aku hanya ingin mengetahui sedikit tentangnya." Ucap Dara saat melihat keraguan dimata wanita disampingnya ini.


"Tuan muda itu, beliau-." Ucapannya terputus, tenggorokannya tercekat saat melihat seorang pria dari balik pilar besar sedang menatap tajam kearahnya. Dirinya tau siapa pria itu, orang-orang terdahulu yang sudah bekerja puluhan tahun dimansion ini pernah menceritakan kepadanya.


Pria itu mempunyai aura yang sangat menyeramkan tatapannya tajam siap menembus mata siapa yang berani melihat kearahnya.


"Rita, ada apa?." Tanya Dara cemas saat melihat badan wanita itu bergetar dan keringat bercucuran dari dahinya.


"N-nona, se-sepertinya saya masih memiliki pekerjaan, sa-saya pamit dulu nona." Ucap pelayan itu berdiri dari duduknya sambil menundukkan kepalanya menghindari tatapan maut dari kejauhan yang seakan siap membunuhnya.

__ADS_1


"Tapi-, baiklah." Jawab Dara saat melihat tubuh itu semakin bergetar.


"T-terimakasih nona, kalau begitu saya pamit dulu." Ucapnya, saat mendapat anggukan kepala dari Dara wanita itu langsung berlari pergi meninggalkan Dara yang sedang menatap bingung kearahnya.


*****


Seorang wanita cantik berambut pirang mengenakan dress hitam selutut sedang berdiri disamping kolam renang sambil menempelkan benda pipih ditelinganya, wanita itu berbicara dengan nada serius kepada pria tua diseberang telepon.


"Aku tidak tau mereka sudah melakukan hubungan suami-istri atau belum. Tapi melihat dari kedekatan mereka, mustahil jika mereka belum melakukannya." Ucap Vio dengan nada kesal sambil mengigit kukunya.


"......."


"Lalu bagaimana jika gadis itu hamil kek! kita akan semakin susah untuk memisahkan mereka."


"......."


"Aku tidak akan menahan diriku lagi jika gadis itu sampai hamil."


"......"


"Ya baiklah, aku menunggumu kek." Ucap Violla kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Wanita itu membalikan badannya lalu mendongakkan kepalanya saat melihat sepasang sepatu pantofel hitam berada tepat didepan sepatu heelsnya.


Spontan wanita itu langsung menjatuhkan ponselnya dan memundurkan langkahnya saat melihat seorang pria yang tidak asing sedang berdiri tepat berada didepannya.


Pria itu menarik sudut bibirnya membuat Violla menahan napasnya, jantungnya berdetak sangat cepat saat melihat pria itu tersenyum.


"Kita bertemu lagi, nona Vio."


Bulu kuduk Violla berdiri saat pria itu menyebutkan namanya dirinya menggelengkan kepalanya pelan. Dirinya tau betul siapa pria yang sedang berdiri tepat dihadapannya ini.


"Lama tidak bertemu, nona Violla." Tekan pria itu diakhir katanya.


****


"Aku akan meresmikan kau menjadi penggantiku secepatnya." Ucap Darren disela-sela langkahnya.


Ayah dan anak itu baru saja masuk kedalam mansion diikuti Adam dan Ken dibelakangnya sambil membawakan tas kerja kedua pria itu.


"Terserah." Jawab Ellard tanpa mengalihkan pandangannya kearah ayahnya.


"Sayang!." Panggil Ellard saat melihat Dara akan melangkahkan kakinya menuju anak tangga.


"Aku menunggumu diruang kerja." Ucap Darren kemudian meninggalkan Ellard yang berjalan mendekati istrinya.


"Kau darimana?." Tanya Ellard sambil mencium kening Dara dan memeluk pinggang wanita itu.


"Dari belakang." Jawabnya menurut saat kepalanya ditarik mendekat kearah dada bidang pria itu


"Bukankah kau harus istirahat." Ucapnya sambil mengelus kepala Dara.


"Sayang ini sudah seminggu aku sudah baik-baik saja, sungguh." Jawab Dara meyakinkan pria didepannya ini.


"Sama saja Dara, sekarang kau harus istirahat aku masih ada sedikit pekerjaan. Aku akan menyusulmu kekamar." Ucap Ellard kemudian melepaskan pelukannya.


"Pekerjaan lagi?."


"Iya sayang sedikit lagi setelah selesai aku akan langsung menyusulmu dan sepertinya penantian seminggu ku harus berakhir hari ini." Ucap Ellard sambil tersenyum tipis.


Dara langsung memelototkan matanya mendengar ucapan Ellard, dirinya jelas tau apa yang dimaksud pria ini. Bukankah Ellard menyuruhnya istirahat tapi apa ini?.


"Kau mengerti kan, jadi jangan tidur dulu karena aku akan memakan mu." Ucap Ellard mengecup bibir Dara singkat kemudian berjalan kearah ruang kerja Darren.


Semakin cepat pekerjaannya selesai semakin cepat pula dirinya mendapatkan kenikmatan duniawi yang sudah tertunda seminggu ini.


Sedangkan Dara langsung menundukan kepala sambil melangkah naik anak tangga. Ellard benar-benar tidak tau malu, disini banyak pelayan yang sedang berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka. Dan pria itu dengan santainya mengatakan hal random disembarang tempat.


"Selamat sore, nona." Sapa salah satu maid saat berpapasan dengan Dara.


"I-iya sore." Jawab Dara kemudian mempercepat naik anak tangganya.


*****


"Permainan anda sangat bagus nona, saya harap ini tidak akan berjalan lama."


"M-mad." Ucapnya dengan suara pelan, tubuh wanita itu bergetar hebat dan keringat dingin membasahi pelipisnya.


Bersambung....


Nih orangnya udah muncul, satu kata buat Mad mengerikan.


Like dan komen ya!! vote juga boleh😆


SESAMA MUSLIM ITU BERSAUDARA


Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiallahu 'anhuma mengabarkan bahwa, Rasullullah SAW bersabda,

__ADS_1


"Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dizalimi)."


(HR. Bukhari, 2262 & Muslim).


__ADS_2