
7 bulan kemudian......
Dara merentangkan tangannya keatas sambil menggeliat pelan. Perutnya yang sudah membuncit membuatnya tidak bebas bergerak. Dara membuka matanya perlahan, hal yang pertama ia lihat adalah tangan suaminya yang menyentuh perutnya.
Saat akan menyingkirkan tangan Ellard, pria itu terbangun dari tidurnya lalu melihat sekitar dengan ekspresi linglung.
"Kenapa?" tanya Ellard dengan suara serak membuat bulu kuduk Dara berdiri.
"Mau ketoilet" jawab Dara sambil tersenyum kaku.
Ellard mengangguk, saat Dara akan berdiri pria itu lebih dulu bangun dari tidurnya kemudian menggendong tubuh Dara tiba-tiba.
"Ell aku bisa jalan sendiri. Kamu kan baru bangun nanti bisa jatuh" ucap Dara sedikit kesal, pria ini memang selalu melakukan apapun semaunya sendiri.
"Aku malah lebih khawatir kalau kamu jalan sendiri dengan perut sebesar ini" jawab Ellard lalu mendudukkan Dara di closet.
"Kata dokter lebih baik buat gerak biar lahirannya lancar" balas Dara sambil berdiri berpegangan besi yang menempel di dinding.
"Pasti lancar kan cesar"
"Kalau bisa normal kenapa harus cesar" ucap Dara pelan.
"Dara. Kita sudah membahas ini sebelumnya, aku mau kamu lahiran cesar"
"Tapi sayang-"
"Dara" gertak Ellard sambil menatap wajah Dara membuat wanita itu langsung terdiam.
Dara tau, membahas lahiran pada suaminya bukan hal yang baik. Ellard selalu bermimpi buruk dimalam hari, mimpi berhubungan dengan kehamilannya. Bohong jika dirinya tidak takut, ia takut saat Ellard selalu bilang untuk jangan meninggalkannya. Tapi jika ia tidak bisa menahan diri bagaimana dengan Ellard? suaminya membutuhkan dukungan dan hanya dia yang bisa memberikannya.
"Maaf" ucap Ellard pelan sambil memeluk tubuh Dara dan menyembunyikan wajahnya disana.
"Iya, tidak apa-apa"
****
"Dara! apa kamu tau dasi garis-garis merah disini?!" teriak Ellard dari dalam walk in closet sambil membuka laci tempat dasinya disimpan.
"Itukan sudah kamu pakai kemarin pasti baru dicuci. Pakai yang lain saja!" jawab Dara sambil mengoleskan krim pagi diwajahnya.
"Aku mau pakai yang itu!" kukuh Ellard membuat Dara menghembuskan nafasnya pelan.
"Loh mau kemana?" tanya Dara saat melihat Ellard keluar ruang ganti tanpa mengurangi jas hanya kemeja biru muda dengan lengan yang masih digulung setengah siku.
"Laundry bawah. Sudah ku bilang pada Adam jangan mencuci dasi yang itu dulu tapi kenapa dia tidak mendengar" jawab Ellard kesal kemudian berjalan kearah pintu kamar.
"Aku yang minta paman Adam buat cuci dasinya. Kamu kan punya banyak, pakai yang lain dulu saja sayang" jawab Dara sambil berdiri dari duduknya.
Tangan Ellard menggantung saat akan membuka gagang pintu. Ia berbalik kemudian menekuk bibirnya kebawah.
"Kenapa dicuci?!" ucap Ellard dengan nada bergetar.
Dara yang melihat mata Ellard mulai berkaca-kaca langsung menghampiri pria itu panik.
__ADS_1
"Eh, itukan sudah kamu pakai dari kemarin"
"Tapi aku mau pakai yang itu sayang" rengek Ellard kemudian memeluk tubuh Dara. Dara yang merasa punggung Ellard gemetar hanya menghela nafas berat.
"Kenapa? kan masih ada banyak. Mau aku ambilin?" tanya Dara sambil mengelus punggung Ellard.
Ellard menggeleng, "Itu dasi yang kamu beli. Aku mau pakai itu sekarang kalau enggak ada nggak usah pakai aja" ucap Ellard kemudian melepaskan pelukannya.
Dara yang mendengar alasan Ellard hanya mencoba sabar. Seperti ini hari-hari yang harus ia lalui, ia yang hamil tapi sepertinya Ellard yang terkena sindrom ibu hamil.
"Yakin enggak mau pakai dasi?" tanya Dara diangguki kepala Ellard.
"Yaudah, aku ambil jasnya dulu" Dara berjalan masuk ke walk in closet mengambil jas biru tua dilemari.
***
"Aku berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa langsung telfon. Jangan angkat berat-berat, jangan kecapekan, jangan lupa minum vitaminnya. Makan apa yang diperintahkan dokter Lexa dan juga-"
Dara menutup mulut Ellard dengan telapak tangannya, "Iya sayang. Aku udah hafal" ucap Dara kemudian menurunkan tangannya.
"Aku pulang agak malam, tidur dulu aja ya nanti. Jangan bergadang" ucap Ellard yang dibalas anggukan kepala Dara.
Ellard mencium pucuk kepala Dara kemudian berjongkok dan mencium perut istrinya.
"Jangan nakal oke?" ucapnya sambil mengelus perut Dara.
Dara meringis, sedangkan Ellard terkejut saat tangannya merasakan tendangan kuat dari dalam.
"Hei sudah ku bilang hati-hati!, jangan bermain didalam, ibumu kesakitan tau" ucap Ellard kesal kemudian berdiri menatap wajah istrinya yang sedang menahan tawa.
"Sudah, nanti telat Ell"
"Iya-iya, seminggu lagi cek kandungan kan? Lexa harus memberitahuku jenis kelamin anak kita"
"Iya, dokter Lexa kan sudah janji"
"Jika dia mengingkarinya lagi aku akan mem-"
Cup
Ellard melebarkan matanya saat bibir Dara mengecup bibirnya.
"Sudah, sekarang berangkat ya. Nanti terlambat, hari ini ada meeting kan. Kalau Dad Darren tau kamu terlambat dia pasti marah" ujar Dara.
"Aku tidak takut padanya. Dia marah juga aku tidak peduli. Toh aku juga yang tetap mewarisi perusahaannya" ucap Ellard acuh sambil mengangkat bahunya.
"Iya-iya tuan muda, sekarang berangkat ya. Meeting tidak akan jalan jika anda belum datang" ucap Dara sambil mendorong tubuh Ellard masuk kedalam mobil.
"Ingat! jangan lupa minum vitaminnya. Dan ponselmu harus dalam kondisi aktif, aku akan menelfonmu setiap dua jam" ucap Ellard sebelum ia masuk kedalam mobilnya.
"Iya"
Dara mengangkat tangannya saat mobil Ellard berjalan meninggalkan mansion Walton. Wanita itu berbalik masuk kedalam rumah.
__ADS_1
****
Dara menutup pintu kamarnya berjalan kearah tempat tidur.
"Sekarang mau apa ya?" gumamnya bingung, ini dan itu tidak boleh ia lakukan. Membantah pasti ketahuan karena dinding rumah ini saja mempunyai banyak pasang mata yang melihatnya.
Dara iseng membuka ponselnya, jari-jari lentiknya menggeser-geser layar dengan bosan. Saat tidak sengaja membuka galeri ia melihat foto anak kecil tampan sedang berada di permainan mandi bola. Walau anak itu tidak tersenyum tapi dia bisa membuat hati Dara bergetar saat melihatnya.
"Dami..." gumam Dara sambil melihat foto itu.
Tiba-tiba satu notifikasi masuk kedalam ponselnya, ia melihat pesan itu kemudian membukanya.
@killa_maura
Hii. can i call?
Tanpa membalas pesan sahabatnya, Dara langsung menelfon Killa. Panggilan dialihkan menjadi vidio call.
"Oh....halo nyonya Walton!" sapa Killa senang diseberang sana.
Dara tersenyum senang kemudian menggeser tubuhnya untuk bersandar di kasur.
"Kenapa baru telfon sekarang?" tanya Dara membuat Killa mengerucutkan bibirnya.
"Kamu sekarang bukan orang biasa yang bisa ditelfon sesuka hati"
"Aku masih sama" jawab Dara tidak terima, tangannya sibuk mengelus perut buncitnya dibalas tendangan dari buah hatinya dari dalam.
"Ya, ya. Tapi aku mencari amannya saja. Suamimu itu tidak bisa diajak bercanda kan?" ucap Killa membuat Dara tertawa kecil. Killa menutup mulutnya sendiri dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa?" tanya Dara penasaran.
"Apa suamimu ada disana?" tanya balik Killa.
"Tidak, dia sudah berangkat kerja"
"Syukurlah, ternyata aku menelfon disaat yang tepat" Killa menghembuskan nafasnya lega.
"Bagaimana keadaan keponakan ku?" tanya Killa lagi, terdengar suara 'krek' diseberang telepon sepertinya gadis itu sedang makan keripik.
"Baik, dia sehat"
"Dia laki-laki atau perempuan?"
"Kita juga belum tau, tujuh bulan ini dokter baru akan mengatakannya" jawab Dara.
"Kenapa tidak langsung disampaikan saja, apa susahnya memberi tahu jenis kelamin bayinya" ucap Killa kesal sambil mengunyah keripiknya dengan suara keras.
"Ya bagaimana lagi, Ellard selalu membuat masalah dengan orang lain. Dokter itu kesal dan menunda memberitahukan jenis kelaminnya. Dia bilang akan mengatakannya saat anak kita memasuki usia 7 bulan" jawab Dara sambil tertawa, mengingat ekspresi kesal dokter Lexa dengan pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal suaminya membuat sesuatu menggelitiki perutnya.
"Owh, apa dokter itu dekat dengan suamimu?" tanya Killa penasaran.
"Ya mereka berteman baik" jawab Dara membuat Killa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
***