
"Wajahmu sangat berantakan, aku yakin Mom akan illfeel melihatmu seperti ini."
Darren terkejut langsung menoleh melihat putra tunggalnya yang sedang berdiri disampingnya sambil menatap lurus kearah batu nisan.
"Kau?-" tanya Darren menatap Ellard tidak percaya kemudian pria itu menengok kebelakang melihat Dara yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Darren mengalihkan pandangannya melihat kearah Ellard lagi kemudian melepas kacamata hitamnya dan menghapus air matanya cepat.
Darren mengigit bibir bawahnya ia benar-benar tidak menyangka putra yang dulu selalu ia usir saat acara peringatan hari kematian ibunya sendiri di tempat pemakaman kini berdiri disampingnya.
"Aku tau aku tampan Darren jadi berhentilah menatapku seperti itu" ucap Ellard tanpa menoleh ayahnya, karena dirinya sendiri pasti tidak akan mampu menahan air matanya saat melihat langsung mata Darren yang menyiratkan kesedihan mendalam.
Darren tergelak pelan membuat Ellard sedikit terkejut kemudian Darren merangkul bahu Ellard membuat jarak diantara anak dan ayah itu semakin dekat. Kali ini bukan hanya Ellard yang terkejut melainkan semua orang yang berdiri dibelakang mereka berdua.
"Percaya dirimu tinggi sekali" ucapnya sambil menatap kearah batu nisan, begitu juga dengan Ellard yang terdiam sambil melihat nama ibunya yang tertulis jelas diatas batu nisan.
"Della, putramu sudah besar sekarang ia tumbuh tampan sepertiku, tentu saja seperti aku dia hasil perjuanganku" gumam Darren.
"Dasar gila" umpat Ellard sambil diam-diam menyeka air matanya.
Setelah sepuluh menit dalam keheningan Darren akhirnya menepuk pelan pundak Ellard membuat pria itu menatap kearahnya.
"Aku akan kembali kau?-." Ucap Darren langsung dipotong Ellard.
"Aku masih ingin disini" jawabnya lalu menoleh menatap lurus kearah batu nisan.
"Baiklah." Jawab Darren kemudian memakai kacamata hitamnya lalu berjongkok dan menancapkan sekuntum mawar putih tepat didepan batu nisan bertuliskan nama istrinya.
Kau senangkan? aku juga, kami baik-baik saja sekarang, maafkan aku jika sebelumnya belum menjadi ayah yang baik untuk putra kita. Batin Darren dengan air mata membasahi pipinya kemudian dengan cepat menyekanya mengunakan sapu tangan.
Aku pergi sayang.....kau harus menunggu aku disana, aku berjanji setelah semua tugasku selesai aku akan menyusul mu, tapi sebelum itu aku harus memastikan putra kita hidup dengan baik dan jauh dari gangguan orang-orang yang akan merusak kehidupannya. Batin Darren sambil tersenyum tulus lalu berdiri dan memeluk tubuh Ellard kemudian berbalik pergi meninggalkan pemakaman diikuti Ken, Adam dan para pengawalnya.
Dara berjalan pelan kearah Ellard kemudian menggenggam tangannya erat dibalas tak kalah erat dari Dara.
Mom dia istriku, perempuan pertama yang berhasil singgah di hatiku setelah dirimu. Mungkin aku tidak pernah mengenal bahkan melihatmu tapi aku yakin kau sebaik dan secantik istriku. Aku mencintainya melebihi kehidupanku, dia cahaya yang datang diatas kegelapan yang menyinari hari-hariku yang biasanya kelam.
Terimakasih telah membawaku kedunia ini, menukar kehidupan ku dengan kehidupanmu. Menukar kebahagiaan mu hanya demi membahagiakanku, terimakasih mom telah memberiku kesempatan hadir didunia ini dan merasakan cinta yang asing untukku. Sekali lagi terimakasih mom, I always love you. Batin Ellard kemudian mengecup tangan Dara yang berada di genggamannya membuat kedua manik mata mereka bertemu.
Dara tersenyum saat Ellard mengecup punggung tangannya lalu beralih menatap kearah batu nisan.
****
Darren termenung menatap jalanan dari kaca mobil, ternyata sudah 20 tahun dirinya hidup tanpa Della disisinya. Dulu berbagai cara ia lakukan hanya untuk menyusul istrinya tanpa mempedulikan tangisan putra mereka yang saat itu masih rentan karena harus terlahir prematur. Ia tidak mempedulikan apapun saat itu hanya Della, istrinya yang memenuhi pikirannya.
flashback on
"Darren dimana sepatu biru yang baru aku beli kemarin?!!" teriak Della memenuhi lantai satu mansion.
"Sayang jaga mulutmu itu suaramu bisa putus nanti" jawab Darren sambil berjalan kearah istrinya yang sedang duduk didekat ranjang bayi didekat jendela yang mengarah langsung kekolam renang.
Pria itu menekuk lututnya kemudian memeluk perut istrinya yang sedang duduk.
"Lepas pria tua! sekarang katakan dimana kau menyimpan sepatu putraku?! aku baru saja membelinya kemarin!" ucapnya sambil menarik rambut suaminya pelan.
"Sayang jangan panggil aku tua! aku tidak suka" jawab Darren cemberut membuat tawa Della seketika pecah menggema di ruangan yang ia desain kusus untuk putranya yang tiga bulan lagi akan hadir didunia ini.
"Kau sudah tua Darren lihat ini bukti jika kau sudah menjadi tua sekarang" ucap Della sambil memajukan sedikit perut buncitnya.
"Bukan tua sayang sebentar lagi gelar hot Daddy akan melekat dibelakang namaku jadi kau tidak perlu malu dengan itu. Karena walaupun tua tapi aku tetap mempesona." Ucap Darren sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan tangannya.
"Ck sudahlah pak tua, sekarang katakan mana sepatu biru mungil putraku yang kau bawa kemarin!." Ucapnya sambil berkacak pinggang.
"Aku tidak tau" jawab Darren sambil memajukan bibirnya.
"Darren!!!." Teriak Della membuat Darren. menutupi telinganya.
"Bagaimana bisa kau tidak kau Darren?! ya Tuhan aku baru saja membelinya kemarin. Itu sepatu bayi limited edition tahun ini!!."
"Sayang bagaimana aku bisa tau? kau memborong hampir semua perlengkapan bayi dan semua itu berwarna biru, mungkin sepatu kecil itu hilang saat pengangkutan?." Ucapnya santai membuat kemarahan Della sampai ke ubun-ubun.
"Darren kau-."
Tiba-tiba Darren berdiri dan langsung memegang tengkuk Della kemudian ******* habis bibir wanita hamil itu.
Emphh
Della memukul kasar baru Darren, setelah dirasa cukup Darren melepas ciumannya kemudian tersenyum lebar. Sedangkan Della langsung mengambil udara dengan rakus.
"Dasar...pria...tua gila...aku-."
"Maaf sayang aku tidak tahan dengan bibir mungilmu itu yang selalu bergerak menggoda" ucap Darren membuat Della melotot.
"Pria tua mesum! aku tidak sedang menggodamu sialan!!." Teriak Della kesal sambil melempar guling kecil kearah Darren.
flashback off
__ADS_1
Darren tertawa pelan saat ingatan itu hadir di kepalanya sedangkan Ken yang masih menyetir hanya diam tidak berniat menganggu tuannya karena ia tau akan terjadi apa setelah ini.
Wajah Dara dan Della memang sama tapi sifat mereka bertolak belakang. Batin Darren disela-sela tertawanya.
Dan benar dugaan Ken setelah Darren tersenyum dan tertawa pria tua itu menangis terisak.
"Aku membutuhkanmu" ucapnya pelan, disertai air matanya yang menggenang di pelupuk matanya.
Flashback on
Ternyata rencana yang mereka susuan sedemikian rupa tak sesuai harapan. Hancur semuanya hancur dalam semalam, malam yang selalu Darren sesali seumur hidupnya.
Malam itu Darren harus menyelesaikan pekerjaan penting yang tidak bisa ia tinggalkan. Sedangkan dirumahnya Della dicaci maki habis-habisan dan puncaknya wanita yang sedang hamil itu usir keluar dari kediaman orang tua Darren sendiri karena mereka berdua tinggal disana.
Darren marah besar saat tau Della tidak ada dirumah saat itu, ia kalap apalagi kondisi cuaca sedang hujan deras disertai petir yang menggelegar. Pria itu tidak tau jika kepergian Della bukanlah disengaja melainkan wanita itu diusir secara tidak manusiawi dengan ayahnya sendiri. Para pelayan dan pengawal tutup mulut atas perintah Harry Walton, karena dialah orang yang paling berkuasa dimansion tempat mereka bekerja.
Darren semakin kalut saat dua jam orang-orang yang ia tugaskan mencari istrinya tidak juga memberi kabar. Setelah itu mereka mendapat panggilan dari rumah sakit jika Della ditemukan tergeletak diaspal dengan darah berlumuran disekujur tubuhnya.
Lemas, tubuh Darren langsung merosot kelantai saat tau kabar itu dengan langkah capat ia langsung pergi kerumah sakit.
"D-della." Badan Darren bergetar hebat saat melihat wanita yang dicintainya didorong masuk kedalam ruang operasi.
Ia melihat mata istrinya terpejam rapat dengan darah dimana-mana.
"Hanya satu, istri atau anakmu" ucap Nike lirih ia juga sedih saat akan menyampaikan hal menyakitkan ini dengan sahabatnya tapi hal ini juga harus secepatnya menadapat jawaban dari suami pasien karena kondisi Della kritis.
"Istri! selamatkan istriku dia harus selalu bersamaku." Jawab Darren cepat tanpa berpikir.
***
"Della ingin menemui mu." Ucap Nike membuat mata Darren seketika berbinar cerah, pria itu langsung menerobos masuk kedalam ruang operasi
"Sayang." panggil Darren lirih sambil menggenggam erat tangan dingin istrinya.
"Selamatkan.....putra kita..." Ucap Della lirih bahkan nyaris berbisik, matanya masih terpejam tapi kesadarannya belum sepenuhnya menghilang.
"Tidak! tidak ingin kehilanganmu! tidak Della, aku membutuhkan mu." Tangis Darren pecah saat ia mengucapkannya.
"Aku mohon....dia berhak hidup...putra kita....dia..."
"Tidak!! tidak! aku tidak mau."
"Dia....berhak.... bahagia"
"Tidak!!."
"Bagaimana? Della baik-baik saja?." Tanya Darren cepat saat melihat Nike keluar dari ruang operasi.
"Ren Della...."
"Apa sialan!!." Bentak Darren keras.
"Della....sudah berpulang."
Bruk
Darren tidak bisa menopang berat tubuhnya ia terjatuh dilantai dengan pandangan kosong. Otaknya bekerja sangat lambat untuk mencerna tiga kata yang keluar dari mulut pria berjas putih itu.
"Tidak! tidak! TIDAK NIKE!! KAU BILANG AKAN MENYELAMATKANNYA KAN? HAH?"
"Maaf Darren, Della sendiri yang meminta pada tim medis untuk menyelamatkan anak kalian. Dia memohon-."
Bughh
Darren langsung memukul brutal Nike lalu tindakan dihentikan beberapa pengawal yang terlihat kesusahan menahan Darren yang mengamuk.
"KAU MEMBUNUH ISTRIKU SIALAN!!." Teriaknya pada Nike yang dibantu dua pengawal untuk berdiri.
"Maaf, maafkan aku Darren, ini semua kemauan Della dan jika pun Della yang kau pilih kami juga tidak sepenuhnya menjamin Della selamat. Anak kalian yang memiliki kesempatan hidup lebih besar walaupun dia lahir prematur dan mengalami kelainan-."
"AKU TIDAK PEDULI DENGAN ANAK ITU!! BAHKAN JIKA DIA YANG MATI SEKALIPUN AKU HANYA INGIN DELLA!! HANYA DELLA!!" Teriaknya kemudian berlari masuk kedalam ruangan meninggalkan orang-orang yang terkejut mendengar teriakkan Darren tadi.
***
Kegilaan Darren berlanjut sampai Ellard berumur 10 tahun, pria itu kehilangan kendali apalagi setelah lima tahun kematian Della, dia baru tau jika istrinya pergi dari mansion karena ayahnya.
Marah, mengamuk bahkan Darren hampir membunuh ayahnya sendiri, beruntungnya Harry berhasil pergi dari negaranya dan singgah dinegara asing hanya untuk menghindari kegilaan putranya yang gila.
Flashback off
"Tuan kita sudah sampai." Ucap Ken menyadarkan Darren dari kenangan pahitnya, yang masih membekas dalam diingatan nya.
Darren tanpa menjawab langsung turun dari mobil saat salah seorang pengawal membukakan pintu belakang mobil.
Darren masuk kedalam mansion dengan langkah lebar dan tatapan tajam, tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang melihatnya.
__ADS_1
****
Ellard keluar dari dalam mobil kemudian mengandeng tangan Dara masuk kedalam mansion.
Saat mereka sudah masuk kedalam suara teriakan seorang wanita membuat keduanya sama-sama mengalihkan pandangannya keasal suara.
"Putraku!!." Teriak seorang wanita paruh baya sambil berlari kearah Ellard, Dara yang melihat itu spontan melepaskan tautan tangannya dengan Ellard.
bruk
Wanita itu langsung memeluk tubuh tegap Ellard dengan erat, tangan pria itu juga terangkat membalas pelukan wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri.
Dara mengedarkan pandangannya melihat kearah Frank yang menampilkan muka datar sambil melihat kearah Ellard yang dipeluk erat oleh seorang wanita. Lalu ada Lay yang duduk dengan acuh kemudian pria itu membuang muka saat pandangannya bertemu dengan Dara.
Dara meringis ia tau apa penyebab Lay bertingkah seperti itu, apalagi jika bukan kejadian empat hari yang lalu?.
"Ellard sayang, kenapa tidak pernah main kerumah mami?" tanya wanita itu cemberut kemudian menarik tangan Ellard menuju sofa.
"Maaf bibi, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini" jawab Ellard tersenyum.
Wanita itu berdecak kesal, ia sudah berulang kali menyuruh Ellard memanggilnya mami, mama atau ibu tapi tetap saja pria keras kepala ini memanggilnya bibi.
"Tapi tetap kau harus jaga kesehatan ya sayang? lihat kenapa badan mu kurus sekali" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dan meremas otot-otot lengan Ellard.
"Mami jika kau bilang Ellard kurus lalu apa anakmu ini?" ucap Frank tiba-tiba dengan nada kesal, karena ia yakin akan terjadi apa setelah ibunya mengatakan kalimat itu pada Ellard setiap mereka bertemu.
"Diamlah, Frank besok kau harus rutin bawakan minuman herbal untuk Ellard. Badannya yang bagus ini sayang jika tidak dirawat dengan baik" ucapnya masih sambil meremas otot-otot lengan Ellard.
"Mami apa itu keras?" Celetuk Frank karena sedari tadi ia melihat tangan ibunya tidak berpindah posisi dari lengan Ellard dan meremasnya.
"Sangat, besar pula" jawabnya tanpa sadar.
"Eh...."
"Wahhh, papi harus tau ini" ucap Frank tersenyum penuh kemenangan lalu mengeluarkan ponselnya.
"Silahkan jika kamu ingin mami hancurkan semua rokok elektrik dilemari mu" ancam mami Frank membuat pria itu langsung meletakkan ponselnya dimeja dengan suara keras.
Dara tertawa melihat wajah masam Frank yang jarang ia lihat, dan tawa itu mengundang tatapan semua orang disana.
Dara langsung terdiam sambil menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk saat wanita paruh baya itu menatapnya lekat.
Wanita itu tidak menyadari jika Ellard datang berdua tadi mungkin karena terlalu mencemaskan kondisi Ellard, karena ia tau betul jika anak sahabat baiknya ini selalu tidak baik-baik saja dihari kematian ibunya sendiri.
"K-kamu...." badan wanita paruh baya itu bergetar saat melihat wajah Dara.
"Dia istrinya Ellard mami"
"I-istri?"
"Iya bibi, perkenalan nama saya Dara" ucap Dara sambil tersenyum dan membungkukkan sedikit badannya.
"D-dara? Della?" cicitnya pelan sambil menahan getaran tubuhnya.
"Mami kau kenapa?" tanya Frank cemas saat melihat wajah pucat ibunya begitu juga dengan Ellard yang tidak mengerti apapun.
"K-kau-." Ucap mami Frank terputus, tenggorokannya tercekat saat matanya tidak sengaja melihat Darren yang berdiri dibelakang pilar besar menatap tajam kearahnya dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir menyuruhnya untuk diam.
"Mami ada apa?" tanya Frank berdiri dan berjalan mendekati Mayang, ibunya.
"T-tidak, t-tidak apa-apa hanya saja wajah istri Ellard sangat cantik" Ucapnya tersenyum menutupi wajah terkejutnya.
Hening mereka semua yang ada disana masih melihat kearah Mayang dengan tatapan berbeda.
"Kau anak nakal! kenapa tidak memberitahu mami saat itu jika Ellard menikah hah?!." Ucap Mayang tiba-tiba memukul anaknya kesal.
"Aww, shh ampun Mii aku sudah bilang kan tadi? pernikahan Ellard itu mendadak. Aku saja waktu itu tidak yakin jika Ellard akan menikah" jelas Frank sambil mengusap bagian tubuhnya yang dipukul ibunya.
"Dan kau Ellard sayang? kenapa tidak memberitahu mami jika akan menikah?" ucap Mayang beralih menatap kearah Ellard.
"Aku pikir Frank memberitahu bibi" jawab Ellard.
"Ck anak nakal ini tidak memberitahuku apapun" jawabnya kesal lalu matanya menatap penuh rindu kearah Dara.
Takdir apa ini? kenapa harus wajah yang sama?. Batinnya menatap wajah Dara.
"Kau kenapa?" tanya Ellard membuat orang-orang disana melihat arah pandang pria itu yang mengarah kepada Arlay.
"Aku juga tidak tau, biasanya dia yang paling heboh saat menemui mu tapi dari tadi dia hanya diam saja seperti pria gila yang terkena mental" jawab Frank mengedikkan bahunya sambil bermain dengan ponselnya.
Aku memang kena mental. Batin Lay dengan wajah pias.
Salah satu bibir Ellard tertarik keatas saat melihat wajah Lay yang memegang saat ia menatapnya intens.
Sedangkan Lay menelan ludahnya susah payah saat mata Ellard menatapnya ingatannya langsung berputar dimana bossnya itu hampir menciumnya belum lagi suara yang akhir-akhir ini membuatnya gila. Suara dua orang yang tanpa dosa melakukan hal itu pada Jullie mobil kesayangannya .
__ADS_1
Bersambung....
"Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." ~An-Nahl ayat 114