
Mobil Ellard sudah sampai mall pusat kota, Ellard turun dari mobilnya diikuti Vio dan Dara. Ellard menghela nafasnya saat melihat Dara menutup pintu mobilnya. Ia memang tidak bisa marah terlalu lama dengan gadis itu.
"Ayo." Ucap Ellard dianggukki oleh Vio, tangan wanita itu sudah siap untuk mengandeng Ellard. Tapi pria itu memutar tubuhnya kemudian menarik tangan Dara, membawa gadis itu masuk kedalam mall.
"Dara kau harus pakai masker." Ucap Ellard kepada Dara tanpa menoleh sama sekali kearah Violla.
Vio lalu mengikuti langkah Dara dan Ellard dari belakang mereka, wajah wanita itu terlihat sedang menahan tangisnya.
"Ah ya, Vio kau ingin membeli apa?." Tanya Ellard menoleh sekilas lalu memberikan tatapan tajamnya saat ada seorang pria yang melihat kearah Dara.
"Em aku ingin membeli beberapa buku." Ucap Violla tersenyum dipaksakan.
"Baiklah, Vio kau ke toko buku dulu saja aku ingin ketoilet sebentar." Ucap Ellard lalu menarik tangan Dara.
"Tunggu Ell." Teriak wanita itu membuat langkah Ellard terhenti.
"Aku tidak berani sendirian disini." Lanjutnya dengan wajah ketakutan.
"Aku hanya sebentar." Ucap Ellard membuat Vio semakin menundukkan kepalanya.
"Ell biar aku saja yang menemani Vio, kamu ketoilet saja dulu." Ucap Dara mendongak menatap Ellard.
"Sayang!, Dara!." Tekan Ellard ditelinga gadis itu, dirinya kesal saat Dara selalu melupakan panggilannya.
"I-iya sayang, biar aku yang menemani Violla."
Ellard mengangkat salah satu alisnya, meninggalkan gadisnya ditempat ramai seperti ini? pikirnya sambil matanya melihat orang-orang yang berlalu-lalang.
"Baiklah, tapi ingat jangan melirik pria manapun."
"Iya sayang."
"Hati-hati jangan sampai hilang disini."
"Iya sayang."
"Jangan bersentuhan dengan pria lain."
"Iya."
"Dan-."
"Sayang aku mengerti dan aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau suka." Ucap Dara, dirinya tau jika pria ini tidak diberhentikan maka Ellard akan berbicara panjang lebar seperti saat dirinya akan ke California kemarin, pikirnya.
"Baiklah, hati-hati aku hanya pergi lima belas menit." Ucapnya lalu mencium kening Dara.
Semua itu tak luput dari pandangan Violla, wanita itu mencengkram erat tas tangan yang ia bawa. Bahkan dulu dirinya tidak sedekat itu dengan Ellard tapi bagaimana cara gadis ini mengambil hatinya secepat itu? pikir Vio.
"Aku pergi dulu." Ucap Ellard berjalan kearah toilet meninggalkan kedua perempuan yang sedang berdiri menatap kepergiannya.
Dara menatap kepergian Ellard dengan hati tenang, ternyata pria itu tidak melupakannya bahkan Ellard menciumnya didepan wanita itu. Dan itu berarti mereka berdua tidak mempunyai hubungan apapun, pikirnya lalu tersenyum kecil.
Violla berjalan kearah stand toko buku melewati Dara begitu saja. Dara yang melihatnya lalu mengikuti langkah kaki wanita itu dan berjalan disampingnya.
Mereka berdua sudah sampai di toko buku, Violla langsung masuk dan memilih buku-buku disana. Wanita itu selalu menjadi pusat perhatian para pria, karena selain wajahnya yang cantik tubuh wanita itu juga sangat indah. Cantik, tinggi dan anggun itu yang langsung ada dipikiran para pria yang melihatnya.
Dara yang juga suka dengan buku ikut memilih, gadis itu berdiri disamping Violla sambil matanya melihat judul-judul buku yang ada.
"Kau mencintainya?." Tanya Violla tanpa menghentikan aktivitasnya saat memilih buku-buku.
Dara menengok kekanan dan kekiri melihat dengan siapa wanita itu bertanya. Saat ia tidak melihat siapapun didekat mereka, Dara baru menyadari jika Violla bertanya padanya dan Dara langsung paham siapa yang dimaksud wanita itu.
"Apakah aku harus menjawabnya?." Tanya Dara balik membuat tangan Violla terhenti saat ingin mengambil sebuah buku.
"Ya, kau harus menjawabnya." Ucapnya menatap wajah Dara dibalas tatapan dari gadis itu.
"Tidak ada gunanya menjawab itu, bukankah aku dan dia sudah menikah? untuk apa mempertanyakan hal itu." Jawab Dara kemudian mengambil sebuah buku lalu membacanya.
"Karena aku adalah temannya, teman baiknya!! aku berhak tau apakah istrinya mencintainya atau tidak. Dan asal kamu tau Dara, aku adalah orang berharga dihidupnya, aku selalu ada saat dia membutuhkan seseorang untuk bersandar. Dan kau hanya orang asing yang tiba-tiba masuk kedalam hidup Ellard." Jelas Violla, aura cantik yang semalam Dara puji tentang wanita ini hilang seketika saat melihat perilakunya terhadap dirinya, sekarang Dara merasa yakin jika perempuan ini menaruh hati pada Ellard.
"Cinta selalu tumbuh seiring berjalannya waktu, aku dan Ellard sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mungkin kamu dulu adalah teman terdekatnya tapi sekarang aku adalah teman hidupnya." Ucap Dara kemudian mengambil sembarang buku dan membawanya kekasir.
Violla yang mendengarnya langsung mengepalkan tangannya erat, ternyata gadis itu bukan gadis polos. Dirinya pikir Dara akan langsung menunduk takut kepadanya tapi ini? pikirnya sambil menahan keras air matanya agar tidak tumpah.
*****
Ellard masuk kedalam toilet dengan tergesa-gesa dirinya harus cepat, meninggalkan Dara ditempat seramai ini bukan hal yang baik pikirnya.
Sebenarnya banyak mata yang memandangnya takjub karena bisa melihat sang pewaris tunggal Walton. Tapi mall ini dilengkapi dengan peraturan dimana semua orang harus bisa menjaga privasi. Itu artinya tidak ada yang boleh memotret dan membuat kenyamanan seseorang manjadi terganggu. Biasanya peraturan itu akan berlaku jika ada artis atau seseorang yang mempunyai nama besar. Mereka akan dilindungi dan jika ada yang melanggarnya maka bersiap mendapat hukuman, bisa berbentuk denda yang besar bisa juga sampai kepihak berwajib.
Ellard berdiri didepan kaca toilet ia menghidupkan kran wastafel lalu mulai mencuci mukanya. Bekas ciuman Violla tadi membuatnya risih, dirinya menunggu Dara marah tapi gadis itu hanya diam saja. Ellard menggosok pipinya dengan keras sampai menimbulkan semburat merah dirinya tidak perduli ia harus segera menghapusnya dan pergi menyusul Dara.
Setelah selesai dengan urusannya Ellard berjalan keluar tiba-tiba seseorang menabrak bahunya membuat pria itu menatapnya.
Pria bertubuh besar dengan banyak tato ditubuhnya langsung masuk tanpa mengucapkan kata maaf pada Ellard. Bukan itu yang menarik perhatian Ellard, tapi gambar naga dileher belakang pria itu membuat senyum tipis tersunging dibibir Ellard
Organisasi bawah tanah. Batinnya lalu berjalan keluar.
Ellard berjalan kearah toko buku dirinya tidak mempedulikan tatapan semua orang yang mengarah padanya. Toh mereka jika tidak akan berani mengusiknya, Ellard melebarkan langkahnya saat sudah berada didepan toko buku.
****
Violla masih terdiam ditempatnya saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dara. Tiba-tiba pandangan wanita itu menangkap sosok pria yang mungkin singgah dihatinya. Pria itu sedang mengedarkan pandangannya pasti mencari gadis itu lagi, pikirnya.
Violla langsung menjatuhkan beberapa buku lalu memegang perut bagian kanannya sambil merintih kesakitan. Ellard yang melihatnya langsung berlari kearahnya,
"Kau tidak apa-apa, Vio?!." Ucapnya cemas sambil memegang kedua lengan wanita itu.
"S-sakit Ell." Lirihnya sambil memeluk leher pria itu.
"Kita kerumah sakit sekarang." Ucap Ellard bersiap untuk mengendong wanita itu.
"T-tidak perlu, aku sepertinya kelelahan dan hanya butuh istirahat." Ucap Violla.
"Benarkah?, apa tidak perlu kerumah sakit?." Tanya Ellard lagi memastikan.
__ADS_1
"Tidak Ell." Jawabnya pelan.
"Baiklah." Ucap Ellard mengendong Violla membawanya kekursi duduk ditoko itu.
"Terimakasih." Ucap Vio tangan wanita itu masih berada dileher Ellard, Ellard yang menyadari itu langsung melepaskannya.
"Apa masih sakit? kau butuh minum?." Tanya Ellard.
"Tidak."
"Dimana Dara?." Tanya Ellard sambil mengedarkan pandangannya.
"Aku tidak tau, dia tadi langsung meninggalkan ku sendiri padahal aku sudah meminta tolong padanya agar tetap bersamaku. Tapi dia pergi saat aku memilih buku tadi." Jawab Vio membuat Ellard mengerutkan keningnya.
Ellard langsung berdiri membuat Vio mendongakkan kepalanya menatap Ellard.
"Kau mau kemana Ell?." Tanyanya sambil memegang tangan Ellard.
"Mencari Dara, aku takut dia hilang." Jawabnya lalu melepaskan tangan Vio dari tangannya dan melangkah meninggalkan wanita itu.
****
Dara berjalan gontai meninggalkan toko buku, adegan Ellard mengendong wanita tadi membuatnya tidak berani menemui mereka. Bukan mentalnya yang tidak berani tapi hatinya, dirinya tidak siap melihat Ellard lebih perhatian kepada wanita lain.
Mungkin ia sudah nyaman saat diperhatikan oleh Ellard, walaupun perhatian pria itu melebihi batas. Dari pada melihat Ellard lebih perhatian dengan wanita lain didepan matanya sendiri. Bukankah dirinya egois? ya ia mengakui itu, tapi dirinya adalah seorang istri. Kedudukannya lebih tinggi dibandingkan wanita lain, apalagi wanita yang jelas-jelas ingin merebut suaminya! pikir Dara.
Dara duduk dikursi depan salah satu toko baju ternama, dirinya melamun memikirkan kejadian tadi, ia dengan jelas melihat jika Vio melihatnya sedang berdiri dibelakang lemari buku, tapi wanita itu malah melingkarkan tangannya dileher Ellard dan menyunggingkan senyum tipis kearahnya. Dirinya juga memikirkan sebenarnya ada apa dengan Violla? kenapa wanita itu tiba-tiba saja merintih kesakitan? padahal sebelumnya dia terlihat baik-baik saja, pikir Dara.
Lamunannya buyar saat ia menyadari bahwa ada seorang anak kecil yang sedang duduk disampingnya sambil membaca buku besar yang menutupi wajahnya.
Dara tersenyum melihatnya, anak laki-laki itu terlihat serius membacanya jarang ada anak seperti ini sekarang, pikirnya.
Senyuman Dara tiba-tiba menghilang saat membaca judul buku yang dibaca anak itu.
...How to kill someone with excruciating pain☠️...
(cara membunuh seseorang dengan rasa sakit yang luar biasa)
Mata Dara membulat dirinya langsung merampas buku itu dari anak laki-laki disampingnya. Ya Allah, anak itu masih berumur sekitar enam tahun kenapa orangtuanya membiarkan anak mereka membaca buku yang tidak ada pengajarannya, pikir Dara. Gadis itu meringis saat melihat bagian-bagian buku yang didesain banyak bercak darah, dan gambar-gambar mengerikan didalamnya.
"Nak ini buku-." Ucapannya terhenti saat melihat wajah anak laki-laki itu yang sedang menatapnya datar.
"Daminan?!." Ucap Dara terkejut, Daminan juga terkejut tapi anak itu bisa menutupi ekspresinya dengan sangat baik.
"Kembalikan buku ku." Ucapnya datar.
"Ini?." Tanya Dara tidak percaya sambil mengangkat bukunya, yang hanya direspon dengan tatapan datar anak itu.
"Dami, ini bukan buku yang biasa dibaca anak-anak, kamu mendapatkan ini dari mana?." Tanya Dara.
Anak hanya diam saja sambil menatap wajah Dara, membuat sang empunya menghembuskan nafasnya pelan.
"Tunggu, kakak tadi baru membeli sebuah buku pasti cocok untukmu. Dan jika ingin membaca buku jangan yang seperti ini ya." Ucap Dara sambil meletakkan buku mengerikan itu dikursi kemudian mengambil sesuatu ditas selempang miliknya.
Anak itu mengeryit membaca judul buku yang disodorkan Dara, kemudian anak itu beralih menatap wajah gadis itu.
"Bagaimana? kau suka bukan? ini bisa menambah ilmu mu." Ucap Dara sambil tersenyum.
"Benarkah?." Tanya Daminan sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Iya, ini-." Ucapnya terhenti saat membalikan bukunya dan membaca judul buku itu.
......Romance of love Romeo and Juliet......
...(Romansa cinta Romeo dan Juliet)...
"Ya Allah." Ucap Dara lirih, sambil meringis gadis itu menatap wajah Daminan yang sedang menatapnya datar.
Gara-gara dirinya terburu-buru karena mendengar ucapan Violla tadi, Dara jadi mengambil bukunya asal tanpa membaca judulnya. Dan bodohnya lagi dia tidak tau jika mengambil buku di rak buku tentang romansa.
"Lebih baik yang itu bukan?." Ucapnya sambil menunjuk buku disamping Dara dengan dagunya.
"Tidak! untuk anak seusia mu tidak pantas membaca yang seperti itu." Jawab Dara.
"Lalu apakah yang seperti itu?." Tanya balik Daminan sambil menunjuk buku yang berada ditangan Dara dengan dagunya.
"Bukan juga." Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lalu?." Tanyanya sambil melipat kedua tangannya, ah gaya Daminan benar-benar seperti pria dewasa. Dara tidak bisa membayangkan bagaimana jika anak didepannya ini tumbuh menjadi remaja, jika diusianya saat ini saja anak itu sudah sangat tampan dan keren, pikirnya.
"Ayo kakak akan mencarikanmu buku yang seharusnya dibaca anak seusia mu." Ucapnya sambil memasukkan kedua buku di tasnya kemudian berdiri dari duduknya sambil menggandeng tangan Daminan.
"Aku tidak mau." Jawab anak itu tetap dalam posisi duduknya.
"Aku memaksamu." Ucap Dara mengangkat tubuh Daminan turun dari tempat duduknya.
"Ayo." Ucapnya mengandeng tangan Daminan membawa anak itu ke toko buku.
"Aku tidak suka digandeng, seperti bocah saja." Ucap Daminan memelankan tiga kata terakhirnya.
Dara yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil. Anak ini tidak suka digandeng tapi menggenggam tangannya erat.
Dara masuk kedalam toko buku, dirinya mengambil jalan lain agar tidak bertemu dengan Ellard atau Violla. Mungkin mereka masih berduaan ditempat duduk? atau Ellard sudah pulang bersama Violla. Memikirkan itu saja langsung membuat dadanya sesak, ia beralih menatap Daminan yang sedang menatap depan dengan pandangan tajam membuat Dara tersenyum, anak ini benar-benar memiliki aura yang berbeda dari anak lain pikirnya.
Mereka berdua sudah sampai ditempat rak buku anak-anak, Dara sibuk memilih buku sedangkan Daminan menatap malas buku-buku itu terlebih banyak anak perempuan yang sedang membicarakan dirinya.
Lihatlah belum apa-apa sudah menjadi incaran para gadis. Batin Dara lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Dara mengambil empat buah buku menarik dengan judul yang berbeda lalu dirinya menekuk lututnya menyamakan tinggi badannya dengan Daminan.
"Aku sudah memilihkannya untukmu Dami, jika ada yang kau suka ambil saja." Ucap Dara sambil melihat-lihat buku yang dia pegang.
Daminan melirik kearah buku itu lalu membaca judulnya,
...Kind sweet bunny...
__ADS_1
...(Kelinci manis yang baik hati)...
Dan lain-lain yang membuat mata Daminan langsung berkedut saat melihatnya.
"Bagaimana bagus bukan?." Tanya Dara senang.
"Sebentar ya, biar kakak bayar dulu." Ucap Dara lalu berjalan kearah kasir.
Setelah membayar bukunya Dara kembali dan memberikan paper bag kepada Daminan yang disambut uluran tangan malas anak itu.
"Dami mulai sekarang kamu harus membaca buku yang sesuai dengan umurmu ya. Jangan yang seperti tadi, itu tidak ada ilmunya sama sekali." Jelas Dara.
Apa yang seperti ini, berilmu?. Ucap anak itu didalam hatinya sambil menatap malas buku-buku dipaper bag itu.
"Dara!!." Ucap Ellard keras membuat keduanya menengok kearahnya.
Dara berdiri saat Ellard berjalan cepat kearahnya, pria itu terlihat berkeringat dan nafasnya yang tidak beraturan.
"Kau dari mana saja!." Ucapnya lalu memeluk tubuh Dara.
Dara bisa mendengar jantung Ellard berdetak sangat cepat dan nafasnya yang masih berat.
"Aku mencarimu dari tadi." Ucap Ellard sambil mencium kepala Dara.
"Maaf tadi aku-."
Ehem....
Deheman anak kecil membuat Ellard mengalihkan perhatiannya, dan melihat seorang anak laki-laki sedang menatapnya tajam.
"Siapa anak ini?." Tanya Ellard sambil melepaskan pelukannya.
"Dia Daminan, aku tadi menemaninya mencari buku anak-anak." Jawab Dara.
"Dia?." Ucap Ellard menunjuk kearah Daminan saat merasa wajah anak itu tidak asing.
"Jadi kau pergi hanya untuk berduaan dengan laki-laki ini?!." Ucap Ellard tidak terima.
"Dia anak kecil sayang." Ucap Dara untuk menangkan pria itu.
"Tetap saja dia itu laki-laki." Jawabnya.
"Ah dasar orang bodoh." Umpat pelan Daminan sambil memutar bola matanya malas. Dan ternyata ucapan itu terdengar sampai ke telinga Dara dan Ellard, membuat Dara meringis mendengarnya.
"Apa kau bilang bocah? bodoh? kau mengataiku bodoh?." Ucap Ellard kesal sambil membungkukkan badannya melihat wajah anak itu.
"Kalau sudah mendengarnya kenapa bertanya." Jawab Daminan membuat kekesalan Ellard memuncak.
"Kau-."
"Sayang sebaiknya kita kembali sekarang, ini sudah hampir solat ashar." Ucap Dara untuk menghentikan kedua orang itu, tidak mungkin bukan jika Ellard akan memberi pelajaran pada anak kecil seperti ia memukuli bos cafenya, Mr. Samta, Devan pikirnya. Tapi mengingat pria itu pernah memukul Feli yang notabenenya adalah seorang perempuan membuatnya berpikir dua kali, dirinya harus memisahkan mereka.
"Dara, bocah itu mengataiku bodoh didepan diriku langsung!." Ucap Ellard tidak terima mengadu pada Dara.
"Jika memang bodoh mau bagaimana lagi." Ucap Daminan.
"Bocah!! kau-."
Cup
Dara langsung memberikan kecupan dibibir Ellard, mereka sudah menjadi pusat perhatian jangan sampai pria ini mengamuk ditempat umum, pikirnya.
"Kita pulang ya sayang." Ucap Dara sambil menarik tangan Ellard.
Ellard yang sudah diperlukan seperti itu langsung luluh ia kemudian berjalan mengikuti langkah gadisnya.
"Baiklah, ingat bocah! jika aku bertemu kau lagi maka aku tidak akan mengampuni mu." Ucap Ellard membalikan badannya.
"Tunggu." Teriak Daminan membuat langkah kedua orang itu terhenti.
Daminan berjalan kearah Dara membuat Ellard langsung menyembunyikan gadisnya dibelakang tubuhnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padanya." Ucap Daminan menunjuk kearah Dara.
"Tidak bisa!." Jawab Ellard tegas.
"Tidak apa-apa Ell." Ucap Dara lalu keluar dari belakang tubuh Ellard kemudian berjongkok didepan Daminan.
"Kau mau mengucapkan apa Dami?." Tanya Dara.
Cup
"Terimakasih untuk bukunya." Ucapnya lalu pergi dari sana sambil menyunggingkan senyum sinisnya saat melewati Ellard. Dan juga meninggalkan Dara sedang memegang pipinya dengan raut wajah tidak percaya.
"Kurang ajar!!." Ucap Ellard, saat dirinya akan berbalik tangannya ditahan Dara membuat pria itu mendengus kesal.
Bersambung...
Hayoloo banyak yang nggak terima di part sebelumnya ^_^ hehe,
Btw readers kalau aku up cepet, yang bab sebelumnya di-like juga ya, soalnya kalau up cepet biasanya yang di like cuma bab akhir aja 😉
Komen dan vote juga ya!
......................
Takdir itu milik Allah tapi usaha dan doa itu milik kita.
Dan Allah berfirman:
"Berdoalah kamu kepada-ku niscaya akan aku perkenankan bagimu...."
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗ
(QS. Gafir ayat 60)
__ADS_1