
Mereka bertiga berjalan keluar dari toko mantel, Dara masih setia mengandeng tangan Daminan sedangkan Ellard berada dibelakang mereka berdua dengan raut wajah masam. Pria itu selalu melihat kearah tangan Dara yang menggenggam erat tangan kerdil itu membuat hatinya panas.
Ck apa mereka tidak menganggap ku disini. Batinnya kesal.
"Dami kamu mau kemana?." Dara menundukkan kepalanya melihat wajah Daminan yang sedang menatap lurus kedepan.
"Terserah" jawab anak itu membuat Dara mengembuskan nafasnya pelan, jawaban anak itu membuatnya harus berpikir keras karena ia tau hasil akhirnya Daminan akan selalu menolak tawarannya.
"Baiklah ayo" ucap Dara sambil menarik tangan anak itu menuju tempat bermain.
***
"Kenapa kesini?" Daminan menatap malas kearah para perempuan cilik yang sedang menatapnya penuh binar seakan mereka sedang melihat mainan edisi terbaru.
"Tadi kamu bilang terserah" jawabnya lalu menoleh kebelakang melihat Ellard yang sedang memperlihatkan raut wajah kesalnya.
"Eh sayang" sapa Dara sambil menggaruk tengkuknya, dirinya tau jika Ellard pasti sedang marah dengannya karena tidak memperhatikan pria itu.
Ellard mengalihkan pandangannya kearah lain, yang dia rasakan saat ini ingin membawa Dara dibawah tubuhnya. Enak sekali wanita itu tidak memperdulikan dirinya dan memilih bersama pria lain, pikirnya.
"Sebentar ya." ucap Dara pada Daminan kemudian berjalan pelan kearah Ellard.
"Sayang"
"Hm"
"Kamu marah?"
"Kau pikir?"
Dara meringis mendengar jawaban pria itu, dirinya harus memutar otaknya agar bisa merubah mood suaminya ini yang sudah seperti ibu hamil.
"Sayang, bagaimana jika setelah ini kita kehotel?" tanyanya pelan bahkan suaranya nyaris seperti orang berbisik.
Bibir Ellard berkedut saat mendengarnya tapi dirinya masih mempertahankan sikap merajuknya, ingin melihat bagaimana Dara membujuk dirinya.
"Kenapa kesana?" tanyanya sambil mengangkat salah satu alisnya.
Dara menelan salivanya sendiri apakah perlu dirinya memperjelas? apa pria ini tidak tau maksudnya? pikir Dara. Sekarang malah wanita itu yang merasa kesal.
"I-tu a-aku dan kamu-." jawabnya berbisik sambil menoleh kekanan dan kekiri.
"K-kita- emm itu"
__ADS_1
"Ah s-sudah lupakan saja" ucap Dara, dirinya tidak bisa mengatakan hal-hal random ditempat umum seperti ini, tidak seperti suaminya yang bahkan bisa berbicara didepan ayahnya sendiri.
"Aku setuju" jawab Ellard cepat, enak saja ingin membatalkannya begitu saja. Membicarakan itu saja sudah membuat dirinya sesak.
Hawa panas menjalar dipipi Dara membuat wajah wanita itu merona. Dara membalikan badannya melangkah menghampiri Daminan yang masih setia di posisinya.
"Sebentar ya Dami, kakak beli tiketnya dulu" ucap Dara menyamakan tingginya dengan tinggi Daminan sambil mengelus kepala anak itu.
"Biar aku saja" ucap Ellard membuat Dara mendongak menatap pria itu. Ellard langsung pergi memesan tiket tanpa mendengar jawaban Dara.
****
Mereka bertiga masuk ketempat bermain, Ellard mengandeng tangan kanan Dara sedangkan tangan kiri wanita itu menggenggam tangan Daminan. Daminan hanya melihat malas tempat-tempat bermain yang ada, anak itu tidak seaktif anak lain saat mereka datang kemari, bukankah tempat bermain adalah surga bagi anak-anak?.
"Kerdil kau ingin main apa?" Tanya Ellard tanpa melihat kearah Daminan.
"Semuanya membosankan" jawabnya malas.
"Banyak mainan disini, anak seumuran mu pasti menyukai tempat ini bukan?." Tanya Ellard.
"Kecuali aku."
Mereka jalan cukup lama menjelajahi area permainan dimall itu dan sejak tadi Daminan selalu menolak untuk diajak mencoba permainan yang ada.
"Aku tidak tertarik apapun." Jawabnya.
"Ck kau benar-benar tidak tau diri sekali."
"Sudah-sudah, Dami, kak Ell benar setidaknya coba satu permainan saja. Sayang jika tiketnya tidak terpakai." Ucap Dara memberi pengertian kepada Daminan yang sedang mendongak menatapnya.
"Kau dengar itu?!" Ejek Ellard dengan wajah penuh kemenangan karena Dara berada di pihaknya.
Daminan menghela nafas kemudian menganggukkan kepalanya membuat Dara tersenyum. Akhirnya anak ini menuruti dirinya, Dara ingin agar Daminan bisa merasakan kesenangan anak seusianya. Dilihat dari sikap anak laki-laki ini saja Dara sudah mengetahui jika ada yang salah dengan cara mendidiknya. Mungkin lebih tepatnya Daminan dewasa terlalu cepat?.
Mereka berjalan sambil melihat-lihat anak-anak sedang sibuk dengan permainannya juga orang tua yang tidak pernah lepas mengawasi buah hati mereka.
Dara menghentikan langkahnya membuat kedua pria itu juga ikut menghentikan langkahnya.
"Dami bagaimana jika Itu?." Tunjuk Dara kearah permainan yang ramai dengan anak-anak Daminan.
Ellard dan Daminan melihat arah tunjuk Dara, seketika Ellard langsung menunduk melihat wajah bocah disamping Dara kemudian dirinya tergelak saat melihat Daminan sedang membelalakkan matanya dengan raut wajah tidak percaya.
"Benar, kerdil itu cocok untukmu" ucap Ellard mendorong tubuh Daminan kearah permainan itu.
__ADS_1
"T-tidak aku tidak mau." Ucap Daminan saat Ellard akan memasukanya kedalam permainan mandi bola itu
Daminan seperti sedang melihat sebuah siksaan disana, bola warna-warni dengan warna yang sangat cerah itu membuat matanya sakit apalagi banyak anak perempuan yang sangat antusias saat melihatnya.
Tidak-tidak! aku bisa mati berdiri disana. Batinnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau!!." Ucapnya keras mencoba memberontak, kedua bahunya didorong oleh Ellard membuatnya tidak bisa mengelak. Walaupun Daminan anak yang kuat tapi jika dibandingkan dengan Ellard tentu kekuatan pria itu jauh lebih besar diatasnya.
"Tidak apa-apa, pergilah." Ucap Ellard mendorong tubuh Daminan sampai terjatuh ditumpukkan bola-bola itu.
Ellard tertawa puas saat melihat wajah pias Daminan, sungguh raut wajah yang diekspresikan bocah itu tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Ellard." Ucap Dara tidak menyukai tingkah Ellard yang sembarangan mendorong Daminan.
"Tidak apa-apa sayang, lihat kerdil itu terlihat sangat senang." Ucap Ellard menunjuk kearah Daminan yang langsung di kerumuni para anak perempuan, membuat anak laki-laki itu tidak bisa naik keatas.
"Benarkah?" Tanya Dara sedikit tidak percaya apalagi melihat dahi Daminan berkeringat.
"Iya, tenanglah kita duduk dulu." Ellard merengkuh pinggang Dara membawanya ketempat duduk didekat permainan itu.
Sedangkan ditempat lain, Daminan berusaha keluar dari para gadis yang mengerumuninya.
"Bisakah kalian membiarkanku keluar?." Ucapnya tidak dipedulikan oleh para perempuan itu yang sedang melemparinya mengunakan bola dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengannya.
"Heii, jauhkan tanganmu dari tubuhku!!." Ucapnya keras saat seorang perempuan menarik jaketnya dan meraba wajahnya.
"Kenalkan namaku Rania."
"Aku meega."
"Kau sangat tampan!!."
"Apa kau mau berteman denganku?."
"Aku menyukaimu!."
Wajah Daminan memerah, kening anak itu berkeringat sungguh lebih baik dirinya berurusan dengan orang yang selalu memberinya hukuman daripada dikerumuni para gadis kecil jelmaan ****** ini. Rasanya Daminan menjadi anak laki-laki murahan karena tubuhnya selalu diraba gadis-gadis itu.
Sial sekali dirinya tidak bisa lepas dari anak-anak ini, selangkah Dami ingin menghindar tubuhnya langsung ditarik lagi mendekat. Apalagi ada anak yang kurang ajar padanya melemparkan bola-bola kecil mengenai kepala dan tubuhnya.
Sialan jika kalian tau siapa aku, untuk tersenyum saat melihatku saja kalian tidak akan berani!. Batin Damian mengeram.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan pernah membuat keputusan saat kau sedang marah, dan jangan berjanji saat kau sedang bahagia." ~Ali bin Abi Thalib