
"Tenang lah Lexa, tenang. Kau kan sudah tau keluarga Walton itu memang tidak ada yang sehat" ucap Nike pada calon menantunya.
"Awas saja gorila itu! aku tidak akan memberitahukan jenis kelamin anaknya sampai waktu lahiran tiba! lihat saja!"
Lexa membanting sapu tangan keatas meja kemudian berdiri dari duduknya berjalan dengan langkah kesal menuju toilet. Gaunnya sedikit basah terkena jus karena semburan dari mulutnya sendiri.
Ellard turun dari pondium sembari menuntun Dara diiringi suara tepuk tangan banyak orang.
Dara duduk di kursinya kemudian mendongak menatap suaminya.
"Mau apa?" tanya Ellard peka melihat mata istrinya yang seperti sedang menginginkan sesuatu.
"cheese cake-"
"Baiklah aku ambilkan jangan kemana-mana tunggu disini mengerti?" Melihat Dara mengangguk Ellard berbalik untuk mengambil cheese cake. Sebelumnya ia sudah melirik Mad untuk menjaga istrinya. Mad yang peka hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lama tidak bertemu" sapa seorang pria yang langsung duduk dimeja yang sama dengan Dara membuat gadis itu terkejut.
"Oh hai Devan" sapa Dara kaku sambil melihat kekanan dan kekiri mencari suaminya yang baru saja pergi.
"Kamu tambah cantik Dara"
Dara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung harus menjawab apa.
"Devan sebaiknya kamu pergi atau-"
"Tuan muda Atletico? wah saya tidak menyangka bisa bertemu anda disini" Mad tersenyum ramah membuat dua orang pria yang sebelumnya akan menghampiri meja Dara berbalik badan.
"Lari cepat! iblis itu sedang menunjukkan taringnya!" ucap Lay panik sambil mendorong bahu Frank membuat pria didepannya kelabakan.
"****! kenapa harus ada si datar itu sih!" gerutu Frank sambil terus berjalan cepat membelah kerumunan para pria dan wanita yang sedang berbincang.
"Iblis itu belum melihat kita kan?" tanya Lay setelah mereka sampai ditempat yang lumayan sepi.
"Tidak tau, tapi aku ragu jika pria triplek itu punya mata di punggungnya"
"Kenapa memangnya?"
"Dia bisa melihat Devan padahal sedang berbicara dengan Ken dan paman Darren" jawab Frank membuat Lay berdecak. Jika saja Mad adalah pria yang baik pasti akan menjadi idola Arlay tapi sayang pria itu bak pangeran berwajah iblis. Senyum tampannya adalah kehancuran terbesar lawannya.
Ditempat Dara wanita itu sedang duduk diantara dua pria yang sama-sama mengeluarkan aura mengintimidasi.
Tidak-tidak, hanya Mad yang mengeluarkan aura dingin sedangkan Devan menatap pria itu biasa dengan sedikit pandangan tidak suka.
"Kau siapa?" tanya Devan.
Dara sudah mengigit bibirnya sendiri, berada disituasi dimana kau tau akan terjadi perang bukanlah hal baik kan.
"Perkenalkan saya-"
"Mau apa kau kemari?!"
Lengkap sudah batin Dara sambil menutup mata dan menyenderkan punggungnya.
Devan tersenyum miring melihat Ellard yang baru saja datang membawa dua potong cheese cake kemudian meletakkannya didepan Dara.
__ADS_1
"Hai sudah lama tidak bertemu Ellard" sapa Devan kelewat santai, sepertinya dia belum tau siapa pria yang berdiri disamping Ellard.
Ellard mengambil kursi menariknya kemudian duduk disebelah istrinya.
"Ya sudah agak lama ya? sampai istriku sudah hamil begini. Kalau kau? belum dapat pasangan juga?" Ellard berucap dengan nada yang terkesan merendahkan sambil mengelus perut istrinya.
Devan berdecih sambil memalingkan wajahnya kearah lain, "Bagaimana aku bisa mendapat pasangan jika wanita yang kusukai saja kau ambil" jawab Devan, entah keberanian dari mana pria itu bisa mengatakan hal yang berhasil menyulut emosi Ellard.
"Tuan"
"Sayang"
Dara dan Mad sama-sama menenangkan Ellard saat pria itu berdiri kasar dari tempat duduknya membuat beberapa pasang mata menatap kearah mereka.
"Ini acara besar tuan, tolong kendalikan diri anda sebentar" ucap Mad pelan.
Dara menoleh menatap Devan, "Devan lebih baik kamu pergi dari sini"
"Kenapa Dara? ada masalah aku duduk disini?"
Kenapa Dara merasa pria ini bukan Devan yang ia kenal dulu? dia jadi sedikit menyebalkan dimata Dara.
"Iya. Suamiku tidak suka kamu ada disini jadi tolong pergilah" usir Dara membuat Devan terkejut dengan perubahan suara gadis itu. Gadis cantik berkerudung miliknya dulu sudah berubah.
"Devan-"
"Baik, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik Dara sekali pria ini menyakitimu aku sendiri yang akan datang membawamu pergi"
"Lewati dulu mayatku sialan!" ucap Ellard dengan nada tertahan.
"Jangan sok peduli, pergi kau!" usir Ellard dengan nada tak bersahabat.
"Baik aku pergi. Tapi ngomong-ngomong siapa pria disamping mu itu? aku merasa tidak asing" tanya Devan lagi membuat Ellard berdecak kesal karena pria itu tidak segera angkat kaki dari hadapannya.
Mad yang ditanya menarik kedua sudut bibirnya membentuk seringai.
"Anda kenal saya tuan Atletico"
"Siapa kau?"
"Bukan siapa-siapa hanya putra sulung asisten tuan Darren" jawab Mad merendah.
Ekspresi wajah Devan turun drastis bibir pria itu mulai pucat dengan tubuh kaku.
"Tuan Madrick?" tanyanya dengan nada bergetar.
Damn! kenapa dia tidak segera menyadarinya? pria ini yang mempermainkan saham perusahaan ayahnya tanpa sebab dulu. Dan ayahnya mewanti-wanti dirinya agar tidak mencari masalah dengan keluara Walton karena dia pasti akan berhadapan dengan anak pertama asisten Darren Levon Walton.
Beritanya anak sulung Kendrick waktu kecil gemar dengan suara erangan seseorang yang terluka. Anak itu menyukai hal yang diluar otak, dia menyukai apapun yang berbau darah. Oleh karena itu Mad dikirim pergi keluar Amerika untuk waktu yang lama.
Mad menunduk seolah mengucapkan salam dan itu membuat Devan menahan nafasnya.
"Saya pergi dulu, permisi" ucap Devan kemudian berjalan meninggalkan meja mereka.
"Beri dia pelajaran" ucap Ellard sambil terus melihat Devan berjalan.
__ADS_1
Mad mengangguk tanpa tuannya meminta pun ia akan memberi anjing itu pelajaran.
****
"Dara"
Dara menoleh saat suara berat itu memanggil namanya.
"Ada apa kakek?" tanya Dara terkejut melihat pria tua itu memanggilnya.
"Kau pasti lelah ya? kenapa tidak pulang saja duluan? ini hanya tinggal pesta minum-minum bukan acara penting" ucapnya sambil menggenggam tongkatnya.
Dara mengerutkan keningnya kenapa kakek jadi repot-repot mengurusinya?
"Aku akan pulang dengan Ellard" jawab Dara.
"Ellard pasti menunggu acara sampai selesai karena ini acaranya. Aku melihat kau sudah kelelahan, walau aku tidak menyukaimu tapi anak yang kau kandung itu cucitku. Pulang dan beristirahatlah, aku akan memberitahu Ellard nanti"
Dara berpikir sejenak, jujur saja ia memang kelelahan. Belum lagi dirinya harus bolak-balik ke toilet untuk buang air kecil.
"Baiklah kek aku pulang tapi biar aku sendiri yang akan memberitahu Ellard" jawab Dara.
"Ellard ada dilantai dua bersama para pemegang saham kau akan mengganggunya nanti"
"Kalau begitu biar aku menemui Mad" ucap Dara lagi, bagaimanapun ia sudah berjanji pada suaminya untuk selalu berada didekat pria itu. Dan Ellard mengatakan jika ia harus memberi tahu Mad kalau dirinya menginginkan sesuatu saat Ellard tidak ada.
Dara sekarang bingung bukankah tadi Mad berdiri tak jauh darinya? sekarang dimana pria itu? pikir Dara.
"Madrick? tentu saja dia bersama Ellard saat ini, kau kan tau Mad asisten pribadi suamimu" jawab kakek sambil terkekeh.
Dara sebenarnya tidak ingin menuruti perintah kakek Harry tapi tubuhnya benar-benar sudah lelah efek dari kehamilannya.
"Kalau mau pulang kakek sudah menyiapkan supir didepan" saran Harry.
Dara berpikir sebentar kemudian mengangguk "Baiklah kek, aku pulang duluan" jawab Dara kemudian menundukkan kepalanya berjalan kearah pintu keluar.
Sebelum sampai diluar Dara mengeluarkan ponselnya mengirim pesan pada suaminya.
"Nona Dara?"
"Ah iya?" tanya Dara sambil memasukkan kembali ponselnya.
"Saya sopir tuan Harry yang diminta mengantarkan anda pulang" ucap pria berumur itu sopan.
"Baiklah terimakasih sebelumnya"
"Sama-sama nona, silahkan" ucap sopir sambil membuka pintu belakang.
TBC......
...Assalamualaikum semuanya!!...
...Persiapkan diri kalian untuk part selanjutnya karena mungkin ini sedikit menguras air mata...
......Wassalamu'alaikum......
__ADS_1