Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Hayalan Sari


__ADS_3

Tiga bulan sudah Aeril menjadi Ibu susu untuk Naira dan selama itu pula perlakuan Abi dan Sari selalu saja ketus. Jika Aeril melakukan sedikit saja kesalahan maka Abi akan seketika berkata-kata ketus, begitupun dengan Sari yang tak segan memaki Aeril jika tidak ada siapa pun.


Jika saja Aeril tak terlanjur jatuh cinta dengan si cantik Naira maka sudah lama ia meninggalkan rumah Abi. Sosok Naira mampu membuat Aeril bertahan dari apa pun, bahkan kesedihannya karena di tinggal Vano pun berangsur pulih. Itu semua karena Naira yang setiap harinya selalu memberi warna tersendiri untuk Aeril.


Pagi ini Naira telah selesai di mandikan dan sudah memakai baju berwarna merah muda dengan bando yang berwarna senada. Bayi berumur tiga bulan itu tumbuh begitu sehat, terlihat dari pipinya yang melembung seperti bakpao.


Aeril tengah mengajak Naira berinteraksi, kini Naira sudah bisa di ajak berinteraksi jika dia suka maka Naira akan menanggapinya dengan tertawa, tapi jika tidak maka Naira akan marah dan menangis.


''Pak popok dan keperluan sehari-hari Naira sudah mau habis,'' ungkap Aeril ketika Abi tengah mengajak Naira bermain sebelum Abi ke kantor.


''Ya sudah nanti sore kita pergi ke Mall bareng.'' Jawab Abi singkat.


''Baik Pak.''


''Saat nanti aku pulang kamu harus sudah siap-siap, kita akan pergi bersama Naira,'' ucap Abi lagi.


''Iyya Pak.'' Aeril mengangguk patuh.


''Papa berangkat dulu ya sayang kamu baik-baik ya di rumah,'' ucap Abi kepada putri kecilnya lalu bersiap untuk pergi.


Wajah Naira seketika berubah saat Abi berdiri dan bersiap-siap pergi. Tak lama akhirnya Naira menangis sembari mengangkat tangannya ke arah Abi seolah ingin ikut.


''Anak Papa mau ikut? Nanti ya kalau Papa libur kita jalan-jalan.'' Abi menggendong Naira sebentar lalu memberikannya kembali kepada Aeril.


Setelah di bujuk oleh Aeril barulah Naira terdiam. Tangan ajaib Aeril selalu mampu mendiamkan Naira, seolah ada ikatan batin di antara keduanya.


''Nanti biar aku aja yang pergi belanja sama Pak Abi, kamu di rumah aja,'' ucap Sari ketus.


Aeril kaget karena tiba-tiba Sari datang saat Abi telah pergi.


''Baiklah terserah kamu saja,'' kata Aeril datar lalu pergi dari hadapan Sari.


''Tunggu dulu.'' Sari menghentikan Aeril karena belum selesai berbicara.


''kenapa lagi?'' tanya Aeril mulai kesal.

__ADS_1


''Nanti kalau Pak Abi nanya, kamu bilang aja kamu nggak bisa ikut karena kamu lagi sakit perut atau apa gitu. Pokoknya kamu cari alasan yang bikin Pak Abi yakin, kamu ngerti kan?''


''Baiklah. Ada lagi?''


''Nggak ada ya udah sana pergi.''


Aeril pun pergi karena malas meladeni Sari yang tidak ada habisnya.


''Uhhh dasar sok kecakepan!! Memang kamu aja yang mau deket sama Pak Abi? Aku juga mau kali. Aku juga cantik kok nggak kalah sama dia,'' umpat Sari. Sari merasa sangat cemburu kepada Aeril karena sering berdekatan dengan Abi dan Sari sering tak sengaja melihat Abi menatap Aeril dengan tatapan yang berbeda.


Tepat pukul setengah Lima sore Abi sudah sampai di halaman rumahnya tapi ia tidak melihat Aeril di depan rumah, padahal Abi sudah bilang saat ia pulang Aeril harus sudah siap dan mereka bertiga akan pergi tapi ini tak ada tanda-tanda Aeril akan keluar.


Abi sudah merasa sangat kesal karena Aeril tak bisa tepat waktu.


''Apa sebenarnya yang ia kerjakan di rumah ini? kenapa untuk tepat waktu saja tidak bisa,'' umpat Abi kesal. Baru saja Abi akan masuk dan memarahi Aeril tiba-tiba Sari sudah membuka pintu dan berdiri di depan Abi dengan gayanya yang, iuhhh. Tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Abi tak memperdulikannya dan hendak berlalu tapi suara Sari menghentikannya.


''Aeril tidak bisa ikut Pak jadi dia menyuruh saya yang pergi bersama Bapak,'' ucap Sari dengan begitu percaya dirinya.


''Emmm saya nggak tahu Pak, saya cuma melakukan apa yang dia suruh tadi.''


Abi mengernyit heran mendengar perkataan Sari. Karena tidak yakin Abi ingin pergi mencari Aeril tapi Sari memegang pergelangan tangan Abi dan itu membuat Abi menatap tangan Sari yang masih belum lepas dari pergelangan tangannya lalu mata Abi berpindah ke wajah Sari.


Sari menelan ludah dengan susah payah karena tatapan Abi yang begitu tajam. Sari dengan cepat melepaskan pegangan tangannya karena merasa tatapan Abi akan membuatnya tamat.


''Ta,,,,,,tadi Aeril bilang kalau dia sedang sakit Pak jadi dia meminta saya untuk menggantikan dia untuk belanja bulanan dan keperluan Naira.'' Dengan susah payah Sari menyelesaikan kalimatnya.


''Kalau dia sakit, kami sekalian akan ke rumah sakit dulu sebelum belanja.


Memangnya dia sakit Apa? Sepertinya tadi pagi baik-baik saja?'' tanya Abi meragukan kata-kata Sari.


''Sa,,,,saya juga tidak tahu Pak.''


''Aku akan melihatnya sendiri, sakit apa sebenarnya dia.'' Abi pun berlalu dari hadapan Sari dan itu sukses membuat Sari patah hati.

__ADS_1


Padahal tadi Sari sudah membayangkan akan pergi berdua saja dengan Abi seperti dua sejoli, tapi semua usahanya terancam batal.


Abi mencari-cari Aeril di kamar dan di dapur tapi Abi tak menemukannya. Abi merasa sangat kesal kepada Aeril yang katanya sakit tapi tak ada di kamarnya. Bukannya orang sakit harusnya istirahat bukan malah berkeliaran.


Setelah beberapa menit mencari akhirnya Abi menemukannya di belakang rumah sedang memberi makan ika-ikan koi kesayangan Delia bersama dengan Naira.


Naira yang sudah mandi dan cantik tampak sangat bahagia di dalam gendongan Aeril. Abi tertegun melihat pemandangan itu dan berfikir jika saja itu Delia sudah pasti Abi akan sangat bahagia dan langsung memeluknya dari belakang, tapi semua itu hanyalan hayalan Abi yang tak mungkin menjadi nyata karena tuhan memberikan takdir lain untuknya dan putrinya.


''Ba,,,Bapak kenapa di sini? Saya kira Bapak sudah pergi dengan Sari.'' Tanya Aeril.


''Terserah saya, rumah-rumah saya jadi saya mau pergi kapan saja ya suka-suka saya,'' jawab Abi ketus, tapi Aeril tak menanggapinya karena sudah terbiasa dengan sikap Abi yang selalu saja seperti itu.


''Kenapa kamu nyuruh Sari yang pergi belanja dengan saya?''


''Oh itu ... ''


''Kata Sari kamu sakit?''


''Em ... anu Pak, itu ... '' Belum selesai Aeril berkata tapi Abi sudah mendekat kepada Aeril, bahkan sangat dekat dan itu sukses membuat Aeril kaget dan mundur beberapa langkah.


''Diam di situ, jangan bergerak,'' perintah Abi yang membuat Aeril sepontan berhenti dan membeku di tempatnya. Kini Abi berjalan mendekati Aeril, membuat Aeril gelisah dan berdebar-debar. Abi menatapnya tajam dan itu membuat Aeril ingin menghilang saja rasanya.


''Entah apa lagi kesalahanku sampai-sampai dia seperti hendak menelanku hidup-hidup,'' gumam Aeril.


Abi kini hanya berjarak selangkah lagi di depan Aeril, bahkan deru nafasnya yang beraroma mint Aeril bisa menciumnya. Aeril menundukkan pandangannya karena merasa takut tapi tiba-tiba Aeril merasakan ada tangan hangat yang menyentuh keningnya dan itu membuat Aeril mengangkat kepalanya.


''Nggak panas, katanya sakit tapi kok nggak panas?''


''Oh i,,,,itu ... ''


''Cepat siap-siap, saya tunggu di luar sepuluh menit. Awas saja kalau lebih saya potong gaji kamu!''


''Ta,,,,,,''


''Nggak pakai tapi-tapian, sini Naira biar saya yang gendong.'' Abi pun mengambil Naira lalu pergi tanpa mau mendengar alasan Aeril.

__ADS_1


''Ihhhhhh dia itu kenapa sangat menyebalkan sih,'' gerutu Aeril sembari menghentakkan kakinya.


__ADS_2