
Rasa kantuk Aeril seketika lenyap saat melihat bayi mungil yang kini tengah berada dalam gendongannya. Merasa sangat kesal kepada Ayahnya tapi Aeril tidak bisa kesal kepada Naira.
''Sayang maaf ya karena tadi sempat ninggalin kamu, habisnya Papa kamu itu nyebelin banget.''
Aeril menyusui Naira sembari tiduran dan tak menghiraukan Abi dan Indra yang ada di luar rumah.
Abi dan Indra merasa sangat lega karena akhirnya Naira terdiam setelah berada pada Aeril.
''Pak saya mau pulang dulu ya,'' tawar indra karena kantuk kembali menyerangnya.
''Eh nggak bisa!!! Kamu harus menemani saya di sini sampai waktu yang saya tentukan. Mengerti!!!"
''Tapi Pak.''
''Nggak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus nemenin saya di sini, titik.''
Indra menghembuskan nafasnya kasar karena merasa sangat kesal kepada Bosnya yang selalu berbuat di luar dugaan.
Abi dan Indra menunggu di teras depan karena tak berani untuk masuk. Meskipun awal kedatangannya Abi seperti tak punya etika tapi sekarang dia harus tahu batasan dan tidak akan sembarangan masuk kalau yang punya rumah tidak mempersilahkannya untuk masuk.
Satu jam telah berlalu, suasana pun sudah nampak tenang. Naira pun sepertinya sudah sangat nyenyak dan itu membuar Abi duduk di sebelah Indra yang sudah sejak tadi mendengkur seperti kerbau.
Tak lama Abi pun tak kuasa menahan kantuk yang melanda karena memang beberapa hari ini Abi kurang tidur di tambah Naira yang sangat rewel membuat Abi tak pernah beristirahat dengan tenang.
''Den Abi!!!!!!'' pekik Bu Diyah karena tak sengaja melewati depan rumah Aeril dan melihat Abi tidur di depan teras.
Indra dan Abi tersentak kaget karena teriakan Bu Diyah.
''Bu Diyah? Bu Diyah tinggal di dekat sini?'' tanya Abi dengan tangan yang masih mengucek matanya.
''Iyya Den, Ibu tinggal di sebelah kontrakan ini.''
''Oh,'' jawab Abi singkat.
''Den Abi di sini ngapain? kok bisa tidur di depan kontrakan Aeril?''
Oh jadi namanya Aeril. Dalam hati Abi.
''Oh ini Bu, anu em ... '' Abi bingung ingin menjawab Apa.
__ADS_1
''Pak ini Anak Bapak, saya harus bekerja.'' Tiba-tiba Aeril keluar dengan pakaian yang sudah rapi dan bermaksud ingin menyerahkan Naira.
''Loh itu Bayi siapa Aeril?'' tanya Bu Diyah bingung saat melihat Bayi di tangan Aeril.
''Itu cucu saya Bu." Bu Sukma datang karena Abi memang memberikan alamat sebelum Abi tertidur.
''Loh Ibu kok ada di sini juga Bu?''
''Iyya Bu Diyah Abi yang memberikan alamat gadis itu kepada saya.'' Bu Sukma menunjuk ke arah Aeril.
''Loh Ibu kenal Nak Aeril?''
''Iyya Bu jadi cucu saya maunya di susuin sama Aeril saja, sama yang lainnya nggak mau. Jadi saya kesini mau minta tolong sama Aeril buat jadi Ibu susu dari cucu saya, iyya kan Bi.'' Bu Sukma melirik Abi.
''Iyya,'' ucap Abi datar.
''Kamu mau kan Nak jadi Ibu susunya Naira.''
''Tapi Bu saya ... ''
''Ibu mohon Nak, kalau saja cucu saya mau sama yang lain saya tidak akan menyusahkan kamu Nak.'' Raut kesedihan tampak di wajah Bu Sukma mengingat cucunya yang sangat pemilih.
''Tolong bantu Bu Sukma Neng, mereka orang-orang baik kok. kesedihan kamu bisa terobati jika kamu mengasuh anaknya Den Abi.''
''Baiklah,'' ucap Aeril pelan, meski sebenarnya dia agak ragu karena sikap Abi yang selalu saja ketus.
''Terima kasih Nak, Ibu sangat berterima kasih sama kamu. sekarang kamu bisa berkemas-kemas untuk tinggal di rumah Abi.'' Bu Sukma mengambil Naira sementara Aeril bersiap-siap di dalam.
Aeril termenung saat melihat seisi kamarnya yang masih banyak kenangan-kenangan tentang Vano. Meski Aeril sangat membenci Vano tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam masih mencintai Vano.
Di sentuhnya foto pernikahannya dengan Vano yang msih ia simpan di dalam lemari di bawah tumpukan bajunya. Aeril pun tak bisa membendung air matanya yang meluncur begitu saja mengingat semua kenangan-kenangan manis saat bersama dengan Vano. Aeril tak pernah menyangka jika kisah cintanya dengan Vano akan berakhir begitu saja.
Aeril sudah mengemas barang-barang yang akan di bawanya, hanya beberapa setel baju dan yang lainnya ia tinggalkan begitu saja karena tak ingin lagi teringat akan kenangannya dengan Vano.
''Sudah siap Nak?''
''Iyya Bu.''
''Kamu duduk di depan ya sama Naira. Ini Naira kamu yang gendong.'' Bu Sukma menyerahkan Naira ke tangan Aeril lalu mereka semua naik ke dalam mobil Abi.
__ADS_1
Tak lama Naira mengeliat-geliat di pankuan Aeril. Aeril mencoba menenangkannya tapi sepertinya tidak berhasil. Kini mulut kecil Naira terus terbuka seolah mencari sesuatu.
Aeril tahu jika Naira haus ingin menyusu tapi Aeril sangat tidak nyaman jika harus menyusui di samping Abi. Naira kini mulai bersuara dan sesekali ingin menangis tapi Aeril terus mencoba menenangkannya.
''Sepertinya Naira haus Nak, susui saja,'' ujar Bu Sukma dari belakang.
''Iyya Bu.'' Hanya itu yang Aeril katakan tapi belum melakukan apa pun.
Bagai mana mungkin menyusui di dekat Papanya Naira, kalau dia lihat bagai mana? Batin Aeril.
''Kok belum di susuin Nak? Itu Naira udah mulai menangis Nak.'' tanya Bu Sukma kembali.
Aeril merasa kepanasan di dalam mobil padahal AC menyala. Aeril benar-benar bingung dengan situasinya.
''Susui saja Naira, aku tidak akan melihat,'' ucap Abi datar.
Dengan terpaksa Aeril sedikit membelakangi Abi lalu membuka resleting bajunya dengan gugup. Naira menyesapnya dengan kencang karena sangat kehausan.
Abi melirik sebentar ke arah Naira, Bayi itu mulai tenang karena sudah mendapat yang ia cari sejak tadi. Abi tersenyum tipis melihat putri kecilnya yang sudah mulai membaik.
Setelah sampai rumah semua orang sudah masuk ke dalam rumah kecuali Aeril dan Abi.
Aerin ketiduran di dalam mobil karena menyusui Naira dan Abi bingung bagai mana cara membangunkannya.
'' Cepat bangun.'' Abi menarik sedikit rambut Aeril sehingga kepalanya sedikit mendongak.
''Awwwww,'' pekik Aeril kesal.
Aeril melirik tajam ke arah Abi karena ia sadar kalau Abilah yang pasti melakukannya.
''Cepat masuk ke dalam, ini mobil bukan penginapan,'' ucap Abi ketus lalu keluar dari dalam mobil.
''Arghhhhh!!! dasar pria menyebalkan,'' teriak Aeril dalam hati karena jika ia mengeluarkannya pasti Naira akan terbangun dan akan menangis.
Aeril pun berusaha untuk melepas sabuk pengaman yang ia pasang tadi tapi karena tengah menggendong Naira, Aeril sedikit kesusahan.
Abi yang melihat Aeril tak juga turun akhirnya membuka pintu dan melihat apa yang tengah di lakukan Aeril.
''Membuka itu saja tidak bisa, dasar payah.'' Abi mencondongkan tubuhnya lalu membantu Aeril membuka sabuk pengamannya.
__ADS_1
''Dasar pria menyebalkan,'' umpat Aeril kesal.