Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Manusia Aneh


__ADS_3

Pukul sebelas siang Abi pulang ke rumah karena berkas pentingnya tertinggal dan tak mungkin memulai rapat tanpa berkas itu, dengan terpaksa Abi memacu mobilnya menuju rumah.


Beruntung saat Abi pulang jalanan tak terlalu macet dan tak membutuhkan waktu lama untuk sampai rumah.


Saat memasuki rumah Abi mencium aroma seperti ikan bakar bumbu yang membuatnya teringat akan masa kecilnya saat masih bersama Ibunya, Ibunya sangat suka membakar ikan bumbu dan Abi sangat suka memakannya. Setelah Ibunya tiada Abi tak pernah lagi merasakan ikan bakar seperti buatan Ibunya, saat bersama Delia sering Abi membeli ikan bakar tapi rasanya tak sama dengan buatan Ibunya.


Abi mencari-cari sumber bau yang sangat menggugah seleranya. Abi mencari ke dapur tapi tak ada apa pun di sana, lalu Abi tak sengaja melihat Bu Diyah tengah menggendong Naira dari arah belakang rumah.


"Loh Bu Diyah kok Naira Ibu yang gendong, Aeril kemana?" tanya Abi karena tak biasanya Bu Diyah yang menggendongnya.


"Oh itu Den, Neng Aeril lagi bakar ikan di belakang katanya pingin banget dari kemarin jadi tadi pagi pas Ibu ke pasar Ibu beli ikan nila yang besar-besar buat di bakar," jelas Bu Diyah.


Abi mengambil Naira dari gendongan Bu Diyah karena saat melihat Abi Naira mulai mengangkat tangannya ingin minta gendong.


Setelah berada di dalam gendongan Abi mengajak Naira untuk melihat Aeril yang tengah membakar ikan di belakang rumah.


Semakin mendekat semakin Abi merasakan betapa nikmatnya ikan bakar itu ketika di makan nanti. Abi berdiri di belakang Aeril namun tak terlalu dekat takut Naira terkena asap. Aeril tengah mengipasi ikan terakhir yang sedikit lagi akan matang.


"Ay kamu bakar ikan?" tanya Abi saat Aeril tengah sibuk mengipas ikan bakarnya.


"Ya Allah Bapak ngagetin." Aeril memegang dadanya karena merasa sangat kaget dengan Abi yang datang tiba-tiba.


"Ikannya sepertinya enak banget, boleh minta?"


"Boleh Pak boleh banget."


"Loh itu kamu gelar tikar di situ Ay?"


"Oh i,,,iyya Pak, rencananya mau makan bareng sama Bu Diyah dan Mbak Sari di sini, nggak pa-pa kan Pak?."


"Iyya boleh, tapi kalau saya ikutan juga boleh nggak?" tanya Abi pura-pura karena tak mungkin Aeril menolak permintaannya.


"Bukannya Bapak mau ke kantor."


"Iyya sih tapi berhubung ini sudah mendekati jam istirahat jadi sekalian makan siang di sini aja," jelas Abi.

__ADS_1


"Baik Pak kalau begitu akan saya siapkan semuanya." Aeril segera mengangkat ikan dari panggangannya lalu menyiapkan semua yang di butuhkan untuk makan siang di bawah pohon jambu air yang ada di belakang rumah Abi.


Abi dan Delia suka menanam buah yang pohonnya bisa di pakai untuk berteduh, contohnya sekarang Abi dan Aeril sudah siap-siap di bawah pohon jambu untuk makan siang ala-ala camping.


"Tunggu sebentar Pak saya panggil Bu Diyah sama Mbak sari dulu," pamit Aeril.


"Oke saya tunggu di sini dulu." Sembari menunggu Aeril datang Abi mencicipi ikan yang ada di hadapannya. Abi berdecak kagum karena rasanya mirip dengan buatan Ibunya dulu.


Aeril menghampiri Sari yang tengah santai di tempat tidurnya.


"Mbak Sari ayok kita makan di belakang rumah udah aku siapin," ajak Aeril ramah meski Sari sering bersikap ketus kepadanya tapi Aeril bukan tipe orang yang tega kepada orang lain meskipun orang itu kadang menyakiti hatinya.


"Ih kampungan banget, kayak nggak ada tempat bersih aja selain di belakang rumah," ucap Sari ketus.


"Sudah aku bersihin kok Mbak, sudah aku sapu," jelas Aeril mencoba untuk tak terpancing emosi meski Sari mulai bersikap ketus.


"Ih nggak ah, kamu aja sama Bu Diyah. Kamu sama Bu Diyah kan sama-sama kampungan," ejek Sari.


Aeril mendesah kesal lalu meninggalkan Sari tanpa berniat mengajaknya lagi. Aeril kemudian mencari Bu Diyah untuk mengajaknya makan bersama.


"Yah Ibu, masa aku sama Pak Abi doang sih kan nggak enak Bu."


"Ya nggak pa-pa Neng, Pak Abi juga pasti biasa aja."


"Iyya dia biasa aja, akunya yang nggak enak Bu," rengek Aeril.


"Ya udah deh Ibu temenin hayuk jangan manyun aja."


"Nah gitu dong Bu kan enak jadinya."


Aeril menaruh Naira di dalam kereta bayi agar lebih aman.


Aeril dan Bu Diyah segera ke belakang untuk makan bersama dengan Abi. Untung saja Bu Diyah mau di ajak bersama kalau tidak pasti Aeril akan merasa canggung saat makan bersama dengan Abi.


"Lama banget Bu Diyah, udah laper banget nih." Abi mengelus perutnya.

__ADS_1


"Iyya maaf Den, ya udah yuk kita mulai makan."


Aeril mulai menyiapkan piring untuk Abi dan Bu Diyah lalu untuknya. Karena tak sabar Abi segera mengambil nasi juga mengambil ikan dengan tak sabar tapi tiba-tiba Abi tertusuk duri karena tak hati-hati.


"Awwww," pekik Abi lalu menarik tangannya dan mengibas-ngibaskannya.


"Bapak nggak pa-pa? Harusnya Bapak hati-hati," ucap Aeril lalu tanpa aba-aba memisahkan ikan dengan durinya lalu memberikannya ke piring Abi.


Abi terkesima melihat ketelatenan Aeril memisahkan ikan dari durinya. Mengapa mantan suami Aeril begitu buta dengan semua kelebihan yang Aeril miliki.


"Makasih Ay, saya kalap mata karena lama banget baru makan ikan bakar lagi," ucap Abi lalu mulai menyuap nasi dan ikannya.


Aeril hanya tersenyum lalu ikut makan karena memang perutnya juga sudah lapar sejak tadi.


Sari yang melihat pemandangan di belakang rumah seketika mencak-mencak kesal dan menyesal karena tak mau ikut saat di ajak oleh Aeril, padahal di sana ada Abi. Kalau saja Sari tau ada Abi di sana sudah pasti Sari akan dengan senang hati ikut makan siang bersama.


"Aeril pasti sengaja nih nggak bilang kalau ada Pak Abi, biar dia bisa leluasa tebar pesona kepada Pak Abi," gerutu Sari kesal.


Segera Sari juga menghampiri Aeril untuk ikut makan bersama Abi, lumayan lah meski cuma sebentar biar bisa dekat dengan Abi, fikir Sari.


"Aku juga mau makan," ucap Sari dengan gayanya yang sok cantik.


"Yah .... maaf Mbak Sari sudah habis, Mbak Sari telat. Kan tadi bilangnya nggak mau, jadi kita abisin," ucap Aeril dengan sedikit penyesalan karena tak menyisakan ikan untuk Sari.


Sari mendengus kesal lalu meninggalkan mereka yang sudah selesai makan. Abi pun pamit untuk kembali ke kantor untuk menghadiri rapat.


"Sengaja banget ya nggak bilang kalau ada Pak Abi yang ikut makan siang, biar kamu leluasa mepet-mepet Pak Abi, iyya kan?" todong Sari saat Aeril akan menidurkan Naira di kamar.


"Mbak Sari tuh kenapa sih selalu ... aja nyalahin saya buat kesalahan yang nggak saya perbuat. Gimana saya mau bilang ke Mbak Sari kalau Mbak aja selalu ketus sama saya."


"Halah alasan aja kamu."


"Udah deh mending Mbak Sari keluar takutnya Naira nangis ngedenger suara Mbak yang keras."


"Dasar tukang cari muka ya kamu, awas aja lalin kali nggak bakal saya biarin Pak Abi dekat-dekat kamu lagi." Sari pun pergi dari kamar Naira dengan kesal.

__ADS_1


"Ihh dasar manusia aneh, hobi banget marah-marah nggak jelas." Aeril menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Sari yang selalu marah saat Aeril tanpa sengaja bersama Abi.


__ADS_2