
Pagi ini mentari bersinar begitu indah cahayanya menerangi semua yang ada di muka bumi ini, burung-burung berkicau begitu merdu memanjakan indra pendengaran para pejalan kaki yang tengah menikmati udara pagi.
Abi memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit tempat Naira di rawat. Kurang lebih satu minggu di rawat dan hari ini Dokter telah mengijinkan Naira untuk pulang. Dengan perasaan yang begitu bahagia Abi akan menjemput Naira dan Aeril di rumah sakit.
Abi berniat mengutarakan niatnya kepada Aeril untuk memulai semuanya dari awal demi Naira. Abi bahkan mengosongkan semua jadwal hari ini hanya untuk menjemput Naira dan Aeril dari rumah sakit.
Abi memutar perlahan handle pintu ruangan Naira dan alangkah terkejutnya Abi saat melihat seseorang yang kini tengah menggendong Naira.
Abi menghampirinya dengan perasaan malas. "Ngapain kamu kesini?" tanya Abi dengan sedikit malas.
Melihat Abi datang matanya berbinar begitu bahagia dan berniat untuk menghambur ingin bermanja-manja tapi Abi segera menghindarinya karena sangat risih dengan tingkahnya.
"Ih Kak Abi jutek banget sih!! Aku tuh ke sini jelas mau nengokin Naira calon anak aku, apa lagi?" ucapnya sembari tersenyum menyebalkan.
Abi mendesah kesal. Ada saja yang selalu mengganggu di saat bahagia, tapi sebisa mungkin Abi bersikap biasa saja karena Abi tak ingin merusak mood bahagianya dengan emosi.
"Kak Abi masih memperkerjakan wanita kampungan itu? Ihh kenapa nggak di pecat aja sih. Dia itu Kak kerjanya nggak bener, masa ya tadi pas aku dateng dia ngebiarin Naira sendirian di boks bayinya kan bahaya," cerocos Vani sembari menunjuk ke arah Aeril yang baru saja keluar dari toilet.
"Aeril itu pasti kebelet jadi ke toilet, lagian Naira juga lagi anteng kok kelihatannya," bela Abi, tak rela jika Aeril di hujat oleh Vani.
"Ih Kak Abi nih selalu aja sih belain dia! Dia itu kan babu, kenapa seolah Kak Abi mengistimewakan dia."
"Dengar ya Vani dia itu bukan babu tapi dia itu Is--" Belum sempat Abi meneruskan perkataannya tapi sudah di potong oleh Aeril.
"Saya Ibu susu sekaligus Babysitternya Naira Mbak," ucap Aeril sembari meremas tangan Abi, tanda jika ia tak ingin Abi mengatakan tentang hubungan mereka.
__ADS_1
Abi melotot ke arah Aeril, tak mengerti mengapa Aeril mencegahnya untuk mengatakan status mereka yang sebenarnya kepada Vani, tapi Aeril hanya mengedipkan mata perlahan ke Abi seolah ingin mengatakan bahwa tak perlu mengatakannya kepada Vani.
Jadi lah saat ini Abi dan Aeril beradu pandang berbicara melalui isyarat dan itu membuat Vani sangat kesal.
"Ihhh kamu ngapain sih megang-megang tangan Kak Abi, songong banget, Babu kok langcang sama majikan!! Sana-sana menjauh dari Kak Abi, Kak Abi itu calon suami aku kalau kamu mau tahu." Vani menyenggol bahu Aeril dengan keras agar pegangan tangan Aeril terlepas dari Abi.
"Vani kamu kasar banget sih sama Aeril!!!" Abi kini sedikit emosi melihat tingkah Vani yang bersikap kasar kepada Aeril.
"Kak Abi nih kenapa sih selalu belain babu ini. Pokoknya ya setelah umur Naira dua tahun babysitternya harus ganti karena aku nggak suka sama dia," tukas Vani sembari bersedekap, tatapannya pun sangat tak bersahabat dengan Aeril.
"Apa hak kamu main mau ganti-ganti babysitter, emang kamu siapa?" kata Abi ketus.
"Aku ini calon istri Kak Abi juga calon Mamanya Naira. Sebagai calon Mamanya aku akan mengusahakan yang terbaik untuk anak kita, termasuk memilih babysitter yang baik buat Naira, bukan yang nggak becus kayak dia." Menatap ke arah Aeril dengan tatapan tak suka.
"Saya udah bilang kalau Aeril I--"
"Sok tahu banget sih kamu, memangnya kamu dokter yang bisa prediksi kesehatan Naira?
Lagian ya perdebatan aku sama Kak Abi itu wajar karena kami calon suami istri, orang luar kayak kamu nggak berhak ikut campur," cecar Vani.
Aeril menghembuskan nafas panjang karena merasa tak nyaman dengan situasi saat ini.
"Ay semuanya udah siap kan? Ayuk kita pulang," ajak Abi yang hanya di balas anggukan kepala oleh Aeril.
"Biar aku aja yang gendong Naira, kamu bawa barang-barang aja. Kasian Naira kalau keseringan di pegang orang kampungan kayak kamu nanti dia ikutan kampungan."
__ADS_1
"Vani!!!" teriak Abi yang sudah tak mampu menahan emosinya. Kata-kata Vani sudah sangat keterlaluan dan membuat telinganya memanas.
"Kamu itu bisa nggak sih nggak bersikap kurang ajar seperti itu. Kayak nggak pernah di ajarin kebaikan aja sama orang tua. Dari pada di sini kamu cuma bisa bikin keributan, mending kamu pulang sana!!!" Vani tersentak kaget mendengar teriakan Abi.
"Kak Abi jahat!!" Sambil menangis Vani akhirnya pergieninggalkan ruangan Naira meski sebelum itu melemparkan tatapan sinis ke arah Aeril.
"Gendong Naira biar saya yang bawa barang-barang Naira," perintah Abi.
Aeril hanya mengangguk pelan mendengar perintah Abi lalu mengambil Naira dari Abi.
Saat di mobil Abi tak lantas menjalankan mobilnya tapi menatap Aeril yang juga duduk tanpa bersuara.
"Kamu kenapa mencegah saya mengatakan kepada Vani tentang hubungan kita?" tanya Abi.
Aeril menarik nafas pelan sebelum menjawabnya. "Saya sama Bapak berbeda kasta, bagai langit dan bumi. Saya nggak mau membuat Bapak malu saat orang-orang mengetahui tentang hubungan kita. Lagian benar kata Vani saat Naira berusia dua tahun dia pasti sudah tak membutuhkan saya lagi dan di saat itu juga saya akan pergi," jawab Aeril tegas.
"Apa maksud kamu?" tanya Abi lagi. Hatinya seperti di remas mendengar Aeril akan pergi setelah Naira tak membutuhkannya lagi.
"Kita menikah hanya karena terpaksa dan pernikahan yang terjadi karena paksaan tak akan berujung kebahagiaan, baik saya atau pun Bapak kita tidak akan pernah bahagia." Aeril mengatakannya tanpa menatap Abi, pandangannya hanya lurus ke depan.
Sebenarnya ia pun tak ingin berkata seperti itu tapi setidaknya perkataan itu akan membuatnya sadar akan posisinya sekarang yang hanya babysitter Naira. Bukankah Abi tak akan menganggapnya istri karena pernikahan mereka hanya kesalahan. Aeril tak ingin berharap apa pun dengan hubungannya dan Abi saat ini karena bagi Aeril harapan hanya akan membuat seseorang akan kecewa nantinya.
Abi mengbuang nafas kasar, entah mengapa mendengar perkataan Aeril membuat sesuatu di dalam sana berdenyut sakit, luka tapi tak berdarah. Padahal Abi sudah ingin mencoba membuka hati tapi perkataan Aeril membuat Abi kembali menutup hatinya rapat-rapat.
"Ya kamu benar hubungan kita sekarang hanya karena Naira, saat Naira tak lagi membutuhkanmu kamu bisa pergi kapan pun kamu mau." Setelah mengatakan itu Abi melajukan mobilnya dengan perasaan hati yang berkecamuk.
__ADS_1
Aeril menangkap gurat kecewa di mata Abi tapi apa mau di kata , Aeril harus sadar siapa dia dan siapa Abi, mereka tak akan pernah cocok dan tak akan pernah bersatu.