Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Usaha Sari


__ADS_3

Hari-hari kini telah berlalu dengan semua peraturan dari Abi yang Aeril jalani dengan perasaan yang begitu sedih karena di batasi melihat Naira. Aeril benar-benar tersiksa karena tak bisa berlama-lama bersama Naira.


Sari akan langsung mengambil Naira dari pangkuan Aeril setelah selesai menyusu.


"Ini perintah Pak Abi Aeril. Saya nggak mau kehilangan pekerjaan saya kalau saya ketahuan nggak menjalankan perintahnya," ucap Sari jika Aeril meminta untuk lebih lama lagi bersama Naira.


"Tapi Mbak sebentar ... saja, saya masih rindu Naira," kata Aeril memohon.


"Maaf banget Aeril aku nggak bisa, aku takut sama Pak Abi." Lalu Sari mengambil Naira dari Aeril dan pergi dari hadapannya tak perduli jika Naira menangis karena masih menginginkan Aeril.


Aeril pun hanya bisa pasrah dengan semua keadaan yang menimpanya. Aeril pun takut jika memaksa untuk bersama Naira maka akan membahayakan pekerjaan Sari, Aeril tidak mau itu terjadi meski ia ingin sekali berlama-lama dengan Naira.


Kini semua tugas Sari Aeril lah yang mengerjakan, Sari pun begitu senang karena pekerjaannya hanya menjaga Naira di dalam kamar dan puas bermain ponsel sembari tiduran tak perduli jika Naira merengek.


"Mbak Sari Naira belum bangun ya?" tanya Aeril ketika masuk ke kamar Naira saat pukul lima pagi.


"Belum, kamu gangguin aja sih!!


Ini kan masih pagi, gangguin orang tidur aja kamu tuh," ucap Sari ketus karena masih sangat mengantuk tapi Aeril sudah membangunkannya.


"Kok tumben ya akhir-akhir ini Naira udah nggak pernah nyusu malem, biasanya dia aktif banget nyusu kalau malam, tapi ini bahkan sudah hampir pagi Naira belum bangun juga." Mendengar perkataan Aeril Sari gelagapan dan buru-buru bangun.


"Em ... ya berarti Naira sekarang sudah pintar dan tak mau menyusahkan kamu Aeril. Ini artinya Naira nyaman sama aku, buktinya dia lebih banyak tidur dari pada bangun tengah malam. Bayi yang hobi tidur kan artinya dia akan cepat besar," kilah Sari dan sebisa mungkin mencoba agar tak terlihat gelagapan di depan Aeril.


"Masa sih Mbak, setahu aku kalau bayi di bawah satu tahun itu memang lagi gencar-gencarnya nyusu dan aneh aja soalnya kemarin-kemarin Naira masih biasa aja tapi kok sekarang beda ya." Aeril masih heran dengan tingkah Naira.


"Ah itu mah perasaan kamu aja Aeril, anak Bayi kan memang seperti itu selalu berubah-ubah. Kamu kan belum pernah ngurus bayi jadi pasti kamu nggak tahu, kalau aku kan udah sering ngasuh bayi jadi aku paham sama tumbuh kembang Bayi."


"Iyya juga kali ya Mbak, mungkin akunya aja yang terlalu khawatir dengan Naira jadi selalu khawatir berlebihan." Akhirnya Aeril tak lagi bertanya karena memang Aeril tak berpengalaman tentang Bayi jadi tak bisa beradu argumen dengan Sari yang sudah berpengalaman mengurus bayi.


"Ya udah kalau gitu aku permisi Mbak Sari, maaf kalau udah ganggu tidur Mbak Sari." Aeril pun keluar dari kamar Naira.


Setelah kepergian Aeril Sari mengeram kesal karena Aeril telah mengganggu tidur nyenyaknya.

__ADS_1


"Sok perhatian, memangnya kamu siapa?


Pasti mau bikin Pak Abi terkesan dengan segala perhatiannya kepada Naira.


Lihat saja aku nggak akan membiyarkan kamu untuk bisa mengambil perhatian Pak Abi," gerutu Sari.


Setelah selesai sarapan Abi meminum kopinya sembari menunggu Naira turun tapi yang di tunggu tak juga turun dan membuat Abi sedikit gelisah karena biasanya sebelum ke kantor Abi akan bermain dulu dengan Naira meski sebentar.


"Bu Diyah Naira belum bangun?'' tanya Abi saat Bu Diyah hendak kembali ke dapur.


"Kurang tau juga Pak, soalnya Ibu memang belum lihat Sari dari tadi," jawab Bu Diyah seadanya.


"Oh gitu ya, ya udah makasih Bu." Abi pun tak lagi bertanya.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi tapi tak ada tanda-tanda Sari keluar dari kamarnya. Abi pun berniat naik kemar Naira karena ingin melihat keadaan putri kecilnya.


"Sari," panggil Abi dari luar setelah beberapa kali mengetuk pintu.


Sari yang mendengar panggilan Abi seketika kelabakan dan buru-buru merapikan dirinya lalu membuka pintu kamar.


"Naira belum bangun?"


" Belum Pak soalnya semalam begadang, subuh baru tidur makanya jam segini belum bangun," jawab Sari.


"Oh ... Oh iyya kamar Naira kenapa berantakan banget begini, seperti kapal pecah?"


"Oh itu Pak Aeril nggak mau membersihkan kamar ini, saya juga repot Pak ngurus Naira jadi belum sempat beresin." lagi-lagi Sari menjelekkan nama Aeril di depan Abi.


"Ya sudah nanti suruh Aeril beresin kamar sama semua keperluan Naira, tugas kamu cuma jagain Naira dan Aeril yang akan mengerjakan semua pekerjaan kamu kemarin,'' ucap Abi tegas.


"Baik Pak nanti saya kasih tau Aeril."


Setelah melihat Naira yang tertidur pulas Abi pun berangkat ke kantor.

__ADS_1


''Apa Naira akhir-akhir ini kelelahan?


Kenapa dia sering sekali tertidur," gumam Abi saat berada di dalam mobil.


Jam delapan Pagi Naira menangis begitu kencang, sari yang masih tidur-tiduran sembari bermain ponsel sampai kesal mendengar tangisnya.


''Kamu nih kenapa sih Naira? Bangun-bangun kok langsung nangis aja, menyebalkan," gerutu Sari.


"Mbak Sari, Naira sudah bangun ya?" Aeril membuka pintu kamar Naira dengan tersengal karena lari dari bawah saat mendengar suara Naira.


"Iyya, ya udah tuh susuin dia pasti udah laper banget." Sari pun beranjak dari tidurnya lalu menuju kamar mandi untuk segera mandi.


Tanpa banyak bicara Aeril segera meraih Naira dari tempat tidur lalu menyusuinya karena semalaman Naira tak menyusu.


Naira menyusu begitu lahap seperti sedang kelaparan, terlihat dari gerak bibirnya yang tak hentinya menghisap bahkan sesekali terdedak, Aeril menatap Naira dengan tatapan sendu.


''Pelan-pelan saja sayang tante akan selalu di sini kok buat jagain Naira." Aeril membelai rambut Naira dengan penuh kasih sayang, sesekali memeluknya karena merasa sangat rindu sebab sudah tak bebas melihatnya seperti dulu.


Sore harinya Sari melihat mobil Abi tiba di depan rumah, buru-buru Sari menggendong Naira lalu turun untuk menyambut Abi datang, Sari sudah berdandan secantik mungkin dan memakai dress seksi berharap Abi akan tertarik kepadanya.


Saat Abi membuka pintu Abi mengernyit heran melihat penampilan Sari yang menurut Abi tidak sopan.


"Seragam kamu di mana Sari?" tanya Abi saat melihat Sari senyum-senyum kegatelan.


"Oh itu Pak seragam saya kotor jadi saya ganti baju aja,'' ucap Sari yang jelas berbohong.


"Bukannya seragam kamu dua?"


"Iyya Pak tapi karena ini sudah sore jadi sekalian aja saya ganti baju."


"Lain kali pakailah baju yang lebih sopan. Saya nggak suka ngeliat orang yang kerja di rumah ini berkeliaran dengan baju yang tidak sopan," ucap Abi ketus lalu berlalu dari hadapan Sari.


"Ba,,,,,baik Pak." Setelah Abi pergi Sari menghentak-hentakan kakinya di lantai karena kesal. Padahal sudah capek-capek dandan sedemikian rupa, bahkan Sari sudah memakai baju seksi yang memperlihatkan dengan jelas belahan dadanya, tapi Abi malah tak menghargai usahanya.

__ADS_1


"Pak Abi itu sebenarnya normal nggak sih, masa lihat tubuh seksi begini nggak tergiur," gerutu Sari lalu kembali naik ke kamar Naira untuk istirahat saja karena merasa usahanya sia-sia.


__ADS_2