
Aeril begitu terpana melihat wajahnya pada cermin besar yang ada di dalam salon. Aeril hampir tak mengenali dirinya sendiri setelah selesai melakukan berbagai perawatan di salon.
Astaga apa jangan-jangan mereka melakukan operasi plastik pada wajahku? kenapa wajahku terlihat berbeda.
Aeril meraba wajahnya untuk memastikan benar atau tidak dugaannya barusan.
"Kenapa nyonya apa ada yang kurang? kalau ada yang tidak anda sukai akan saya perbaharui?" tanya karyawan salon itu.
"Apa kalian telah mengoperasi wajahku?" Bukannya menjawab malah Aeril balik bertanya.
Beberapa karyawan di salon ikut tertawa melihat Aeril yang masih tampak kebingungan. Lalu seorang Wanita cantik menghampiri Aeril.
"Kami tak perlu mengoperasi wajah seseorang yang memang aslinya sudah cantik," kata wanita yang menghampiri Aeril.
Seketika Aeril merona mendengar pujian seperti itu. Tak henti-hentinya ia memuji tangan-tangan ajaib yang sudah membuat penampilannya berubah drastis.
Selama ini Aeril memang tak mengenal alat-alat make up karena dia tak mengerti cara menggunakannya, toh dia pun sudah bersuami baginya jika suaminya menerimanya apa adanya tak perlu merubah dirinya sedemikian rupa.
"Kita tidak merubahnya hanya saja mempercantik sesuatu yang di ciptakan Allah itu tidak salah. Suami tidak pernah protes dengan penampilan kita tapi bukan berarti kita acuh pada penampilan apa lagi masalah wajah.
Bisa bayangin nggak jadi suami saat pulang kerja terus ngeliat penampilan kita biasa aja sedangkan di luaran sana dia melihat cewek-cewek seksi dan glowing terus pas pulang istrinya biasa aja, duhh seribu satu deh cowok yang mau terima istri apa adanya apa lagi kalo suami kerja di kantoran, duhh godaannya banyak."
Aeril terus menyimak Diana berbicara dan baru di ketahui ternyata Diana adalah pemilik salon ini, pantas saja dia terlihat begitu cantik meski tidak dandan yang berlebihan.
"Kalau kita selalu menjaga penampilan di hadapan suami, ya ... meskipun ahlak juga penting tapi setidaknya kalau kita menjaga penampilan suami bakalan mikir keras deh buat ninggalin kita," terang Diana panjang lebar.
Aeril teringat akan masa lalunya saat bersama Vano, bahkan Vano tak berfikir dua kali saat meninggalkannya, mungkin karena penampilannya yang biasa saja.
"Nah pangerannya sudah datang untuk menjemput," ucap Diana saat pintu salon bergeser dan Abi mulai melangkah masuk.
Aeril seketika membalikkan badannya ketika mendengar perkataan Diana.
Abi berhenti saat melihat penampilan Aeril dari jauh, matanya bahkan tak berkedip. Sama seperti Aeril bahkan Abi pun terpesona melihat penampilan Aeril setelah melakukan perawatan. Rambut yang biasanya selalu ia ikat kini di urai dengan ujungnya yang di curly lalu memakai Dress berwarna merah maroon makin menunjang penampilannya.
"Halo Pak Abi, sepertinya anda sangat terpesona dengan penampilan istri anda," goda Diana lalu menghampiri Abi, dan saat Diana hendak cipika cipiki Abi menghindar.
"Astaga Abi masih aja kaku seperti dulu, cipika-cipiki jaman sekarang itu udah biasa Bi," ucap Diana terkekeh melihat tingkah Abi masih sama seperti dulu yang tidak sembarangan kepada wanita.
"Nggak biasa," ucap Abi singkat.
"Dasar kolot," sahut Diana.
"Gimana nih, makin cantik kan." Diana menggeser tubuhnya dari hadapan Aeril agar Abi melihatnya.
__ADS_1
Abi terdiam sejenak melihat penampilan Aeril yang begitu mempesona lalu dengan cepat membuang pandangannya.
"Biasa aja," cletuk Abi.
Senyum yang tadi mengembang di wajah Aeril kini berubah dengan mengerucutkan bibirnya.
"Astaga Abi ... yang kayak gini di bilang biasa aja. Kamu nggak akan rugi kalau muji istri sekali-kali Bi." Diana menggeleng-gelengkan kepala ikut kesal melihat kelakuan Abi.
"Dia itu dari dulu memang seperti itu, nggak pernah bisa mengungkapkan perasaannya, jadi kamu harus ekstra sabar punya model suami kayak dia," bisik Diana di telinga Aeril.
"Lagi ngomongin apa?" tanya Abi saat melihat Diana membisikkan sesuatu di telinga Aeril.
"Kepo banget," jawab Diana di iringi kekehan kecil.
"Ya udah minggir udah telat." Tiba-tiba Abi menggeser tubuh Diana lalu meraih jemari Aeril untuk segera keluar, karena jika berlama-lama di sini maka Diana akan terus menggodanya.
"Eh ya ampun ... buru-buru banget Pak. Awas jangan salah tempat, bukannya di bawa ke acara Mia eh nanti malah belok ke hotel," teriak Diana tak ada puasnya menggoda Abi.
"Bawel!!!" balas Abi lalu bergegas membawa Aeril untuk masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya membukakannya pintu.
"Kamu cantik," ucap Abi pelan tapi masih bisa terdengar oleh Aeril.
"Kenapa?" tanya Aeril ingin memastikan.
"Enggak, saya nggak ngomong apa-apa," jawab Abi dan membuat Aeril kini diam.
Aeril menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, entah mengapa setiap mendengar nama Vano dia merasa sangat tidak nyaman dan membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Ay Papa pulang dari luar negri dan langsung ke tempat Vano untuk menghadiri acara. Papa dan Papanya Vano kakak beradik dan Papa belum kenal kamu, jika nanti dia di sana bicara yang kurang mengenakkan jangan di ambil hati ya." Abi menjelaskan agar nantinya Aeril tidak kaget saat bertemu Papa mertuanya.
"Aturan tadi saya nggak usah ikut, saya merasa nggak pantas berada di sana," ucap Aeril lesu.
"Kamu sangat pantas berada di sana Ay, kamu istri saya saya nggak akan biarkan apa pun terjadi sama kamu."
Nyess!!!
Mendengar perkataan Abi serasa ada air sejuk yang menyirami hatinya yang telah mengering selama ini, memberikan kesejukan dan bibit-bibit harapan baru.
Setelah menjemput Naira yang di jaga oleh Bu Diyah, kini Abi membawa mobilnya ke tempat acara di langsungkan.
Mobil memasuki gerbang rumah Vano yang halamannya sangat luas. Setelah memarkirkannya Abi turun dari mobil lalu membukakan Aeril pintu dan membantunya untuk turun.
"Ay biasa aja nggak usah tegang," ucap Abi saat merasakan telapak tangan Aeril dingin.
__ADS_1
"Saya nggak biasa ke tempat seperti ini, saya juga takut malu-maluin."
"Kamu cantik Ay, kamu nggak malu-maluin kok sumpah," kata Abi agar kepercayaan diri Aeril timbul.
Wajah Aeril merona mendengar pujian dari Abi. Lalu keduanya berjalan bersisian memasuki rumah yang telah di dekorasi dengan cantik.
Para tamu sudah banyak yang hadir dan saat Abi dan Aeril memasuki ruang utama, hampir semua mata tertuju ke arah Abi dan Aeril terutama Aeril, banyak tamu yang berdecak kagum m melihat Aeril datang mendampingi Abi.
"Wah itu pasti pacar Abi, cantik banget ya nggak kalah sama Delia."
"Iyya pasangan yang serasi."
"Udah akrab gitu sama anak Abi."
Beberapa orang berbisik-bisik positif tentang Abi dan Aeril dan tak bisa di pungkiri Aeril sangat lega mendengarnya.
"Mama itu kan si babu kampungan!!
Kenapa Kak Abi ngajak dia ke sini sih?" Vani mulai kesal karena Abi membawa Aeril ke sini padahal malam ini Papa Abi sudah berjanji kepada Vani untuk segera meresmikan hubungannya dengan Abi.
"Tenang aja sayang, mau Abi datang ke sini sama si babu kek atau sama siapa kek, itu nggak masalah karena Om Harun kan sudah janji sama kamu kalau kamu akan segera menjadi istri Abi.
"Tetep aja aku kesel Ma."
Kenapa juga si babu malam ini jadi cantik begitu, ihh sebbel.
Abi pun perlahan mendekat ke titik acara untuk memberikan kado yang ia bawa bersama Aeril.
"A,,,,Aeril," pekik Bu Heni saat Aeril dan Abi mendekat.
"Loh Mama kenal sama Baby sitternya Naira?" tanya Vani heran.
Bu Heni tak langsung menjawab, jantungnya berdegub kencang saat melihat Aeril ada di sini.
Wanita kampungan!!! kenpa dia bisa ada di sini??
*
*
*
*
__ADS_1
Sabar ya Beb, ketemu Vano kadas kurap kutu airnya di pending dulu soalnya dia lagi sibuk di suruh ini-itu sama istri kesayangannya jadi belum sempet lihat mantan terindah.
Di tunggu komen lucunya😍😍😍😍