
Sore itu setelah memandikan Naira Aeril meletakkan Naira di dalam kereta bayi lalu meninggalkannya sebentar ke dapur untuk minum. Aeril mengambil gelas kemudian membuka kulkas dan mengambil air minum lalu menuangnya ke dalam gelas dan meminumnya.
Sari yang kebetulan melihat Naira yang begitu menggemaskan mencoba untuk menggendongnya.
"Aku juga pantes kok jadi Mama kamu, ya kan Naira?" Sari mengajak Naira berbicara sembari mengajaknya keluar rumah. Sari lupa jika ia tidak di ijinkan memegang Naira, tapi karena Naira begitu menggemaskan Sari lupa akan larangan Abi dan terus menggendong Naira hingga sampai di pinggir kolam renang.
Naira tiba-tiba menangis karena tak biasa berada dalam gendongan Sari dan terus saja menggeliat. Sari yang kuwalahan dengan Naira tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan tak sengaja membuat Naira jatuh.
"Ya Allah," pekik Sari. Sari bingung harus berbuat apa, ingin menolong tapi takut nanti di salahkan, lalu Sari melihat sekeliling karena tak ada orang ia cepat-cepat kabur ke kamarnya.
Sementara Aeril yang mendengar Naira menangis tersentak kaget karena mendengar bunyi aneh di samping rumah. Aeril bergegas ke ruang tamu dan melihat kereta bayi ternyata Naira tak ada. Alangkah kagetnya Aeril karena melihat tak ada Naira di sana lalu dengan panik Aeril ke samping rumah dan benar saja Aeril melihat baju Naira di kolam renang.
"NAIRA!!!" pekik Aeril lalu berlari dengan tubuh yang bergetar. Setelah sampai Aeril melompat ke dalam kolam renang tanpa memperdulikan apa pun padahal dia sendiri tak bisa berenang.
Abi yang kebetulan sudah berada di depan pintu kaget mendengar teriakan Aeril dan bergegas masuk.
"Ay, Ay, kamu di mana?" panggil Abi tapi tak ada yang menjawab, hanya Bu Diyah yang juga berlari dari arah kamar mandi.
"Bu Diyah Aeril di mana?" tanya Abi seketika.
"Ini Ibu lagi mau nyari Den soalnya pas Ibu lagi di kamar mandi Ibu dengar suara Neng Aeril teriak dari arah kolam renang.
Tanpa banyak bicara lagi Abi lari menuju kolam renang karena fikirannya sudah menduga yang tidak-tidak. Dan benar saja saat sampai di pinggir kolam renang Abi begitu kaget melihat Naira dan Aeril berada di dalamnya. Dengan cepat Abi melompat ke dalam air dan menyelamatkan Naira dan memberikannya kepada Bu Diyah lalu menolong Aeril yang juga nyaris kehabisan nafas.
__ADS_1
"Bu cepat panggil Dokter, saya takut Naira kenapa-kenapa," titah Abi saat telah naik dari dalam kolam renang. Naira menangis begitu kencang karena syok.
Setelah mengganti pakaian Naira Dokter pun tiba dan memeriksa keadaan Naira.
"Tidak perlu cemas Pak Abi, Naira tidak apa-apa, dia cuma syok saja dan untungnya tak menelan banyak air," ucap sang dokter yang membuat semua menjadi lega.
Setelah Dokter pamit pulang, Abi menatap Aeril tajam.
"Saya nggak akan menuntut penjelasan Ay karena saya tahu kamu pasti nggak sengaja. Tapi kamu harus pastiin ini yang pertama dan yang terakhir kamu lalai menjaga anak saya." Abi pun meninggalkan Aeril di ruang tamu dan membawa Naira bersamanya tanpa mau mendengarkan penjelasannya.
"Bu Diyah saya nggak tahu apa-apa, tadi aku cuma pergi minum di dapur sebentar, pas saya cek Naira sudah tak ada di kamarnya Bu." Aeril menangis tersedu di pelukan Bu Diyah. Abi bahkan mengira dia teledor saat menjaga Naira padahal Aeril sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
"Yang sabar Nak, Abi saat ini sedang sangat marah dan tak akan pernah mau mendengarkan penjelasan apa pun. Tunggu sampai dia tak lagi marah baru kamu bisa menjelaskannya." Bi Diyah menepuk-nepuh bahu Aeril dengan penuh kasih sayang. Meski Abi tak mempercayai Aeril tapi Bu Diyah sangat percaya kalau Aeril tak mungkin lalai menjaga Naira dan membuatnya terjatuh.
"Loh Sar kamu dari mana aja?" Bu Diyah balik bertanya karena sejak tadi Sari tak ada.
"Saya tadi tidur Bu di kamar karena semua pekerjaan sudah selesai, terus saya dengar ada suara ribut-ribut jadi bangun."
"Ini, Naira jatuh ke dalam air dan nggak ada yang tahu siapa yang membuatnya masuk ke dalam kolam renang. Sekarang Abi sangat marah," jelas Bu Diyah.
"Halah dasar si Aerilnya aja yang nggak becus jaga Naira," ucap Sari ketus.
"Aku nggak tahu apa-apa Mbak Sari, tadi aku lagi minum terus tau-tau Nairanya udah nggak ada di kereta bayi. Pas aku cari ternyata Naira sudah masuk kolam," ungkap Aeril yang masih sesegukan.
__ADS_1
"Nggak mungkin itu bayi bisa jalan sendiri terus loncat ke dalam kolam. Palingan juga kamu yang nggak sengaja jatuhin terus nggak mau ngaku karena takut di marahin Pak Abi, iyya kan? ngaku aja," cecar Sari seolah tak sadar jika dia lah yang melakukannya.
"Ya Allah Mbak Sari, kalau aku yang ngelakuin pasti aku mengaku salah, tapi ini sama sekali aku nggak tahu apa-apa."
"Udah lah Aeril harusnya kamu itu sadar diri kalau kamu itu nggak becus jaga Naira dan harusnya kamu segera pergi dari rumah ini kalau kamu memang masih memiliki malu."
Aeril hanya bisa menangis mendengar semua tuduhan Sari, Aeril bahkan tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Sari karena terus kepikiran Naira. Entah apa yang akan terjadi jika Abi tidak pulang tepat waktu, sedangkan ia sendiri tidak bisa menyelamatkan Naira.
Mungkin benar apa kata Sari jika ia memang ceroboh karena meninggalkan Naira sendiri, meski bukan ia yang membuat Naira masuk ke dalam kolam tapi setidaknya jika ia tak meninggalkan Naira sendiri, semua ini pasti tidak akan terjadi.
Abi tidur bersama Naira di kamarnya, sedangkan Aeril menunggu di depan kamar Abi, takut kalau Naira membutuhkannya. Sampai jam sembilan malam Aeril masih berdiri di depan kamar Abi menunggu Naira.
Tak lama setelah itu terdengarlah suara Naira dari dalam kamar, Aeril ingin segera membuka pintu kamar Abi tapi segera di urungkannya mengingat betapa marahnya Abi sore tadi. Mata Abi menyiratkan kekecewaan yang sangat dalam kepada Aeril dan itu membuat Aeril sangat terluka.
Suara Naira semakin kencang dan Abi masih berusaha menenangkannya sedangkan Aeril terus menunggu di depan pintu dengan cemas. Baru saja akan mengetuk pintu Abi sudah lebih dulu membuka pintu sembari menggendong Naira.
Aeril hanya mematung di depan pintu begitu pun Abi. Aeril tak mampu berkata apa-apa saat wajah Abi kembali seperti dulu saat pertama kali mereka bertemu, sama sekali tak bersahabat.
"Bawalah, susui dia dan jangan mengulangi hal yang sama karena saya akan melakukan tindakan tegas bagi siapa pun yang membahayakan Naira." Kata-kata Abi membuat hati Aeril mencelos.
"Baik Pak, maaf untuk kejadian tadi sore." Suara Aeril bergetar menahan tangis karena kesalahan yang tak di perbuatnya.
Abi tak menanggapinya dan menutup pintu tanpa memperdulikan Aeril yang ingin menjelaskan kejadian sesungguhnya.
__ADS_1