
Jam sepuluh pagi Aeril membawa Naira ke dapur menggunakan kereta bayinya. Perlahan Aeril mendorongnya agar bayi itu agar tetap merasa nyaman di tempatnya.
"Naira, Tante bikin kopi dulu ya soalnya ngantuk banget." Aeril berbicara pada bayi kecil itu dan di balas senyuman oleh Naira.
Berkali-kali Aeril menguap saat tengah merebus air untuk membuat kopi. Bukan tanpa sebab ia sangat mengantuk, Naira memang sedikit rewel semalam dan tak mau tidur, berkali-kali Aeril mencoba menidurkannya tapi Tetap saja Naira tak bisa tertidur dan terpaksa Aeril terus menggendongnya, saat subuh barulah Naira bisa tidur nyenyak.
Setelah airnya mendidih Aeril menuangnya ke dalam cangkir yang telah ia isi dengan kopi susu sachet. Dari aromanya saja sudah membuat Aeril ingin buru-buru meminumnya. Baru saja akan membawanya keluar tiba-tiba Sari datang dan menyenggol lengan Aeril dan membuat kopi yang Aeril pegang jatuh ke lantai dan hampir saja mengenai kaki Aeril jika saja ia tidak cepat menghindar.
"Aduh maaf Aeril aku nggak sengaja," ucap Sari ramah. Aeril mengernyit heran karena tumben Sari bisa berbicara dengan lembut.
"Lain kali hati-hati Mbak Sari," kata Aeril mengingatkan tapi dengan nada lembut.
"Iyya-iyya maaf. Ya udah sebagai permintaan maaf biar aku bikinin kopi ya soalnya kan kopi kamu tumpah." Aeril tambah heran karena tiba-tiba Sari akan membuatkannya kopi.
"Eh nggak usah Mbak Sari, aku bisa sendiri," tolak Aeril halus karena masih bingung dengan tingkah Sari.
"Nggak pa-pa Aeril aku ikhlas kok, lagian kalau kamu nggak mau aku pasti merasa bersalah gara-gara udah numpahin kopi kamu." Sari terus membujuk.
"Aku nggak masalah kok Mbak Sari, aku nggak marah lagian Mbak Sari kan nggak sengaja, masa iyya aku mau marah. Beneran deh Mbak Sari aku nggak apa-apa."
"Tapi aku masalah Aeril, udah sana jagain Naira di luar aja, aku bikinin kopi nanti aku antar kopinya ke depan." Sari terus kekeuh ingin mengganti kopi Aeril dan memaksa Aeril untuk keluar dari dapur bersama Naira.
Meski merasa aneh tapi Aeril berusaha berfikiran baik, mungkin saja Sari sudah berubah dan itu adalah kabar baik, fikir Aeril.
Aeril duduk di ruang tamu sembari terus mengajak Naira berbicara di kereta Bayinya, meski terus saja menguap dan membuat matanya berair gara-gara sangat mengantuk.
"Nih kopinya minumlah," ucap Sari lalu meletakkan kopi di atas meja di depan Aeril.
Aeril melihat kopi itu lalu berganti menatap Sari, dan itu membuat Sari gugup.
"Kenapa ngeliatin aku begitu? Kopi itu nggak aku kasih racun Aeril tenang saja."
"Mbak Sari apaan sih, aku nggak mikir gitu kok. Cuma terharu aja Mbak Sari akhirnya nggak jutek lagi sama aku," ucap Aeril sembari tersenyum.
__ADS_1
"Iyya aku juga sadar kalau selama ini aku emang udah bersikap nggak baik sama kamu tanpa sebab, makanya sekarang aku mau merubah semuanya Aeril,'' ucap Sari meyakinkan.
"Alhamdulillah Mbak Sari aku seneng banget dengernya. Aku bahagia akhirnya kita bisa berteman," kata Aeril tulus.
"Aku juga Aeril, maaf ya kalau selama ini aku selalu bersikap nggak baik sama kamu." Sari menundukkan kepalanya seperti orang menyesal.
"Iyya Mbak Sari, aku juga minta maaf kalau mungkin selama ini aku membuat Mbak Sari nggak suka sama aku." Terlihat wajah tulus dari wajah Aeril. Ya Aeril memang selama ini selalu bertanya-tanya apakah dia memiliki kesalahan pada Sari sehingga setiap bertemu Sari selalu saja bersikap ketus kepadanya.
"Ya udah kopinya di minum ya, tuh muka kamu udah lesu banget gitu. Aku mau ngelanjutin pekerjaan aku lagi."
"Oke Mbak, sekali lagi makasih ya kopinya." Begitu polosnya Aeril menanggapi sikap Sari yang tiba-tiba berubah drastis, tanpa Aeril sadari musibah apa yang nanti akan menimpanya.
Aeril masih sibuk bercanda ria dengan Naira dan sesekali menyesap kopi yang ada di hadapannya sampai kopi itu hampir habis.
Tak lama karena lelah bermain dan sudah kenyang menyusu Naira pun tertidur di kereta bayinya. Aeril berniat membawa Naira naik ke kamarnya tapi rasa kantuk benar-benar seperti menghajarnya tanpa memberinya ampun.
Padahal sudah minum kopi satu gelas mengapa malah semakin mengantuk. Itulah yang Aeril fikirkan. Aeril terus saja menguap dan kembali duduk di sofa karena kakinya terasa lemas dan sepertinya tak mampu untuk membawa Naira untuk naik ke kamarnya.
Aeril duduk di sofa dengan sedikit merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa, fikirnya jika memejamkan mata sepuluh menitan mungkin dia akan kembali segar saat bangun nanti dan Naira juga tak akan menangis jika hanya di tinggal tidur barang sebentar.
Aeril mencoba mengumpulkan kesadarannya agar tak tertidur lalu membulatkan kedua matanya dengan tangan agar ia tak tertidur.
Aeril mencoba berdiri dan sialnya tidak bisa, malah Aeril ambruk seketika dan tak sadarkan diri.
"YESS!!" Sari bersorak senang karena rencananya berhasil.
"Lihat saja aku akan membuat kamu di tendang keluar dari rumah ini oleh Pak Abi, lihat saja." Sari berbicara sendiri dengan geram. Sedari tadi ia terus memperhatikan Aeril berharap agar obatnya cepat bekerja dan akhirnya obat itu pun membuat Aeril tak sadarkan diri.
Kebetulan Bu Diyah sedang keluar untuk belanja dan itu kesempatan besar Sari untuk menyingkirkan Aeril. Sebelum Sari ke dapur Sari tak sengaja mendengar percakapan Abi dan Bi Diyah melalui telfon rumah. Abi akan pulang ke rumah sebentar untuk mengambil file yang ada di kamarnya dan tiba-tiba Sari punya rencana besar untuk menyingkirkan Aeril.
Sari perlahan-lahan mendorong kereta bayi Naira menuju halaman depan tepat di bawah matahari yang sedang terik. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Naira.
"Maafin calon Mama kamu ini ya sayang, cuma sebentar aja kok, pokoknya setelah Aeril itu di tendang dari rumah ini Mama janji Mama akan menyayangi kamu sepenuh hati Mama, ya. Mama pergi dulu, kamu baik-baik ya di situ, daaaaaa." Sari pun pergi untuk bersembunyi tapi tetap mengawasi Naira.
__ADS_1
Sementara itu Abi tengah berada di jalan menuju rumahnya bersama Gilang. Gilang memaksa untuk ikut ke rumah Abi, apa lagi kalau bukan untuk bertemu pujaan hati. Dengan terpaksa Abi mengijinkannya untuk ikut.
Sedangkan Naira ia mulai gelisah di dalam kereta bayinya karena sudah merasa kepanasan sebab sudah lumayan lama ia berada di bawah matahari.
Karena sudah tak tahan akhirnya Naira menangis menjerit-jerit kepanasan. Sari yang terus memperhatikannya merasa sangat puas karena sudah pasti Aeril yang akan di salahkan untuk ini.
Tak lama terlihat dari jauh mobil Abi sudah mulai mendekat. Sari pun cepat-cepat turun untuk pura-pura menolong Naira. Setelah Naira berada dalam gendongannya Abi pun tiba di halaman rumahnya dan melihat juga mendengar suara tangis Naira yang begitu kencang.
Abi cepat-cepat turun dan menghampiri Sari yang tengah menggendong dan menenangkan Naira.
"Sari!!! Naira kenapa?" tanya Abi marah. Suaranya sukses membuat Sari ketakutan dan terbata-bata saat menjawab pertanyaan Abi.
"S,,,,,,,,saya nggak tau Pak, tadi pas lagi di belakang saya dengar suara Naira nangis terus saya cari-cari ternyata ada di depan jadi buru-buru saya gendong." Suara Sari terbata-bata mendengar kemarahan Abi, jujur saja baru ini Abi terlihat sangat marah melebihi kemarahannya kemarin.
Abi segera mengambil Naira dari gendongan Sari. Alangkah terkejutnya Abi karena tubuh Naira sangat panas juga seluruh tubuhnya sudah memerah akibat sinar matahari.
"Mana Aeril!!!" bentak Abi.
"Ta,,,tadi saya liat ada di sofa lagi tidur Pak," jawab Sari gelagapan.
"Sabar Bi, sabar. Jangan emosi dulu." Gilang mencoba menenangkan Abi yang kini benar-benar sangat marah, rahangnya mulai mengeras dan wajahnya merah padam.
Abi bergegas masuk ke dalam rumah dan kemarahannya bertambah berkali lipat saat melihat Aeril tengah tertidur pulas. Saat itu juga rasanya tubuh Abi terbakar oleh kemarahan karena Aeril.
"AERILLLLL!!!!!!"
*
*
*
*
__ADS_1
pengennya sih sehari up dua bab tapi apa daya susah karena punya dua bocil yang kalau liat Ibunya pegang HP pasti rebutan mau main HP juga, alhasil cuma bisa up seadanya aja. Tapi author seneng banget liat respon kalian yang selalu setia baca cerita author yang baru belajar ini.
Pokoknya terima kasih buat kalian yang selalu kasih jempol dan komen positif, pokonya cium jauh dari akuh🙏🙏🙏🙏😘😘😘😘😘