
Aeril berdecak kagum saat memasuki rumah Abi yang menurutnya sederhana namun elegan.
Rumah bercat coklat krim dengan gaya minimalis dengan beberapa pohon mangga dan jambu air yang tumbuh di halaman, begitu sejuk di pandang mata.
''Aeril ini kamar kamu dan berhubung kamar Naira belum jadi maka Naira akan tidur di kamar Abi. Setelah kamu menyusuinya kamu bisa membawanya masuk ke kamar Abi.'' Bu Sukma menjelaskan lalu membantu Aeril untuk beres-beres di kamar tamu.
Malam ini hujan begitu lebat hingga suasana begitu dingin. Aeril sudah selesai menyusui Naira dan membawanya ke kamar Abi, Abi hanya melirik sekilas dan tak bereaksi apa pun sedangkan Aeril cukup merasa canggung karena untuk pertama kalinya ia masuk ke kamar laki-laki yang bukan mahromnya.
Setelah Aeril menaruh Naira pada Boks Bayi di dekat tempat tidur Abi, Aeril bergegas untuk keluar. Baru saja keluar dari pintu tiba-tiba Naira menangis dan itu membuat Aeril kembali membawa Naira kembali ke dalam kamarnya, setelah tertidur baru lah di bawa ke kamar Abi tapi seperti semula saat Aeril keluar Naira akan kembali menangis.
''Tidurlah di sini aku akan tidur di luar,'' ucap Abi saat melihat kegelisahan Aeril.
Aeril hanya mengangguk patuh karena tak mungkin terus bolak-balik ke kamarnya dan kamar Abi.
Entah mengapa Naira tak bisa tidur nyenyak dan selalu bangun meski tak rewel tapi itu membuat Aeril sangat mengantuk.
Abi melihat Aeril menggendong Naira mencoba menidurkannya tapi sepertinya Naira memang belum mau tidur, Abi tersenyum tipis melihat kenakalan putrinya.
''Naira mau apa sayang, hem? Mau begadang sama tante Ay ya?'' Aeril terus mengajaknya bercakap-cakap karena Naira tak juga mau tertidur.
Tak lama kemudian karena Aeril sudah tak kuat menahan matanya, Aeril berinisiatif untuk menyusui Naira sembari tiduran, dan Akhirnya keduanya tertidur dengan nyenyak hingga pagi.
Pagi-pagi karena Abi ingin berangkat ke kantor Abi masuk ke kamanya untuk mandi namun langkah Abi terhenti saat melihat Aeril dan Naira yang begitu nyenyak dengan posisi Naira masih menyusu.
Abi buru-buru memalingkan muka saat tak sengaja melihat sesuatu yang tak seharusnya boleh ia lihat. Abi menelan ludah dengan susah lalu buru-buru keluar dari kamarnya.
Aeril buru-buru bangun saat melihat jam menunjukkan sudah pukul stengah tuju pagi.
Karena Naira tak bisa tidur semalam membuat Aeril bangun kesiangan.
Aeril segera keluar dari dalam kamar Abi untuk segera mandi setelah meletakkan Naira ke dalam boks bayi. Saat membuka pintu Aeril hampir saja bertabrakan dengan Abi karena Abi yang akan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
''Maaf pak, maaf,'' kata Aeril gugup.
''Udah kayak Ratu aja, bangunnya kesiangan,'' sindir Abi.
Aeril mengelus dada pelan setelah berlalu dari hadapan Abi.
''Huhh kayak yang punya rumah saja jam segini baru bangun, sok kecakepan.'' Baru saja di sindir oleh Abi kini Sari juga menyindir Aeril saat mereka tak sengaja bertemu ketika tak sengaja bertemu Sari di depan kamar Aeril.
''Maaf Sar, semalem Naira rewel nggak mau tidur, tidur-tidur pas udah subuh jadi aku kesiangan,'' jelas Aeril karena merasa tak enak.
''Halah alasan saja kamu nih,'' ucap Sari ketus.
Sari masih di pekerjakan oleh Bu Sukma di tempat Abi untuk membantu Aeril mengurus Naira karena Bu Sukma takut kalau Aeril tak mampu mengurus segala kebutuhan Naira.
Aeril segera mandi karena takut jika Naira bangun dan menangis. Setelah rapi Aeril segera masuk ke dalam kamar Abi untuk menengok Naira dan ternyata Naira sudah bangun dan tengah bermain dengan Abi.
Tak mau mengganggu waktu Anak dan Ayah, Naira bermaksud untuk keluar dan akan memandikan Naira kalau Abi sudah pergi ke kantor, tapi belum sampai pintu kamar Abi sudah memanggilnya.
''Cepat mandikan Naira, ini udah siang nggak baik jika Naira meniru kamu yang hobi kesiangan.'' Lagi-lagi perkataan Abi membuat Aeril merasa tak nyaman dan ingin menangis.
Aeril menyusut Air matanya lalu menggendong Naira untuk segera di mandikan.
Setelah mandi Aeril membawa Naira turun ke bawah untuk di berikan ke Bu Sukma karena Aerin sudah merasa sangat lapar.
''Bu titip Naira sebentar ya saya mau ke belakang.''
''Iyya Ril, ya udah sini cucu Nenek yang cantik.
Duhh udah wangi aja, jadi mau cium terus.''
Aeril bergegas masuk ke dapur dan mencari makanan di sana. Setelah menyendok nasi dan lauknya Aeril makan dengan pelan.
__ADS_1
''Uhhh enak banget belum ngapa-ngapain udah makan aja, udah kayak nyonya besar.'' Sari kembali menyindir Aeril yang baru saja makan beberapa suap dan segera menghentikan suapannya.
''Maaf Mbak.''Aeril tak melanjutkan makannya karena sudah tak berselera mendengar sindiran Sari.
''Loh Aeril kamu makan di sini? makan di luar aja sama saya dan Abi. Loh itu kok makanannya nggak di habiskan?'' tanya Bu Sukma yang tiba-tiba datang ke dapur karena ingin meminta Sari menjaga Naira.
''Oh ini Bu nggak pa-pa, saya emang nggak kuat makan banyak,'' ucap Aeril tanpa melihat wajah Bu Sukma karena takut ketahuan kalau ia tengah menangis.
''Aeril kamu nangis? Kenapa Nak, apa kamu nggak betah di sini?'' tanya Bu Sukma yang merasa tak enak kepada Aeril, takut jika Aeril tak nyaman tinggal di rumah Abi.
''Nggak pa-pa kok Bu, saya cuma lagi teringat sesuatu saja,'' jawab Aeril berbohong. Kenyataannya Aeril begitu sedih karena Abi dan Sari seperti tidak menyukainya.
''Ya udah yuk ikut saya makan di luar sama Abi, biar Naira di jagain Sari dulu.''
''Nggak usah Bu, saya tadi udah makan biar saya saja yang menjaga Naira.''
''Bener kamu udah kenyang? Lain kali kamu makan yang banyak ya soalnya kan kamu lagi menyusui Naira, kalau kamu makannya sedikit nanti Asi kamu nggak lancar.''
''Iyya Bu, nanti saya coba makan banyak.'' Aeril memang ingin makan banyak karena sejak menyusui ia jadi selalu merasa lapar, tapi sikap Abi dan Sari membuat Aeril kehilangan ***** makannya.
''Ya sudah kalau kamu sudah kenyang, sekarang kamu ambil Naira ya di Abi.''
''Baik Bu.''
Aeril bergegas keluar untuk mengambil Naira pada Abi.
''Pak biar saya yang jaga Naira,'' ucap Aeril sopan meski sedikit gugup karena sikap Abi yang tak pernah bersahabat dengannya.
''Ya iyya lah, emang tugas kamu. Kamu kan saya bayar di sini untu menjaga Naira bukannya buat bermalas-malasan.'' Lagi kata-kata Abi membuat Aeril merasa sangat sedih, hanya saja sekuat tenaga ia mencoba tak memperlihatkannya.
Setelah mengambil Naira, Aeril membawanya keluar. Samar-samar Aeril mendengar Bu Sukma menegur Abi.
__ADS_1
''Bi jangan besikap terlalu keras pada Aeril, kasihan dia. Lagi pula kalau dia nggak betah terus pergi dari sini, kamu akan kesusahan mencari pengasuh untuk Naira.''
Abi hanya diam mendengar ucapan Ibu mertuanya. Abi pun tak tahu mengapa setiap bertemu dengan Aeril mulutnya tak bisa ia kontrol, selalu saja berkata kasar.