Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Mode jutek mulai aktif


__ADS_3

Aeril dan Abi kini sudah pergi ke Mall dengan Naira, menyisakan Sari yang menghentak-hentakkan kakinya kesal karena rencananya gagal total.


Sari mengepalkan tangannya karena harusnya dialah yang pergi bukan Aeril yang menurutnya sangat menyebalkan.


''Awas saja Aeril aku akan memberikanmu pelajaran nanti.'' Sari mendengus kesal mengingat Aeril akan bermesraan dengan Abi di Mall layaknya sepasang kekasih.


Setelah memarkirkan mobilnya, Abi dan Aeril masuk ke dalam Mall yang sore itu lumayan sangat ramai.


''Kamu saja yang membeli keperluan untuk Naira, aku akan menunggu di sini.''


''Baik Pak.'' Aeril pun pergi sedangkan Abi menunggu di sebuah kursi yang di sediakan oleh toko.


Aeril mengambil trolli dan mulai mencari kebutuhan Naira mulai dari popok, bedak, sampo, minyak telon dan masih banyak lagi yang Aeril beli.


Abi mulai mengajak putrinya bercengkrama saat Aeril pergi berbelanja, tapi tak lama Naira mulai gelisah dan merasa tak nyaman.


Abi tiba-tiba panik karena putrinya pasti sebentar lagi akan menangis. Abi melihat ke tempat Aeril tadi berbelanja tapi Aeril tak terlihat dan itu membuat Abi semakin panik lalu Abi menggendong putrinya agar putrinya terdiam tapi Naira malah semakin menangis.


''Aduh sayang kamu jangan nangis ya, ayuk kita cari Mama eh maksudnya Aeril.'' Abi mencoba menenangkan putrinya lalu Abi berjalan mencari Aeril sembari terus mengajak Naira berbicara agar Naira tak menangis.


''Anaknya kenapa Pak? Ibunya kemana?''


''Aduh cantiknya.''


''Bapaknya juga ganteng banget.''


Beberapa Ibu-ibu sangat gemas melihat Naira dan ada beberapa yang menghampirinya dan mengajaknya bicara. Ada juga yang berbisik-bisik mengagumi Abi dan itu membuat Abi dan Naira tak nyaman lalu Abi bergegas menghindar dari kerumunan Ibu-Ibu yang terus menggoda Abi.


''Dimana sih Aeril,'' gerutu Abi.


Akhirnya Abi bisa bernafas lega ketika melihat Aeril yang tengah mengantri di meja kasir untuk membayar belanjaannya. Karena sudah tak tahan akhirnya Abi bergegas menghampiri Aeril.


''Biar aku yang ngantri, kamu yang jagain Naira.''


Abi menyerahkan Naira kepada Aeril lalu Abi menggantikannya mengantri.


''Ihh so sweet banget ya suaminya, aku juga mau punya suami kaya dia,'' ucap salah seorang wanita muda di belakang Abi. Abi tak menggubrisnya karena sudah hal biasa saat dia pergi ke tempat ramai seperti Mall maka akan banyak wanita yang selalu mengaguminya.


Aeril membawa Naira untuk sedikit menjauh dari kasir karena Naira sepertinya merasa tak nyaman dengan keramaian.


''Kenapa sayang? Naira laper ya, hem?'' Tanya Naira kepada bayi kecil yang kini sudah mulai sedikit tenang saat berada dalam gendongannya.


''Anak pertama ya Mbak?'' tanya seorang wanita kepada Aeril saat sedang menunggu Abi membayar belanjaan.


Aeril hanya menanggapinya dengan senyuman.


''Anaknya cantik ya Mbak persis kayak Ibunya,'' ucap wanita itu lagi.

__ADS_1


''Ayuk kita pulang.'' Baru mau menjawab perkataan Wanita di sampingnya namun Abi sudah datang dan mengajak Aeril untuk pulang.


''Oh iyya, baik Pak.''


''Saya permisi dulu ya Mbak,'' pamit Aeril sopan, lalu Aeril pun mengikuti Abi yang berjalan di depannya sembari membawa beberapa plastik belanjaannya tadi.


''Pak sepertinya Naira haus,'' ucap Aeril yang membuat langkah Abi berhenti seketika.


Aeril menatap sekeliling mencari tempat untuk menyusui Naira karena kalau Naira haus dia tidak bisa sabar dan biasanya langsung menangis.


''Di sini sangat ramai.'' Seperti Aeril, Abi pun melihat sekeliling.


''Susui di mobil saja,'' kata Abi lagi.


''Tapi sepertinya Naira sudah tidak bisa menunggu Pak,'' jelas Aeril karena kini Naira sudah mulai menangis dan itu membuat Abi bingung.


''Ikut saya.'' Abi membawa Naira ke sebuah kursi di dekat sebuah salon yang tidak terlalu ramai.


''Susui saja di situ.''


''Emm tapi Pak.'' Aeril sedikit ragu karena masih ada beberapa orang yang lewat. Karena melihat kekhawatiran Aeril Abi kemudian melepas jasnya lalu menyampirkannya di depan dada Aeril agar saat menyusui Naira tak akan ada yang melihat.


Tak menunggu lama akhirnya Aeril menyusui Naira dengan di tutup jasnya Abi, sedangkan Abi duduk di sebelah Aeril sembari memainkan ponselnya. Naira pun seketika terdiam karena sudah menemukan yang ia cari.


''Kita sudah bisa pulang sekarang Pak tapi jasnya biarkan saya pakai buat menutupi Naira dulu.'' Abi hanya mengangguk mendengar perkataan Aeril, lalu keduanya pun meninggalkan tempat itu.


''Nggak ada yang mau di beli lagi kan?'' tanya Abi saat mereka sudah berada di dalam mobil.


''Ya sudah kita pulang.''


''Iyya.''


Baru saja Abi hendak menginjak gas tiba-tiba perut Aeril berbunyi dan itu membuat Abi Abi seketika menoleh.


''Kamu lapar?'' tanya Abi.


''Enggak Pak,'' jawab Aeril bohong. Sejak tadi dia memang sangat lapar hanya saja tak enak mengatakan kepada Abi, karena seharusnya ini memang jam makan Aeril.


Abi melajukan mobilnya perlahan meninggalkan Mall tempat mereka tadi berbelanja.Sekitar lima belas menit Mobil Abi memasuki halaman sebuah rumah makan sederhana.


''Cepat turun, kita makan dulu baru pulang.''


''Tapi Pak.''


''Aeril kamu itu kenapa sangat senang dengan kata tapi? Cepat turun, saya nggak mau anak saya kenapa-kenapa kalau Ibunya sampai telat makan.''


Ibunya? ya tuhan seandainya Naira adalah anakku pasti aku akan sangat bahagia.

__ADS_1


Abi segera masuk di ikuti Aeril dan Naira lalu Abi membawa Aeril ke tempat kusus untuk lesehan agar Naira pun bisa nyaman dan Aeril tidak kesusahan saat akan makan.


''Mau makan apa?'' tanya Abi saat membaca buku menunya.


''Terserah Bapak saja,'' jawab Aeril singkat, karena ia memang tak pernah pilih-pilih kepada makanan, bisa di bilang Aeril adalah tipe pemakan segala.


''Baiklah.''


Tak lama pesanan Abi sudah datang, ada ayam bakar sambal ijo, ada ikan gurame goreng, ada udang saos tiram dan juga tumis kangkung dan sayur asem.


''letakkan saja Naira di sini,'' tunjuk Abi pada sebuah selimut yang telah di lipat seukuran Naira yang tadi ia ambil dari dalam mobil.


''Tapi Pak ... ''


Abi berdecak kesal mendengar Aeril yang selalu berkata tapi.


''Baik Pak.'' Aeril manaruh Naira di atas selimut yang ada di dekatnya.


''Ayuk makan, kenapa masih diam, apa nunggu ada yang suapin?''


''Iyya Pak saya akan makan,'' ucap Aeril gugup.


Perkataan Abi membuat wajah Aeril memerah.


''Makan yang banyak, jangan lupa sayurnya.''


''Iyya Pak,'' ucap Aeril malu-malu.


Keduanya makan dalam diam menikmati makanan yang ada di piring mereka masing-masing.


Diam-diam Abi memperhatikan Aeril yang tengah makan dengan lahapnya.


Pria bodoh mana yang bisa meninggalkan wanita sebaik dan secantik Aeril. begitulah pikir Abi karena selama tinggal dengan Aeril Abi melihat kebaikan dan kejujuran dalam diri Aeril.


Abi menggeleng perlahan karena tanpa sengaja telah memuji Aeril padahal selama ini Abi tak pernah memandang apa lagi memuji wanita lain selain Delia.


Oh tidak Abi, sepertinya kamu butuh ke dokter karena otakmu mulai sedikit bergeser.


''Bapak baik-baik saja?'' tanya Aeril yang tanpa sengaja melihat Abi yang tengah geleng-geleng kepala.


''Oh nggak pa-pa, memangnya ada apa?''


tanya Abi balik.


''Tadi sepertinya Bapak menggeleng-gelengkan kepala. Apa Bapak sedang sakit kepala?''


''Enggak, saya baik-baik aja.'' Nada suara Abi mulai ketus, membuat Aeril tak lagi bersuara.

__ADS_1


''Cepat habiskan baru kita pulang.''


''Baik Pak.'' Aeril tak lagi bertanya karena sepertinya mode jutek Abi sudah mulai aktif, lebih baik diam agar aman.


__ADS_2