Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Kiss


__ADS_3

Jumat sore Abi mengajak Aeril juga Naira untuk liburan di salah satu Vila Abi yang berada di puncak karena memang sudah sangat lama Abi tak merasakan liburan bersama keluarga semenjak Delia tiada.


Semua koper sudah masuk ke dalam bagasi mobil dan tak menunggu lama Abi dan Aeril pun masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat. Karena perjalanan lumayan jauh Abi meminta supirnya yang membawa mobil untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan, juga bisa lebih dekat dengan Aeril tentunya.


Di dalam mobil Abi banyak berinteraksi dengan Naira yang kini sudah sangat pintar di ajak bermain, sedangkan Aeril masih saja canggung dan hanya diam saja melihat Abi dan Naira yang tengah bercanda.


Setelah lelah bermain Naira kembali ke pangkuan Aeril lalu tertidur.


"Ay sini saya yang pangku Naira," pinta Abi sekaligus memecahkan keheningan di antara mereka.


"Nggak usah biar saya aja."


Tak lama Aeril pun merasa sangat mengantuk dan tertidur dan tak sengaja kepalanya menyandar di bahu Abi.


Abi pun mengelus kepala Aeril dengan penuh kasih sayang.


Aku berharap kita akan memulainya dari saat ini Ay. Aku berharap kamu akan mulai menerimaku seutuhnya.


Pukul delapan malam Abi pun sampai di depan Villanya. Setelah memastikan barangnya turun dan sudah di masukkan semua, kini Abi menggendong Aeril masuk setelah sebelumnya membawa Naira ke kamar lebih dulu.


Abi menatap wanita yang kini terlihat begitu cantik di dalam gendongannya. Bejalan sembari terus menatap wajah sang istri dengan penuh kekaguman dan penuh keinginan. Abi begitu menginginkan Aeril sepenuhnya hanya saja ia pun tak ingin memaksakan kehendaknya karena tak ingin membuat Aeril merasa tak nyaman terhadapnya.


JEDUG!!!!!


"Aduh!!" pekik Aeril.


Karena terus memandang Aeril sambil berjalan Abi sampai tak memperhatikan jalannya dan membuat kepala Aeril membentur tembok.


"Aduh maaf Ay maaf, saya nggak sengaja sumpah," kata Abi sambil nyengir.


Aeril tak menjawab hanya terus mengusap kepalanya yang lumayan sakit.


"Coba sini Ay saya periksa." Abi mendekati kepala Aeril ingin memastikan parah atau tidaknya.

__ADS_1


"Nggak papa kok, aman," ucap Aeril.


Abi pun membuka kamar lalu meminta Aeril segera masuk ke sana untuk beristirahat karena memang sudah malam dan cuaca sangat dingin.


Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama Aeril pun berbaring di sisi Naira yang begitu pulas.


Abi pun kini telah selesai berganti pakaian dan ikut berbaring di samping Aeril.


Tak ada obrolan di antara mereka dan hanyut dalam fikiran masing-masing.


Cukup lama Aeril berusaha memejamkan mata tapi tak juga berhasil, entah mengapa Aeril pun tak mengerti. Perlahan Aeril turun dari pembaringan lalu menuju balkon, berdiri seorang diri sembari terus merenung.


"Nggak bisa tidur, hem?" Suara Abi membuat Aeril tersadar dari lamunannya.


"Iyya," jawab Aeril singkat.


"Kenapa?"


"Entah lah, mungkin karena beda cuaca jadi belum menyesuaikan." jawab Aeril, bohong sebenarnya tapi Aeril tak mungkin memberi tahu jika ia masih memikirkan kata-kata Pak Harun tempo hari.


"Rileks Ay jangan di tolak, kita suami istri. Bukankah kita akan memberi kesempatan untuk hubungan kita, jadi jangan menolak saat aku memelukmu. Ini langkah awal agar kamu terbiasa dengan sentuhan yang aku berikan." Aeril tak menjawab tapi juga tak berusaha melepaskan, mungkin Aeril pasrah karena sejatinya dia memang telah halal milik Abi.


"Aku janji nggak akan maksa buat meminta hak kalau kamu belum bersedia. Hanya saja tolong jangan tolak jika aku memelukmu karena terkadang rasa lelah juga penat akan semua hal akan terobati hanya karena pelukan." Lagi Aeril tak mampu menjawab apa yang Abi katakan, hanya isakan kecil yang sejak tadi ia tahan dan akhirnya lolos tanpa ia sadari. Air matanya bahkan mengenai punggung tangan Abi.


"Ay kamu kenapa, apa saya bikin salah?" tanya Abi lalu membalikkan tubuh Aeril agar menghadap kepadanya. Abi menangkup kedua pipi Aeril lalu mengangkatnya agar menatapnya.


"Saya nggak suka air mata ini." Abi mengusap air mata yang membasahi pipi Aeril.


"Jangan bersikap seperti ini ... saya nggak mau terluka untuk yang kedua kalinya," ucap Aeril bergetar.


"Ay, kamu bicara apa?"


"Kita nggak akan bertahan lama karena tak mendapatkan restu, jadi jangan bersikap manis. Saya takut kembali jatuh cinta jika terus mendapatkan perlakuan seperti ini. Pada akhirnya kita akan berpisah dan pada akhirnya--"

__ADS_1


Belum selesai Aeril berbicara tiba-tiba bibirnya telah di bungkam oleh Abi menggunakan bibirnya.


Meski tubuhnya serasa kaku tapi Aeril tak mencoba menolak Abi juga tak membalasnya, Aeril hanya pasrah karena berontak pun percuma sebab tak bisa di pungkiri hatinya menginginkannya. Sekeras apa pun fikirannya menyadarkannya jika nantinya dia lah yang akan berakhir tapi perlakuan Abi yang lembut dan penuh cinta membuat fikirannya kini tertutup dan mulai menikmati kelembutan yang di berikan Abi.


Aeril perlahan membalas ciuman dari Abi tak seperti semula yang awalnya hanya diam, kini nalurinya sebagai wanita dewasa bekerja sehingga mampu membuatnya membalas semua yang di lakukan Abi seolah rasa canggung yang selalu Aeril rasakan kini menguap entah kemana.


Cukup lama keduanya hanyut dalam keindahan nirwana hingga hampir kehabisan nafas dan Abi pun melepaskan tautan bibirnya agar Aeril tak kehabisan nafas.


Setelah menghirup udara cukup banyak kini nafas Aeril mulai teratur dan di saat itu Abi kembali memeluk Aeril begitu erat.


"Terima kasih," ucap Abi pelan. "Tadinya saya kira kamu akan menolak tapi ternyata tidak dan malam ini saya yakin kamu pun mulai mencintai saya." Abi melepaskan pelukannya lalu menatap Aeril yang kini hanya bisa menunduk malu dan entahlah.


"Ay ... jangan pernah berfikir kita akan berpisah, karena sampai mati pun aku nggak akan pernah meninggalkan kamu, aku janji.


Aku akan meyakinkan Papa agar mau menerima kamu," ucap Abi dengan yakin.


"Kalau ternyata tidak bisa," ucap Aeril sendu. Bahkan bulir bening terus saja lolos dari kedua kelopak matanya yang indah.


"Aku akan menerima konsekuensi apa pun demi bisa bersama kamu, aku bersumpah."


"Tapi--"


"Jangan bahas yang lain, aku sedang menikmati kebahagiaanku malam ini." Abi kembali melabuhkan bibirnya ke tempat sebelumnya, merasakan manisnya bibir sang istri yang kini juga tengah menikmati perbuatan sang suami.


"Udah ... " rengek Aeril manja di tengah-tengah kesibukan sang suami yang seolah tak ingin melepas bibirnya dari sang istri.


Karena tak mendengarkan ucapannya, akhirnya Aeril menggigit sedikit keras bibir sang suami hingga Abi spontan melepaskannya. Lalu Aeril pun berlari menjauhi suaminya.


"Ay tunggu!!! Mulai nakal ya sekarang." Abi pun mengejar Aeril yang tadi sempat berbalik dan menjulurkan lidah lalu kembali ke kamar Naira.


Aeril membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut dan menghadap ke arah Naira.


"Ay tanggung jawab nggak, bengkak nih." Abi menunjuk ke arah bibirnya yang sedikit bengkak karena ulah istrinya yang diam-diam ternyata pintar.

__ADS_1


Karena tak mengindahkan perintah suaminya Abi pun menarik paksa Aeril lalu menaikinya dan membuat Aeril memekik cukup keras tapi Abi kembali membungkamnya agar Naira tak terbangun.


"Kita unboxing ya Ay," bisik Abi pelan hingga membuat Aeril meremang seketika.


__ADS_2