Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
kejujuran Aeril


__ADS_3

Sore itu sebelum pulang ke rumah Abi mampir ke toko perhiasan untuk membelikan Aeril kalung dan cincin, setelah memilih yang ia suka Abi meminta pegawai toko membungkus sebuah cincin berlian sederhana tapi terlihat cantik juga kalung.


Rencananya Abi akan memberi kejutan untuk hari ini. Abi bahkan sempat merutuki kebodohannya yang tak ingat jika belum memberikan cincin pernikahan untuk Aeril.


Tak lupa membeli satu buket bunga mawar di toko bunga untuk Aeril lalu melajukan mobilnya dengan senyum yang terus saja mengembang di bibirnya.


Setelah sampai di halaman rumahnya Abi mengernyit heran saat melihat mobil Gilang terparkir di halaman rumahnya.


"Astaga ... mau apa sih kadal raksasa itu di sini," ucap Abi geram.


Abi masuk dengan terburu-buru rencananya akan memberitahu semuanya kepada Gilang sekaligus memarahinya agar tak lagi berharap kepada Aeril istrinya.


Dengan tergesa Abi segera masuk ke dalam rumah, tapi saat sampai di dalam Abi segera mengurungkan niatnya karena melihat yang ada di ruang tamu bukan hanya Gilang tapi Ibunya juga dan pemandangan yang sangat menyedihkan saat Ibu Gilang menggenggam tangan Aeril lalu menyematkan cincin di jari manis Aeril.


Ada yang bergejolak di dalam hati Abi tapi tak bisa meluapkannya karena tak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Gilang saat ini sebab ada Ibunya yang konon sedang sakit.


Benar-benar licik, membawa Ibunya agar Aeril tak bisa berkutik. Dasar Buaya!!!


"Woy Bro, udah pulang?" sapa Gilang saat akan melewati ruang tamu.


"Iyya," jawab Abi singkat.


"Wihhh dapet bunga dari mana tuh?" Tanya Gilang lagi.


"Dari penggemar."


"Cie-cieee kayaknya udah nggak bakal galau nih," goda Gilang yang hanya di balas senyuman oleh Abi.


"Tante, Gilang saya masuk dulu mau mandi, gerah," ucap Abi.


"Oke Bro."


Abi pun bergegas pergi tanpa menatap Aeril yang sejak tadi memperhatikannya.


"Bu saya nggak bisa menerima ini." Aeril membuka cincin yang tadi terpasang di jari manisnya lalu memberikannya kembali kepada Ibunya Gilang.


"Loh Aeril kenapa? Aku nggak maksa kok buat kamu menjawabnya sekarang. Aku akan nunggu sampai kamu habis kontrak kerja di sini. Cincin ini cuma sebagai tanda kalau aku suka sama kamu dan nggak maksa kamu buat jawab sekarang.

__ADS_1


Aku beneran serius Aeril suka sama kamu, semenjak aku kenal kamu aku udah nggak mau kenal sama wanita mana pun lagi."


"Aku udah menikah Mas makanya aku nggak bisa." Pernyataan Aeril membuat Gilang dan Ibunya ternganga.


"Kamu jangan bercanda Aeril, Kamu bahkan tidak mempunyai cincin pernikahan seperti orang-orang. Kamu nggak perlu mengarang cerita seperti ini buat nolak saya Aeril."


"Saya nggak mungkin bercanda sama Mas Gilang tentang hal seperti ini." Aeril lalu menjelaskan sedetail mungkin bagaimana ia akhirnya bisa menikah dengan Abi.


Gilang diam begitu pun Ibunya.


"Sekali lagi maafkan saya Mas, saya nggak bermaksud mempermainkan perasaan Mas Gilang, bahkan saya beberapa kali ingin menjelaskannya ke Mas Gilang tapi Mas Gilang nggak pernah memberikan saya kesempatan buat bicara."


"Tapi bukankah kalian menikah bukan atas dasar cinta? Jadi artinya saya masih memiliki kesempatan buat memiliki kamu kalau akhirnya kalian ber--"


"Mas," potong Aeril.


"Meski kami menikah dengan alasan yang tidak di benarkan tapi saya sama sekali nggak pernah berniat mempermainkan pernikahan.


Saya nggak akan berpisah dari Pak Abi kecuali dia menceraikan saya," ucap Aeril dengan tegas.


"Ya jelas nggak mau berpisah lah orang Abi itu kaya raya, sedangkan kamu itu bukan apa-apa. Gilang saja sama Abi yang matanya di butakan oleh cinta. Dari awal juga saya memang nggak setuju anak saya suka sama kamu, udahlah janda, asal-usul pun nggak jelas," ucap Ibu Gilang dengan emosi.


"Ayok Lang kita pulang, ngapain masih di sini, kayak dunia ini kehabisan wanita aja."


"Tapi Ma."


"Ayok pulang," ucap Ibunya dengan nafas yang sudah terengah-engah.


Akhirnya Gilang menuruti permintaan Ibunya karena takut kesehatan Ibunya memburuk.


Aeril mendesah lega akhirnya satu ganjalan di hatinya terlepas meski ia sebenarnya merasa tak enak kepada Ibunya Gilang, tapi Aeril lebih merasa tak enak akan perasaan Abi jika terus menerus menunda menjelaskan kebenarannya kepada Gilang.


****


Membuka pintu kamar perlahan lalu masuk melihat apa yang sedang Abi lakukan. Aeril mendekati Abi yang tengah tertidur memeluk guling masih memakai pakaian kerjanya.


"Ya ampun ... bahkan kaus kakinya saja tidak di lepas." Aeril menggelengkan kepalanya lalu melepas kaus kaki Abi dan menaruhnya di keranjang pakaian kotor.

__ADS_1


"Mas ... kenapa nggak mandi dulu, nanti badannya gatel?" tanya Aeril tapi Abi tetap bergeming.


"Mas ... marah ya?" Tanya Aeril lagi tapi tak juga membuat Abi bergerak.


Karena tak merespon panggilannya, Aeril menarik bahu Abi sehingga posisinya kini berbaring tapi matanya masih terpejam, lalu Aeril membelai wajah sang suami dengan lembut tapi tetap tak membuat Abi bergerak sedikit pun.


"Maaf," ucap Aeril pelan. Tak juga merespon semua perkataannya Aeril iseng mengecup bibir sang suami. Dia yakin jika jurus itu akan ampuh membuat suaminya membuka mata, dan benar saja saat Aeril sudah berdiri dan bersiap untuk lari, tangan Abi begitu cepat meraih tangan Aeril dan membuat Aeril jatuh tepat di atasnya.


"Mas!!!!" pekik Aeril.


"Tanggung jawab," ucap Abi sembari menyeringai.


"Apaan sih Mas," ucap Aeril sembari memukul pelan dada sang suami.


"Tanggung jawab sama kenakalan yang kamu buat."


"Nggak mau ... " Aeril terus menggeliat mencoba melepaskan diri tapi tak bisa karena pelukan Abi terlalu kuat.


"Pokoknya harus tanggung jawab, kalau enggak aku paksa."


"Ihhh nyebelin!!" Aeril pura-pura memberengut.


"Uhhh makin gemes." Abi lalu menarik tengkuk sang istri lalu meciumnya dengan lembut. Meski tadinya Aeril ingin protes tapi segera di urungkan karena pada akhirnya ia pun menikmati sentuhan lembut dari sang suami. Abi pun sudah di kuasai oleh hasrat hingga tangannya pun kini melepas kancing baju Aeril satu per satu, tapi baru saja hendak membuka kancing yang ke tiga tiba-tiba pintu kamar terbuka sedikit dan muncullah Naira yang segera berlari ke arah Aeril dan Abi meski masih tertatih.


"Ma ... Ma ... " Panggilan Naira membuat Abi menghentikan aksinya dan menjauhkan dirinya dari Aeril lalu mendesah kesal karena Aeril menjulurkan lidahnya meledek Abi yang tak bisa menyalurkan hasratnya sebab Naira tiba-tiba datang.


"Naira nangis di bawah Neng, jadi Ibu bawa ke kamar," seru Bu Diyah dari luar kamar karena tak berani masuk ke dalam kamar.


"Iyya Bu nggak papa, makasih udah nganterin Naira."


"Bu Diyah udah nolongin saya juga dari kenakalan Papanya Naira," bisik Aeril lalu cekikikan karena Abi yang kini memanyunkan bibirnya.


Setelah membenarkan kancing bajunya Aeril segera meraih Naira dan mendudukkannya di panggkuannya dan sesekali menjulurkan lidah ke arah Abi.


"Naira bilang sama Mama kalau nanti malam Papa tidak akan mengampuninya," ucap Abi pada Naira. Naira hanya tertawa mendengar perkataan sang Papa meski tak mengerti apa maksudnya.


Aeril menutup mulut pura-pura takut dengan ancaman sang suami.

__ADS_1


Sore itu pun di lalui Abi dan Aeril dengan bercanda dan tertawa bersama Naira. Meski awalnya sempat cemburu tapi Aeril mampu meyakinkan Abi jika ia hanyalah miliknya seorang.


__ADS_2