
Baru setengah perjalanan tiba-tiba hujan sangat deras dan itu membuat Naira yang tadinya nyenyak seketika terbangun karena suara tetesan air yang menimpa mobil cukup bersuara membuat bayi kecil itu terkesiap.
Saat seorang bayi bangun dari tidurnya apa yang dia cari untuk pertama kali? Sudah jelas Asi. Naira menggesek-gesekkan mulutnya ke baju Aeril. Aeril menepuk-nepuk bokong Naira berharap jika Naira akan kembali tertidur.
''Susui saja, kenapa masih malu,'' ucap Abi karena tahu jika Aeril tak nyaman jika harus menyusui di depannya.
Karena Naira mulai rewel akhirnya Aeril menurunkan sedikit kerah bajunya lalu menyusui Naira. Sedangkan Abi, meskipun tak melihatnya tapi masih bisa melihat dari ekor matanya sesuatu yang tak mesti ia lihat. Abi mengusap wajahnya kasar karena mendadak perasaannya menjadi panas, padahal AC mobil menyala dan di luar hujan tapi entah mengapa Abi kepanasan.
Cuaca yang dingin dan juga di tambah macet membuat Aeril tak mampu menahan kantuknya, berkali-kali mengerjapkan matanya juga beberapa kali menguceknya tapi itu semua tak bisa menahan matanya yang mulai terasa berat dan akhirnya menutup dengan sempurna.
Abi terus konsen menyetir dan tak mau menengok ke arah Naira karena jika ia lakukan bisa saja ia hilang kendali.
Abi memang setia tapi ia juga hanya manusia biasa yang tak mampu menahan kebutuhan biologisnya, apa lagi setiap hari melihat Aeril yang makin hari makin berisi.
Abi terus menggelengkan kepalanya sembari terus menarik kasar rambutnya berharap rasa yang bersarang di dalam otaknya akan segera hilang.
Hujan semakin deras dengan hawa yang sangat dingin, itu membuat perasaan Abi kacau balau tapi sebisa mungkin ia halau perasaan yang membuatnya kesal. Jika saja Delia masih hidup, Abi pasti akan sangat bahagia karena sedang hujan seperti ini, tapi karena Delia sudah tidak ada, cuaca seperti ini membuat suasana hatinya buruk.
*****
Meski membutuhkan waktu lama akhirnya mobil Abi telah sampai di depan rumahnya.
Abi menengok ke arah Aeril dan Naura yang saat ini tertidur sangat nyenyak, Aeril ternyata sangat cantik apa lagi saat tertidur seperti ini.
Aduh Abi sadar-sadar, otak kamu pasti mulai gesrek.
''Bangunlah kita sudah sampai.'' Abi memegang bahu Aeril untuk membangunkannya.
Aeril menggeliat lalu perlahan-lahan mulai sadar dan melihat sekeliling dari balik jendela meski samar karena tertutup derasnya hujan.
''Kita sudah sampai Pak?'' tanya Aeril memastikan.
''Hem,'' jawab Abi datar.
Aeril kebingungan ingin turun tapi di luar hujan sangat deras, kasihan Naira jika terkena hujan.
Di tengah kebingungannya Abi mengetuk jendela mobil dari luar, spontan Aeril melihat Abi di samping kemudi ternyata dia tidak ada dan bisa di pastikan Abilah yang mengetuk jendela.
__ADS_1
Aeril menurunkan kaca mobil dan melihat Abi sudah berdiri sembari memegang payung.
''Kapan dia keluarnya,'' gumam Aeril.
''Cepat keluar dan pakailah payung ini sampai rumah.''
''Tapi Bapak gimana?''
''Saya nggak pa-pa asalkan kamu dan Naira tak kehujanan. Cepatlah keluar nanti Naira semakin kedinginan.''
''Baik Pak.''
Aeril membuka pintu dan turun perlahan sedangkan Abi memegang payung di atas kepala Aeril agar tak terkena hujan.
''Peganglah payung ini lalu masuk bersama Naira.''
''kita bisa memakainya bertiga Pak,'' ucap Aeril ragu-ragu. Sebenarnya Aeril merasa canggung jika harus memakai payung bersama Abi tapi Aeril juga kasihan jika Abi harus terkena hujan. Saat mengambil payung saja bajunya sudah lumayan basah.
''Nggak usah kamu saja, cepatlah masuk,'' titah Abi. Segera Aeril mengambil payung dari tangan Abi lalu berjalan menggunakan payung menuju rumah. Naira pun masih tertidur nyenyak di dalam gendongan meski Aeril sertengah berlari menuju rumah.
Saat tengah malam Aeril mendengar Naira menangis dan masuk ke dalam kamar Abi untuk mengambilnya. Baru saja akan mengambil Naira Aeril terkejut saat mendengar Abi mengigau dan tidurnya pun sangat gelisah.
Setelah menyusui Naira Aeril segera mengambil handuk kecil dan baskom kecil berisi air lalu mengompres Abi. Aeril beristirahat di sofa panjang yang ada di dalam kamar Abi untuk berjaga-jaga, takut terjadi sesuatu dengan Abi.
Satu jam sekali Aeril memeriksa keadaan Abi juga handuk yang ada di dahinya ia celupkan kedalam air lalu menaruhnya lagi. Baru saja Aeril akan beranjak dari dari tempat tidur tapi tangannya sudah di cekal oleh Abi.
''Delia ... jangan pergi, aku nggak sanggup hidup tanpa kamu.'' Abi mengatakannya dengan mata yang masih terpejam.
''Aku mohon jangan pergi Delia.'' Kini Abi terisak hingga air matanya keluar dari ujung matanya. Aeril yang hendak melepaskan tangannya seketika urung karena melihat Abi menangis.
Selama ini Aeril hanya tau jika Abi itu sosok yang dingin, jutek dan tak bersahabat. Aeril bahkan tak tahu jika di balik sifat kasarnya itu Abi memiliki jiwa melow, seperti sekarang ia terus mengucapkan nama istrinya sembari menangis.
Nyonya Delia sungguh beruntung karena Pak Abi sangat mencitainya.
Tak terasa Air mata Aeril pun meleleh karena mengingat Vano yang justru mencampakkannya di saat ia sangat membutuhkan seorang suami karena kehilangan anaknya.
Abi membuka matanya karena punggung tangannya terkena tetesan air mata Aeril.
__ADS_1
''Ka,,,,kamu?'' Abi sangat kaget karena Aeril sedang duduk di dekatnya. Cepat-cepat Aeril menarik tangannya lalu segera pergi melihat Naira. Aeril menyeka air matanya yang terus berjatuhan dan Abi melihat itu.
Abi bangun untuk duduk lalu handuk yang ada di dahinya jatuh di atas pangkuannya.
''Apa kamu yang melakukan ini?'' tanya Abi seraya memegang handuk kecil.
''Iyyak Pak, semalam Bapak demam tinggi jadi saya bernisiatif untuk mengompres Bapak. Maaf kalau saya lancang Pak.''
''Terima kasih.''
''Iyya Pak.''
''Bu Diyah belum datang ya?'' tanya Abi kembali lalu melihat jam ternyata baru jam lima subuh, sudah pasti Bu Diyah belum datang.
''Apa Bapak butuh sesuatu?'' tanya Aeril Balik.
''Em ... apa kamu bisa bikin bubur? Saya mau makan bubur lalu minum obat karena sepertinya kepala saya masih sakit.''
''Bisa Pak, akan saya buatkan.''
Aeril bergegas meninggalkan Naira.
''Aeril?''
''Iyya Pak.'' Aeril menghetikan langkahnya mendengar panggilan Abi.
''Terima kasih,'' ucap Abi tulus. Desir halus menjalar pada tubuh Aeril mendengar perkataan Abi barusan. Selama mengenal Abi baru ini lah Aeril mendengar kata-kata lembut dari bibirnya.
''Sama-sama Pak.'' Setelah mengatakan itu Aeril pun keluar dari kamar Abi lalu menuju dapur untuk memasak bubur pesanan Abi.
Tak butuh waktu lama bubur pun matang lalu Aeril membawanya ke kamar Abi tak lupa mengambil kotak obat dan meletakkannya di dekat bubur Abi.
Baru saja akan keluar Aeril melihat Abi keluar dari kamar mandi sembari berpegangan pada dinding seperti akan terjatuh. Abi mencoba untuk berjalan tapi hampir saja terjatuh jika saja Aeril tak sigap menahan tubuh Abi.
''Hati-hati Pak.'' Abi mendongak lalu menatap Aeril yang membantunya untuk berdiri. Keduanya tak sengaja saling tatap, ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam hati Abi karena lagi-lagi Aeril begitu dekat dengannya. Jantungnya berdebar tak menentu kala Aeril juga membalas tatapannya.
Tak lama Aeril lebih dulu membuang pandangan ke sembarang arah takut Abi akan berfikir aneh-aneh terhadapnya.
__ADS_1
''Terima kasih.'' Lagi-lagi hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Abi. Aeril hanya membalasnya dengan anggukan kepala.