Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Perkataan yang menyakitkan


__ADS_3

Sejak kejadian sore itu Aeril lebih extra menjaga Naira, tak sekalipun ia meninggalkan Naira sendiri meski itu cuma untuk minum. Jika sangat penting, Aeril akan menitipkannya kepada Bu Diyah.


"Pagi Naira." Tiba-tiba Gilang sudah datang sepagi ini saat Naira sudah mandi dan akan di berikan kepada Abi.


"Naira pagi-pagi udah cantik aja, sama kayak yang gendong," goda Gilang. Aeril hanya terdenyum sopan menanggapi ucapan Gilang.


"Aeril jalan-jalan yuk! Emang nggak bosen di rumah terus nggak keluar-keluar?" tanya Gilang basa-basi.


"Enggak Pak, saya lebih suka di rumah," jawab Aeril sopan.


"Jangan panggil Pak dong, berasa kayak Bapak-Bapak padalahal kan belum. Panggil Aa' aja, kan lebih enak di dengar." Gilang tersenyum begitu pun Aeril.


Pemandangan yang ada di depan mata Abi membuat hatinya kesal. Jika seperti ini terus mungkin saja Aeril akan tergoda akan mulut manis Gilang.


Oh ya Tuhan Abi, ada apa denganmu? Bukankan kamu sedang marah kepada Aeril karena telah lalai dalam menjaga Naira, tapi kenapa kamu seolah perduli dengannya.


Abi membuang nafas kasar. Dari pada berfikiran yang tidak-tidak Abi lebih memilih untuk minum kopi yang tadi di buatkan oleh Bu Diyah.


"Bi gue mau ngajak Aeril jalan-jalan, kasian dia lo kurung terus di rumah, lihat deh badannya kurus kering kayak triplek." Tiba-tiba Gilang menghampiri Abi dan mengutarakan keinginannya.


"Terserah lo," ucap Abi datar.


"Yes!! Terima kasih Bi, sepertinya lo udah merestui hubungan gue sama Aeril, terima kasih Bro." Gilang begitu gembira karena Abi mengijinkannya untuk keluar bersama Aeril.


"Ay sekarang kamu nggak bisa alasan lagi, Abi ngijinin kamu kok buat jalan-jalan sama Aa' Gilang."


"Iuuuu, Aa' katanya? menjijikkan," umpat Abi dalam hati.


"Tapi saya mau mengurus Naira Pak, saya nggak tenang kalau harus meninggalkan Naira lama." Sebisa mungkin Aeril menolak ajakan Gilang karena mereka baru saja kenal dan tak mungkin Aeril pergi berdua saja bersama orang yang baru ia kenal.


Abi bernafas lega mendengar penolakan Aeril, meskipun Abi marah kepada Aeril karena kejadian tempo hari tapi Abi begitu lega saat Aeril menolak ajakan Gilang.


"Siapa yang mau ngajakin pergi lama Ril, cuma sebentar aja kok, Abi aja bolehin kok, ya kan Bi." Gilang melihat ke arah Abi tanda meminta persetujuan.


"Iyya pergi saja, nggak ada yang larang kok." Sumpah demi apa pun Abi mengutuk mulutnya yang begitu saja mengijinkan Aeril.


"Tuh kan ayok cepat siap-siap Aa' Gilang tunggu di sini ya, nggak lama kok."


Dengan berat hati akhirnya Aeril menuruti permintaan Gilang yang mengajak untuk pergi. Setelah berganti pakaian akhirnya Aeril mengikuti Gilang yang entah ingin mengajaknya kemana.

__ADS_1


Sementara Aeril pergi, kini Abi bermain bersama Naira dengan perasaan gelisah.


"Dasar murahan, di ajak pergi aja mau," umpat Abi kesal.


"Pak saya turut prihatin ya Pak sama kejadian yang menimpa Naira tempo hari. Saya sudah sejak lama memperhatikan Aeril kalau dia itu kerjanya nggak becus Pak, kadang saya mau bilang sama Bapak tapi takut Bapak nggak percaya sama saya." Sari berusaha mencuci otak Abi dengan menjelek-jelekkan Aeril, tapi Abi hanya diam dan tak terlalu menanggapi perkataan Sari.


Sari mematung saat Naira menatapnya lama dan itu membuat Sari sedikit gugup karena mengingat kejadian tempo hari.


"Ih Naira kenapa lihatinnya kayak gitu banget, jangan-jangan dia mau balas dendam gara-gara kejadian kemarin," ucap Sari dalam hati. Seketika Sari memukul kepalanya pelan.


Kamu nih ngomong apa sih Sar? Dia itu kan anak bayi nggak mungkin bisa apa-apa.


"Pak mau saya bikinin sesuatu, kue, atau cemilan semacamnya gitu?" tanya Sari mencoba mengambil perhatian Abi.


"Nggak usah Sar, mending kamu kerjain tugas-tugas kamu aja, nggak perlu repot-repot," ucap Abi lalu pergi dari hadapan Sari. Lebih baik bermain bersama Naira saat libur seperti saat ini.


"Ihhh Pak Abi tu kenapa sih? aku kan juga cantik nggak kalah dari Aeril, bisa-bisanya dia cuma perduli sama si Aeril. Ini semua tuh gara-gara Aeril, kalau saja Aeril tak ada di sini pasti Pak Abi juga suka sama Aku," gerutu Sari.


*****


"Kamu kenapa sih Aeril? Kayak nggak tenang gitu. Tenang aja kita kan udah minta ijin sama Abi, nggak usah takut gitu," ucap Gilang mencoba menenangkan Aeril yang sedari tadi merasa tak nyaman dan gelisah.


"Iyya ini kan kita udah pulang, kamu sabar ya jangan gelisah gitu."


"Iyya," ucap Aeril singkat.


Gilang tadi membawa Aeril ke Mall untuk berbelanja kebutuhan yang dia inginkan. Gilang bahkan membawa Aeril ke Butik mahal untuk mencari pakaian yang Aeril suka. Sayangnya Aeril bukan tipe-tipe wanita matreslistis yang akan kalap mata saat di ajak ke tempat perlengkapan wanita yang serba branded.


Berkali-kali Aeril menolak semua yang di tawarkan Gilang. Aeril malah terus mengajaknya pulang dengan alasan sakit kepala. Akhirnya setelah selesai makan di sebuah restaurant Gilang pun membawa Aeril pulang karena takut Naira menangis dan Abi akan memarahi Aeril.


Aeril dan Gilang tiba di depan rumah Abi, setelah membuka sabuk pengaman yang ia pakai Aeril pun buru-buru untuk turun karena sudah khawatir kepada Naira.


"Aeril," panggil Gilang.


"Iya Pak."


"Kok masih Pak sih?"


"Iya Mas," Aeril meralat panggilannya yang sejujurnya merasa tak nyaman.

__ADS_1


"Nah gitu dong kan lebih enak di dengar," ucap Gilang sembari tersenyum.


"Kapan-kapan kita jalan bareng lagi ya," tambah Gilang.


"Em ... nggak janji ya Pak."


"Tenang saja nanti saya ijinin lagi sama Abi." Gilang mencoba meyakinkan agar Aeril mau untuk kembali di ajak jalan bersama.


Aeril hanya tersenyum menanggapi perkataan Gilang lalu buru-buru masuk untuk melihat Naira.


Baru saja Aeril membuka pintu Abi sudah berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan tajam.


"Permisi Pak." Hanya itu yang Aeril katakan dan hendak berlalu dari hadapan Abi karena tatapan Abi sudah membuatnya merasa tak enak.


"Kamu kira ini rumah kamu yang seenaknya bisa keluar masuk begitu saja." Suara bariton Abi membuat Aeril menghentikan langkahnya.


"Kamu itu di sini saya bayar buat kerja bukan buat jalan-jalan."


"Saya juga nggak mau Pak, tapi Bapak tadi sudah mengijinkan, jadi saya tidak bisa menolak Mas Gilang."


"Seharusnya kan kamu bisa menolak dengan berbagai alasan, tapi dengan begitu mudahnya kamu mengiyakan ajakan Gilang, murahan!!" kalimat terakhir Abi di ucapkan dengan pelan tapi Aeril masih mampu mendengarnya dan itu membuat hati Aeril seakan roboh.


Tanpa menjawab perkataan Abi Aeril segera pergi dari hadapan Abi karena tak ingin mendengar perkataannya yang lebih parah.


"Di bayar berapa kamu sama Gilang?" baru berapa langkah kaki Aeril melangkah Abi kembali mengeluarkan kata-kata yang menurut Aeril sangat keterlaluan.


"Saya bukan wanita murahan Pak, meski saya miskin dan tak berpendidikan tapi saya masih memiliki iman yang tak mungkin goyah karena godaan dari pria-pria kaya seperti kalian." Setelah mengatakan itu Aeril berlari menuju kamar Naira. Kata-kata Abi sudah sangat menyakitkan hatinya, jika saja Aeril tak memikirkan Naira maka saat ini juga ia pasti sudah pergi dari rumah Abi.


*


*


*


*


Beberapa hari ini udah mulai rame sama jempol kalian. Pokoknya nggak bisa di ucapkan dengan kata-kata, seandainya ada di depan Autor, udah tak cium satu2, kecuali laki ya, haram hukumnya.


Terima kasih pokoknya buat yang selalu setia buat baca karya Author yang masih belajar ini.

__ADS_1


😘😘😘😘😘🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2