Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Memberi pelajaran kepada Abi


__ADS_3

Aeril akhirnya mau di antar oleh Abi untuk pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan keduanya hanya diam terhanyut dalam fikirannya masing-masing. Aeril masih enggan membuka suara karena memang belum memgenal Abi, apa lagi Abi dia memang tak biasa mengobrol dengan wanita selain kepada istrinya. Suami tipe setia begitulah julukannya dari beberapa orang.


Setelah sampai Aeril turun dan berjalan menuju ke rumahnya di ikuti oleh Abi di belakang.


Awalnya Aeril hanya diam saja tapi saat Abi juga akan masuk ke dalam rumahnya, Aeril tampak kesal kepada Abi.


''Bapak bisa pulang sekarang dan terima kasih atas bantuannya. Saya sangat lelah dan mengantuk, saya butuh istirahat karena besok saya akan kembali bekerja," tegas Aeril.


''Bekerjalah padaku, aku akan membayarmu sepuluh juta satu bulan,'' tawar Abi meski dengan ekspresi yang menyebalkan.


''Saya tidak tertarik Pak," balas Aeril ketus.


''Baiklah, aku juga tidak suka memperkerjakan Wanita angkuh seperti kamu.'' Abi pun pergi dengan sangat kesal.


Angkuh katanya? nggak kebalik. Batin Aeril kesal.


Sesampainya di rumah sakit Abi menghampiri Ibu mertuanya yang sedang memejamkan mata di kursi single dekat tempat tidur Naira.


"Ma pulanglah aku akan menemani Naira di sini.''


''Yakin kamu bisa menjaga Naira Bi?''


''Insya allah Ma. Mama pasti lelah karena Naura.''


''Baiklah Mama akan pulang sebentar, nanti Mama akan kesini lagi. Kalau ada apa-apa kamu hubungin Mama aja ya?''


''Baik Ma.''


Bu Sukma bersiap-siap untuk pulang tapi dia teringat akan seseatu.


''Oh iyya Bi, gimana sama perempuan tadi?


Siapa namanya?''


''Nggak tahu.'' Abi menaikkan bahunya malas.


''Loh kok nggak tau sih Bi? gimana mau jadiin dia Ibu susunya Naira kalau namanya saja kamu nggak tahu," ucap Bu Sukma sedikit kesal.


''Abi nggak suka sama dia, nanti kita cari Ibu susu yang lain aja buat Naira.''


''Kenapa nggak suka? Mama lihat dia orangnya baik kok.''


''Tapi dia angkuh Ma, mentang-mentang kita butuh eh dia berlagak nggak mau.''


''Kamunya aja yang selalu ketus Bi, kalau kamu selalu bersikap ketus pada semua Wanita, nggak akan ada yang betah kerja sama kamu Bi.''

__ADS_1


Abi hanya diam karena merasa tak setuju dengan pendapat mertuanya.


''Baiklah terserah kamu saja, Ibu mau pulang dulu, titip Naira ya.'' Abi hanya mengangguk membalas ucapan Ibu mertuanya.


Belum ada dua jam kemudian Naira terbagun dan menggeliat-geliat. Abi memperhatikan tingkah putri kecilnya sembari tersenyum, tapi tak lama kemudian Naira menangis kencang dan itu membuat Abi kalang kabut kebingungan.


Abi mencoba menghubungi Ibu mertuanya berkali-kali tapi tak mendapat jawaban.


Lalu Abi menghubungi Indra.


''Indra cepat kesini aku butuh bantuan.''


''Bantuan apa Pak? ini bahkan baru jam dua pagi. Pekerjaan sepenting apa yang membuat Bapak membangunkan saya di tengah malam begini.''


''Jangan banyak tanya. Kalau kamu sampai tidak datang kesini maka saya pastikan tamat riwayat kamu.'' Abi memutuskan panggilan secara sepihak.


Jangan di tanya bagaimana ekspresi Indra, ingin sekali rasanya menggigit kuping Bosnya sampai putus. Indra sangat kesal Karena akhir-akhir ini Abi selalu memberikan pekerjaan yang menguras emosi.


Meski kesal Indra tetap pergi menemui Abi. Entah pekerjaan macam apa lagi yang akan di berikan oleh Bosnya.


Sementara di rumah sakit Abi sudah sangat kelimpungan di buat Naira karena sejak tadi tak mau diam. Sudah di berikan susu tapi Naira tak mau meminumnya.


'''Ya Allah Naira kamu kenapa nangis Nak, Ayah bingung harus apa kalau begini. Tolong ya Nak kamu jangan nangis lagi.'' Abi mencoba menenangkan Naira dengan menggendongnya sambil berjalan kesana kemari tapi bukannya diam, Naira malah menangis kencang.


''Dia tidak mau minum susu Sus.''


''Coba panggil Wanita yang tadi menyusuinya Pak, saya rasa anak Bapak menginginkannya.''


Abi lagi-lagi terdiam mendengar ucapan sang suster karena merasa kesal dengan wanita yang di maksud.


''Pak ada yang bisa saya bantu?'' Indra datang dengan muka yang lesu.


''Cepat cari Ibu susu untuk Naira Ndra, segera.''


Tanpa tedeng aling-aling Abi menyuruh Indra segera pergi mencari Ibu susu untuk Naira.


''Tapi saya harus mencari kemana Pak?''


''Saya nggak mau tahu!!!


Kalau perlu buat pengumuman untuk membayar mahal untuk yang bersedia menjadi Ibu susu untuk Naira.''


''Baik Pak saya akan pergi sekarang permisi.''


''Memangnya mencari Ibu susu segampang mencari pembalut di In**mart,'' umpat Indra kesal.

__ADS_1


''Benar-benar gila, dimana bisa menemukan Ibu susu di tengah malam seperti ini.'' Indra terus menggerutu sepanjang perjalanan karena ulah Bosnya.


Sedangkan di rumah sakit, Abi mengerang frustasi karena tak bisa mendiamkan Naira. Abi juga terus mencoba menghubungi Ibu mertuanya tapi tetap tak di angkat, menghubungi telfon rumah pun tak ada yang mengangkat.


Bu Sukma membiarkan Ponselnya terus berkedip karena ingin memberi pelajaran kepada Abi yang keras kepala. Bu Sukma ingin melihat apa yang akan Abi lakukan jika Naura menangis. Apa dia akan tetap pada pendiriannya yang tak mau jika Aeril yang menjadi Ibu susu Naira.


Meski kasihan kepada keadaan cucunya tapi Bu Sukma juga harus memberi Abi pelajaran agar bisa merubah sifat kerasnya.


Setelah satu jam mencari tapi Indra tak juga menemukannya. Kini ia kembali ke rumah sakit dengan pasrah, pasrah jika Bosnya akan memecatnya karena tak menemukan Ibu susu untuk anaknya.


Dari luar kamar saja Indra sudah bisa mendengar tangisan Naira yang nyaring.


''Mana Ibu susu untuk Naira Ndra?'' tanya Abi setengah berteriak karena tak menemukan siapa pun yang bersama Indra.


''Maaf Pak saya tidak bisa menemukan karena kalau jam segini semua orang pasti tertidur saya nggak mungkin menggedor-gedor rumah orang di jam seperti ini.''


''Arrrrgghhhh dasar tidak becus.''


Indra hanya bisa menunduk mendengar kemarahan Bosnya.


''Baiklah cepat antar saya ke alamat ini.''


Abi memberikan secarik kertas lalu keluar dari ruangan Naira mendahului Indra yang kebingungan.


Tak mau di marahi untuk yang kedua kalinya, indra pun bergegas menyusul Abi.


Kini Abi dan Indra sudah berada di jalan menuju rumah Aeril. Dengan terpaksa Abi melupakan kekesalannya kepada Aeril demi putrinya.


''Cepat Indra!!! kalau kamu menyetirnya seperti keong, kita tidak akan sampai ke rumah wanita menyebalkan itu,'' ucap Abi kesal karena merasa Indra sangat lamban membawa Mobil.


''Iyya Pak, ini sudah saya usahakan.''


Sekitar dua puluh menit sampailah Abi di depan rumah Aeril. Seperti orang yang tak punya etika Abi langsung saja menggedor-gedor pintu ruma Naira karena sudah tak tahan dengan Naira yang sedari tadi tak henti-hentinya menangis.


Aeril hampir saja melompat dari tempat tidur karena mendengar pintunya di gedor dengan keras. Karena kesal Aeril segera membuka pintu rumahnya dan melihat siapa yang datang, tentu saja Aeril hampir saja murka jika tak melihat Bayi mungil yang sedang menangis.


''Susui dia.'' Tanpa basa basi Abi menyerahkan Naira kepada Aeril.


Dia ini manusia bukan sih??


kenapa sama sekali tak punya sopan santun.


Meski kesal tapi akhirnya Aeril meraih bayi kecil itu meski walau kesal kepada Ayahnya.


Ajaibnya Naira terdiam saat berada di tangan Aeril dan itu membuat Abi heran sekaligus bisa bernafas lega.

__ADS_1


__ADS_2