
Di kantor Abi tak bisa fokus dengan semua pekerjaannya, saat rapat dengan para direktur dan yang lainnya, Abi tak tahu apa yang di bicarakan orang-orang yang hadir dalam rapat, entah apa yang tengah di fikirkan Abi, Indra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Bosnya, karena hari-hari sebelumnya Bosnya itu tampak killer dan hari ini berubah drastis, Abi lebih banyak bengong sepanjang rapat di laksanakan.
"Pak, Bapak nggak pa-pa kan?" tanya Indra saat rapat telah selesai.
"Em ... nggak pa-pa, emang kenapa?" Abi malah balik bertanya kepada indra.
"Bapak tuh hari ini aneh banget, bengong ... aja dari pagi, bahkan saat rapat saja Bapak nggak merespon apa yang di jelaskan oleh beberapa dewan direksi."
"Saya juga nggak tahu Ndra, mungkin karena lelah makanya saya jadi nggak fokus."
"Ya udah pulang aja Pak, ini kan sudah jam lima sore."
"Duluan aja Ndra, saya masih mau di sini karena masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," kilah Abi, padahal ia hanya mau berlama-lama di kantor agar saat pulang tak bertemu Aeril.
"Ya sudah kalau gitu saya duluan pulang Pak," pamit Indra.
"Hati-hati Ndra."
"Iyya Pak."
Abi kembali duduk di kursinya sembari memijit keningnya. Kejadian subuh tadi benar-benar mengusik fikirannya, meski sudah berusaha menepisnya tapi selalu saja terbayang dan itu membuat Abi benar-benar pusing.
Saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam barulah Abi pulang.
Aeril dan Naira pasti sudah tidur fikir Abi.
Lalu Abi menaiki mobilnya dan perlahan meninggalkan area perkantorannya.
Setelah sampai rumah Abi membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga di saat pulang malam seperti saat ini. Keadaan rumah sudah sangat sepi, Bu Diyah pasti sudah pulang dan yang lainnya pasti sudah tertidur. Abi masuk ke dalam rumahnya tanpa bersuara agar tak ada yang menyadari kehadirannya.
Setelah membersihkan tubuhnya Abi segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan berharap agar segera tertidur.
Hingga pukul satu malam Abi tak juga mampu memejamkan matanya. Abi bangun dan duduk di tempat tidur.
Ada apa sebenarnya denganku?
Abi lalu melihat gelasnya yang kosong dan berdecak kesal karena tengah malam harus turun ke dapur untuk mengambil minum.
__ADS_1
Dengan perasaan malas akhirnya Abi turun ke bawah.
Lampu di dapur terlihat terang setahu Abi biasanya lampu dapur akan di matikan ketika malam. Abi lalu mendekat tapi sebelum sampai Abi memcium aroma yang sangat menggugah selera dan aroma itu sukses membangunkan cacing-cacing di dalam perut Abi.
"Ay kamu di sini?" Abi begitu terkejut ternyata Aeril sedang makan di dapur.
"Pak Abi!" Aeril tak kalah terkejut melihat Abi tengah malam ada di dapur. Aeril seketika berdiri dari duduknya karena merasa tak enak sedang makan di tengah malam.
"Duduk aja, lanjutin makannya. Saya cuma mau ngambil air minum." Abi memperlihatkan gelasnya yang kosong.
Aeril hanya tersenyum menanggapinya lalu kembali duduk tapi tak langsung makan, Aeril menunggu Abi pergi baru dia akan makan.
"Kamu makan apa?" tanya Abi saat memperhatikan isi mangkok Aeril. Meski Abi tahu pertanyaannya hanya sekedar basa-basi karena rasanya masih kaku gara-gara kejadian kemarin
"Oh ini Pak, saya masak mi pakai telur dan potongan sayur, Bapak mau?" tanya Aeril yang juga hanya iseng menawari Abi, fikir Aeril Abi juga tidak akan mau karena yang Aeril tahu Abi sangat menjaga pola makannya dan tak akan sembarangan makan apa lagi tengah malam.
"Boleh, tolong bikinin satu ya. Ngeliat kamu makan kok saya jadi ikutan lapar juga."
"Baik Pak tunggu sebentar ya, akan saya buatkan." Aeril merutuki keisengannya yang menawarkan Abi makan, tak di sangka Abi ternyata mau dan itu membuat Aeril mengutuk kebodohannya. Padahal Aeril juga menghindari Abi tapi gara-gara mulutnya, malam ini ia harus makan berdua dengan Abi.
Aeril lalu memanaskan air lalu mengiris sayuran untuk pelengkapnya.
"Cabenya 2 aja, saya nggak terlalu suka kalau pedas."
"Baik Pak." Aeril kemudian mengiris dua buah cabai lalu memasukkannya ke dalam panci.
Setelah semuanya matang Aeril memindahkan minya ke dalam mangkuk dan membawanya ke hadapan Abi.
"Baunya enak banget," ucap Abi kala mencium aroma mi rebus yang ada di hadapannya.
"Kamu sering makan tengah malam Ay?" tanya Abi lalu mulai meniup asap yang mengepul pada saat menyendok mi tersebut.
"Semenjak nyusuin Naira hampir setiap malam Pak, he he he." Naira tertawa malu-malu karena mengakui kebiasaannya.
"Nggak takut gendut?"
"Nggak juga sih Pak, soalnya nggak bisa tahan kalau sudah lapar," jelas Aeril.
__ADS_1
"Oh." Abi tak bertanya lagi karena tengah serius menikmati mi di hadapannya. Ternyata makan mi rebus saat tengah malam cukup enak.
Aeril cepat-cepat menghabiskan makanannya agar bisa cepat-cepat pergi dari hadapan Abi.
"Loh Ay jangan buru-buru nanti keselek," ucap Abi saat melihat Aeril yang makan dengan terburu-buru.
"Uhukk." Benar saja Aeril akhirnya terdedak makanannya sendiri dan refleks mengusap punggung Aeril agar berhenti batuk.
"Tuh kan apa saya bilang, jangan makan buru-buru."
"Takut Naira bangun Pak," elak Aeril.
"Tapi biasanya Naira nyenyak kok kalau malam. Lagian masa kamu ninggalin saya makan di sini sendirian, nggak sopan."
Aeril jadi bingung ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Abi tapi memang tidak sopan rasanya meninggalkan Abi yang sedang makan. Akhirnya Aeril memutuskan untuk tetap duduk di dapur sampai Abi selesai makan.
"Ay tentang kemarin malam saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja."
"Lupain aja Pak, anggap aja nggak pernah terjadi."
"Baiklah." Kini mi yang ada di hadapan Abi telah habis bahkan sampai kuahnya pun kering. Abi benar-benar menikmati pengalaman pertamanya makan mi.
Setelah selesai Aeril mencuci piring bekas makannya dan juga Abi lalu menyimpannya kembali pada rak piring lalu kembali mencuci tangan dan mengeringkannya dengan lap yang sudah tersedia.
"Ay saya perhatiin baju kamu itu-itu aja, kamu nggak pernah keluar beli baju?" tanya Abi, sebenarnya merasa tak enak dengan pertanyaannya tapi Abi memang tanpa sengaja memperhatikan baju Aeril hanya itu-itu saja semenjak dia tinggal di rumahnya.
"Oh ini Pak, belum sempat beli lagian saya merasa nyaman dengan baju ini lagi pula masih layak pakai jadi ya nggak masalah."
"Nanti kalau libur kita pergi cari baju buat kamu."
"Nggak usah Pak, nggak usah repot-repot," tolak Aeril halus karena merasa tak enak pada Abi.
"Saya sekalian mau beliin baju untuk Naira jadi saya nggak merasa di repotkan sama sekali."
"Tapi Pak ... "
"Ya ampun ... kamu ini kenapa sih hobi banget bilang tapi."
__ADS_1
"Baiklah," ucap Aeril pelan. Aeril merasa takut dengan kebaikan Abi akan membuat semua orang salah paham terutama Sari, pasti dia akan semakin menghina Aeril.