Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Takdir yang mengejutkan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aeril sudah selesai mencuci pakaian dan menjemurnya di belakang rumah dan Bu Diyah pun sudah siap-siap di dapur untuk membuat sarapan.


"Neng Aeril nggak usah ngepel biar Ibu aja, itu kan tugas Ibu," ucap Bu Diyah saat melihat Aeril membawa alat pel dan ember.


"Nggak pa-pa Bu, pekerjaan saya juga sudah selesai dari pada nganggur mending bantuin Bu Diyah biar cepat beres."


"Ya ampun Neng mending Neng pergi nyusuin Naira aja ini kan sudah pagi, pasti Naira sudah bangun."


"Naira belum bangun Bu, sekarang Naira jarang nyusu malam, bahkan hampir tidak pernah soalnya selalu tidur nyenyak kalau saya pergi nengokin,'' kata Aeril dengan wajah lesu karena jarang bertemu Naira.


"Kok gitu ya?" tanya Bu Diyah sedikit heran.


"Saya juga nggak tahu Bu, padahal biasanya dia kuat banget nyusu kalau malam tapi sekarang malah tidur sangat nyenyak kalau malam. Apa anak bayi memang begitu ya Bu?" tanya Aeril.


"Kurang tahu juga ya Neng, kalau anak-anak Ibu mah nggak ada yang seperti itu, semuanya doyan nyusu kalau malam hari."


"Saya sedikit merasa aneh sih Bu tapi mungkin juga emang Naira lagi ada perubahan seperti yang Mbak Sari bilang kadang bayi memang seperti itu, berubah-ubah. Sari kan berpengalaman Bu jadi dia tahu macam-macam karakter bayi,'' kata Aeril yang mencoba untuk tidak berburuk sangka.


"Mungkin juga Neng. Ya sudah nggak usah terlalu di fikirin Neng, nanti Neng jatuh sakit kalau kebanyakan mikirin Naira." Bu Diyah mengusap pelan pundak Aeril mencoba menenangkannya.


Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Bu Diyah kini Aeril mulai melakukan pekerjaannya. Saat tengah mengepel ruang tamu seperti biasa setelah sarapan Abi akan duduk sebentar di ruang tamu sebelum berangkat ke kantor.


Aeril tak menyadari jika Abi sudah mendekat ke arahnya dan Abi pun tak melihat Aeril yang tengah mengepel lantai karena sedang serius dengan ponselnya.


Karena tak memperhatikan jalannya dan juga tak melihat jika lantai yang ada di depannya masih sedikit basah. Tiba-tiba saja kaki Abi terpeleset di lantai dan tak sengaja meraih tangan Aeril untuk menyeimbangkan tubuhnya. Aeril yang tangannya di tarik tiba-tiba seketika kaget dan tak bisa menahan tubuh Abi yang bobotnya lebih berat dari Aeril.


Jadilah dua-duanya terjatuh di atas sofa dengan posisi Aeril yang berada di atas. Rsmbut Aeril yang basah menjuntai sempurna di wajah Abi. Keduanya saling tatap untuk sebentar.

__ADS_1


''Astaga kenapa dia terlihat cantik dengan rambut basah seperti ini,'' Ucap Abi dalam hatinya.


Jantung Aeril berpacu begitu cepat, mungkin efek kejadian yang tiba-tiba dan juga ... entah lah Aeril juga tak bisa mengartikan perasaannya.


"Ya Allah Mas Abi," teriak seorang Ibu yang datang dan melihat kejadian di depan matanya.


Sontak Abi dan Aeril sama-sama untuk berdiri.


"Ya Allah Mas Abi saya nggak nyangka ternyata kelakuan Mas Abi seperti ini." Ibu itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ihhh iyya ya, ternyata di balik tampang kalemnya Pak Abi nggak memiliki etika," timpal Ibu yang satunya.


"Tempat kita bakalan kena sial nih Bu kalau ada warga kita yang seperti ini, ih saya jadi takut kena sialnya. Kita harus laporin Pak Rt nih," ucap Ibu pertama begitu berapi-api.


"Tolong Bu ini semua tidak seperti yang Ibu-Ibu fikirkan. Tadi saya terpeleset dan tak sengaja memegang Aeril dan akhirnya kami sama-sama terjatuh." Abi yang panik berusaha menjelaskan kejadian yang senenarnya, sedangkan Aeril hanya diam dengan tubuh bergetar karena merasa rakut.


"Ih nggak punya ahlak banget ya. Ganteng-ganteng kelakuannya kayak gitu," ketus para Ibu-ibu.


"Tolong Bu dengerin saya, ini semua nggak seperti yang Ibu fikirkan. Tadi kan saya sudah menjelaskan, kenapa masih nggak ngerti juga sih." Abi semakin panik karena Ibu-Ibu tampaknya tidak ada yang mau mengerti di tambah satu Ibu-Ibu lagi membawa para warga dan juga Pak Rt.


"Tuh Pak Rt pasangan mesumnya, mending kita arak aja keliling komplek terus kita usir," kata Ibu-Ibu itu lagi.


"Tolong ya Ibu-Ibu kita jangan main hakim sendiri, kita bisa membicarakannya secara baik-baik." Pak Rt mencoba menengahi warga yang sudah mulai pada ribut.


Aeril sudah mulai menangis ketakutan. Belum selesai masalah yang lama kini masalah baru muncul lagi.


Abi mencoba menghubungi Ibu mertuanya dan berharap semoga saja bisa membantunya.

__ADS_1


Tak berselang lama Bu Sukma pun hadir saat situasi mulai memanas antara Abi dan para warga.


"Mending kita nikahin aja keduanya hari ini dari pada terus-terusan berbuat zinah di komplek kita, itu lebih baik kan dari pada kita arak keliling komplek," kata seorang Ibu-Ibu di tengah perdebatan yang masih berlangsung.


"Ya nggak bisa gitu dong Bu, ini kan murni kecelakaan kenapa saya yang kena imbasnya, enak aja," kekeuh Abi tetap tak mau kalah.


"Kami nggak mau tahu pokoknya Pak Abi harus menikah hari ini atau kita arak keliling komplek lalu kita usir dengan tidak terhormat. Bagai mana menurut Bu Sukma?" tanya para warga.


"Saya setuju," jawab Bu Sukma cepat, membuat Abi sukses melotot kepada Ibu mertuanya.


"Bi Mama nggak bisa nolongin kamu, lihatlah para warga makin membludak dan tak bisa di kendalikan, kita nggak punya pilihan lain. Kalau kamu sampai di arak warga, itu akan mencoreng nama baik keluarga kita, lebih baik kamu menyetujuinya." Bu Sukma mencoba membujuk Abi yang sepertinya tak setuju dengaan permintaan warga.


Setelah perdebatan sengit dan tak ada jalan keluar yang lainnya akhirnya Abi menyetujui keinginan para warga meski dengan sangat terpaksa. Bu Sukma terus menguatkan Abi meski di dalam hatinya ia bersorak gembira karena Bu Sukma memang sangat menyukai Aeril dan akhirnya Aeril bisa menjadi Ibu seutuhnya untuk Naira meski dengan jalan yang salah.


"Baiklah saya setuju." Abi mendesah panjang setelah mengatakan kalau dia setuju.


"Tapi saya tidak setuju," ucap Aeril yang sejak tadi hanya diam sembari menangis.


"Benar kata Pak Abi ini semua cuma kecelakaan bukan di sengaja. Kenapa kami di hukum atas hal yang tak kami sengaja," lanjut Aeril. Aeril tidak bisa membayang bagaimana jadinya jika ia menikah dengan pria pemarah yang akhir-akhir ini sangat membencinya, lagi pula Aeril sudah tidak punya niat untuk menikah lagi seumur hidupnya.


"Kamu tidak punya pilihan lain Nak, apa kamu mau kalau warga mempermalukan kalian berdua? Sebaiknya kamu turuti saja dulu kemauan para warga," bisik Bu Sukma.


Karena memang sudah tak ada jalan keluar akhirnya dengan berat hati Aeril menyetujui meski hatinya benar-benar tidak rela.


Sari yang mendengar keributan di luar bergegas untuk turun dan melihat apa yang sedang terjadi. Begitu kagetnya Sari saat mendengar jawaban salah satu Ibu yang ia tanyai tentang apa yang sedang terjadi.


"Ahhhhh, kenapa Aeril selalu saja beruntung. Padahal aku lah yang selama ini berusaha mati-matian untuk mendapatkan Pak Abi, tapi kenapa dengan begitu mudahnya ia mendapatkannya." Sari mengeram frustasi, rasanya sekarang ia ingin sekali menghabisi Aeril. Dengan penuh amarah dan kebencian Sari masuk ke dalam kamar Naira lalu membanting pintu dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2