
"Pagi bidadari aku," sapa Gilang saat melihat Aeril sedang bermain dengan Naira di taman.
Sesuai perkataannya kemarin, Gilang ingin meminta nomor ponsel Aeril karena Abi tak memberikannya.
Aeril hanya tersenyum menanggapi perkataan Gilang dan itu semakin membuat Gilang tertarik kepada Aeril karena sikapnya yang pemalu. Rata-rata wanita yang ia temui akan sangat bertingkah agresif di depannya dan itu membuat Gilang bosan, sedangkan Aeril dia berbeda, tak banyak bicara, tidak pernah mencari perhatian, sopan dan enak di pandang mata, tak seperti kebanyakan wanita yang selalu ber make up tebal Aeril tak memakai make up pun sudah cantik dan indah di pandang mata.
"Naira lagi apa? Ihhh keponakan om udah cantik aja ini." Naira tersenyum saat di ajak berbicara oleh Gilang.
Seperti biasa setelah sarapan Abi akan keluar dan duduk di ruang tamu dan saat melihat Gilang ada di luar Abi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Niat banget dia itu mau minta nomor Aeril, dasar buaya!" umpat Abi.
"Bu Diyah bikinin kopi satu lagi ya," pinta Abi kepada Bu Diyah.
"Baik Den." Bu Diyah lalu membuat kopi untuk Gilang dan membawanya ke ruang tamu.
Abi terus memperhatikan gilang yang sedang bercakap-cakap dengan Aeril.
"Aeril boleh minta nomor ponsel nggak? Ya bukan apa-apa sih siapa tahu nanti Aeril lagi tersesat di jalan kan bisa langsung telfon aa' Gilang. Sebutin ya aa' Gilang catat di HP nih." Gilang mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya lalu bersiap-siap mencatat nomor Aeril.
"Maaf Pak tapi saya nggak punya HP," ucap Aeril lalu tersenyum. Bukan tidak bisa Aeril untuk membeli Ponsel baru, tapi ia memang tak membutuhkan ponsel karena memang tak memiki sanak saudara dan tak ada yang bisa di hubungi, itulah sebabnya Aeril tak membeli ponsel.
"Ya tuhan ... masa wanita secantik kamu nggak punya HP? Wah ini pasti gara-gara Abi nih. Tunggu di sini ya Ril aa' mau marahin Abi masa iyya kamu nggak di kasih kebebasan buat main HP." Setelah mengatakan itu Gilang menghampiri Abi yang tengah Asyik menyesap kopi di ruang tamu.
"Kebangetan lo Bi, masa Aeril nggak lo beliin HP, wah jangan-jangan udah bangkrut lo, beliin HP buat Aeril aja nggak bisa," oceh Gilang lalu duduk dan ikutan minum kopi tanpa di persilahkan lebih dulu.
"Sialan lo, kalau gue bangkrut, orang pertama yang gue pecat pasti elo." jawab Abi dengan santainya.
"Huhh dasar."
"Kenapa lo? nggak di kasih nomer HP sama Aeril?" tanya Abi sembari tersenyum.
"Katanya sih nggak punya HP Bi, kasian banget ya dia masa nggak punya HP. Ada gitu manusia jaman sekarang yang nggak butuh HP. Aeril itu benar-benar cewek langka Bi, limited edition, pokoknya dia harus jadi istri gue sebelum dia di ambil orang lain."
"Mimpi aja lo," kata Abi.
__ADS_1
"Loh kenapa? Pokoknya gue bakalan jadiin dia satu-satunya wanita gue dan gue pastiin nggak bakal ada wanita lain selain dia Bi."
"Halah sifat buaya mah nggak bakal ilang dari dalam diri manusia."
"Ih Abi lo jadi sahabat nggak ngedukung banget sih, parah," protes Gilang.
"Kalau lo bukan buaya pasti gue dukung," tukas Abi, entah mengapa ia merasa kesal kepada sahabatnya saat ingin dekat dengan Aeri, seperti tak rela.
"Gue janji Bi, gue akan berubah sumpah." Gilang menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya pertanda dia serius dengan perkataannya.
"Halah udah cepetan habisin kopi lo baru kita berangkat."
"Ah nggak seru lo Bi." Gilang berdecak kesal karena sahabatnya tak mendukung keinginannya.
Pulang dari kantor Abi menyempatkan diri untuk mampir Mall dan mencari ponsel untuk Aeril. Abi juga baru tahu kalau ternyata Aeril tak mempunyai ponsel dan benar kata Gilang manusia macam apa yang tak menginginkan ponsel di jaman sekarang, entah apa yang ada di dalam fikiran Aeril sehingga tak tertarik dengan benda canggih seperti ponsel.
Setelah memilih ponsel yang kira-kira cocok untuk Aeril Abi pun pulang ke rumahnya karena sudah merasa sangat rindu kepada Naira.
Saat tengah duduk dan menonton televisi di ruang keluarga Aeril turun untuk menyerahkan Naira kepada Abi seperti malam-malam biasanya dan akan mengambilnya setelah Abi puas bermain dengan putrinya.
"Ay tunggu," panggil Abi saat hendak kembali ke kamar.
"Ini ambilah." Abi menyodorkan ponsel baru yang masih terbungkus kardus yang tadi ia beli.
"Apa ini Pak?" tanya Aeril heran, tak mengerti mengapa Abi memberinya sebuah ponsel.
"Onde-onde Ay," jawab Abi singkat.
Apa Aeril tak melihat gambar ponsel yang tercetak jelas di kardusnya. Wanita memang aneh.
"Hah ... ?" Aeril melongo.
"Itu ponsel Ay, buat kamu."
"Iyya saya tahu, tapi ini buat apa Pak? Saya nggak butuh ponsel untuk saat ini." Bukan ingin menolak tapi memang Aeril tak terlalu membutuhkan ponsel karena tak mempunyai siapa pun untuk di hubungi. Saat memiliki suami sudah pasti Aeril akan senang jika memiliki ponsel, tapi sejak tak Ada Vano, Aeril tak lagi memikirkan untuk memiliki ponsel.
__ADS_1
"Ya ampun Ay, seriusan kamu nggak butuh ponsel? anak kecil jaman sekarang saja banyak yang merengek kepada orang tuanya untuk di belikan ponsel, tapi kenapa kamu nggak mau? Aneh."
"Karena saya tidak memiliki siapa pun untuk di hubungi," ucap Aeril sendu.
Abi menghela nafas panjang. "Kan sekarang kamu kerja di sini Ay, anggap saja semua yang ada di sini saudara kamu. Lagian kamu kan ngurusin Naira, sedangkan saya Papanya Naira, kalau saya tiba-tiba kangen sama Naira kan saya bisa hubungin kamu,'' jelas Abi panjang lebar.
"Hem ... iyya juga sih," jawab Aeril pelan.
"Ya udah tunggu apa lagi, ambil. Saya sudah menyimpan nomor saya di situ."
"Terima kasih Pak, nanti Bapak bisa potong gaji saya buat ganti duit Bapak karena sudah membelikan ponsel ini," ucap Aeril. Sebenarnya Aeril tidak ingin menerimanya tapi karena Abi sedikit memaksa akhirnya Aeril menerimanya.
"Nggak usah di fikirin," ucap Abi singkat.
Setelah sampai di dalam kamar, Aeril membuka kardus ponselnya dan mulutnya seketika menganga karena melihat ponsel tersebut.
"Ini pasti sangat mahal, kenapa Pak Abi membelikan ponsel yang sangat mahal seperti ini," gumam Aeril seraya membolak-balik ponsel dengan gambar apel groak di belakangnya.
"Enak banget kamu ya di beliin HP baru sama Pak Abi." tiba-tiba Sari nyelonong masuk tanpa permisi ke dalam kamar Naira.
"Apaan sih Mbak Sari, ini tu aku bayar kok setiap bulan. Nggak usah berprasangka buruk deh," tukas Aeril kesal. Selalu saja mengomel di saat yang tak di inginkan. Aeril menyesal karena pintu kamarnya tak ia tutup, jika saja ia menutup dan menguncinya Sari tak akan masuk sembarangan dan bicara yang tidak-tidak.
"Kamu pasti ngerayu Pak Abi kan buat beliin ponsel mahal kayak gitu, atau jangan-jangan kamu sudah memberikan tubuh kamu buat Pak Abi sampai Pak Abi baik banget sama kamu," ucap Sari yang membuat Aeril seketika berdiri dan menyeret Sari keluar dari kamarnya.
"Mending Mbak Sari keluar aja deh dari pada di sini nambah-nambahin dosa aja, takutnya saya juga khilaf sama Mbak gara-gara Mbak suka ngomong ngawur. Udah sana keluar." Setelah membuat Sari keluar, Aeril menutup pintunya lalu menguncinya dari dalam.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Makasih ya yang udah mau mampir baca cerita Author, Author seneng banget deh baca komen-komenan kalian, bikin tambah semangat. Padahal Cerita Author ni menurut Author jauhhhh dari kata layak karena memang baru belajar nulis, tapi komenan positif kalian bikin Author semangat dan nggak berkecil hati.
Pokoknya muach, muach, muach deh buat kalian semua.😘😘😘