Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Debaran jantung Aeril


__ADS_3

Abi mencekram tangannya lalu mengibaskannya dengan kuat karena rasa panas dan perih yang di timbulkan oleh air panas yang mengenai tangannya.


Refleks Aeril memegang tangan Abi lalu membawanya ke bawah kran tempat mencuci piring lalu menyalakan krannya. Dinginnya air sedikit mengobati rasa panas dan sakit pada tangannya.


"Kan saya sudah bilang kalau saya saja yang membuatkan kopi untuk Bapak, Bapak ngeyel banget. Kalau sudah seperti ini bagai mana coba?"


''Kenapa harus mengerjakan sesuatu sendiri kalau ada istri Bapak di sini, kan Bapak bisa minta tolong." Aeril terus mengoceh sembari terus menyalakan air kran agar Abi tak terlalu merasakan panas akibat air panas tadi.


"Istriku sibuk dengan Mas Gi-lang dari pada suaminya," jawab Abi tapi dengan menekan kata Gilang.


Aeril mendongak dan memandang Abi lalu mengernyitkan dahinya." Nggak lucu," kata Aeril lalu membuang muka.


"Emang nggak lucu, siapa yang bilang lucu," ucap Abi dengan ekspresi datar.


"Tunggu di sini sebentar saya ambil air es dulu." Aeril melepaskan tangan Abi lalu berjalan ke arah kulakas untuk mengambil es batu. Setelah es batu dan airnya di campur, Aeril memasukkan tangan Abi ke dalam baskom yang telah terisi air dan es batu.


Panas di tangan Abi pun berangsur lenyap tapi tetap saja harus di obati agar tak tambah parah, untuk itu Aeril segera menghubungi Dokter agar segera datang ke rumah.


"Harus rajin di kasih salepnya ya Bu juga jangan lupa obat anti nyerinya juga di kasih agar tangannya tidak terlalu sakit." Dokter yang di panggil Abi memberikan sebuah resep yang harus di tebus Aeril di apotik.


"Iyya Dok."


Keesokan harinya Aeril akan turun untuk membuatkan Naira Mpasi sebelum dia terbangun dari tidurnya. Tak sengaja Aeril melihat Abi kesusahan membuka bajunya.


Meski malu tapi Aeril masuk untuk membantu Abi." Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Aeril.


"Nggak usah saya bisa sendiri kok, kamu nggak usah repot-repot," tolak Abi. Tapi seketika Aeril membantu Abi melepaskan baju yang ia pakai, Abi tak lagi menolak karena dia memang tak bisa melakukannya karena luka di tangannya masih basah dan tak boleh banyak bergerak.


"Ada yang bisa saya bantu lagi?" kembali Aeril bertanya karena takut Abi masih memerlukan sesuatu.

__ADS_1


"Em ... sebenarnya saya mau mandi," kata Abi ragu-ragu.


"Mandinya kalau tangannya udah sembuh aja Pak, kalau sekarang kan tangannya masih belum boleh kena air," ucap Aeril.


"Tapi saya nggak bisa kalau nggak mandi Ay, lagian yang sakit kan tangan saya bukan tubuh saya."


"Jadi Bapak maunya saya gimana?" tanya Aeril bingung.


"Mandiin saya," jawab Abi singkat.


"APA!!!" pekik Aeril tanpa sadar. Abi sampai menutup telinganya akibat kerasnya pekikan Aeril.


"Ya sudah kalau tidak bisa keluarlah," kata Abi ketus.


Aeril menarik nafas lalu membuangnya seketika." Baiklah akan saya bantu." Meski enggan tapi Aeril terpaksa melakukannya karena memang dia juga ikut bertanggung jawab atas insiden yang menimpa Abi.


Abi pun tersenyum samar karena akhirnya bisa mengerjai Aeril.


"Iyya." Aeril mengambil handuk berwarna putih di dalam lemari pakaian Abi lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


''Tunggu sebentar ya Pak akan saya ambilkan kursi untuk Bapak mandi."


"Untuk apa Ay, saya kan nggak lumpuh. Kenapa harus mandi sambil duduk?" tanya Abi tak mengerti.


"Ck," Aeril berdecak kesal. " Lihatlah tingi badan kita, sangat berbeda. Bagaimana saya bisa memandikan Bapak," Kata Aeril.


"Oh." Abi hanya ber oh saja saat melihat Aeril yang hanya sedagunya saja.


Tak lama setelah mengambil kursi Aeril mulai memandikan Abi yang telah duduk manis di atas kursi. Tangan Aeril bergetar karena untuk pertama kalinya menyentuh tubuh Abi yang tak memakai baju. Meski Abi telah sah menjadi suaminya tapi tetap saja Aeril merasa aneh, ada gelenyar aneh yang Aeril rasakan di dalam hatinya. Aeril menelan ludah dengan susah payah saat melihat pemandangan yang nyaris sempurna di hadapannya, wajah Aeril bersemu merah tapi sebisa mungkin ia menguasai dirinya agar Abi tak mengetahui jika ia memandang tubuh sixpacknya.

__ADS_1


"Bapak bisa memakai handuk sendiri kan?" Karena tak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi bersama Abi Aeril pun memandikan Abi dengan cepat.


"Iyya, tolong ambilin handuknya ya."


"Ihhh manja," gerutu Aeril tapi Abi masih bisa mendengarnya.


"Apa kamu bilang?"


"Eh enggak kok Pak, saya nggak ngomong apa-apa kok." Aeril pun berbalik dan mengambil handuk yang tadi ia gantung, lalu berjalan cepat ke arah Abi karena mulai tak nyaman dan ingin segera buru-buru keluar dari kamar Abi. Sialnya karena terburu-buru Aeril tak berhati-hati pada lantai yang licin karena air dan kakinya tergelincir saking buru-burunya.


"Awwww," pekik Aeril lalu menabrak tubuh Abi, dengan sigap Abi menangkap tubuh Aeril yang jatuh tepat di pelukannya. Karena lantai yang licin Abi tak mampu menahan tubuh Aeril dan tubuh Abi terhuyung ke tembok lalu terjatuh dengan Aeril yang masih ia peluk.


Mereka pun jatuh berdua di lantai dengan posisi Abi di bawah.


Byurrrrrr.


Sower itu hidup dan menghujani Aeril dan Abi karena saat tubuh Abi menabrak dinding tak sengaja tubuh Abi menyentuh tombol sower yang ada di belakangnya, jadilah keduanya kini basah akibat air yang terus menghujani tubuh mereka.


Abi menatap Aeril yang kini berada di atasnya dengan memejamkan mata, kini gantian Abi yang mengagumi kecantikan Aeril saat keadaan basah seperti ini. Rasa kesalnya kemarin seolah menguap karena kejadian hari ini.


Perlahan Aeril membuka matanya dan melihat Abi yang kini tengah menatapnya. Saat ini keduanya tengah beradu pandang cukup lama, semakin lama tatapan Abi seolah berubah dan berganti dengan tatapan yang ... entah.


"Ay," Suara serak Abi membuyarkan lamunan Aeril. Aeril mengenali tatapan itu, tatapan Abi tatapan yang seolah menginginkan sesuatu yang sangat Aeril pahami. Secepat kilat Aeril bangkit dari posisinya agar tidak terjadi hal-hal yang tak ia inginkan.


"Maaf," ucap Aeril saat membantu Abi untuk bangun.


"Nggak pa-pa, setiap hari pun saya mau," kata Abi.


"Apa!!!"

__ADS_1


"Enggak, saya nggak bilang apa-apa kok."


Aeril bergegas keluar dari kamar mandi dengan keadaan jantungnya yang mulai menggila, berdebar tak karuan. Jika masih berlama-lama di kamar mandi mungkin jantungnya akan meledak saat ini juga. Aeril pun tak mengerti mengapa akhir-akhir ini saat berdekatan dengan Abi jantungnya berdebar tak karuan dan susah untuk di kendalikan.


__ADS_2