
''Kamu itu dari mana sih mas kenapa tengah malam begini baru pulang? udah gitu kenapa itu mukanya bengkak begitu? Kamu habis berantem?" tanya Mia bertubi-tubi karena melihat wajah Vano yang memar.
"Aku habis jatuh," ucap Vano pelan.
"Terus kamu dari mana jam segini baru pulang?" tanya Mia lagi.
"Ada urusan mendadak yang nggak bisa di tinggal."
"Urusan apa?" tanya Mia menyelidik karena tingkah Vano yang mulai aneh.
"Urusan kantor."
"Urusan kantor malem-malem, kayak nggak bisa besok aja."
"Aku capek, aku mau istirahat." Vano pun mengganti pakaian lalu ikut tidur di samping Mia.
"Kamu kenapa sih Mas kayak ada yang aneh, nggak biasanya," gumam Mia.
Tak lama setelah Mia tertidur, Vano memunggunginya lalu membuka matanya, sejak tadi bahkan dia tak bisa terlelap semenjak bertemu lagi dengan Aeril, Mantan istri yang akhir-akhir ini diam-diam ia rindukan.
''Argggg ada apa denganku," gerutu Vano dalam hati. Ia kembali berusaha memejamkan mata berharap ia bisa tertidur karena merasa sudah sangat lelah.
Aeril menikah dengan Abi? Ya tuhan ... kenapa harus dengan Abi?
Meski aku merindukannya tapi aku tak menyangka bisa di pertemukan secepat ini dan dengan kenyataan seperti ini.
Lagi-lagi Vano tak mampu untuk tertidur, bayangan Aeril yang berjalan dengan begitu anggun dan sangat tenang benar-benar mengusik pikiran Vano.
Apa selama ini dia masih memikirkanku?
Aku yakin dia pasti masih mencintaiku hanya saja dia menutupinya.
Di saat tengah memikirkan Aeril tiba-tiba tangan Mia melingkar di pinggang Vano dan bergerilya kemana-mana.
Vano begitu risih dengan yang di lakukan Mia, padahal biasanya dia akan sangat menyukai jika Mia sedang menggodanya.
"Mia kamu masih nifas." Vano menghentikan aksi Mia yang terus menggodanya.
"Kamu kenapa sih Mas? nggak biasanya.
Sepertinya ada yang mengganggu fikiran kamu." Mia mencebik kesal tak biasanya Vano menolaknya.
__ADS_1
"Kamu kan sedang nifas Mia, jadi nggak mungkin bisa," alasan Vano.
"Tapi kan bisa pemanasan aja, biasanya juga kalau aku lagi haid kamu nggak pernah nolak meskipun cuma pemanasan."
Vano mendesah kesal. " Aku capek banget Mia, aku juga ngantuk. Tolong mengerti keadaanku sekarang," ucap Vano kesal.
Mia segera memalingkan tubuh dan membungkusnya dengan selimut karena sangat kesal.
Beberapa hari kemudian Bu Heni dan Vani datang ke rumah Mia pagi-pagi sekali bahkan Vano belum keluar dari kamarnya.
"Vano!!!!" teriak Bu Heni kesal.
"Vano!!!! Ibu mau bicara." Lagi Bu Heni berteriak karena Vano dan Mia belum juga merespon panggilannya.
"Ada apa Bu, kenapa teriak-teriak?
Nggak bisa ngomong pelan apa?" Mia sepertinya sedikit kesal oleh Ibu mertuanya.
"Apa lagi yang dia inginkan di pagi hari seperti ini," gerutu Mia kesal.
"Mana Vano?" tanya Bu Heni dengan nada kesal.
"Mas Vano di dalam Bu, baru selesai mandi," jawab Mia mencoba setenang mungkin, meski sebenarnya Mia sudah tahu apa maksud kedatangan Ibu mertuanya.
"Vano kenapa jatah uang Ibu kamu kurangin hah?" tanya Bu Heni tanpa tedeng aling-aling saat putranya menghampirinya.
Vano mengernyit heran mendengar perkataan Ibunya. "Maksud Ibu apa sih?"
"Kenapa uang Bulanan Ibu sama Vani kamu kurangin? Kamu tahu kan uang sepuluh juta nggak bakal cukup buat Ibu satu bulan," ucap Bu Heni kesal.
"Iyya Mas uang lima juta buat Vani juga nggak bakalan cukup. Nanti Vani nggak bisa nraktir temen-temen Vani kalo lagi nongkrong, kan malu," sahut Vani tak kalah kesal.
Vano melirik ke arah Mia sembari menaikkan satu alis tanda meminta penjelasan.
"Sekarang aku yang mengatur seluruh keuangan Mas Vano karena sekarang kami sudah memiliki anak jadi aku nggak mau Mas Vano menghambur-hamburkan uang seperti kemarin," kata Mia tegas dan membuat Ibu mertua serta adik iparnya melongo.
"Maksudnya?" Tanya Bu Heni setengah geram.
"Sudah saatnya Ibu dan Vani belajar tak menghambur-hamburkan uang nggak jelas.
Pun Vani sudah dewasa harusnya dia bekerja, bukankah dia lulusan luar negri? Sudah sepantasnya dia bekerja."
__ADS_1
"Ohh jadi selama ini kamu mengira Ibu menghambur-hamburkan uang dari Vano? Denger ya Mia, Vano itu anak laki-laki Ibu jadi dia wajib menafkahi Ibu juga adiknya, paham kamu!!" ucap Bu Heni kesal.
"Bu, itu memang kewajiban Mas Vano tapi dia juga wajib menafkahi istrinya. Aku rasa sudah adil gaji Mas Vano kita bagi dua," kata Mia menjelaskan.
"Ya nggak bisa gitu dong Mia, harusnya seluruh gaji Vano jadi milik Ibu dan Vani karena Ibu adalah Ibunya Vano, lagi pula kan kamu orang kaya, nggak mungkin kekurangan uang. Harusnya kamu ikhlaskan gaji suami kamu untuk Ibu, kamu jangan jadi serakah gitu dong," ucap Bu Heni marah, sampai-sampai mukanya memerah karena kesal.
"Lalu untuk apa aku menikah dengan Mas Vano jika tak bisa menikmati hasil kerja kerasnya? Lagi pula Ibu kan juga masih memiliki suami dan penghasilan Ayah mertua juga besar, kenapa masih meminta seluruh gaji Mas Vano, harusnya Ibu sadar diri dong, syukur-syukur masih aku kasih uang."
"Vano!!!! Kamu itu kenapa diem aja harusnya kamu ngasih pengertian ke istri kamu kalau syurga kamu itu ada di Ibu, kalau Ibu nggak rido kamu bakalan masuk neraka, paham kamu."
"Sayang," ucap Vano menghampiri Mia.
"Mas harusnya kamu itu sadar, Ibu kamu itu cuma meras kamu selama ini. Kita harus mengajarkan kepada Ibu kamu untuk menghargai kerja keras kamu.
Kalau mereka tak bisa menahan hasratnya untuk menghambur-hamburkan uang maka mereka akan makin menjadi nantinya."
"Tapi Mia kasian Ibu," kata Vano memelas.
"Kasian kalau kita nggak ngasih uang, tapi ini masih aku kasih kok, sepuluh juta buat Ibu, lima juta buat Vani. Aku rasa duit segitu akan lebih dari cukup kalau Mereka bisa bijak menggunakannya."
"Mia uang segitu cuma cukup buat seminggu.
Ibu nggak mau tahu ya Vano kalau sampai kamu nggak ngasih semua gaji kamu ke Ibu, Ibu akan ngutuk kamu. Ngerti kamu!!!" ucap Bu Heni berapi-api.
"Ayolah Mia kasihan Ibu, lagi pula uang kamu juga nggak bakalan habis tujuh turunan kok. Kasih ke Ibu aja ya uangnya," pinta Vano dengan lembut.
"Lalu gunanya kamu jadi suami aku apa Mas kalau kamu nggak mau menafkahi aku? Harusnya kamu nggak usah nikah kalau kamu nggak mau menafkahi istri kamu sendiri. Gini aja deh Mas kalau kamu emang nggak mau menafkahi aku lagi mending kita pisah aja, kamu bisa bawa semua barang-barang kamu dari rumah juga ATM kamu, silahkan bawa aja, aku nggak papa." Kekesalan Mia sudah sampai puncaknya karena Vano terus memanjakan Ibunya.
Bukan karena kekurangan uang tapi Mia tidak ingin suaminya terus di perbudak dan menjadikannya lalai terhadap istrinya.
"Kamu ngomong apa sih Mia? Mas nggak mungkin menceraikan kamu. Mas sayang sama kamu apa lagi sekarang kita punya anak."
"Aku ikhlas Mas kalau kamu masih mau terus berbakti sama Ibu kamu aku akan mundur."
"Sayang Mas nggak akan pernah ngelakuin itu." Vano memeluk Mia begitu erat, terbayang saat ia terpaksa berpisah dari Aeril, Vano tak ingin kasus serupa menimpanya lagi.
Mungkin benar kata Mia Ibu harus belajar dengan bijak menggunakan uang dan belajar menghargai seseorang.
Vano menghampiri Ibunya dan memintanya untuk pulang agar masalah rumah tangganya tak semakin besar.
"Ibu pulang dulu ya, besok kita bicarain ini lagi," ucap Vano dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu ngusir Ibu Vano? Tega kamu ya, durhaka kamu," teriak Bu Heni lalu mengajak Vani untuk pulang karena merasa sangat kecewa dengan anaknya yang kini mulai berubah dan lebih membela istrinya.
"Tunggu saja Mia aku akan memberikanmu pelajaran suatu hari nanti," gerutu Bu Heni.