
''Sari kamu kenapa bisa pingsan tiba-tiba?" tanya Bu Sukma saat Sari perlahan membuka matanya.
"Emm saya kurang enak badan Bu. Boleh nggak saya ijin pulang saya takut tambah sakit kalau terus berada di sini," ucap Sari dengan nada memohon berharap Bu Sukma mengijinkannya untuk pulang dan dia bisa kabur sejauh mungkin, karena saat ini posisinya sudah tak aman akibat perbuatannya sendiri.
"Duh saya nggak bisa ngijinin kamu pergi Sar, tadi kan Abi udah ngasih ultimatum nggak ada yang boleh pergi sebelum dia tahu siapa sebenarnya yang telah melakukan hal keji itu kepada Naira," papar Bu Sukma.
Seketika wajah Sari pucat seperti kapas mendengar perkataan Bu Sukma.
"Loh kamu kenapa Sar, kamu beneran sakit ya? Saya panggilin Dokter ya?"
"Nggak usah Bu saya nggak pa-pa, cuma lemes aja karena khawatir sama keadaan Naira."
"Oh gitu, kamu begitu tulus ya menjaga Naira sampai saat Naira sakit kamu juga ikutan sakit begini."
Sari hanya tersenyum samar mendengar kata-kata Bu Sukma.
"Saya jadi penasaran siapa sih sebenarnya yang sudah jahat sama Naira? Perasaan selama ini semua orang begitu sayang sama Naira. Kalau saya tau siapa orangnya yang sudah melakukan itu kepada Naira, mau saya sirem bensin terus saya korekin biar jadi sate sekalian,'' kata Bu Sukma geram.
Jangan di tanya bagaimana perasaan Sari saat ini, dia ketakutan luar biasa mendengar setiap kata-kata Bu Sukma.
"Loh Sari kamu kenapa gemetar seperti ini, kamu kayak ketakutan gitu. Kamu udah kayak orang ketahuan melakukan kejahatan aja." Bu Sukma sebenarnya curiga kalau Sari lah yang melakukan tapi karena tak ingin gegabah dan membuat Sari kabur dan memang belum ada bukti jadilah Bu Sukma cukup bermain-main dulu dengan Sari.
"Ke,,,kejahatan apa Bu? Saya nggak melakukan kok." Peluh sebesar biji-biji jagung menetes di wajah Sari karena ketakutan. Ingin rasanya cepat-cepat kabur dari sini tapi Bu Sukma terus menjaganya dan tak memberinya celah sedikit pun untuk bisa keluar dari ruangan ini.
"Ya kalau nggak melakukan santai aja Sari, kamu sampai keringetan gitu loh Sar padahal AC di ruangan ini hidup, tapi kenapa kamu keringetan begini. Sepertinya kamu memang benar-benar sakit Sari."
"Iyya Bu saya benar-benar merasa tak nyaman di sini, saya mau pulang aja istirahat." Sari terus memohon agar Bu Sukma mengasihaninya.
"Kalau kamu sakit ngapain kamu pulang, kamu kan ada di rumah sakit tempatnya orang sakit jadi sekalian aja kamu berobat di sini."
__ADS_1
''Kalau perlu saya suruh Dokter buat suntik mati kamu kalau sampai kamu terbukti dalang dari semua ini," umpat Bu Sukma kesal.
Entah kenapa Bu Sukma begitu yakin kalau Sari lah yang melakukan kejahatan kepada cucunya.
"Nggak usah Bu, saya cuma butuh istirahat kok nggak perlu obat dari rumah sakit."
"Ya udah istirahat aja di sini, di sini juga bisa buat istirahat kok. Kamu juga bisa tidur di sini kalau kamu mau," ujar Bu Sukma yang membuat Sari kehabisan kata-kata.
Sementara itu di depan ruang ICU Abi menunggu Naira yang masih di tangani oleh tim Dokter. Hati Abi begitu pedih saat melihat oksigen di pasang di hidung Naira juga selang infus di tangannya.
Bertahanlah demi Papa, Papa janji kalau kamu sembuh Papa akan melakukan apa pun demi kamu.
Abi berulang kali melihat ponselnya, menunggu kabar dari Indra. Setelah dua jam menunggu Indra datang dengan tergesa-gesa.
"Gimana Ndra, apa ada sesuatu yang kamu temukan?" tanya Abi saat Indra sampai di hadapannya.
"Bapak pasti kaget kalau melihat rekaman CCTV ini," ucap Indra sembari memegang ponsel yang di dalamnya sudah ada rekaman CCTV di rumahnya.
"Sari!!!!" Rahang Abi mengeras saat melihat Sari di dapur mencampurkan sesuatu ke dalam botol susu Naira.
"Iyya Pak, pelakunya jelas Sari dan Bapak akan libih terkejut saat melihat rekaman CCTV yang sebelum-sebelumnya." Indra memperlihatkan rekaman Sari saat tak sengaja menjatuhkan Naira ke dalam kolam renang lalu saat Sari mendorong kereta Bayi Naira dan menaruhnya di halaman depan.
"Ya tuhan Aeril." Abi merosot ke lantai mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya. Hari ini ia begitu menyesali kebodohannya karena telah menyalahkan Aeril atas apa yang terjadi tanpa mencari tahu kebenarannya.
Abi tak memikirkan CCTV karena terlalu percaya apa yang dia lihat selama ini. Kini Aeril sudah pergi entah kemana dan juga gara-gara kebodohannya yang membuat Aeril pergi kini Naira dalam keadaan kritis. Abi berkali-kali memukul tembok rumah sakit untuk melampiaskan kemarahannya.
"Tenangkan diri Bapak, Bapak harus punya tenaga ektra untuk putri Bapak," ucap Indra mencoba menenangkan Abi.
Abi menghentikan aktifitasnya lalu segera pergi ke ruangan di mana Sari berada. Saat masuk Abi tak menemukan siapa-siapa kecuali Ibu mertuanya yang baru saja keluar dari toilet.
__ADS_1
"Ma di mana Sari?" tanya Abi ketika menghampiri mertuanya.
"Astaga Sari? Tadi Sari di situ Bi tidur. Mama kebelet pipis jadi Mama ke toilet setelah memastikan Sari benar-benar tidur, tapi ternyata dia kabur."
"Sari lah pelakunya Ma, dia yang memberikan Naira obat tidur sampai over dosis."
''Sudah Mama kira pasti pelakunya dia, siapa lagi kalau bukan dia," ucap Bu Sukma geram.
"Ndra cepat temukan Sari, saya nggak mau tahu pokoknya dia harus ketemu, titik," perintah Abi. Tanpa menunggu aba-aba Indra berlari mencari keberadaan Sari yang pastinya belum jauh.
"Ma Abi merasa berdosa kepada Aeril. Ternyata semua yang menimpa Naira belakangan ini adalah ulah Sari Ma. Abi begitu bodoh karena tak memeriksa CCTV dan terus saja menuduh Aeril yang ceroboh. Abi sangat bodoh Ma." Abi merutuki kebodohannya yang terlambat mengetahui kebenarannya.
"Penyesalan memang selalu datang belakangan Nak dan tugas kamu sekarang adalah memperbaiki kesalahan itu."
"Abi merasa sangat malu kepada diri Abi Ma." Abi memeluk Ibu mertuanya, menyesal karena dia tak mendengarkan kata-kata Ibu mertuanya selama ini.
"Carilah Aeril, biar Indra yang mengurus Sari dan Mama yang akan menjaga Naira di sini."
Abi mengangguk patuh lalu berlari menyusuri lorong rumah sakit, tak perduli tatapan aneh orang-orang yang melihatnya. Yang jelas dia bertekat akan membawa Aeril pulang demi Naira.
*
*
*
*
Segini aja ya readers, tadinya aku nggak mau up tapi ngeliat komen kalian yang antusias jadi aku paksain deh ngetik di saat anak-anak udah pada tidur dan di saat mataku hampir merapat. Demi apa coba? jelas demi kalian yang udah setia ngikutin cerita receh aku.
__ADS_1
pokoknya kalian ter ❤️❤️❤️❤️
Wajib komen pokoknya, oke!!!😊😊😊