Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
mendengarkan nasehat


__ADS_3

"Em ... Pak," panggil Aeril saat Abi tengah serius di depan laptopnya. Meski hari libur Abi tetap mengerjakan tugas kantornya di rumah.


Abi mendongak menatap Aeril dengan wajah datar sembari membenarkan letak kaca matanya.


"Ini sudah hampir satu tahun Ay, kamu masih saja memanggilku dengan sebutan Bapak." Ucapan Abi menohok hati Aeril. Bagaimana mungkin ia bisa memanggilnya Mas sedangkan ia tidak akan bisa menjadi istri selamanya Abi.


"Sa-ya belum terbiasa Pak," elak Aeril.


"Bukan belum terbiasa tapi kamu memang tidak mau," ucap Abi kecewa.


Aeril hanya bisa menunduk mendengar perkataan Abi karena tak tahu harus menjawab apa.


"Katakanlah ada apa?" tanya Abi, tak ingin memperpanjang masalah.


"Saya mau belanja keperluan saya, apa boleh?" tanya Aeril ragu.


"Pergilah tapi saya sedang banyak pekerjaan, saya akan suruh supir untuk mengantar kamu untuk belanja."


"Nggak usah Pak, saya bisa naik ojek," tolak Aeril karena tak ingin merepotkan.


"Ay nggak usah membantah, lagi pula Pak Dirman itu saya bayar full sebulan untuk mengantar siapa pun yang ada di dalam rumah ini."


"Baiklah Pak," ucap Aeril pelan. Aeril pun meninggalkan Abi untuk menidurkan Naira agar ia bisa leluasa pergi belanja sebentar.


Setelah Naira tidur pulas Aeril pun bersiap-siap untuk pergi dan menitipkan Naira sebentar pada Bu Diyah.


"Sore bidadari Gilang," sapa Gilang saat Aeril membuka pintu.


"Mas Gilang bikin saya terkejut." Aeril mengusap dadanya pelan karena terkejut dengan kedatangan Gilang yang tiba-tiba.


"Aeril mau kemana udah rapi begini, Mas Gilang anter ya?" tawar Gilang.


"Eh nggak usah Mas, aku di antar sopir kok," tolak Aeril halus.


"Eits nggak boleh nolak, pokoknya Mas Gilang yang akan antar sampai tujuan dan akan mengantar kamu pulang dengan selamat jiwa dan raga." Aeril hanya tersenyum mendengar perkataan Gilang. Karena tak ada alasan untuk menolak akhirnya mengiyakan tawaran Gilang.


"Baiklah."


"Yess!!" Gilang bersorak gembira karena akhirnya bisa keluar bersama Aeril, momen yang jarang sekali terjadi karena Aeril selalu beralasan sibuk jika Gilang mengajaknya.

__ADS_1


"Ehem ... " Di saat yang bersamaan Abi datang dan berdehem saat Gilang dan Aeril tengah mengobrol.


"Eh Abi, kebetulan berkas yang harusnya gue kasih besok udah gue bawa sore ini, nih berkas yang lo minta." Gilang memberikan berkas kerja sama yang Abi minta untuk meeting besok.


"Cepet banget, bukannya besok aja kayak besok nggak bakal ketemu."


"Ya nggak pa-pa kali Bi, lebih cepat kan lebih baik. Oh iyya Bi sekalian gue mau ijin nganter Aeril belanja boleh kan?" tanya Gilang.


"Hah, apa!!"


"Lu belum tua tapi fungsi pendengaran lu kayaknya bermasalah deh Bi. Gue bilang gue mau nganter Aeril belanja, nggak pa-pa kan," ulang Gilang.


Abi mengerutkan dahinya lalu menatap Aeril. Aeril yang mendapatkan tatapan dari Abi tiba-tiba salah tingkah.


"Em ... itu Pak saya udah bilang Mas Gilang nggak perlu repot-repot tapi Mas Gilangnya maksa," ucap Aeril gugup.


"Mas Gi-lang," ulang Abi dengan menekan kata Mas Gilang.


"Hehh Abi jangan natap Aeril gitu, Aeril jadi takut kan. Jangan bersikap seolah dia itu istri lo deh, kasian dia juga butuh kebebasan untuk pergi sama siapa pun yang dia mau. Apa lagi kalau perginya sama gue, itu sah-sah aja." Gilang memegang kerah sebelah bajunya sembari manaikkan alis.


"Terserah," ucap Abi dan berbalik lalu pergi.


Kurang lebih dua jam Aeril berada di luar rumah bersama Gilang untuk berbelanja dan makan berdua sebentar lalu kembali karena perasaan Aeril mulai tak tenang.


"Aeril, Mas Gilang pulang dulu ya udah sore juga kapan-kapan kalau Mas ajak keluar mau ya," ucap Gilang saat Aeril akan turun dari mobil.


"Em ... liat keadaan ya Mas," kata Aeril singkat.


"Tenang aja nanti biar aku yang ijin sama Abi, pasti boleh kok."


Aeril hanya tersenyum tak berani mengiyakan karena takut sesuatu hal yang tak di inginkan terjadi. Walau bagai mana pun saat ini Aeril adalah istri Abi meski ia tak berharap apa pun dari pernikahannya tapi dia harus tetap menjaga kehormatan Abi selama ia masih menjadi istrinya.


"Lihatlah dia begitu bahagia saat bersama si Playboy itu, sedangkan bersamaku dia bahkan tidak bisa tersenyum sama sekali," gerutu Abi saat mengintip Aeril dari jendela.


Aeril pun masuk dengan ragu-ragu lalu menajamkan pendengaran, kalau-kalau Naira menangis tapi sepertinya tidak. Aeril bisa bernafas lega saat melihat Naira tengah bermain bersama Abi di ruang tamu. Naira yang selalu tersenyum saat di goda Abi memperlihatkan dua giginya di bawah yang menambah kelucuannya, tak sadar Aeril pun tersenyum melihat kejadian di depannya.


"Ma,,,,ma." Naira memanggil Aeril saat melihatnya dari kejauhan dan merentangkan tangannya.


Aeril begitu terharu mendengar Naira menyebutnya Ma. Aeril pun menghampiri Naira lalu menggendongnya menghujaninya dengan ciuman di wajahnya, tapi Abi pun meninggalkan Aeril dan Naira tanpa sepatah kata pun, perasaannya kacau balau mengingat begitu akrabnya Aeril dengan Gilang.

__ADS_1


Aeril mengerutkan kening, merasa sangat aneh melihat Abi yang pergi begitu saja tanpa kata, padahal Aeril mengira dia akan mendapat omelan seperti dulu saat pergi bersama Gilang tapi ini tidak, Abi bahkan tak mengeluarkan satu kata pun.


"Aneh," gumam Aeril.


"Nggak aneh Neng, Pak Abi lagi cemburu." Bu Diyah tiba-tiba berada di belakang Aeril dan membuatnya kaget.


"Bu Diyah bikin kaget." Aeril mengelus dadanya perlahan.


"Neng Ibu lihat Neng nggak pernah menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Maaf ya Neng, bukannya menggurui tapi Ibu cuma memberi nasihat, apa pun dasar dari pernikahan, mau cinta atau bukan tapi seorang istri berkewajiban melayani suaminya. Ibu lihat Neng Aeril nggak pernah melayani Pak Abi baik makan atau pun minumnya, juga Neng Aeril seperti bersikap cuek sama Pak Abi," ucap Bu Diyah panjang lebar dan berhasil menampar hati Aeril.


"Saya belum terbiasa Bu, karena pernikahan kami bukan di dasari cinta saya jadi canggung untuk melayani Pak Abi," jawab Aeril sembari menunduk.


"Cobalah dari sekarang, belajar untuk melayani segala kebutuhannya."


"Saya takut Bu."


"Loh takut kenapa?"


Takut tak bisa mengendalikan perasaan saya saat dekat dengan Papanya Naira. Ingin sekali Aeril mengatakan itu tapi tak punya keberanian.


"Nggak pa-pa Bu."


Setelah memberi sedikit nasihat kepada Aeril Bu Diyah pun pamit untuk pulang karena hari sudah menjelang petang.


Pukul sembilan malam Naira sudah tertidur begitu pulas dan Aeril pun turun ke dapur untuk mengambil minum karena sejak tadi merasa sangat haus.


Saat sampai di dapur Aeril melihat Abi tengah berdiri di depan kompor sedang memasak air.


"Biar saya yang buatkan kopi Pak," tawar Aeril dan mendekat ke arah Abi.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri," tolak Abi.


"Saya aja Pak nggak apa-apa kok." Aeril segera mengangkat air panas di atas kompor yang sudah mendidih, tapi Abi juga memegang pada gagang panci yang sama.


"Saya bilang nggak usah ya nggak usah," ucap Abi berusaha melepaskan pegangan Aeril.


Aeril tak mau melepasnya jadilah aksi tarik menarik.


"Awww!!" teriak Abi karena aksinya yang tarik menarik membuat air panas mengenai tangannya. Spontan Aeril melepaskan pegangannya karena mendengar jeritan Abi.

__ADS_1


Panci yang mereka perebutkan pun terjatuh di lantai.


__ADS_2