Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Suasana romantis


__ADS_3

"Mana Naira?" tanya Aeril saat Abi sudah melepaskan pelukannya.


"Sama Bu Diyah. Sekarang Bu Diyah aku minta tinggal di rumah dan nggak perlu bolak balik lagi, antisipasi aja kalau ada kejadian kayak gini jadi nggak bingung mau nitipin Naira sama siapa, lagian Naira juga suka sama Bu Diyah jadi aku nggak ragu kalau mesti nitipin Naira dan juga--" Abi menggantung kalimatnya.


"Dan juga ...?" tanya Aeril.


"Dan juga kalau kita mau bulan madu kan bisa nitipin Naira ke Bu Diyah biar bisa leluasa guling-gulingan,"ucap Abi sembari nyengir kuda.


"Ishhh mesum banget." Aeril memajukan bibirnya, membuat Abi semakin gemas tapi hanya bisa pasrah sampai Aeril bisa menerimanya.


"Eh nggak papa Ay, mesum sama istri itu pahala tau," kekeh Abi.


Aeril terdiam karena mengingat kejadian beberapa jam lalu, saat Vano tiba-tiba datang dan mengatakan menyesal. Tak bisa di pungkiri ada sedikit perasaan senang ketika mendengarnya, entah senang untuk apa.


Ayolah Aeril, meskipun Vano menyesal memang apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan meninggalkan istri dan anaknya untuk kamu? itu tidak mungkin!!!


Mana mungkin dia meninggalkan istrinya yang kaya raya demi wanita miskin kayak kamu.


Kalau pun mungkin, itu tetap tidak bisa karena sekarang kamu istri Abi. Apa mungkin kamu sekejam itu meninggalkan Abi demi Vano, kamu bukan wanita jahat yang akan melakukan itu.


"Hati Aeril terus berperang dengan fikirannya, entah takdir macam apa yang sedang di berikan tuhan untuknya.


Vano meninggalkannya lalu kesalah pahaman membuatnya menikah dengan Abi pria yang awalnya selalu membuat Aeril menangis karena sikapnya yang selalu menyakiti hati Aeril. Lalu di saat Aeril ingin membuka Hati untuk Abi halangan kembali muncul karena ternyata Pak Harun tak merestui hubungannya dengan Vano, rasanya jelas sakit meski cinta belum muncul tapi tetap saja rasanya perih.


Di saat Aeril berfikir ingin kembali mundur tiba-tiba Vano datang seolah memberi sedikit harapan baru meski itu sepertinya sulit.


Aeril menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya pelan, mencoba untuk menghilangkan semua yang kini mengganjal di hatinya.


"Ay kamu kenapa? Apa kamu sakit aku panggilin Dokter ya?" tanya Abi cemas karena melihat Aeril kembali melamun.


"Apa kita bisa pulang sekarang?"


"Kamu yakin Ay, kalau masih sakit kita pulang besok saja, aku khawatir soalnya," ucap Abi cemas.


"Saya nggak papa, saya mau pulang aja kangen Naira juga."

__ADS_1


"Beruntung banget sih Naira di kangenin sama Mamanya, saya kapan nih di kangenin sama Mamanya Naira?" goda Abi.


"Apaan sih," ucap Aeril pelan.


"Ay ... jangan dengerin kata-kata Papa ya, saya nggak mungkin menikahi Vani karena saya sudah menikah sama kamu." Abi menggenggam jemari Aeril yang seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Kita cerai saja." tiba-tiba Aeril mengatakan itu spontan, ia pun tak mengerti mengapa kata-kata itu lolos begitu saja.


Refleks Abi membungkam Aeril dengan tangannya sembari menggeleng tegas.


"Jangan pernah mengatakan itu lagi Ay, saya nggak suka."


Abi pun keluar dari dari ruangan Aeril untuk mengurus administrasi agar bisa membawa Aeril secepatnya pulang.


"Dokter bilang kamu boleh pulang sekarang juga," kata Abi datar dan sama sekali tak menoleh ke arah Aeril saat berbicara.


Abi lalu menuntun Aeril untuk turun dari tempat tidur dan membawanya keluar dari rumah sakit dalam diam.


Meski merasa tidak enak tapi Aeril membiarkan situasi ini terus terjadi agar kedepannya mereka terbiasa dan tidak akan terluka jika akhirnya berpisah.


Sepanjang perjalanan Aeril dan Abi hanya diam, Abi yang biasanya selalu mencairkan suasana dengan semua kata-katanya yang menurut Aeril berlebihan pun kini diam seribu bahasa, hanya sesekali menarik nafas lalu kembali fokus menyetir sedangkan Aeril hanya menatap ke luar jendela memandangi lampu-lampu jalan yang terlihat sangat indah tapi tak seindah hatinya.


Abi membukakan Aeril pintu dan memintanya masuk dengan isyarat tanpa kata, lalu Aeril masuk ke dalam kamar untuk segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Setelah merasa cukup segar Aeril keluar dari kamar mandi dan melihat Abi tengah meringkuk di sofa sembari memejamkan mata entah tertidur atau tidak.


Aeril lantas bergerak menuju lemari dan mengambil selimut cadangan di lemari bagian bawah lalu memakaikannya pada Abi setelah itu berbalik hendak pergi melihat keadaan Naira, tapi sebelum melangkah tiba-tiba tangan Abi mencekal pergelangan tangan Aeril sehingga membuat langkahnya menjadi urung.


"Jangan pernah mencoba berfikir untuk pergi dariku." Kini Abi sudah berada tepat di belakang Aeril sembari memeluknya erat membuat Aeril cukup syok tapi berusaha menormalkan irama jantungnya yang mulai menggila.


"Saya tahu belum ada cinta di hati kamu tapi saya tetap akan mempertahankan kamu karena sepertinya saya mulai mencintai kamu."


"Bukan karena Naira?" ya, kata-kata itu kembali lolos dari bibir Aeril tanpa ia sadari.


Abi membuat Aeril berbalik ke hadapannya lalu menatapnya lekat, membuat Aeril segera menundukkan pandangannya.


"Jangan menundukkan pandanganmu, lihatlah mataku." Abi mengangkat dagu Aeril agar mata coklatnya itu menatap matanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, sungguh," ucap Abi pelan dengan suara serak.


Jelas Aeril mampu melihat ketulusan di dalam mata Abi yang kini seolah tengah mengunci tatapan Aeril. Ingin sekali Aeril membuang pandangan dari tatapan pria yang baru saja menyatakan cinta kepadanya tapi hatinya jelas menolak dan ingin tetap menatap mata elang milik Abi. Entah mengapa tapi jelas hatinya ingin terus menatap mata itu.


Perlahan Abi mengikis jarak wajahnya dengan wajah Aeril, semakin dekat sampai Aeril mampu merasakan hembusan nafas di wajahnya.


Aeril merasakan kecupan lembut di bibirnya membuatnya seketika memejamkan mata dan entah mengapa ada air mata yang lolos satu per satu dari ujung matanya, entah air mata apa Aeril pun tak mengerti.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun meski kamu yang memintanya karena aku tahu kamu pun memiliki perasaan yang sama." Aeril kini sudah berada di dalam pelukan Abi dan membawa kepalanya bersandar di dada bidang Abi.


"Aku tidak akan membuatmu mengulang kisahmu yang lalu dan aku janji tidak akan pernah membuatmu menangis kecuali tangis bahagia." Abi mengeratkan pelukannya kepada Aeril yang saat ini merasa tenang dan nyaman.


Tak bisa ia pungkiri jika pelukan Abi membuatnya merasa aman dan nyaman, pelukan yang selama ini tak pernah ia dapatkan lagi. Aeril pun baru menyadari jika air matanya barusan bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.


Apakah aku pun mulai jatuh cinta?


"Eaaaaaa." Suara tangis Naira membuyarkan suasana romantis yang baru saja terjalin.


"Naira." Aeril segera melepas pelukannya dari Abi dengan salah tingkah dan wajah yang merona karena merasa sangat malu.


Abi pun tersenyum sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal karena salah tingkah. Keduanya pun bersama-sama menuju kamar Naira dengan perasaan canggung.


*


*


*


*


Maaf ya readers nggak up kemaren-kemaren, Authornya lagi khilaf keenakan baca novel ampe hampir lupa sama novel sendiri🀭🀭🀭


Gimana nih sama bab yang ini, harusnya sih up tadi malem tapi belum sempet di edit karena ngantuk banget (tuh kan curhat jadinya, ibu-ibu banget emang)


Sayang kalian semua pokoknya. Aku tunggu komen kece kalian ya 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2